
Jeff sedang dalam perjalanan pulang, mendengar Mika marah padanya tentu aja dia langsung pulang untuk menyusulnya. Melirik pekerjaan pun rasanya tidak fokus.
Dia bahkan tidak sadar kalau tadi mendiamkan Mika 1 jam dan lagi dia baru sadar ketika 1 jam lebih setelah Mika meninggalkan tempat itu. Dia benar-benar lupa segalanya ketika sudah terjun dalam sebuah pekerjaan.
"Dia pulang pakai apa?" Tanya Jeff pada Gerda.
"Taxi, Pak," jawab Gerda seadanya.
"Kenapa kamu tidak menahannya? Kalau terjadi sesuatu padanya bagaimana?" Jeff berdecak, ada perasaan khawatir saat mengetahui Mika pulang menggunakan taxi. Harus dia akui kalau kali ini dia salah, tapi seharusnya Mika juga mencoba untuk memahami posisinya.
"Saya sudah menahannya, Pak. Tapi Nona Muda memaksa dan memerintah. Dia juga atasan saya."
Jeff kembali berdecak, inilah terkadang Jeff memilih untuk tidak menikah, karena pada dasarnya dia orang yang tidak bisa membagi waktu untuk hal lain selain pekerjaan. Sudah sejak awal dia jelaskan, kalau tidak karena kewajiban menikah dan tuntutan Ibunya dia memilih untuk tidak menikah. Jika sudah begini, Jeff juga yang kelimpungan.
"Menurut kamu saya salah?" Tanya Jeff secara tiba-tiba pada Gerda.
"Maaf, Pak. Saya tidak bisa berkomentar kalau soal ini," ucap Gerda sembari fokus menyetir.
"Saya tau kamu punya pandangan, keluarkan saja. Saya butuh pencerahan," ucap Jeff yang kini mengurut dahinya.
"Maaf, tapi menurut saya Pak Jeff bersalah kali ini," kata Gerda ragu-ragu.
"Kenapa? Bukannya dia harus mengerti pekerjaan saya?"
"Mika itu masih remaja yang sedang mencari jati dirinya, masih labil dengan perasaannya, dia mudah terhanyut dengan segala perasaan yang menghampirinya."
"Dan di saat dia belum tuntas menemukan jati dirinya anda datang secara tiba-tiba dan dipaksa mengerti tentang dunia yang dia tidak pahami. Menurut saya dia memahami dirinya saja masih sulit, apalagi harus memahami kehidupan pria dewasa yang sibuk dengan dunia bisnis."
__ADS_1
Jeff tertegun mendengar pandangan Gerda. Dia benar, dirinyalah yang memaksa Mika masuk ke dalam kehidupannya, tapi dia juga yang menghancurkan perasaannya. Kehidupannya juga sudah sering terluka, sekarang Jeff malah menambah lukanya.
Gerda sedikit ngeri juga melihat Jeff yang tidak merespon, karena bisa-bisa dia yang kehilangan pekerjaan kalau begini. Tapi salah Jeff sendiri yang meminta pandangannya dan Gerda juga tidak menyesal, dia merasa kasihan juga melihat Mika si gadis kecil itu.
Tak selang beberapa lama mereka sudah sampai, Jeff langsung masuk ke mansion keluarganya. Mereka yang ada di dalam sana lagi-lagi melihat wajah tak beraturan dari sepasang suami istri itu. Tapi kali ini lain, Jeff nampak tidak memperhatikan sekitarnya dan langsung menemui Mika di atas tanpa menyapa siapapun di sana. Mencerminkan sekali kalau mereka memang sedang ada masalah.
Mona dan Elang saling bertatapan, mereka seolah paham dan terkoneksi satu sama lain. Sementara Selena memilih untuk tidak peduli. Menurutnya Mika sangat drama, menyulitkan kehidupan kakaknya saja. Dia jengkel melihat drama itu semua.
Saat sampai di atas Jeff melihat Mika yang sedang merenung di sofa besar sambil sesekali menghapus air matanya. Jeff terdiam, baru kali ini dia melihat menangis dan yang menjadi alasan dia menangis adalah dirinya.
Dia pun melangkahkan kakinya dan ikut duduk di samping Mika. Mika yang merasakan kehadiran Jeff memilih diam, begitu juga dengan Jeff. Keduanya kalut dengan perasaan masing-masing.
"Aku buat kamu terluka ya?" Tanya Jeff memulai pembicaraan.
Mika yang memang melankolis dan ditanya seperti itu malah membuat dia semakin ingin menangis. Kenapa Jeff bertanya kalau dia sendiri sudah tau jawabannya? Tentulah dia yang membuat Mika terluka hari ini.
"Mika," panggil Jeff karena merasa tidak mendapat jawaban.
"Tapi kamu nangis."
