10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Sosial Butterfly Vs Anti Sosial


__ADS_3


Mika mengambil paper bag yang Jeff berikan dan membawanya ke ruang tengah lantai dua. Di mana di sana hanya ada sebuah sofa besar yang menghadap ke jendela. Berguna sih untuk seorang Mika yang sering menyendiri.


Setelah meminum obat dan suplemen yang Elang berikan tubuhnya sedikit lebih ringan. Sepertinya dia memang harus mulai terbiasa dengan ini semua dan perlahan melupakan perasaannya pada Elang.


Sesekali Mika menghela napas. "Gue ngerasa ada yang salah, tapi gak tau salahnya di mana. Kaya ngeganjal tapi gak tau apa." Jujur saja, perasaan Mika tidak karuan hari ini.


"Apa ini karena baru awal ya makanya gue jadi kalang kabut gini?" Gumamnya lagi, masa iya dia baper karena seorang Selena yang memang sudah biasa begitu? Atau dia baper karena Jeff seperti acuh tak acuh? Atau karena Elang?


"Ya Allah, bantu buat hati Mika tenang. Perasaan kaya gini gak enak banget," ucapnya lirih.


Mika berusaha menenangkan dirinya sendiri. Dia berusaha berpikir positif kalau sekarang dia begini karena amarah yang tidak bisa diluapkan pada Selena. Jadi seharusnya dia tidak berpikir terlalu jauh.


Pelan-pelan dia mengambil ponsel barunya dan memindahkan kartu sim dari ponsel lamanya. Dia juga menginstal beberapa aplikasi di sana. Termasuk Instagram.


Banyak mention yang masuk ke dalam direct messagenya. Apalagi kalau bukan berita pernikahan dan ucapan seraya memajang photonya dan juga Jeff. Ada beberapa media juga yang memposting berita pernikahan mereka.


Pernikahan Mewah Seorang CEO Ternama Dirgantara Group : Jeffrico Rasendria Dirgantara. Yuk intip acaranya. Mika hanya terkekeh, seramai ini yang antusias tapi entah kenapa dia tidak merasakan antusias dalam dirinya sendiri.


Mika yang biasanya update setiap hari di insta story, kini malah tidak memposting apapun di akun miliknya. Sampai-sampai ada yang bertanya padanya karena belum memposting satu photo pernikahan pun.


Tiba-tiba tangannya tergerak mengetikkan sesuatu di kolom pencarian. Jeffrico Rasendria Dirgantara. Nama itu muncul begitu saja di dalam pikiran Mika.


Pengikutnya lumayan banyak, apalagi photo profil Jeff memang sangat tampan. Dia juga tidak kalah banyak followersnya dari Mika yang bisa dibilang Anak Hits Bandung. Namun hanya ada satu photo yang dia posting di sana dengan kolom komentar yang ditutup. Sebuah pemandangan yang diambil pada saat senja tanpa caption.


"Gimana bisa juga gue yang ekspresif gini punya suami ansos. Kayanya lebih seru scroll akun Kak Elang daripada Om-Om ini."


Kalau begini bagaimana bisa dia mengharapkan tag dari Jeff dalam insta storynya? Bahkan niat untuk memposting story yang tadi Mika pikirkan pun mendadak tidak jadi. Al hasil Mika hanya memposting wajahnya sendiri di sana.


Mika jadi kepikiran, kalau dia tidak mempunyai nomor Jeff. Selama beberapa Minggu Jeff menghampirinya dan tidak pernah menghubunginya. Lalu bagaimana mereka berkomunikasi coba? Pernikahan yang aneh.

__ADS_1


Pucuk dicinta bulan pun tiba, baru saja Mika memikirkannya tiba-tiba sebuah imess muncul di sana tertera dari ❤️. Memang hanya itu yang tertera di sana, sepertinya Jeff sudah lebih dulu menyimpan semua kontaknya.


❤️ : Jangan hubungi aku kalau tidak penting


❤️ : Aku jarang pegang ponsel


❤️ : Aku akan menghubungi kamu duluan ketika luang


❤️ : Aku akan pulang larut malam


❤️ : - Jeffrico


Mika menyerngitkan dahinya. Sesibuk itukah seorang Jeffrico sampai harus bicara seperti ini? Lagipula siapa juga yang akan menghubunginya?


Sedikit mencibir, baru satu hari menjadi istri Jeffrico saja sudah membosankan. Apa dia yakin akan menjalani ini seumur hidupnya?


.


.


.


Mansion ini sangat luas, tapi sayangnya sunyi. Lebih sunyi dibandingkan saat di rumahnya sendirian. Tadi Bi Inah bilang kalau Mertuanya dan juga Selena sedang pergi mengurus perkuliahan Selena, sementara Elang pergi bersama teman-temannya mengingat sedang liburan akhir semester di kampus.


