
Di ruangannya Jeff menatap gedung-gedung di kursi kebesarannya. Dia nampak senyum-senyum beberapa hari ini. Bukan karena memenangkan tender besar, bukan juga karena pekerjaan. Ya dia seperti ini ketika membayangkan Mika.
Semenjak Regan lahir juga dia merasa ingin selalu cepat pulang ke rumah. Menggendong Regan, memeluk dan mencium Mika. Ah pokoknya semua yang berhubungan dengan Mika dia sukai.
Sudah lama tidak dia merasakan hal seperti ini, apa dia jatuh cinta ya? Dia pernah secinta itu pada pekerjaannya tapi kali ini lain, rasanya begitu nyata dan menggetarkan perasaan manusia kaku seperti Jeff.
Apalagi kala Mika mengingatkannya makan, membangunkannya tidur, membuatkannya sarapan, semuanya tiba-tiba masuk ke kepala Jeff dan membuat dia sulit berpikir. Ternyata sebesar itu pengaruh Mika dalam hidupnya, rasanya jantung Jeff baru berdebar lagi akhir-akhir ini.
Memang kalau dipikir bukan waktunya lagi Jeff merasakan jatuh cinta. Umurnya sudah dewasa, aneh saja dia yang sudah dewasa seperti itu senyum-senyum sendiri, belum lagi memang pernikahannya dan Mika sudah lama, memang pantas kah dia berperilaku bergini? Pikirnya.
"Arrghht Mika, kamu membuat saya gila!" Geramnya.
"Bapak merasa gila, kenapa?" Tanya seseorang dari belakang.
Jeff yang merasa kaget, kembali memutar kursinya ke hadapan meja dan menatap Gerda dengan wajah dinginnya. Bisa-bisanya Gerda datang tanpa permisi, mau ditaruh di mana mukanya kalau tertangkap basah sedang memuja seorang wanita. "Kalau masuk ketuk dahulu!"
"Maaf, Pak. Saya tadi sudah melakukannya tapi anda sibuk menggila," ucap Gerda setengah menggoda. Ya tentu dia tau apa yang ada dipikiran Jeff, rasanya akhir-akhir ini, seperti tidak tahu tempat Jeff terang-terangan tersenyum seperti mendapatkan lotre.
"Ya sudah, ada apa?" Tanya Jeff berusaha untuk tetap tenang.
"Besok ada penerbangan ke Malaysia untuk presentasi, ada yang perlu saya siapkan?" Tanya Jeff.
Jeff nampak berpikir, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan. "Saya mengutus kamu untuk presentasi dan sekretaris saya. Saya sedang banyak pekerjaan lain yang harus diurus dan tolong sampaikan permintaan maaf kepada Pak Dibroto karena saya tidak bisa hadir."
Gerda mengangguk patuh, ya mungkin bossnya ini sekarang ingin mengambil waktu lebih banyak bersama keluarga, jadi tidak masalah karena Gerda juga menyanggupi. Setelah selesai dengan urusannya, dia kembali keluar dan meninggalkan Jeff.
Setelah Gerda keluar, Jeff mengirim pesan pada Mika. Merasa sudah tidak ada lagi yang perlu dikerjakan, akhirnya Jeff keluar dari ruangannya untuk pulang ke rumah.
Sepanjang lorong banyak yang menyapa Jeff, mereka terheran-heran, boss besar mereka yang biasanya terlihat galak dan dingin menjadi sosok yang ramah. Jika disapa dia tersenyum, ya meskipun tipis tetap saja aneh.
"Selamat sore, Pak," sapa sekretaris Jeff.
__ADS_1
"Selamat sore, Kathrine," balas Jeff.
"Wah, bapak habis menang lotre ya. Seperti bahagia sekali, Pak?" Ucap Kathrine setengah bercanda.
"Lebih dari lotre, Kath Kalau begitu saya pulang. Saya juga menugaskan kamu untuk pergi dengan Gerda besok, persiapkan dengan baik!"
"Baik, Pak."
Semua orang benar-benar terpesona pokoknya dengan sikap Jeff belakangan ini. Kalau begini mereka juga jadi nyaman bekerja, karena kalau Jeff yang biasanya terlihat dingin, jadi mereka juga sedikit banyak tekanan, takut salah, takut bicara, pokoknya banyak takutnya.
.
.
.
Mika menuangkan parfum ke telapak tangannya, dia menggosok tangannya sedikit, lalu mengusapkan telapak tangannya pada Regan yang kini sudah bersih karena dimandikan.
Seperti menjadi rutinitas, Regan selalu senang kalau mandi sore. Mungkin karena tau kalau sebentar lagi sang papa akan pulang dan mengajaknya bermain. Ahh gemas sekali anaknya ini.
"Kan dia bertumbuh, Sel. Mukanya semakin jelas, gak keliatan kaya bayi lagi. Tapi jadi Jeff junior," ucap Mika sambil terkekeh.
