10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Selalu Berusaha Baik-Baik Saja


__ADS_3

Emm maaf ya aku baru up lagi, soalnya kemarin aku da acara tahun baruan. Btw happy new year!



Mika sedang berada di kamarnya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dan dia pun membukanya pelan-pelan. "Kak Elang?"


"Waktunya minum susu sama suplemen," ucap Elang.


"Oh iya lupa."


Mika mempersilahkan Elang masuk ke dalam, tentunya pintunya tidak dia tutup karena tidak mau menimbulkan fitnah atau hal lain sebagainya. Elang mengulurkan susu Ibu hamil yang sudah dia buat tadi dan memberikan suplemen ke telapak tangan Mika.


"Minum, kalau telat aku takut dia lapar di dalam sana," ucap Elang perhatian.


"Makasih ya, Kak," balas Mika sembari meminum susunya.


Memang beberapa bulan ini Elang lah yang setiap hari memberikan susu hamil dan suplemen pada Mika. Dia tidak mau kalau sampai bayi yang ada di kandungan Mika kebutuhannya tidak tercukupi. Saat dia lahir pokoknya harus sehat dan baik-baik saja.


"Perlengkapan bayi ada yang kurang gak?" Tanya Elang.


"Kayanya udah semua deh, Kak," ucap Mika.


Elang berpikir, memang sudah semua sepertinya. Tapi masih ada yang kurang menurut Elang, apa ya? "Box bayi!"


"Gak usah, Kak. Lagian kan nanti bayinya bisa tidur sama aku, uangnya sayang. Kakak kan juga perlu biaya buat diri sendiri. Belum lagi buat biaya kuliah kakak juga."


"Gapapa, apa sih yang engga buat ponakan," kata Elang sembari tersenyum.


Mika suka senyum Elang, tidak pernah berubah. Selalu memancarkan ketulusan dan membuat hatinya hangat. Namun dia tidak bisa membalas perasaan pria itu, kalau bisa sudah dia lakukan sepertinya. Mika menggenggam lengan Elang pelan. "Kak soal tadi pagi ... "


"Gapapa, kamu adek aku dan akan tetap begitu." Elang mengusap puncak kepala Mika dengan lembut. Membuat Mika sedikit bernapas lega kala mendengarnya.


Tanpa mereka sadari kalau Selena melihat itu sejak tadi. Dia jadi kembali merasa bersalah karena dulu melarang Elang berpacaran dengan Mika. Egois memang, tapi Selena berjanji kalau sekarang dia akan berubah menjadi orang yang lebih penting baik lagi.

__ADS_1


.


.


.


Tessa, Caca dan Selena selalu suka jika berada di sini, terlebih di kamar Mika yang memang beraroma mawar, membuat pikiran yang penat bisa menjadi rileks seketika.


"Mik, lo bahagia di sini?" Tanya Tessa.


"Ya apapun yang gue rasain, gue emang harus selalu berusaha baik-baik aja, kan? Ini pilihan gue dan gue harus menikmati," jawab Mika sembari melipat baju-baju kecil yang kemarin Mika dan Elang beli.


"Lucu banget baju-baju calon ponakan gue, Kak Elang ya yang beliin?" Tanya Selena.


"Heem, memang siapa lagi, Sel. Gue kan belum bisa kerja, maaf ya gue harus ngerepotin kakak lo," ucap Mika tulus.


"Gapapa, kali. Lo kenapa gak sama Kak Elang aja sih? Ya walaupun gue adeknya kak Jeff juga tapi gue lebih seneng kalau lo sama Kak Elang. Lo suka kan sama dia dulu?" Tanya Selena lagi.


Mika terdiam, dia jadi teringat kembali pembicaraannya dengan Elang tadi pagi. Bahkan sampai sekarang rasa bersalahnya masih ada, bagaimana pun Elang memang baik sekali padanya. Mika jadi menghela napasnya.


"Bener sih dan lagi pasti gak mudah tau, Sel jadi Mika. Dia harus menjalani ini semua sendirian dari pertama dia hamil sampai sekarang. Apalagi kakak lo yang gak ada akhlak itu udah bikin dia jatuh cinta. Dia butuh rehat dari masalah percintaan. Jadi boro-boro kepikiran buat deket sama Kak Elang," ucap Caca.


"Tapi ngebesarin anak bukan hal yang mudah kalau dilakukan sendirian, apalagi Mika itu perempuan, Ca. Dia setidaknya butuh orang untuk berbagi banyak hal mengenai urusan anak. Apalagi kalau dia resmi cerai sama Kak Jeff. Engga gue gak akan larang dia kalau misalnya dia emang mau pisah, tapi kalau dia harus bekerja dan ngurus anak secara bersamaan kaya gitu, gimana?"


Mika terdiam, dia belum memikirkan ke arah sana sih. Karena hidup bersama Elang memang membuatnya berada di zona nyaman sampai dia tidak berpikir ke arah sana. Selena justru malah membuatnya berpikir keras sekarang.


"Tapi Mika gak sendiri, Sel. Mika punya kita, gue juga gak akan biarin Mika kepikiran sendiri atau membiarkan dia ngurus anak seorang diri, gue-"


Mika terkekeh. "Kenapa jadi kalian yang berdebat? Tapi Selena gak salah kok. Gue malah jadi berpikir buat kedepannya. Karena gue emang cuma berpikir kalau gue bisa hidup sendiri tanpa mikir apa yang akan gue lakukan setelahnya."


