10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Drama Pagi Hari


__ADS_3


Mika menaruh barang pemberian Jeff di nakas. Jeff keluar kamar mereka dan entah kemana. Dia tidak peduli juga Jeff kemana. Ini masih jam 4, tapi dia memutuskan untuk mandi sekarang saja. Dia juga harus mandi wajib setelah melakukan iya-iya dengan Jeff.


Mika meringis saat kakinya turun dari kasur, bagian bawahnya memang masih terasa sakit. Sangat sakit, tapi Mika paksakan untuk mengganti sprey dan membersihkan kamar mereka. Meskipun di rumah ini banyak pelayan, tapi Mika memilih untuk merapikan ruang pribadinya sendiri.


Setelah rapi barulah dia ke kamar mandi. Katanya rasa sakitnya akan berkurang jika dimanjakan oleh suami. Bohong, nyatanya yang Mika rasakan tidak seperti itu. Entahlah, dia kesal dengan ekspetasinya sendiri. Lagi pula salah Mika sendiri yang berharap pada seorang Jeffrico.


Kurang lebih setengah jam membersihkan diri, Mika keluar dengan sebuah dress rumahan. Merapikan dirinya, lalu memoles make up tipis. "Gue mau kemana ya segini hari? Biasanya juga jam segini masih tidur."


Biasanya Mika di rumah hanya memakai kaos dan hotpant saja. Tapi setelah menikah entah kenapa dia merasa ada kewajiban untuk selalu terlihat fresh di depan Jeff. Apa karena keseringan nonton drama Korea ya? Bahkan dia juga sudah menyiapkan setelan kerja untuk suaminya di kasur. Mika aneh dengan dirinya sendiri.


Mika berhenti dengan perang batinnya, dia memutuskan untuk keluar dari kamar. Kamar Mika dan Jeff ada di lantai lantai dua. Jeff memang sengaja mengasingkan kamarnya dari yang lain karena tidak ingin terganggu. Jadi anggap saja lantai dua itu adalah khusus untuk Jeff. Dari mulai ruang kerja, kamar, gudang khusus dan gym.


Tujuan Mika yang pertama adalah dapur. Namun saat di tengah jalan dia melihat Jeff yang sedang olahraga ringan di taman belakang. Ya tidak heran juga sih kenapa tubuhnya bagus. Dia benar-benar disiplin dengan segala hal.


Terlihat ada beberapa pelayan yang sedang memilah bahan masakan untuk pagi ini. Lalu Mika menghampirinya. "Bi, hari ini biar Mika yang masak ya?"


"Aduh Nona, jangan. Nanti nyonya marah kalau menantunya main di dapur. Apalagi udah cantik begini. Biar Bibi saja yang memasak. Apa Nona mau dibuatkan sesuatu?" Tanya Ina.


"Engga, Bi. Biarin Mika masak ya, kan ini hari pertama Mika di rumah ini. Jadi Mika mau kasih kejutan," ucap Mika.


"Memangnya Nona tidak apa-apa?" Tanya Inah yang memang takut-takut. Pasalnya Jeff jika sudah marah akan sangat menyeramkan.


"Gapapa, Bi. Percaya deh sama Mika. Bibi cuma harus kasih tau untuk kebiasaan makan pagi, siang, dan malam di rumah ini biasanya makan apa."


Inah menurut saja, Mika juga adalah tuan rumah di sini. Dia memberitahukan kebiasaan makan di rumah ini pada Mika. Sementara Mika mencoba mengingatnya agar dia tidak salah dalam melakukan apapun.


Setelah Jeff selesai olahraga ringan dia memutuskan untuk kembali ke kamar dan bersiap ke kantor. Namun saat dia akan menaiki tangga tiba-tiba Mona menghampirinya. "Libur hari ini?"


"Saya masih harus ke kantor, Ma," balas Jeff yang membuat Mona sedikit menelan ludahnya.

__ADS_1


"Apa gak bisa ambil libur satu Minggu saja? Kasian loh Mika, baru menikah sudah ditinggal-tinggal," ucap Mona menasehati.


"Dia bukan anak kecil, Ma," jawab Jeff santai.


"Mama tau, tapi kamu teh harus peka sebagai suami. Biasanya perempuan kalau baru menikah sukanya dimanja-manja. Ini malah sibuk kerja. Lihat sepagi ini Mika loh yang memasak di dapur, dia sampai bertanya kebiasaan makan di rumah ini. Kurang baik apa coba istrinya?"


Jeff melirik dapur yang tak jauh dari tangga, terlihat Mika memang sedang memasak sembari asik mengobrol dengan pelayan. Memang pada dasarnya Mika friendly sih, jadi dia bisa dengan mudah bergaul dengan siapapun.


