
Mika, Mona dan Elang sedang berkumpul di ruang keluarga. Setelah Jeff mengantarkan Mika ke mansion ya dia benar-benar kembali bekerja. Tapi Mika sudah memutuskan untuk akan menjadi seseorang yang mengerti. Mengerti kalau Jeff memang bisa melakukan apapun untuknya, tapi tidak mengorbankan pekerjaannya.
Mona mengusap perut Mika dengan lembut, rasanya dia sudah lama tidak hamil dan sekarang akan memiliki cucu itu lucu sih. Teryata memang waktu berjalan dengan cepat. "Mama seneng loh kalau cucu Mama laki-laki, pasti akan mirip sekali dengan Jeff waktu kecil dulu."
"Wajahnya gapapa, Ma. Tapi sifatnya jangan, pusing Elang kalau ada dua Jeffrico di rumah," ucap Elang jujur dan mengundang tawa ketiganya.
"Hahahaha kenapa, Kak?" Tanya Mika.
"Dingin kaya kulkas 12 pintu," balas Elang.
Ya bagaimana ya, semua orang di rumah tau bagaimana sifat Jeffrico yang agak lain dari keluarganya. "Mama ngidam apa sih dulu waktu hamil Mas Jeff?"
Mona berpikir sejenak. "Mama gak ngidam kalau sama Jeff, dulu papanya Jeff yang ngidam. Tiba-tiba tengah malem ada di atas pohon jambu buat cemilin jambu."
"Waiyaaa??" Tanya Mika tak percaya.
"Iya, Jeff itu anteng pokoknya di dalam perut Mama."
"Pantes Mas Jeff pendiem, udah bawaan sejak kandungan kali ya, Ma?" Tanya Mika terkekeh.
"Iya, Jeff emang begitu sejak lahir. Berbeda dengan Elang yang banyak mau waktu Mama hamil dia. Masa Elang minta makan ramen di jepangnya langsung," omel Mona.
"Biarin daripada Jeffrico, hasilnya begitu," ucap Elang santai.
"Eh gitu-gitu kakak kamu!"
Mika salah sih menertawakan suaminya sendiri? Tapi ini lucu sekali. Mona senang sekali jika sudah melihat Mika tertawa seperti ini. Ya karena memang jarang sekali, itu kenapa Mona sangat membutuhkan Elang. Karena dia memang menjadi moodboster rumah ini.
__ADS_1
"Mik, kamu diem-diem aja hamilnya. Gak mau ngidam? Udah nyusahin Jeff belum?" Tanya Elang.
"Pernah sekali, tapi dia kesel sih. Cuma aku seneng aja liat dia ikutin walau kesel," jawab Mika terkekeh.
"Loh ngidam apa? Kenapa mama teh gak tau?" Tanya Mona.
"Waktu malem-malem aku mau ikan goreng, tapi maunya Mas Jeff yang tangkap di belakang, Ma. Terus dia yang gorengin juga. Awalnya gak mau tapi enak aja, gak bisa gitu jadi Mika ngerengek, terus diikutin." Mika tertawa sih menceritakannya, karena itu adalah hal terlucu. Apalagi setelah dimasakkan pun Mika meminta untuk disuapi, memang benar-benar membuat Jeff harus ekstra sabar.
"Gapapa, sekali-sekali pak tua itu emang harus dikerjain biar hidupnya gak lurus-lurus amat," ucap Elang.
Ya lagi-lagi mereka tertawa, ternyata keluarga Jeff tidak sekaku itu menurut Mika. Bisa diajak bercanda dan seru-seruan, Mika pikir akan canggung jika membicarakan soal Jeff tapi ternyata mereka malah begini.
Bersyukur sih Mika karena ya hiburan juga untuk Mika yang memang hanya diam di rumah seperti ini. Mana mau Jeff menjadi badut di hadapannya.
Sebuah suara koper terdengar dari belakang, ternyata itu Selena. Tapi mau kemana dia? Dia juga tidak berpamitan, bahkan saat Mona mengajaknya bicara pun Selena tidak mengindahkan. Tidak mungkin kan dia kabur dari rumah? Masalah Apa lagi?
"Selena mau kemana?" Tanya Mika pada Elang.
Mika menghembuskan napasnya lega, dia pikir Selena marah lagi karenanya. Untungnya saja bukan, Mona memang sudah berhenti kerja, tapi sepertinya untuk menarik perhatian Selena lagi butuh waktu yang cukup lama. Apalagi penjagaan ekstra ketat dari Jeff membuat Selena nampak terlihat stress. Tapi sepertinya hari ini dia tidak ditemani bodyguard Jeff, apa karena akan pergi study tour ya?
