
Oh iya aku mau bilang, maaf kalau epsd kemarin banyak typo, karena ngejar tamat. Tapi udah aku perbaiki dan proses review. Happy Reading~
"Kalau ngantuk tidur aja, Mas." Mika mengingatkan, karena Jeff bersikeras mau menggendong bayi tengah malam begini saat tidak sengaja sang bayi terbangun.
Jeff itu menghabiskan waktunya di kantor, sampai rumah masih menyempatkan bermain bersama Regan, kemudian malam juga mau begadang menjaga bayi, Mika benar-benar tidak tega dengan itu, karena dia paham kalau Jeff pasti kelelahan.
Jeff malah menggelengkan kepalanya. "Gak, kamu aja yang tidur." Karena menurut Jeff, setiap dia tidak di rumah pasti Mika yang mengurus semuanya sendiri, bahkan pasti Mika masih menyempatkan menyiapkan Regan untuk berangkat ke sekolah saat dia selesai lahiran, karena dia tidak bisa begitu percaya dengan orang lain apalagi Mba Tini.
Adapun asisten untuk memantau Regan, menurut Mika ya tugasnya memang hanya memantau, bukan turun langsung untuk mengurus. Karena Mika hanya ingin anaknya tau kalau dia akan selalu mendapatkan kasih sayang orang tuanya tanpa perantara apapun.
Sebisa mungkin, di semua hal, Mika sendiri yang mengurus. "Kamu pasti cape jadi ibu rumah tangga," ucap Jeff, karena meski dia menyediakan banyak asisten rumah tangga, tetap saja pasti melelahkan memikirkan semua hal yang harus dilakukan agar semuanya tetap berjalan sebagaimana mestinya, agar semuanya tetap berjalan baik.
Yang hidup di rumah ini ada banyak, tentulah Mika memikirkan semua orang, walaupun mungkin di luar anggota keluarga. Supir, asisten rumah tangga, tukang kebun, semuanya pasti Mika pikirkan, karena Jeff tahu sekali bagaimana karakter seorang Mika.
"Kamu juga pasti cape banget udah kerja seharian, udah aku gak apa-apa kok." Karena ya sekarang-sekarang ini yang Mika urus hanya bayi, jadi ya dia tidak begitu lelah, walaupun lemas sering karena kurang tidur.
"Gak kok sayang, aku baik-baik aja, aku masih mau menikmati waktu sama anak perempuan kita," kata Jeff, dia merasa bahwa dia ingin memiliki ikatan batin dengan anak perempuannya, maka dari itu menurut Jeff semuanya harus dimulai dari sekarang, dari cara sederhana seperti ini.
Mika hanya menghela napasnya, ya dia juga tidak bisa memaksakan kehendaknya karena
Jeff sendiri yang mau.
"Kamu aja tidur, besok kan harus urus anak-anak lagi," ucap Jeff, dia sudah tahu sekarang dan sudah bisa karena ASI Mika dipindahkan juga ke botol, sebab memang di rumah ramai orang jadi Mika lebih memilih memakai botol susu, walaupun kalau sedang berdua bersamanya lebih sering langsung.
Jadi, sembari memompa, Mika juga memberikan ASI secara langsung. Karena menurut Mika baiknya semua mengikuti kebutuhan, karena Mika tentu tidak bisa menghindari bertemu dengan seseorang di dalam rumah saat dia sedang menyusui, karena tidak mau ribet jadi ya lebih baik memakai botol saja.
Mika kemudian kembali menyamankan dirinya dengan menarik selimut, rasanya sudah lama sekali sebenarnya dia tidak mendapatkan kenyamanan di dalam tidurnya karena punya bayi kurang lebih seminggu ini. Jeff sendiri masih menimang anaknya, mencoba mengajaknya berbicara karena ternyata bayi melek kalau malam.
Lampu kamar temaram, tidak begitu terang, tapi tidak juga begitu gelap, Jeff masih bisa melihat wajah anaknya.