"Gue emang pasti butuh orang buat diajak bicara banyak hal, gue masih belum memahami dunia pernikahan, gue juga belum memahami gimana caranya menjadi Ibu, gue emang butuh itu pasti. Tapi, Sel. Gue pasti akan berusaha, karena sejak gue lahir gue diajarkan buat survive. Jadi gue pasti survive," ucap Mika yakin.


Selena menghela napas, bukan karena kesal. Tapi dia lagi-lagi kagum dengan pemikiran Mika yang selalu tak pernah terduga. Bahkan di usianya yang masih remaja dia sudah mengalami banyak masa sulit. Seharusnya Mika bisa menikmati dunia sama sepertinya, di saat dia butuh pertolongan bahkan dia memberikan kehidupan baru untuk Selena dan berbagi apapun termasuk teman-temannya. Memang benar-benar wanita tangguh seorang Mika di mata Selena.

__ADS_1


Setelah mereka membantu Mika menyelesaikan pekerjaannya, kini mereka sedang menonton TV di depan. kebetulan Elang juga sedang memasang box bayi yang baru dia beli. Lucu melihatnya, Elang nampak seperti seorang ayah yang menantikan anaknya lahir.


Namun saat sedang asik dengan kegiatan tersebut, tiba-tiba suara bel berbunyi, Elang hendak membukanya namun Mika dengan sigap berjalan ke arah pintu untuk membukanya. Aneh saja ada yang bertamu ke sini. Biasanya hanya tukang paket atau tukang pos saja yang suka ke sini.


Mika membuka pintu dan dia tertegun saat melihat seseorang yang ada di hadapannya. Napasnya memburu ketika mengingat kejadian 3 bulan lalu saat Jeffrico meninggalkannya dalam keadaan kritis. "M-mass?"


"Ayok kita pulang, mau sampai kapan kamu bersembunyi di sini?" Ajak Jeff.


Semua orang yang ada di dalam ikut terkejut saat mendapati Jeff ada di sini. Kali ini Elang kecolongan akibat kecerobohan Selena yang menyimpan tiket keberangkatannya ke Jakarta, sehingga dengan mudah orang-orang suruhan Jeff mendapatkan lokasi Mika setelah membuntuti mereka.


Elang dengan gagah menghampiri Jeff di depan pintu, tidak ada ketakutan dalam wajahnya. Tidak peduli juga jika wajah tampannya menjadi sasaran kemarahan Jeffrico. "Dia gak mau pulang, lebih baik lo pergi."


"Dia masih istri saya, Elang dan kamu juga adik saya. Kalian harus segera pulang ke rumah!" Tegas Jeff.


Mika terkekeh, dia pikir Jeff akan membujuknya untuk pulang. Tapi nada-nadanya memerintah seakan semua orang harus mengikuti kemauannya. "Kamu gak pernah berubah ya, Mas?"


"Aku kira kamu ke sini akan bujuk aku dengan baik-baik, tapi rasanya gak ada yang bisa aku harapkan dari kamu. Kamu ya emang Jeffrico, mau gimana pun kamu tetep Jeffrico Rasendria yang gak punya hati!"


Pertahanannya runtuh, Mika benar-benar tidak bisa menahan tangisnya. Rasa marah, kecewa, cinta, benci dan juga rindu bersatu padu dalam benaknya. Seharusnya jika seperti ini, Jeff tidak perlu ada di sini dan seharusnya Mika berhenti berekspektasi ketika Jeff datang ke sini, bukan membuat ekspetasi sendiri yang akan menghancurkan hatinya untuk kesekian kali.


"Setelah anak kita lahir, aku mau kita pisah. Tolong jangan ganggu aku lagi. Aku gak mau ketemu kamu!" Lanjut Mika dengan susah payah dan memberanikan diri menatap mata Jeff dengan teguh.


Jeff menangkup kedua pipi Mika, menatapnya dengan lamat. Mika harus tau betapa tersiksanya dia selama 3 bulan ini karena kehilangannya. "Kamu bilang apa? Selama tiga bulan ini aku mencari kamu kemana-mana dan setelah dengan susah payah kamu minta kita berpisah? Tidak, aku tidak akan menceraikan kamu."


Mika melepaskan tangan Jeff dari pipinya dengan usaha keras. "Kamu cari aku cuma buat pajangan aja, kan? Di mana kamu saat aku hampir mati karena kekurangan darah? Di mana kamu saat aku sama anak kamu butuh sosok kamu di dalamnya? Di mana saat aku kritis kemarin? Di mana?!!"


Jeff tidak bisa menjawab, semua yang Mika katakan memang benar kalau dia egois, dia hanya ingin Mika tapi tidak memberikan apa yang dia butuhkan. "Maaf, Mika aku-"


"Cukup, Mas aku udah bosen sama kata maaf kamu. Aku mau kamu pergi sekarang!"


"Mika tolong beri aku kesempatan untuk menjelaskan ini semua, aku punya alasan-"


"PERGI JEFFRICO!" Tegas Mika, membuat Jeff mematung di depannya.

__ADS_1


Karena Jeff tidak beranjak, Mika menutup pintunya rapat-rapat. Tidak ada satu orang pun yang berani membukanya. Meskipun ada sedikit rasa kasihan di mata Elang dan Selena. Karena meski begitu Jeff adalah kakak mereka.


__ADS_2