Mika hanya menghela napasnya sebentar, ya mungkin seperti itu. Semoga saja Selena baik-baik saja deh sampai pulang dengan selamat.
.
.
.
Mika berniat membereskan lemari, namun saat membuka laci Mika penasaran dengan sebuah amplop dari rumah akit yang tertera di sana. Mika istri Jeff kan? Jadi seharusnya wajar saja jika dia ingin mengetahui apapun tentang Jeff. Apa Jeff memiliki riwayat penyakit ya?"
__ADS_1
Akhirnya Mika membawa amplop itu dan duduk di tepi kasur, perlahan dia membukanya, namun sesaat dia menghela napas karena isinya kosong. Dia sedikit kecewa sih karena di sana tertera kalau itu milik Jeffrico dan ini dari rumah sakit mental?
Apa terjadi sesuatu pada Jeff? Karena khawatir Mika keluar dari kamarnya. Niatnya sih mencari mama mertuanya, tapi matanya malah tertuju pada Elang yang berada di taman belakang sembari menatap ke arah pohon mangga.
Karena Mika penasaran akhirnya dia malah menghampiri Elang. "Kak, ngapain?"
"Mau ambil mangga, kenapa Mik?" Tanya Elang.
Mika melirik ke arah buah mangga yang memang sudah siap panen si di sana. Entah kenapa dia malah tergiur dengan buah yang nampaknya sudah matang itu. Perlahan dia mengelus perutnya dengan lembut. "Emmm, Kakkk."
"Hm?"
"Aku boleh nitip satu engga? Gak tau kenapa aku pingin mangga," ucap Mika ragu.
Elang terkekeh, "Jagoannya Om Elang ya yang mau? Oke apa yang engga buat ponakan. Tunggu." Elang mendengar itu semakin membulatkan tekad lah untuk naik, tadi dia berpikir sejenak karena banyak semut juga di atas, tapi mendengar Mika ingin jadinya dia langsung memanjat.
Mika senang sih Elang baik padanya, coba kalau tidak. Apa Mika harus memanjatnya sendiri karena tidak ada Jeff? Sementara di atas sana Elang sedang memilah dan memilih mangga mana yang kira-kira manis, kasian juga kalau dia salah pilih untuk Mika.
Sekilas Elang melihat ke bawah, melihat Mika yang menyemangati dirinya di atas sini. Kenapa rasanya dia seperti suami Mika ya kalau begini? Gila memang kalau dipikir-pikir, ternyata melupakan perasaan memang tidak semudah itu.
Setelah mendapat 6 buah mangga, Elang pun turun dan tersenyum ke arah Mika. "Ayok kita makan di dalem, tunggu sebentar biar aku cuci dulu dan ambil pisau."
Mika mengangguk dan duduk di kursi taman ini untuk menunggu Elang dan tidak lama dari itu Elang datang dengan membawa piring, pisau dan buah mangga. Dengan hati-hati dia memotong mangga itu dan mengiris-ngiris bagian dalamnya agar mengembang seperti bunga. "Nih."
Mika gemas sebenarnya saking senangnya, jadi dia antusias sekali mengambil mangga itu dari tangan Elang. "Makasih, Kak."
"Iya sama-sama." Elang membalas senyuman Mika dan memakan mangga miliknya juga. Mereka nampak asik menikmati buah itu sampai tidak sadar kalau Mona memperhatikan mereka dari dalam rumah.
Mona senang sebenarnya kalau Elang bisa membuat Mika selalu senang dan bahagia. Tapi sebagai seorang Ibu dia tau kalau pernah ada sesuatu diantara Mika dan Elang. Kalau soal Mika menyukai Elang dia sudah tau karena Mika mengakui di hari pertemuan pertama mereka. Tapi Elang?
__ADS_1
Mona melihat ada sorot mata ketulusan dari mata Elang saat sedang bersama Mika dan lagi Mona melihat tatapan itu bukan untuk seorang adik atau kakak ipar, melainkan tatapan yang memandang sebagai wanita yang dia cintai.
Dia takut apa yang dia pikirkan ini akan terjadi, dia takut kalau ada salah satu dari mereka yang terluka kalau memang benar. Tapi dia bingung juga bagaimana bicara pada Elang, yang jelas mau sedekat apapun mereka harus ada batasan, karena mereka tidak sekandung. Mungkin nanti Mona akan pikirkan lagi.