"Katanya kalau anak perempuan mirip papanya rezekinya bakal bagus, bismillah ya, Nak." Jeff berbicara dengan anaknya, sebenarnya katanya lebih baik anak laki-laki mirip dengan mamanya dan perempuan mirip papanya, tapi ini keduanya sama-sama mirip Jeff, ya semoga saja.
Jeff kemudian menciumi pipi anak perempuannya itu, padahal Jeff sama sekali tidak kasar, dia juga berusaha sebaik mungkin memberikan sentuhan lembutnya tapi ternyata kulit sensitif anaknya tetap memerah.
Di sebelah Mika ada Regan yang memang sejak awal sudah tidur di sana, dia masih mau tidur bersama adik katanya. Jadi ya sudah tidak apa-apa, memang Regan sedang manja juga jadi mereka berdua mewajarinya. Mereka juga harus adil pada keduanya, jadi kalau Regan bilang ingin bersama mama papanya, mereka haru mengikuti.
.
.
.
Jeff mengetuk-ngetuk buku yang ada di hadapannya, dia kembali mencari nama terbaik untuk anak perempuannya, dia tidak mau kalau menamai anaknya asal-asalan, karena menurut Jeff nama itu sakral dan sebuah do'a yang bisa menjadi kenyataan dan menyerupai anaknya.
Sungguh ini dilema sekali, kenapa anak perempuan ini berbeda ya? Membuat Jeff harus selalu berhati-hati dalam setiap keputusan yang dia ambil, dia sampai harus mencoret beberapa kali rangkaian nama yang dia persiapkan untuk si bayi kecil itu.
"Nama apapun yang kamu buat pasti bagus, kenapa sampai pusing banget gitu, Mas?" Tanya Mika sembari menimang-nimang anaknya dengan sayang.
Bayi kecil yang belum diberi nama ini nampak anteng, dia memang lebih cengeng kalau dibandingkan dengan Regan, tapi kalau dengan bayi lain bayinya ini kalem, tenang dan terlihat anggun.
"Menurut kamu lebih cantik Anindya atau Auristella?" Tanya Jeff pada Mika, karena anaknya juga merupakan anak Mika, penting untuk mengajak Mika berdiskusi.
"Kalau untuk nama lebih bagus Auristella," jawab Mika, ya karena kalau.
__ADS_1
"Atau Aadvika? Itu namanya unik, artinya juga adalah keunikan" tanya Jeff.
"Ya, kalau kamu emang mau yang lebih ngena di kamu aja, Mas," jelas Mika, terserah Jeff saja.
Untuk urusan nama anak kedua mereka kali ini, Mika memilih menyerahkan semuanya lagi pada Jeff, memberikan kesempatan seorang Jeff memberikan yang terbaik untuk anaknya, darah dagingnya. Karena apa yang dipikirkan oleh Jeff memang selalu bagus, sama seperti nama Regan.
Jeff menghela napas, dia pusing sebenarnya kalau begini. Rasanya ingin membuat nama anaknya sepanjang kereta api sangking banyaknya ide yang masuk ke dalam kepalanya.
"Ragya Auristella Dirgantara." Akhirnya Jeff membuat keputusan untuk nama anak perempuannya.
Mika tersenyum, nama yang bagus. Tapi dia masih menunggu kelanjutan dari Jeff yang masih memperhatikan satu persatu rangkaian yang dia tulis.
"Aku mau setiap membaca namanya orang-orang akan mempunyai bayangan kalau anak kita cantik. Ragya itu artinya kelembutan dan Auristella itu artinya gemilang bintang."
"Aku mau anak kita mempunyai hati yang lembut dan selalu bersinar di antara manusia lainnya seperti bintang."
"Ya udah kalau gitu, bagus kok Mas, aku suka banget."
Jeff menganggukkan kepalanya. "Jadi fix ya, aku bakal langsung hubungin petugasnya dan kita langsung aqiqah," ujar Jeff.