"Kamu gak bikin aku terluka kok, Mas. Aku terluka karena diri aku sendiri, karena aku berharap sama orang asing yang tiba-tiba ingin menikah sama aku. Udah tau asing, tapi aku malah berharap sama dia, akhirnya aku sendirian yang sakit," ucap Mika disela isakannya.
"Aku suka diajak bicara, aku suka kalau orang luangin waktu buat aku, aku suka kalau orang menghargai keberadaan aku di sampingnya. Aku suka orang yang bikin aku ketawa. Aku suka kalau orang fokus sama aku ketika emang lagi habisin waktu berdua," lanjutnya.
Jeff menghela napasnya dalam. Kenapa nada bicara Mika membuat hatinya tertusuk sakit? Kenapa dia merasa terpojokkan sekarang? "Aku cuma mau kamu mengerti pekerjaan aku, Mik. Aku gak bisa setiap saat-"
"Aku ngerti, kemarin-kemarin aku diem juga karena aku ngerti, Mas. Sebenernya aku juga gak butuh waktu 24 jam sama kamu. Aku cuma butuh kita bicara, memahami arti dari pernikahan kita itu apa, bahkan aku aja gak tau orang asing ini anggap aku bagian hidupnya atau engga?"
"Tapi ya udah, udah aku bilang kamu gak salah. Aku yang salah. Jangan terlalu dipikirin." Mika beranjak dari sofa dan menuju ke kamar, namun Jeff segera menyusul dan menahannya agar menyelesaikan ini semua.
__ADS_1
Mika kini menatap Jeff tanpa ragu. "Kenapa lagi?"
"Aku mau masalah kita selesai, coba untuk dewasa, Mika. Permasalahan itu jangan ditunda-tunda."
Jujur saja dia pusing harus menyikapinya bagaimana. Dia menyadari kesalahannya, tapi ada beberapa hal yang memang tidak bisa Jeff penuhi untuk Mika dan dia maunya Mika mengerti.
Mika mengepalkan tangannya. Bagaimana bisa Jeff bicara seperti dia yang belum dewasa menghadapinya? Padahal sudah jelas-jelas kalau di sini masalahnya ada pada Jeff. Mika dari awal sudah mengikuti alurnya, tinggal Jeff saja yang kini memahami.
"Kamu mau aku gimana sih, Mas?" Tanya Mika tak paham.
"Aku mau kamu ngerti kalau aku punya kesibukan."
"Iya aku ngerti, puas?!" Mika tidak tau lagi harus merespon bagaimana. Andai Jeff tau kalau dia sekarang sedang mencoba membaca lembaran demi lembaran kehidupan seorang Jeffrico, andai juga dia tau kalau sekarang Mika sedang mencoba memahami isi kepala seorang Jeff.
Namun, belum saja dia tuntas melakukannya Jeff malah membuatnya kecewa lebih dulu, lebih tidak mengerti lagi Jeff mau dia memahami semuanya sampai akhir padahal Mika masih di awal lembaran.
Mika menangis dan Jeff yang melihat itu langsung membawa tubuh Mika ke dalam pelukannya, dia tau kalau yang sekarang Mika butuhkan adalah ketenangan. Meskipun Mika mengiyakan dia juga tau kalau sekarang gadis itu sedang berkutat dengan pemikirannya sendiri.
"Seharusnya kamu gak maksa aku buat masuk ke kehidupan kamu, Mas. Kalau kamu minta aku mengerti dunia kamu, tolong kamu juga pahami dunia yang aku jalani juga," ucap Mika.
Jeff tidak menjawab, dia memilih untuk diam dan mendengarkan isi hati istrinya. Sampai beberapa menit berlalu, Mika kini sudah jauh lebih tenang di dalam pelukan Jeff. Membuat pria itu sedikit lega, karena dia tidak perlu repot-repot mencari cara lain agar Mika tenang.
Perlahan Jeff menangkup pipi gadis kecilnya, dengan lembut dia menautkan bibir mereka satu sama lain. Dia sendiri pusing, jadi dengan mencium istrinya seperti ini, perasaannya bisa teralihkan.
Mika membalas ciuman suaminya, bahkan sekarang Mika mulai lihai melakukannya. Dia masih marah sebenarnya, namun sikap Jeff yang seperti inilah yang membuat Mika sulit untuk menolak dan berakhir untuk menikmati setiap sentuhan Jeffrico lalu perlahan lupa dengan amarahnya sendiri.
Mereka sudah terlalu larut dalam permainan mereka, sampai akhirnya Jeff menggendong tubuh Mika dan melanjutkannya di dalam kamar.
Di sisi lain, Elang mematung di balik tembok. Dia tidak bermaksud menguping, tapi dia sedikit khawatir kalau sampai kakaknya lepas kendali. Dia sedikitnya mendengar apa yang mereka permasalahkan, tapi pada ujungnya dia melihat mereka berdua yang saling memagut satu sama lain.
__ADS_1
Apa pantas kalau dia merasa sakit saat melihat ini semua?