"Saya belum bisa ambil libur, Ma. Nanti diusahakan, saya harus kejar target untuk mendapatkan kerja sama La Défense. Kalau begitu saya siap-siap dulu." Jeff melenggang pergi meninggalkan Mona yang mematung di tempatnya.


Mona pikir, setelah menikah putranya yang gila kerja akan berubah. Ternyata tidak ada bedanya, kalau begini dia jadi kasihan pada Mika yang harus menikah dengan putranya.


.


.


.


Mika juga tidak peduli, kalau dia dan Selena memang harus bertingkah seperti orang asing pun bukan masalah untuk dirinya. Karena sekali lagi, Mika itu orangnya simpel.


"Masakan Mika enak loh, sepertinya mulai sekarang Mama lebih suka dengan masakan Mika daripada bi Inah," ucap Mona sambil terkekeh.


"Oh ini Mika yang masak? Pantes Elang pangling sama rasanya, enak banget," timpal Elang. Bohong sekali kalau dia tidak mengenali buatan tangan Mika. Dulu saat Mika mendekatinya, dia selalu di bawakan makanan oleh Mika. Tapi dia pura-pura kaget saja.


"Mika seneng kok kalau kalian suka nanti-"


Prang ...


Sebuah piring pecah akibat perbuatan Selena. Jadi hari ini dia memakan masakan dari tangan Mika? Jelas dia tidak akan pernah sudi.


"Selena!" Ucap Mona tegas.

__ADS_1


"Aku gak mau ya makan makanan yang si kuman buat! Lebih baik aku mati kelaparan!" Selena yang berdiri di seberang Mika kini menatap ke arah Mika dengan tajam.


Otomatis kalau begitu emosi Mika juga tersulut, semua orang dapat melihat itu. Tapi baru saja dia berdiri dari kursinya tiba-tiba Jeff menahan pergelangan tangannya. Mika menatap Jeff, lalu pria itu menggeleng pelan meski dia masih fokus menatap ke arah makanannya.


"Ini gue gak boleh marah kah?" Gumamnya dalam hati.


Dengan pasrah Mika kembali duduk dan meminum segelas air putih untuk menetralkan emosinya, sementara Selena kini sudah kepalang kesal dan pergi dari sana. Sepagi ini moodnya sudah berantakan akibat Mika. Benar-benar Mika adalah sebuah kesialan dalam hidupnya.


Kejadian di meja makan membuat Mika yang notabenenya masih sangat muda merasa badmood sih. Bukan hanya Selena. Dia padahal tidak pernah mengusik kehidupan Selena tapi kenapa Selena selalu mengusik ke tenangannya. Menyebalkan. Dia kini memilih mengantar Jeff ke luar rumah untuk pergi kerja.


Jeff yang melihat Mika dengan wajah masamnya paham kalau dia sedang emosi, tapi Jeff harus mengajarkan Mika agar lebih bersabar menghadapi Selena. Tidak mungkin juga mereka akan terus bertengkar setiap hari. Pria itu mendekat ke arah Mika seolah minta dibenarkan dasinya.


Dengan telaten Mika membenarkan dasi yang memang tidak rapi itu dan tidak lupa merapikan jas suaminya. "Kenapa minta bantuan aku? Biasanya juga Om rapi sendiri," cibir Mika.


"Gunanya istri apa?"


Mika menghela napas dan memutar bola matanya malas, memang tidak ada gunanya juga berdebat dengan Jeff pagi-pagi begini.


Jeff mengusap puncak kepala Mika, tidak lupa juga mengecup bibirnya. "Baik-baik."


Mika menatap kepergian Jeff yang kini sudah melajukan mobilnya dan keluar dari gerbang. "Gitu doang?" Apa tidak ada kata yang lebih manis yang bisa Jeff lontarkan? Benar-benar kaku, bahkan Jeff saja tidak bertanya dia sakit atau tidak, dia baik-baik saja atau tidak.


Daripada dia kesal sendiri lebih baik dia kembali masuk ke dalam. Namun saat dia akan hendak menaiki tangga tiba-tiba Elang memanggilnya.


"Mika."


"Kenapa, Kak?"


Elang memberikan antibiotik dan juga suplemen pada Mika, membuat Mika juga keheranan. "Muka keliatan pucat, minum itu biar enakan badannya."


Hanya itu yang Elang katakan, setelahnya dia melenggang pergi meninggalkan Mika. Elang tau apa yang terjadi pada Mika, dia juga tidak tabu dengan hal itu. Melihat kakaknya yang cuek membuat Elang harus turun tangan. Tapi dia juga tidak mau berlebihan, karena tidak akan baik juga. Jadi dia langsung pergi.

__ADS_1


Sementara Mika kini menatap obat yang ada ditangannya. Kenapa di saat seperti ini yang lebih peka justru Elang?


__ADS_2