
Hari ini Mika dan Jeff membawa Regan untuk imunisasi. Katanya imunisasi itu penting, ya jadi kalau sudah waktunya Mika pasti akan memastikan Regan mendapatkannya. Sebenarnya tadi Mika ingin berangkat sendiri, tapi setelah memberi tahu Jeff yang sedang bekerja, Jeff langsung buru-buru pulang karena ingin mengantarkan Regan imunisasi.
Mika senang sih, kalau dulu saat hamil apa-apa sendiri, sekarang Jeff selalu ada bersamanya dan Regan. Karena ya Jeff sendiri selalu mau hadir di masa-masa pertumbuhan Regan. Apalagi Regan semakin bertumbuh setiap harinya.
"Kamu gak ada kerjaan, Mas?" Tanya Mika saat mereka sedang berjalan di lorong.
"Ada, tapi aku mau anterin kamu sama Regan." Bukan mau lalai, tapi ya menurut Jeff sekarang dia harus mengerjakan tanggung jawab yang lebih besar dulu, yaitu Mika dan Regan. Setelah itu dia baru kembali ke kantor lagi.
"Ya padahal seharusnya kalau memang ada ya selesaikan dulu, bukannya ini salah satu tender besar yang mau kamu capai, Mas?"
"Untuk sekarang tidak ada yang lebih penting dari kamu dan Regan." Jeff tersenyum lalu memainkan pipi Regan yang kini tengah menatapnya dari balik gendongan sang Ibu. Ahh gemas sekali, perasaan Jeff selalu menghangat ketika melihat Regan tersenyum ke arahnya.
Mereka berdua masuk untuk melakukan imunisasi pertama putranya. Tidak menyangka kalau Regan akan sekuat itu, bahkan dia hanya menangis sebentar lalu kembali anteng satt sudah berada di dekapan Mika. Memang tidak rewel dia.
Tapi nampaknya yang lebih lembut ternyata Jeff. Mika memang takut saat melihat Regan di suntik tapi ya keyakinan seorang Ibu kalau anaknya hebat, membuat Mika tidak menangis. Berbeda dengan Jeff yang menitikan air matanya. Ini seorang Jeff loh?
Jeff menangis, membuat kulitnya yang memang putih memerah. Alhasil saat menuju parkiran dia harus memakai kacamata hitam untuk menutupi matanya. Kini mereka sudah berada di mobil. Mika menahan tawanya ya karena lucu saja menurut Mika. Meskipun dalam tangisnya dia masih saja terlihat cool.
Padahal Regan yang disuntik nampak sudah bisa nyaman lagi, namun papanya masih belum bisa menenangkan dirinya sendiri. Ini memang pertama kalinya sih untuk Jeff, Mika mewajari hal itu.
"Udah jangan sedih, anaknya gapapa." Mika terkekeh lalu mengulurkan tangannya untuk menepuk-nepuk bahu suaminya. Andai saja bisa diabadikan, sudah pasti Mika abadikan sekarang juga.
Jeff mengambil tissue lalu mengusap wajahnya lembut, itu upaya untuk menenangkan dirinya juga sih.
"Aku lebay ya?" Tanya Jeff.
__ADS_1
"Engga, wajar kalau kamu sedih namanya juga anak. Aku juga sedih tapi ya justru bagus kalau diimunisasi, biar anaknya juga kuat dan sehat."
Jeff mengangguk, tanpa banyak bicara lagi dia melajukan mobilnya. Baru kali ini loh Mika melihat Jeff menitikan air matanya, katanya kalau seorang lelaki menitikan air matanya itu dia menang-memang orang yang tulus dan penyayang. Meskipun ya Jeff terkadang tidak bisa mengekspresikan dirinya, tapi moment-moment seperti ini membuat Mika sadar, kalau Jeff mempunyai sisi hangatnya sendiri.
Mika tersenyum ke arah Regan yang kini menatapnya, dokter bilang kalau Regan sehat, ya hanya berat badannya saja yang sedikit berlebih, tapi itu wajar kok. Karena katanya Regan juga masih minum ASI. Seiring berjalannya waktu akan normal kembali, karena ya Ibu dan Ayahnya saja kecil.
Mika melirik ke arah suaminya yang nampak fokus menyetir. "Kamu kalau gak aku duluan yang bicara gak akan ngomong kah?"
"Tanyakan saja yang mau kamu tanyakan, nanti aku jawab."
"Bukan, bukan itu maksudnya. Aku ngerasa kalau kita ngobrol harus aku duluan yang memulai," protes Mika.