Mika mengangguk, setuju sekali dengan itu. Karena selama ini juga banyaknya Jeff yang membuat keputusan, kehidupan Mika banyaknya ikut bagaimana Jeff saja. Karena ya Jeff adalah pemimpinnya di sini, jadi sangat wajar menurut Mika kalau dia manut apa yang suaminya putuskan.
Jeff mendekat dan mencium puncak kepala anaknya, semoga nama yang indah akan menjelma menjadi keindahan ahlak yang anaknya miliki kelak, Jeff bukan manusia sempurna, tapi dia akan berusaha melakukan yang terbaik.
.
.
.
Selama ini juga Mika berusaha untuk memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya, jadi sepertinya tidak mungkin kalau mereka memperlakukan Mika dengan tidak baik.
Regan tampak berlari ke sana kemari bermain mengejar mobil-mobilannya yang sedang melaju di sirkuit mininya. Suaranya mengaung memenuhi ruangan, tapi Ragya tidak terganggu karena memakai penutup telinga.
"Sayang, udah stop. Udah ya, kasian adeknya gak pake tutup telinga, oke? Sini-sini, Mama mau bicara sama Abang Regan." Mika meminta Regan untuk menghentikan mobilnya, karena Mika mau bicara juga pada Regan.
Regan yang selama ini memang selalu menurut akhirnya menghentikan mobilnya, dia mendekat ke mamanya.
"Ada apa, Mama?" Tanya Regan.
"Sayang, kamu sayang nggak sama Mama?" Tanya Mika, sebenarnya bukan karena dia meragukan perasaan Regan padanya, tapi lebih kepada Mika ingin memvalidasi perasaan pada Regan.
Regan menganggukkan kepalanya. " Sayang sekali," jawab Regan, dia mendekat kemudian mengelus kepala adiknya dengan lembut, ah manis sekali di pengelihatan Mika.
"Nanti Mama nggak akan muda terus, Regan bakal nemenin Mama gak sampai mama gak bisa jalan?" Tanya Mika. Umur memang tidak ada yang tahu, tapi Mika ingin tahu sudut pandang anaknya.
Dirinya dan Jeff mungkin memang akan mempersiapkan dana pensiun mereka, akan mempersiapkan diri untuk kemudian bisa mengurus diri mereka sendiri di masa tua tanpa membebani anak mereka. Tapi, yang ingin Mika tahu bagaimana perasaan Regan.
Regan menganggukkan kepalanya. " Iya, Abang mau sama Mama terus, sama papa, sama adek juga, kata papa Abang Regan harus menjaga semua orang karena Abang Regan Raja Kecil yang pemberani, " jawab Regan.
Mika tersenyum, dia akhirnya mendekatkan bibirnya dan mencium puncak kepala anaknya, karena dia bangga sekali, senang sekali walaupun sebenarnya jawaban yang dia dapatkan hanya sebuah jawaban sederhana.
"Regan sayang adek gak?" Tanya Mika.
"Sayang, sayang sekali. Adek juga cantik, Abang sayang sekali." jawab Regan, dia bahkan langsung mencium pipi Ragya.
__ADS_1
"Nanti mau jagain adek?" Tanya Mika.
"Mau," jawab Regan spontan.
Mika menganggukkan kepalanya, Regan masih kecil dan dia tidak akan menuntut apa pun dari Regan, jadi cukup pembicaraan sampai di sini. Karena yang paling penting dia sudah lega, dia lega mendengar jawab dari Regan.
Semoga saja itu menjadi suggest yang baik di masa depan, semoga Regan tumbuh dengan kebaikan dan selalu menjadi anak yang berbakti kepada kedua orang tuanya. Memang apalagi doa orang tua selain melihat anaknya tumbuh dengan baik?
Jeff yang melihat itu tersenyum dan langsung menghampiri Mika dan kedua anaknya. Dia sangat-sangat bersyukur karena semuanya sudah lengkap. Dia memiliki banyak kebahagiaan tapi saat sedang berempat seperti ini Jeff merasakan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.