"Lo terlalu benci sih sama Kakak gue kemarin, jadi anaknya mirip dia. Tapi bedanya ini Kak Jeff versi gemesnya, soalnya Regan sukanya senyum, ah meleleh hati Auntynya." Selena menggendong bayi itu, dia suka sekali dengan keponakannya ini.
Mika juga tidak keberatan, karena ya mereka menyayangi Regan. Regan juga senang kalau bermain dengan Selena. Memang semesta pintar membolak-balikan keadaan. Memang siapa sangka kalau Si Kuman dan Si Bebek ini akan menjadi kakak dan adik ipar yang kompak, kalau melihat masa lalu rasanya tidak mungkin deh mereka bisa sedekat ini.
"Mik nanti malem Regan tidur sama gue ya? Gemes, mau gue peluk," pinta Selena.
"Bilang sama papanya, Mas Jeff paling gak bisa jauh dari Regan kayanya. Yang pertama dicari waktu bangun juga Regan. Kadang gue ngerasa lucu aja, orang yang dulunya susah buat gue gapai, sekarang jadi sosok yang hangat," kata Mika sembari terkekeh.
"Gue juga gak nyangka, lebih gak nyangka kita bakalan ada si posisi ini. Maksudnya kita berdua deket," balas Selena.
"Tapi gue seneng kok, walaupun lo akhlaknya minus gitu. Tapi sebenernya dari dulu gue sayang sama lo, cuma lo aja suka cari gara-gara."
__ADS_1
"Hehehehehehe maaf, maafin aunty juga, Regan. Mamanya pernah Aunty marahin. Salah sendiri mama kamu suka bikin iri, tapi aunty sadar kok sekarang kenapa Mama kamu banyak yang sayang. Ya karena mama kamu sebaik itu."
Selena bicara pada Regan, pokoknya Regan harus selalu melihat Ibu dan Ayahnya dari sisi yang paling baik. Selena tidak mau nantinya Regan seperti dirinya yang dulu selalu memandang kedua orang tuanya dari sisi berantakan. Tidak, Regan harus mendapatkan yang terbaik.
"Mik, kalau gue deket sama Kak Ed, lo kesel gak? Maksudnya lo rela gak?" Tanya Selena seraya menoleh ke arah Mika.
"Ya rela aja, kenapa engga? Dia mantan gue dan masa depan gue ya Kakak lo," jawab Mika simpel. Ya karena buat apa loh tidak rela, selagi Selena bahagia ya dia senang. Apalagi sekarang Selena tidak terpuruk lagi karena masalah keperawanannya. Dia sudah jauh lebih baik dan hidup dengan normal.
"Ya kan biasanya kalau mantan jadian sama orang yang deket sama kita suka kesel," ucap Selena.
"Ya kalau gue engga, Sel. Yang namanya berjalan masing-masing seharusnya gak peduli lagi mau dia pacaran sama siapa aja dan gue sama kak Ed udah lama berakhir. Jadi kalau lo sama dia ya gue malah seneng."
Selena menganggukkan kepalanya dan kembali bermain dengan Regan. Dia hanya bertanya sih, karena ya akhir-akhir ini dia dekat dengan Edgar. Kalau sudah bicara dengan Mika dia jadi santai. Dia juga menceritakan apa-apa saja kok tentang Edgar pada Mika. Karena sekarang menurutnya, Mika tempat berbagi paling nyaman dalam hidupnya.
Selena menoleh ke ponsel Mika yang kini bernotif. Mereka sama-sama melihat isi pesan yang bermunculan di sana.
Mas ❤️ : Aku sudah selesai kerja
Mas ❤️ : Rindu
Mas ❤️ : Rindu Regan juga
Mas ❤️ : Tunggu aku pulang ya
Mas ❤️ : Kita makan sama-sama!
Mika menipiskan bibirnya, bukan hal yang aneh lagi kalau Jeff mengungkapkan rasa rindunya. Akhir-akhir ini memang Jeff terlihat terang-terangan mengungkapkan perasaanya. Mika yang memang masih remaja senang jika diperlakukan seperti itu. Tak jarang dia juga salah tingkah, padahal ya kalau dipikir-pikir bukan waktunya lagi. Dia sudah menjadi seorang Ibu sekarang.
"Bucin banget sekarang Kakak gue," gumam Selena.
"Gatau, gak tau kepentok apa. Biarin deh," balas Mika seolah tidak peduli. Bohong sekali tapi kalau tidak peduli, rasanya dia ingin lompat-lompat sekarang juga.
"Halah, padahal mah seneng dibucinin!" Cibir Selena.
__ADS_1
Mika terkekeh, ya tidak salah sih. Memang tidak ada ya istri yang tidak senang jika suaminya terlihat mencintai dia? Mika senang lah, selama pernikahannya kemarin dia banyak menangis dan sekarang dia merasa di titik bahagianya sendiri.