
Setelah selesai mandi, Mika sedang mengeringkan rambut di depan cermin. Sedangkan Jeffrico sibuk memilah dan memilih pakaian. Sebuah dress berwarna biru dongker terulur ke arah Mika, membuat Mika menoleh kearah si pemilik tangan.
"Aku cuma di rumah dan sebentar lagi udah mau malem, kenapa harus pake dress?" Tanya Mika tak paham.
"Kita makan makan malam di luar, bosan di sini, kan?" Tanya Jeff.
Mika melongo, tidak percaya saja Jeff mengajaknya makan malam. Namun seketika bayangannya kembali teringat pada makan siang waktu itu. "Gak mau, nanti kamu biarin aku satu jam lagi kaya waktu itu."
"Engga, cepet. Penawaran aku gak berlaku dua kali."
Tanpa pikir panjang Mika mengambil dress dari tangan Jeff, ya kalau sampai Jeff ditolak dia tidak akan ada lagi waktu seperti ini. Langsung saja dia berlari kecil untuk mengganti pakaiannya.
Jeff tersenyum, memang kelakuan Mika ini selalu saja membuat Jeff menggelengkan kepalanya. Ya hiburan juga sebenarnya untuk ukuran Jeff yang memang gila kerja.
Beberapa menit Mika mengganti baju, setelah itu dia menata rambutnya dan juga memoles make up tipis. Tidak lupa juga memakai jam tangan dan juga kalung simpel yang bisa mengimbangi dress nya agar tidak terlalu biasa saja.
Jeff memeluk Mika dari belakang, untuk sesaat dia melihat bayangan mereka di cermin. "Aku cantik?"
"Cantik banget."
"Kalau aku cantik kenapa gak cukup buat kamu betah di rumah, di luar sana banyak yang lebih cantik ya?" Tanya Mika menyindir.
Jeff lagi-lagi menghela napasnya, memang tidak ada habisnya jika berdebat dengan Mika. Tidak akan cukup satu ronde saja. Pasti akan sampai beronde-ronde dan dia tidak akan puas sebelum pertanyaan yang ada dipikirannya terjawab.
Mika sih cuek, ya wajar saja dia bertanya seperti itu pada Jeff. Bisa-bisanya gitu loh Jeff mengabaikannya? Padahal sudah jelas Mika secantik ini. Memang aneh sekali seorang Jeffrico Rasendria Dirgantara.
Beres dengan perdebatan yang tak kunjung usai, mereka langsung turun ke bawah, Elang yang melihat dari meja makan agak aneh sebenarnya kalau Jeff mengajak Mika ke luar rumah, karena biasanya Jeff memang akan menghabiskan waktu senggangnya ya hanya untuk pekerjaan.
Mika sempat bertegur sapa dengan Elang, tapi tidak dengan Jeff. Dia memang tidak banyak bicara sih, bukan karena kesal juga pada Elang. Sepersekian persen lah alasan cemburu untuk tidak menyapa Elang.
"Kamu gak boleh gitu tau sama Kak Elang," ucap Mika saat sampai di mobil.
__ADS_1
Jeff menatap ke arah Mika sembari melajukan mobilnya, ya kali ini Jeff membawa mobil sendiri. "Gitu bagaimana?"
"Ya kamu kalau sama Kak Elang tuh sapaan, Kek. Dia adik kamu loh."
"Aku jarang melakukan itu dengan Elang, statusnya tetap adik aku. Lalu apalagi? Tidak ada kewajiban untuk bicara panjang lebar, kan kalau tidak penting?"
Mika menghela napasnya, begini nih kalau menikah dengan kulkas 12 pintu. Tidak mengerti jalan pikirannya. "Penting lah kalian kan kakak beradik. Masa kalian gak tegur sapa, aneh aja gitu loh. Kalau aku punya kakak atau adik, pasti aku tanya setiap hari."
"Keadaannya, kondisinya, suasana hatinya, rutinitas dia gimana, secara gitu kan udah beberapa hari ketemu. Lah kamu?"
"Elang baik-baik saja, kondisinya sehat, suasana hatinya baik-baik saja kalau di telaah, buktinya dia bisa main air sama istri aku."
Mika menghela napasnya. Dia mengalah saja kali ini, daripada moodnya nanti hilang saat makan malam. Akan lebih mengacaukan kalau nantinya Mika tidak bisa menikmati kebersamaannya dengan Jeff.
.
.
.
