
Elang terkejut saat mendapati Gerda yang masuk kedalam rumahnya. Tidak biasanya saja asisten pribadi Jeff itu datang malam-malam begini. Ya terkecuali untuk pekerjaan.
"Tumben, Bang ke sini? Jeffrico yang suruh lo dateng malem-malem?" Tanya Elang yang memang sudah hafal dengan sifat kakaknya itu.
"Gue disuruh bawain ini," jawab Gerda memperlihatkan paper bag besar, entah isinya apa aja. Gerda dan Elang memang akrab, karena Gerda brodi sekali dengan Elang.
"Itu apa?" Tanya Elang lagi.
Belum sempat menjawab Jeff mengambil barang pesanannya. Membuat Elang melirik ke arah Jeff. "Kebutuhan kehamilan Mika," jelas Jeff sebelum Elang bertanya padanya.
"Terima kasih, Ger," ucap Jeff.
"Iya, Pak sama-sama."
Elang mengajak Gerda berbincang ke taman belakang, sementara Jeff memeriksa barang-barang yang dia pesan. Barangkali ada yang terlewat.
Setelah dirasa lengkap, Jeff mengambil satu dus susu dan membukanya. Dia membawanya ke dapur dan melihat bagaimana cara pembuatannya dengan benar.
Elang melihatnya dari jendela besar yang memang terhubung dengan taman. Dia mengangguk-nganggukkan kepalanya, ya sekiranya Jeff bertanggung jawab sebagai ayah dari bayi yang di kandung Mika.
Jeff mencoba susu itu dengan sendok, dirasa pas dia langsung membawa susu itu ke atas bersama barang-barang lainnya. Ya untuk Mika, tidak mungkin untuk dirinya.
Jeff melirik ke arah istrinya yang masih termenung di depan balkon. Dia menghela napasnya sebentar, lalu membawa susu, vitamin dan juga segelas air mineral ke balkon.
Mika melirik ke arah Jeff, lalu menyeka air matanya. Untuk apa juga Jeff menemuinya, sudah Mika bilang kalau dia tidak ingin melihat Jeff, tapi Jeff malah menghampirinya.
"Jangan nangis, minum dulu susunya," ucap Jeff mengulurkan segelas susu yang tadi dia buat.
Mika diam dan hanya menaikan bahunya. "Buat apa kamu peduli kalau gak seneng kita punya anak?"
Jeff menghela napasnya dan perlahan mengambil kursi untuk duduk di hadapan Mika. "Pegang dulu, Minum. Kalau kamu marah sama papanya, jangan hukum anaknya. Dia butuh nutrisi."
Mika terdiam, tadi Jeff menyebut dirinya papa? Tuh kan baru begitu saja dia sudah melayang, tapi tidak. Dia harus tetap marah pada Jeff sekarang. Perkataan Jeff benar-benar menyakitinya tadi.
__ADS_1
Dengan ragu Mika mengambil susu yang dibuatkan oleh Jeff. Dia meminumnya satu teguk dan kembali menatap Jeff. Membuat Jeff menghela napas, memang sepertinya Mika butuh bicara.
"Aku bukan gak seneng, tapi memangnya sebuah perasaan harus diungkapkan secara terang-terangan?"
Jeff menjeda ucapannya. "Aku seneng, bagaimana pun dia anak aku. Memang aku harus teriak-teriak menyerukan kebahagiaan?"
Mika terdiam, tapi maksudnya dia bukan begitu. Tidak ada yang mau juga tuh Jeff berteriak-teriak seperti orang aneh. Tapi setidaknya dia bisa memberi hal baik untuk kehamilannya. Melihat reaksi seperti itu siapa yang tidak kesal.
"Aku bahagia. Liat dia baik-baik aja, dia hidup di rahim kamu dan kamunya juga sehat. Itu cukup, Mik."
"Baik-baik aja? Gak ada tuh kamu nanya aku baik-baik aja atau engga? Kamu aja gak tau aku masuk rumah sakit tadi, kamu sibuk sama pekerjaan kamu. Kamu pulang ada nanya sama aku gak, Mas? Kamu gak takut aku kenapa-kenapa?"
"Kamu ada di depan aku membuktikan kalau kamu baik-baik aja. Kenapa harus ditanya?"
Mika menghela napasnya. "Terserah kamu aja deh, Mas."
Mika menaruh susunya yang belum habis di meja, namun sebelum dia beranjak Jeff menahannya untuk tetap duduk. "Habisin dulu."
"Gak mau!"
"Aphrodite Mikaella Disera."
