
Padahal berusaha untuk menerima semuanya saat di hadapan Jeff dan Regan, tapi ternyata Mika tetap tidak bisa membohongi dirinya sendiri. Mika menangis dan memutuskan untuk bersembunyi di dalam kamar mandi kamarnya, sebisa mungkin sebenarnya sebelumnya dia berusaha untuk berpikiran positif, dia berusaha agar menerima apa pun yang Tuhan berikan padanya, berusaha untuk tetap berpikiran positif atas semuanya.
Tapi, namanya juga perasaan, Mika benar-benar tidak bisa menghindari overthinking di kepalanya, semua pemikiran buruk yang dia pikirkan akhirnya terjadi. Anak adalah rejeki, tapi dia bukan orang tua yang siap, dia bukan seseorang yang siap dengan semua ini.
Dia merasa berdosa sebenarnya karena malah sedih saat dia tahu kalau akan ada anggota keluarga baru di keluarga mereka, semua itu didasari atas segala ketakutan Mika pada kenyataan bahwa selama ini dia masih belum bisa memberikan yang terbaik untuk Regan. Masih belum puas memberikan kasih sayang utuh pada Regan membuat Mika tidak siap.
Jangan lupakan fakta kalau dia anak tunggal, dia selalu takut memiliki adik, tidak masalah kalau Abang. Karena ya Mika takut, takut semua atensi orang tuanya beralih pada adiknya. Mika pernah ada di posisi itu dulu, dia tidak mau Regan mengalaminya.
Dulu Mika selalu bilang pada orang tuanya kalau dia akan tetap mau menjadi anak tunggal dan mereka mengabulkannya. Namanya juga parenting, Mika selalu ingin menerapkan apa yang terbaik dari orang tuanya dulu, didapatkan oleh Regan. Tapi dia kebablasan sampai hamil lagi. Mika jadi merasa sangat-sangat dilema.
"Non," panggil seorang pelayan.
Mika akhirnya menoleh, seseorang mengetuk pintu kamar mandi, biasanya kalau Jeff tidak di rumah, asisten rumah tangga boleh masuk ke kamar, apalagi jika ada sesuatu yang perlu diurus bersama dengan Mika.
"Iya, Mba?" Tanya Mika, sebenarnya dia sudah mengatakan untuk tidak perlu terlalu lebay hingga harus memanggilnya dengan sebutan Nona, tapi mereka semua yang ada di sana tetap merasa sungkan.
"Di cari Nona Caca," ucap seseorang dari luar. Mika menarik napasnya, dia kemudian berusaha menenangkan dirinya sendiri sebelum akhirnya berjalan keluar dan membuka pintu kamar mandi kamarnya. Mika tidak langsung keluar dari dalam kamarnya, dia menatap dirinya dulu di depan cermin, matanya bengkak karena memang sudah lumayan lama dia menangis, sejak Jeff dan Regan meninggalkan rumah.
Mika mengelap seluruh permukaan wajahnya sebelum akhirnya dia keluar dari kamar untuk menemui Caca, sahabatnya itu juga sedang galau sebelumnya, sepertinya memang ada yang sudah baik dari perasaan Caca, makanya pada akhirnya dia bisa menemui Mika.
Mika mencoba tersenyum, karena agak aneh sebenarnya ketika dia sama sekali tidak ada masalah tapi mengalami sesuatu yang seperti ini. Caca yang sejak awal sudah sangat excited langsung terdiam kala melihat mata bengkak Mika.
__ADS_1
"Lo habis nangis?" Tanya Caca agak khawatir, dia akan selalu menjadi satu sosok yang sangat peduli dengan bagaimana kehidupan Mika. Mika menganggukkan kepalanya, dia kemudian berjalan menuju sofa dan beruntung Caca juga mengikutinya.
"Gue hamil," ujar Mika, walaupun dia tahu kalau sebenarnya kedatangan Caca pasti ingin berbagi cerita dengannya, tapi Mika juga mau berbagi kabar bahagia ini dengan Caca, kabar bahagia yang entah kenapa cukup menyedihkan untuk Mika jalani.
Caca diam, bukannya ini seharusnya menjadi sumber kebahagiaan Mika? Tapi, kenapa malah matanya bengkak? "Kok lo?"
"Iya, gue emang lagi sedih, soalnya masih ngerasa belum bisa jadi ibu yang terbaik buat Regan, tapi malah udah harus kasih dia adik," jelas Mika.
Ah, Caca mengerti sekarang, karena memang pasti ada banyak pertimbangannya, Mika adalah
manusia biasa. Caca lantas bangkit dari posisi duduknya, dia langsung mendekat ke arah Mika dan kemudian memeluk sahabatnya itu, apa yang paling Mika butuhkan pasti sebuah dukungan karena yang tidak siap adalah mentalnya, bukan fisiknya.