Bisa Mika tebak, Jeff pasti menghabiskan banyak uang untuk makan mereka kali ini. Tempat ini saja begitu mahal, apalagi Jeff memesan ruangan private dengan segala fasilitas dan pelayanan terbaik. Tapi Mika tidak was-was juga karena Jeff memang mampu. Tidak seperti saat dia berpacaran dulu, yang kalau mau makan di resto masih menimbang-nimbang harga dan terkadang harus split bill. Sudah pasti itu tidak akan terjadi jika dia bersama Jeffrico.
"Mass baguss," ucap Mika kagum sembari menatap ke sekitarnya.
"Bagus, karena saya suka di sini," balas Jeff.
Mika pikir Jeff akan bilang kalau ini bagus karena dipesan khusus untuknya. Mika membatin kesal, namun tidak apa. Tempat ini memang begitu bagus, cocok memang untuk dia healing. Jujur saja hamil muda begini Mika rawan sekali stress.
Sembari menunggu makanan mereka datang, Jeff meraih tangan Mika lalu mengusap punggung tangannya dengan lembut. "Suka?"
"Suka." Mika tersenyum lalu mengangguk pelan.
"Suka aku?" Tanya Jeff lagi, untuk kali ini Mika terkekeh sih. Apa om-om seperti Jeff membutuhkan validasi seperti dirinya?
__ADS_1
"Suka," jawab Mika lagi.
Jeff tersenyum lalu menciumi tangan Mika dengan lembut. Tidak paham juga kenapa dia bisa begini. Hanya suka saja jika semua yang dia tanyakan pada Mika jawabannya adalah 'Iya'.
"Aku stress tau di mansion terus," ucap Mika jujur, sembari menatap ke gedung-gedung tinggi itu.
"Kamu bisa kemana pun, aku gak pernah melarang kamu kemana-mama asal kamu bilang. Kartu yang aku beri ke kamu juga rasanya cukup untuk membeli apapun yang kamu mau," balas Jeff.
"Bilangnya gimana kalau aku gak boleh chat kamu waktu kerja, soalnya aku baca di google katanya istri gak boleh keluar tanpa seizin suaminya."
"Kamu boleh hubungi aku mulai sekarang."
"Kamu gak bohong? Kalau main ke kantor kamu tiba-tiba juga boleh?" Tanya Mika berbinar.
"Boleh."
Mika membatin senang sih, walaupun tidak menunjukkannya pada Jeff. Pesanan mereka datang, saat menjadi istri Jeff memang tidak ada yang namanya buang-buang uang memang. Makan steak berjuta-juta seperti ini pun rasanya biasa saja untuk seorang Jeff.
Namun yang membuat ini spesial di mata seorang Mika bukan soal makanan atau tempatnya. Tapi momentnya, karena memang Jeff jarang punya waktu untuk hal-hal seperti ini yang katanya buang-buang waktu.
"Besok aku libur, kamu mau kemana?" Tanya Jeff yang sedikit melirik ke arah Mika.
Belum juga selesai dengan keterkejutannya atas malam ini, tiba-tiba Jeff mengatakan hal itu. Apa tidak kesenangan Mika mendengarnya. Cukup sederhana memang hal-hal yang membuat Mika bahagia. "Terserah, tapi sebenarnya diem di mansion sama kamu seharian aja udah cukup buat aku. Karena dari kemarin aku ngidam tapi kamunya gak ada."
"Ngidam apa hm?"
"Udah gak mau lagi, nanti aja kalau mau aku bilang lagi ke kamu," kata Mika.
"Memang kalau jadi kamu mau apa?" Tanya Jeff sambil meneguk air.
"Mau dinyanyiin kamu," ucap Mika polos yang sontak membuat Jeff tersedak.
"Pelan-pelan!" Peringat Mika.
__ADS_1
Jeff membatin, untung saja dia tidak ada di rumah. Bagaimana Mika bisa ngidam aneh seperti itu? Apalagi Jeff bisa dikatakan tidak bisa bernyanyi. Sudah terbayang bagaimana nanti Mika akan menertawakannya kalau itu benar-benar terjadi.
Jeff melanjutkan makannya, begitu juga dengan Mika. Memang sedikit aneh sih makan malam suami istri terasa formal seperti ini. Tapi Mika masih bisa menikmati meskipun tidak ada kejutan, dansa dan sebagainya seperti apa yang Mika bayangkan tentang makan malam spesial. Mungkin memang bahasa cinta Jeffrico lain daripada yang lain. Jadi sekecil apapun usahanya, pasti akan Mika hargai.