10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Mika Kritis


__ADS_3


Sesampainya di rumah sakit, Elang langsung menggedong Mika ke brankar, setelah itu dia mengikuti para suster dan tetap menggenggam tangan Mika. Elang cemas, apalagi wajah Mika yang sudah pucat karena menahan sakit.


"Kak a-aku gak kuat," ucap Mika lirih.


"Gak, Mik. Kamu pasti kuat, aku bakalan temenin kamu. Aku bakalan selalu ada buat kamu, aku mohon, Mik bertahan," ucap Elang mencoba memberinya afirmasi positif.


"Gak mau, Kakk aku mau ketemu Ayah Bunda aja."


"Jangan bilang gitu, Mik! Kamu harus kuat, harus! Demi anak kamu! Demi Tessa dan Caca, demi aku. Aku mohon, Mik bertahan."


Baru kali ini Elang menangis sampai begini, dia benar-benar kalut dengan perasaannya. Dia takut kalau Mika benar-benar menyerah dengan hidupnya. Elang sangat takut itu.


Selena juga terus menangis sepanjang jalan, semua ini karenanya, Mika menyelamatkannya dan sekarang dia harus kesakitan seperti ini. Perlahan tangan Mika melonggar, dia tidak tahan lagi menahannya dan akhirnya kehilangan kesadaran.


"SUSS, DIA PINGSAN!" Teriak Elang panik. Petugas semakin cepat mendorong brankar sampai akhirnya Mika di bawa masuk ke ruang tindakan.


Elang emosi besar, dia benar-benar emosi dan diliputi kecemasan. Dia sedari tadi mondar-mandir di depan ruangan dan berharap kalau Mika baik-baik saja.


"Kak maafin aku," ucap Selena.


"Diam, Selena!! Udah cukup kamu bikin ulah sampai sini, Kaka benar-benar kecewa sama kamu! Liat apa yang terjadi pada Mika, gimana keadaan dia dan bayinya apa kamu pikirin?!" Bentak Elang, tidak peduli juga dengan beberapa orang yang ada di sana.


"Maaf, Kak." Selena menangis sejadinya, Tessa dan Caca juga ikut memeluk Selena untuk menenangkannya. Mereka juga sama khawatirnya dengan Elang tapi mereka harus menenangkan Selena gagar dia tidak semakin chaos.


Seorang suster keluar dengan wajah panik. "Keluarga Ibu Mika?"


Mendengar itu Elang langsung menghampiri sustes. "Iya, ada apa sus? Mika baik-baik aja?"

__ADS_1


"Pasien pendarahan hebat dan segera membutuhkan transfusi darah, kalau tidak Ibu dan anaknya tidak bisa diselamatkan. Tapi saat ini rumah sakit kehabisan darah A Rhesus Negatif. Ada yang bergolongan darah sama dengan pasien atau akan mencari ke PMI?"


"Saya, saya A rhesus negatif. Ayok segera lakukan, Sus," ucap Elang cepat yang memang bergolongan darah sama dengan Mika.


"Baik kalau begitu silahkan ikut kami," ucap suster sembari mengarahkan Elang ke sebuah ruangan.


Tidak ada waktu yang banyak untuk menghubungi Jeffrico meskipun darah Jeffrico juga sama. Biar Elang saja yang melakukannya jika Jeff tidak ingin dan mementingkan pekerjaannya. Tapi setelah ini akan dia pastikan kalau Mika tidak akan kembali padanya.


Elang sudah mengalah, dia sudah banyak diam selama ini dan bersikap di dalam batas wajar, tapi ini sudah keterlaluan. Jangan salahkan Elang jika dia akan membuat Mika menjadi miliknya dengan kesungguhan yang dia punya.


Elang sebenarnya takut jarum suntik, namun entah kenapa sekarang malah mendonorkan darah. Rasa takutnya pada benda itu teryata kalah dengan rasa takut kehilangan Mika, sehingga saat benda itu menghisap darahnya Elang cukup santai dan tidak terasa sama sekali. Meskipun setelahnya dia merasa pusing.


Beres dengan donor, Elang kembali ke depan ruang tindakan. Ternyata Ibunya sudah ada di sana dan terlihat panik karena anaknya takut jarum suntik. "Sayang, kamu ka takut jarum suntik kenapa tidak menghubungi Jeffrico?"


"Gak ada gunanya mengharapkan bajingan itu, Ma," ucap Elang yang sesekali meringis karena pusing.


"Maksud kamu apa?"


"Keterlaluan anak itu, Elang Mama harus bagaimana bicara dengan Jeffrico sih?" Keluh Mona.