Mika menarik napasnya kemudian kembali menangis, dia sudah berusaha dengan sekuat tenaga ingin menahan perasaan yang bergejolak di hatinya, tapi kembali lagi bahwa mungkin karena pengaruh mengandung juga jadi perasaannya lumayan sensitif sekarang ini.
"Lo pasti bisa jadi mama yang baik buat anak-anak lo, karena Tuhan aja percaya itu," ucap Caca, dia memang belum menjadi orang tua, masih belum tahu rasanya menjadi orang tua, tapi kelihatannya Mika mudah sekali untuk punya amanah di dalam hidupnya, itu artinya memang Tuhan sangat percaya padanya untuk diberikan amanah berupa anak.
Caca memeluk Mika dan Mika berusaha untuk menyembunyikan wajahnya di dada Caca, karena memang dia sedang butuh pelukan, dia bukannya tidak bersyukur, tapi memang perasaannya tidak bisa dicegah. Dia juga secara otomatis menangis, mungkin ya itu karena perasaannya sedang sedang sensitif.
.
.
.
__ADS_1
Caca niatnya mau curhat karena akhirnya dia sudah tidak lagi kepikiran soal Gerda, pria itu selalu membahas soal status sosial. Padahal dia kerja dengan Jeff pun gajinya memumpuni untuk menghidupi Caca.
Tapi ya sudah, mungkin mereka butuh waktu untuk menenangkan diri masing-masing. Lagi sepertinya Mika lebih membutuhkannya saat ini, jadi Caca akan sebaik mungkin untuk selalu menemani Mika apapun yang terjadi. Karena Cca tau, banyak sekali luka Mika di masa lalu, dia selalu berjuang untuk itu.
"Jadi, lo gak siap?" Tanya Caca. Mika menganggukkan kepalanya.
"Gue juga gak ngerti sebenarnya, kalau dibilang gak siap ya masa gak siap? Umur gue udah lebih dewasa dari saat gue hamil Regan, mas Jeff juga udah punya banyak hal di dalam hidupnya. Finansial keluarga kami sangat baik, secara usia dan mental juga sebenarnya mas Jeff udah mateng banget," jelas Mika, karena
memang semuanya sudah sebaik itu.
Caca menganggukkan kepalanya, karena semua yang Mika katakan benar sekali, bahwa memang apalagi? Mika dan Jeff sudah sampai di puncak kejayaan mereka sebagai pasangan, mereka hanya perlu memikirkan didikan seperti apa yang akan mereka terapkan.
"Tapi, mental gue yang kayanya gak siap. Gue selalu mikir kalau Regan belum cukup puas jadi anak tunggal. Dia masih harus dapat kasih sayang utuh dari gue sama Mas Jeff dan Regan
harus ngerasa jadi seorang anak dari Mas Jeff dan dari gue," jelas Mika, dia tidak berusaha untuk menjadi seseorang yang sempurna, tapi sejauh ini juga tidak mau memiliki rasa bersalah di dalam dirinya karena Regan adalah harta yang paling berharga yang pernah Mika miliki di dalam hidupnya.
Caca paham sih posisi Mika sekarang ini, karena dia juga menjadi bagian dari tumbuh kembang Regan dan dia tahu juga bagaimana sebelumnya Regan ketakutan ketika membicarakan kalau Ibunya akan mempunyai adik untuknya.
Anak seusianya pasti punya keinginan tersendiri untuk memiliki orang tuanya secara utuh, Caca paham sekali kenapa kalau Mika sampai begini. Karena yang Caca tau, Mika selalu banyak berpikir, termasuk sekarang. Dia pasti berpikir panjang sampai overthinking.
"Gue paham, tapi jahat kalau lo sampai nangis-nangis kaya gini, sementara anak kedua lo lihat dunia aja belum, Mik," ujar Caca, ketika Mika sangat memikirkan keadilan untuk Regan, dia lupa kalau anaknya yang lain juga membutuhkan keadilan itu sebagai seorang anak.
Mika menganggukkan kepalanya. "Di sisi lain ya sebenarnya gue nangis karena itu, karena gue ngerasa kalau gue jahat banget sama anak gue yang bahkan belum lahir, belum lihat dunia ini."
__ADS_1
Caca lagi-lagi mengangguk, berusaha tetap tenang meskipun banyak pemikiran yang ingin di keluarkan. Dia hanya berusaha untuk selalu memberikan afirmasi positif pada Mika agar dia bisa berpikir logis sekarang, dia hamil dan tidak perlu ada yang di sesali.
Dia hanya terlalu banyak berpikir padahal semuanya tidak menakutkan itu, mungkin bahkan akan membuat Regan nyaman dengan kehadiran adiknya, apalagi anak-anak biasanya juga suka melihat bayi, Caca yakin kok kalau Regan tidak akan sedih, dia akan menjadi kakak yang bertanggung jawab.