Jeff terkekeh, ya lucu saja menurutnya. Padahal mau siapapun yang memulai, yang terpenting mereka tetap berkomunikasi.
"Se-garing itu kah aku?" Tanya Mika. Ya mereka dalam naungan pernikahan, meskipun menurut Mika Jeff sudah banyak berubah, sudah mulai ekspresif, tapi tetap saja menurutnya ada yang kurang kalau Jeff tidak memulai duluan.
"Engga, tapi akunya aja yang susah untuk membawa suasana."
Mika menggelengkan kepalanya lalu menatap Regan. Pokoknya nanti Regan kalau umurnya sudah cukup akan langsung Mika ajak sekolah untuk berinteraksi. Bukan karena bagaimana, tapi dia mau Regan bersosialisasi dan motoriknya terasah. Sehingga dia tidak kesusahan berkomunikasi seperti ayahnya.
"Maaf ya karena belum bisa menjadi seperti yang kamu mau, tapi akan aku usahakan," ucap Jeff.
"Nah gitu, gitu Mass kalau ngobrol. Kamu ungkapkan aja yang ada di hati dan pikiran kamu. Itu baru namanya komunikasi," tukas Mika.
Ya Jeff tau kalau mengobrol seperti itu, tapi maksud Jeff ya dia tidak bisa memulainya. Dia masih terlalu kaku untuk itu, padahal kalau berkomunikasi dengan rekan bisnis dia selalu lancar. "Aku tau, Mik kalau ngobrol seperti itu tapi ya terkadang aku tidak tau harus bahas apa, tidak tau cara memulai dengan baik itu bagaimana," balas Jeff seraya mengusap pipi istrinya. Sudah banyak protes memang Mika.
"Tapi waktu kamu bikin Regan bisa tuh kamu memulai," ucap Mika tanpa sungkan. Untuk apa juga sungkan, toh mereka suami istri. Membahas seperti ini wajar kan, apalagi kita tahu sendiri kalau Jeff sebrutal apa saat memulainya bersama Mika yang pada saat itu menolak.
__ADS_1
"Ya kalau itu aku bisa, aku ikutin naluri aku aja sebagai pria. Kalau soal ngobrol rasanya masih kaku saja."
Mika menghela napasnya lalu menyerah untuk membahas soal kaku kakuan. Memang Jeff terlahir kaku sih, jadi susah untuk diarahkan. Syukur-syukur kalau ada kemajuan.
Jeff memainkan pipi Regan. "Lucu, gemes, pipinya mbul."
Baru saja membahas kaku kini Mika malah melihat Jeff gemas pada Regan. Ternyata sekaku-kakunya Jeff dia bisa gemas juga pada anak kecil, atau mungkin karena Regan anaknya ya?
"Iya dong, Mamanya aku."
Jeff terkekeh, memang sih dibalik anak yang sehat pasti ada Ibu yang hebat. Apalagi Jeff juga mendukung untuk membelikan suplemen dan vitamin.
"Kamu juga dukung sih, jadi ASI yang aku hasilkan juga berkualitas," lanjut Mika.
"Tapi kayanya memang sejak awal sudah berkualitas."
"Hah, maksudnya?" Mika menatap Jeff yang kini menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jangan bilang Jeff selama ini diam dengan menyimpan banyak hal mesum di kepalanya.
"Ya karena sebelum Regan coba, udah aku coba duluan."
Mika menghela napasnya. "Urusan kaya gini aja kamu cepet, Mas!"
Jeff terkekeh, ya bagaimana. Menurutnya seru saja membahas hal hal seperti ini setelah menikah. Tadi Mika menginginkan komunikasi kan?
"Tapi ya gapapa sih, asal sama aku aja. Jangan sama perempuan lain!" Mika mengedikkan bahunya, ya mereka suami istri. Tentu Jeff harus selalu bernafsu padanya.
Jeff mengangguk seraya mengusap surai istrinya dengan lembut. "Iya sama kamu aja, memang mau siapa lagi? Buat apa cari yang lain, kalau kamu punya yang berkualitas."
__ADS_1
Mika tersenyum, setelah itu Jeff kembali melajukan mobilnya untuk kembali pulang. Memang tidak ada yang beres kalu bicara dengan Jeff, tapi Mika menikmati hari ini kok karena Jeff meluangkan waktu untuk sekedar menemani imunisasi. Mika bahagia untuk hal-hal kecil seperti ini.