Dipanggil dengan nama lengkapnya membuat Mika merinding. Jujur Jeff seram jika seperti itu, dengan terpaksa dia menghabiskan susu dan meminum suplemen vitaminnya. Jeff memang benar-benar pemaksa, dia tidak suka.
Pagi harinya Jeff terbangun karena mendengar suara Mika yang muntah-muntah. Mendengar itu Jeff turun dari ranjang dan menghampiri Mika di kamar mandi.
Gadia itu terlihat lemas, entah sejak kapan dia muntah-muntah Jeff tidak tau. Tanpa banyak bertanya Jeff mengusap punggung Mika dan menemaninya sampai dia merasa lega.
"Kita ke dokter?" Tanya Jeff.
Mika menggeleng dan mencuci mulutnya, napasnya juga terengah-engah karena cape juga ternyata mual dan muntah seperti ini. "Engga, gak usahh. Kata dokternya wajar karena baru trisemester awal."
"Rebahan, biar aku tanya mama gimana atasinnya," ucap Jeff.
"Kamu gak kerja?" Tanya Mika keheranan, ya karena aneh saja Jeff tidak berangkat di saat hari produktif seperti ini.
__ADS_1
"Kamu muntah begini siapa yang jaga?" Tanya Jeff lalu dia keluar dari kamar mandi dan menemui Ibunya di bawah.
Mika mematung, jadi benar Jeff tidak bekerja demi dirinya? Jadi dia khawatir saat dirinya muntah-muntah? Senyum Mika mengembang, perlahan dia mengelus perutnya yang masih rata itu. "Nak, kamu mual aja setiap hari gapapa. Mama ikhlas kalau bayarannya papa kamu gak kerja."
Benar-benar langka kejadian seperti ini, Mika sampai senyum-senyum sendiri saat kembali merebahkan dirinya di kasur. Pokoknya dia seharian ini akan caper pada Jeffrico.
Di sisi lain Jeff menuruni tangga dan menemui Ibunya yang sepertinya sedang bersiap untuk sarapan.
"Kamu gak siap-siap ke kantor, Jeff?" Tanya Mona keheranan.
"Mika muntah-muntah saya harus jaga dia, Ma," ucap Jeff yang tidak hanya membuat Mona melongo. Tapi juga Elang dan Selena. Kesurupan reog apa Jeff pagi-pagi begini.
"Apasih dia caper tuh sama kak Jeff, jangan dimanjain nanti kebiasaan," ucap Selena.
"Sayang, gak boleh gitu loh. Orang hamil itu sensitif, dia juga mengalami morning sickness setiap hari, pasti butuh perhatian dari kakak kamu," ucap Mona.
"Alasan aja, orang hamil banyak kok kaya gitu, Ma. Tapi gak sealay si kuman," ketus Selena yang langsung saja meninggalkan sarapannya dan pergi ke kampus.
Jeff berusaha menahannya namun Mona melarang. Dia sadar kalau Selena tidak boleh selalu dimanjakan, sesekali biarkan dia dewasa dengan cara seperti ini.
"Kamu makan dulu sarapannya. Biar Mama siapkan sarapan untuk Mika agar dia tidak mual lagi. Mama juga tidak akan bekerja ah." Mona tersenyum dan menepuk-nepuk pipi putranya pelan dan langsung pergi ke dapur.
Kini hanya ada Jeff dan Elang yang berada di meja makan. Mereka memang jarang bicara, lebih tepatnya mereka memang tidak akrab. Hanya di depan Selena saja mereka terlihat kompak.
"Mika jangan sampai stress, dia hamil diusia muda. Jangan bikin dia nangis dan banyak pikiran, lo udah jadi bapak," tegas Elang.
Bukan tanpa alasan, semalam Elang kembali melihat pertengkaran Mika dan juga Jeff di kamar mereka karena pintunya tidak ditutup. Semalam dia diperintahkan mamanya untuk mengecek Mika dan dia tidak tau kalau Jeff sudah pulang.
"Dia istri saya, urusan saya."
"Justru karena dia istri lo, lo punya kewajiban untuk itu. Ponsel lo aja gak pernah dipergunain dengan baik sebagaimana mestinya."
"Jangan ikut campur, saya tau apa yang harus saya lakukan."
Elang menatap sinis. "Anti kritik."
__ADS_1
Elang benar-benar emosi sebenarnya, tapi dia memang pengatur emosi yang handal jadi tidak sampai memukul kakaknya itu. Kali ini masih dia biarkan, tapi kalau dia menyakiti Mika lebih dalam Elang tidak akan tinggal diam.
Jeff memilih diam, lagi pula aneh saja melihat Elang seperti itu. Tidak boleh ada yang mencampuri kehidupan Jeffrico apalagi urusan pernikahannya.