Perlahan Jeff duduk di samping Regan, menjadikan anak itu penengah diantara mereka. Dengan lembut Jeff menciumi punggung tangan Mika yang satunya, karena yang satu lagi dia pakai untuk menggendong Ragya.
"Papa juga sayang Mama, Abang Regan dan juga adek Ragya," ucap Jeff.
Mika mengangguk senang, ya memang seharusnya begitu, kan? Namun tidak sampai di situ. Jeff menatap Mika dengan bersungguh-sungguh.
"Mau kah kamu hidup selamanya sama aku?" Pertanyaan itu terlontar dari mulut Jeff sebagai ajakan untuk hidup bersama, hal yang lumayan mengejutkan untuk Mika, karena ternyata Jeff mempersiapkan cincin untuknya.
"Melihat aku menua, melihat Regan dan Ragya menjadi anak yang mandiri, bersediakah kamu membicarakan banyak hal random sama aku suatu saat?" Tanya Jeff lagi.
Mika menatap sang suami, dia kemudian tersenyum. Pasti, sebenarnya Jeff banyak memikirkan hal manis untuk menjadi kejutan bagi Mika, tapi dia sendiri tidak tahu harus melakukan apa makanya jadi begini, melakukan hal yang semacam ini beberapa kali.
Mika bukan tipe yang menyukai fairytale, jadi dia sama sekali tidak gila untuk terus-terusan dilamar, dia tidak gila dengan sesuatu yang romantis, dua Mika terlalu realistis selama ini, jadi Mika menjalani semuanya sebaik yang dia bisa.
"Bersediakah kamu untuk banyak hal yang akan kita lalui kedepannya nanti?" Tanya Jeff.
Mika tersenyum dan perlahan menganggukkan kepalanya, dia mengulurkan tangannya sendiri dan Jeff memasangkan cincin yang dia bawa ke jari manis Mika. Cincin tersebut dihiasi oleh mahkota kecil, dia merasa seperti ratu.
"Terima kasih, Sayang. Terima kasih telah menjadi menjadi bagian terindah dalam hidup aku. Terima kasih karena telah menjadi Ibu dari anak-anak aku." Jeff kembali menciumi punggung tangan istrinya, tanpa di sadari Regan malah melongo melihat kedua orang tuanya.
"Mama mau temenin Abang juga sampai besar?" Tanya Regan pada sang Mama. Dia meniru Ayahnya ternyata, Mika malah jadi terkekeh karena itu gemas, anaknya melamarnya juga, kan lucu ya?
Mika menyeka air matanya lalu mengangguk seraya memberikan senyum terbaiknya sebagai seorang Ibu. "Mau, Mama mau. Mama mau nemenin Abang Regan sama Adek Ragya sampai jadi orang sukses, mau banget."
Regan memeluk Ibunya dengan senyum. "Nanti Abang mau ajak Mama jalan-jalan ke luar negeri!"
Mika langsung membalas pelukan anaknya dengan lembut, tentunya Jeff juga tidak mau kalah. Dia juga ikut bergabung memeluk istri dan juga anaknya. "Papa sayang kalian."
Extra part? Ada dong, yuk swipe up!
Hai-hai, aku nepatin janji untuk tamatin cerita Jeff-Mika bulan ini ya. Jangan lupa vote, komen, like, komen, kasih hadiah, rate. Pokoknya apapun kalau kalian suka.
Maaf kalau cerita ini banyak kurangnya. Sampai jumpa di kapal-kapal selanjutnya! Dadah~
Kepoin cerita aku yang lainnya yuk, aku ada novel yang masih On Goin dan juga udah tamat!
1. I Love You, Pak Arkan! [On Going ]
2. Pernikahan Putri Sulung dan Putra Bungsu [Tamat]
3. Life As Ketua OSIS [Tamat]
__ADS_1