"Bi ... " Panggil Mika sembari memperhatikan Inah yang sedang menyiram tanaman di taman belakang rumah ini.


"Iya, Non?" Tanya Inah dengan ramah.


"Di sini emang sepi banget ya? Om Jeff biasa pulang jam berapa? Terus mama juga jarang di rumah?" Tanya Mika.


Inah tersenyum, dia paham sih ini cukup aneh untuk gadis seusia Mika. Dia baru saja menikah tapi sudah ditinggal sendirian di mansion besar ini. "Nyonya sibuk dengan kantor cabang, Non Selena dan Den Elang mereka juga lebih sering menghabiskan waktu di luar, kalau Den Jeff biasanya pergi pagi dan pulang larut sekali."

__ADS_1


"Jadi emang udah terbiasa sepi?" Tanya Mika ragu.


"Iya, Non. Hanya pagi-pagi saja orang rumah berkumpul, mungkin siang terkadang kalau sedang luang, kalau malam jarang. Paling hanya ada Den Elang atau Non Selena. Karena nyonya juga pulang larut malam walaupun tidak semalam Den Jeff."


Mika mengangguk-nganggukkan kepalanya. Keluarga ini harmonis sih ketika berkumpul, tapi kesehariannya memang sangat membosankan. Dulu meski kedua orang tuanya sibuk, mereka saling meluangkan waktu.


Apa mungkin karena kematian ayahnya Jeff yang membuat mereka menyibukkan diri masing-masing? Tapi bukannya seharusnya mereka lebih sering berkumpul untuk membunuh rasa sepi? Andai Mika diberikan satu saudara, mungkin Mika akan lebih sering menghabiskan waktu bersama. Tapi sayangnya Mika memang anak tunggal.


"Bi, kalau aku ngerasa kesepian boleh ajak Bibi bicara?" Tanya Mika.


"Tentu, Non. Bibi malah senang ada teman bicara selain pelayan yang lain. Non itu seusia anak Bibi di kampung. Jadi kalau Non tidak keberatan ya bisa berbagi apapun dengan Bibi."


Mika tersenyum dan perlahan mengangguk. Sekiranya ada yang bisa dia ajak bicara di sini. Meskipun dia memang sudah terbiasa sepi, tapi ini rasanya aneh. Dia memiliki keluarga baru tapi tetap terjebak di kesunyian.


Tiba-tiba sebuah suara terdengar dari belakang, terlihat Selena membantingkan Tasnya ke meja makan. "Kuman, ambilin gue minum!"


Mika melipat tangannya di dada sembari memperhatikan tingkah seseorang yang katanya kini menjadi adik iparnya dan menghampiri Selena. "Kenapa harus gue? Gak punya tangan?"


"Udah berlagak ya lo di rumah ini, numpang juga! Cepet!" Kesal Selena.


"Gue dinikahin kakak lo, dia yang minta gue jadi istrinya. Kalau lo mau protes ya sama dia aja. Gue di sini bukan pembantu yang lo bisa suruh-suruh," balas Mika yang berusaha menahan emosinya.


"Bacot! Awas ya lo!" Selena mengambil vas lalu membantingnya di hadapan Mika, dia sangat membenci Mika dan langsung pergi ke kamarnya.


Mika kaget saat mendapati kakinya terkena pecahan kaca. Tangannya mengepal kuat karena emosi, Selena benar-benar keterlaluan. Sakit, tapi lebih sakit harga dirinya sekarang.


Para pelayan dengan sigap membantu Mika duduk dan yang lainnya membersihkan pecahan kaca itu. Mika kali ini benar tersiksa dengan emosinya yang tidak bisa dikeluarkan. Dia ingin marah tapi kata-kata Jeff terngiang dalam benaknya.


"Non, tahannya sebentar biar Bibi obati. Takut infeksi." Inah mencabut pecahan kaca itu dari kaki Mika. Rasa sakit akibat Jeff saja belum sembuh, sekarang harus ditambah lagi dengan beberapa luka di kakinya.


Apa dia harus menghadapi ini setiap hari? Kalau iya dia tidak akan bisa. Dia juga lama-lama pasti akan tersulut emosinya dan lost control. Sejak awal saja sudah tidak baik, tapi semuanya seolah dipaksakan. Pada akhirnya Mika sendiri yang merasa sakit. Tidak ada yang bertanggung jawab juga atas rasa sakitnya.

__ADS_1


"Mik, lo harus kuat!" Gumam Mika dalam benakknya.


__ADS_2