"Biarkan saja, Ma. Biar dia menyesal dulu baru dia tau apa arti seseorang untuk hidup dia. Percuma ngomong sama batu, cape sendiri. Biar Elang yang bertanggung jawab untuk semua tanggung jawab yang Jeff emban."


Mona terdiam, apa Jeff benar-benar setega itu meninggalkan Mika dalam keadaan seperti ini? Lebih kepikiran lagi karena Elang sekarang emosi, dia takut kalau ini akan menimbulkan perpecahan antara Elang dan juga Jeffrico, bagaimana pun mereka kakak dan adik. Namun itu urusan nanti, sekarang Mika lebih penting dari apapun.


.


.


.

__ADS_1


Sudah sore, keadaan juga semakin memburuk. Mona mengetahui kelakuan putrinya, Ibu mana yang tidak hancur mendengar itu semua? Dia benar-benar telah Gagal mendidik Selena. Tadinya Elang tidak akan memberitahu, tapi Selena sendiri yang mengakui kesalahannya di depan sang Mama.


Mona bahkan sampai pingsan, membuat keadaan di sini benar-benar tidak terkendali. Selena yang terus menangis begitu juga Mona. Membuat kepala Elang rasanya ingin pecah, belum lagi Mika yang belum ada kejelasan bagaimana keadaannya di dalam sana.


Elang juga sudah meluapkan emosinya, tapi memang Mona masih belum lega sepertinya. Karena merasa benar-benar chaos. Elang menyuruh mereka untuk menyelesaikannya di rumah, sementara dia yang akan berjaga di sini sampai Mika bisa dipindahkan ke ruang perawatan. Tapi dia tidak sendirian, dia bersama Tessa sekarang dan Caca ikut dengan Selena untuk ikut membantu menyelesaikan ini semua


Mungkin ada sekitar satu jam menunggu, seorang dokter keluar menghampiri mereka. "Syukurlah bayi dan Ibunya selamat, mereka sudah stabil tapi masih harus dirawat."


"Kami ingin memindahkan Mika ke rumah sakit lain di luar kota. Apa bisa, Dok?" Tanya Elang.


Tessa kaget dengan keputusan yang Elang buat tapi dia tidak bisa bicara apapun sekarang karena masih ada dokter di sini. Cukup kaget sebenarnya Elang melakukan tindakan besar seperti ini. Apalagi dia sama sekali belum memberitahukannya pada suami Mika. Tessa tidak mengerti.


"Baik, saya akan mengambilkan formulir pemindahan setelah itu bisa diisi dan akan kami proses secepatnya."


Elang mengangguk, setelahnya dia pergi ke ruangan administrasi untuk mengurus biaya dan juga kepindahan perawatan Mika. Tessa yang sedari tadi menahan pertanyaan kini terlanjur penasaran. "Kenapa dipindahin, Kak?"


"Mika butuh jauh dari Jeffrico, kalau dia di sini akan lebih bahaya lagi karena kamu tau sendiri suaminya gimana? Dia bisa stress, dia bisa kehilangan anaknya," Jawab Elang sembari mengisi formulir di hadapannya.


"Tapi ke mana?" Tanya Tessa.


"Kalau kamu bisa diajak kerja sama dan tutup mulut akan aku beri tahu. Tapi kalau tidak biar aku yang mengurusnya sendiri," jawab Elang cepat.


"Aku tutup mulut!"


"Jakarta dan aku pastikan orang-orang Jeffrico tidak akan bisa melacaknya. Akan aku kabari secepatnya asal kamu berjanji akan tetap tutup mulut!"


Elang mengepal kuat, kali ini dia sungguh-sungguh. Kalau kekuasaan Kakaknya bisa menyentuh apapun, kali ini dia akan pastikan tidak akan ada yang bisa menyentuh keberadaan Mika. Mika akan benar-benar aman bersamanya. Mika juga pasti butuh ketenangan dan ketenangannya adalah tanpa Jeffrico di dalam hidupnya.


Benar saja, setelah selesai menandatangani beberapa berkas kini Mika sudah siap untuk dipindahkan. Semua kartu pembayaran yang berikan dan mobil sudah pasti bisa dilacak. Oleh karena itu Elang menggunakan kartunya sendiri untuk mengurus semua kebutuhan Mika.

__ADS_1


Bahkan dia juga sudah menyuruh rumah sakit untuk menyimpan rahasia kepindahan Mika dan membuatnya menjadi privasi. Dengan begitu Jeff tidak akan bisa mengetahui di mana Mika berada. Seniat itu memang Elang untuk membuat kehidupan Mika menjadi lebih baik.


__ADS_2