
Hari ini Elang mengajak ketiga teman Mika untuk berkeliling Jakarta untuk membeli oleh-oleh. Mika memang sudah tidak bisa pergi ke mana-mana karena hamil besar, takut juga kan kalau sampai dia harus melahirkan di jalan atau Mall. Tapi sebenarnya Elang sengaja juga ikut bersama mereka, karena seperti yang kemarin dia katakan pada Jeff, kalau dia akan memberikan kesempatan untuk kakaknya itu bicara pada Mika.
Karena tidak ada kerjaan jadi Mika hanya berjalan-jalan di depan seraya menyiram tanaman, bagi Mika aktifitas seperti ini sangat menyenangkan. Apalagi dia sekarang sering sekali keram, jadi harus banyak bergerak agar rasa sakitnya sedikit berkurang.
Sebuah mobil SUV memasuki pekarangan rumah dan berhenti tepat di samping Mika. Mika yang mengetahui kalau itu Jeff langsung bergegas masuk agar tidak menemui pria itu. Namun karena perutnya yang memang sudah membesar jadi kesulitan untuk berjalan cepat, sehingga Jeff tentu mudah menjangkau lengannya.
Pandangan mereka bertemu, untuk beberapa saat Mika menatap Jeff namun dengan segera dia membuang mukanya. Untuk apalagi coba Jeff menemuinya? Dia sedikit takut tidak bisa mengontrol emosi karena Elang tidak ada di sini.
"Aku mau bicara, Mik," ucap Jeff melembut.
Tidak ada jawaban dari Mika, menurut Mika semuanya sudah selesai, apa lagi yang perlu dibicarakan? Bagi Mika kalau Jeff hanya ingin memaksakan kehendaknya terus menerus padanya, lebih baik Jeff tidak perlu menemuinya.
"Mikaa."
"Mau bicara apa lagi sih, Mas?!" Sungut gadis itu.
"Kita bicara di dalam, kita perlu menyelesaikan masalah ini sekarang," ajak Jeff.
"Bagi aku udah selesai!"
__ADS_1
Jeff tidak mendengarkan kata-kata Mika, dia paham kalau Mika marah dan emosi. Dia juga paham kalau respon Mika tidak akan sebaik itu saat bertemu dengannya, pokoknya dia sudah memahami semuanya dan akan menerima apapun yang istrinya lontarkan, termasuk makian sekali pun.
Di sinilah mereka sekarang, di balkon kamar Mika yang sering dia pakai untuk menenangkan diri. Mika masih terdiam menatap Jeff yang kini ada di depannya. Perlahan Jeff mengulurkan surat pemeriksaan rumah sakit yang sempat dia sembunyikan dari Mika.
Mika awalnya tidak peduli, entah kenapa motoriknya tidak sesuai dengan logikanya dan mengambil surat itu dari tangan Jeff. Matanya membaca setiap deretan diagnosa di sana. Jeff menghela napasnya. "Dulu papa selalu mengajarkan untuk menjadi seseorang yang perfeksionist. Tidak boleh bermain, selalu ditindak keras untuk dididik menjadi anak yang suatu saat nanti bisa meneruskan perusahaannya."
"Memasuki SMA, aku mulai berontak, Mik. Aku ingin kebebasan yang selama ini tidak pernah aku dapatkan. Sampai akhirnya hari itu aku memutuskan pergi dari rumah."
Mika mendengarkan sebenarnya, tapi dia memilih untuk memandang ke arah lain karena tidak mampu menatap Jeffrico saat ini. Jeff tau juga kalau Mika mendengarkannya, jadi dia putuskan untuk melanjutkan semua ini.
"Di saat yang bersamaan, saat aku menemukan kebebasan. Papa meninggal karena serangan jantung akibat penyakit jantung koroner yang membuat beliau menderita selama bertahun-tahun. Semua itu karena aku, Mik. Aku yang membuat papa meninggal pada hari itu." Jeff tertunduk lemas, rasanya kalau harus menangis pun dia tidak bisa, semuanya sering dia lakukan dulu, sampai akhirnya air mata itu mengering hingga saat ini.
"Hari di mana kita bertemu 11 tahun lalu itu, aku benar-benar terpukul. Semua orang sibuk menyembuhkan luka masing-masing. Begitu juga aku, tapi aku gagal, Mik. Aku membuat kerugian besar di jejak pertama aku memegang perusahaan. Aku juga didiagnosis paranoid disorder yang di mana aku akan selalu merasa gelisah jika tidak menyibukkan diri."
Mika menyeka air matanya, entah sejak kapan dia menangis. Tapi mendengar cerita Jeff dia merasakan kalau laki-laki itu tidak berbohong. Semua yang dia katakan saat ini memang seperti luapan isi harinya sekarang.
Jeff kini mengadahkan kepalanya dan menatap Mika dengan sungguh, perlahan dia menggenggam kedua tangan Mika dengan lembut, mengusap punggung tangan istrinya dan menyalurkan rasa nyaman yang ingin dia tujukan untuk Mika.
"Kalau kau mau tau, aku tidak pernah mau menjadikan kamu pajangan. Sejak hari pertama kita bertemu kamu membuat perasaan aku hangat hanya dengan mendengarkan ocehan kamu yang tidak penting. Tapi mungkin memang aku salah dalam memperlakukan kamu yang aku pikir akan nyaman dengan semua yang aku punya."
Jeff semakin mendekat ke arah Mika dan mengusap air mata di pipinya dengan tangannya. "Kamu tau seberapa frustrasinya aku saat kamu pergi? Seberapa keras usaha aku untuk mencari kamu sampai sekarang ada di sini? Karena aku sadar kalau selama ini aku sudah menyia-nyiakan seseorang yang penting di dalam hidup aku."
__ADS_1
"Mungkin pada awalnya aku tidak pernah menyadari keberadaan kamu sepenting ini, tapi saat kamu pergi aku merasakannya, Mik. Rasanya sebagian dari kehidupan aku ikut bersama kamu di sini."
"Aku minta maaf," lanjutnya.
Mika sedari tadi hanya menjadi pendengar, dia juga sakit sebenarnya mendengar penderitaan Jeff, tapi apa dia egois kalau belum bisa memaafkan Jeff? Bahkan keinginan berpisah dari Jeff sudah benar-benar dia tekadkan. Sekarang apa yang harus dia lakukan?
"Udah, kan? Sekarang kamu bisa pergi." Mika beranjak dari tempatnya dan mempersilahkan Jeff untuk keluar. Sudah cukup bagi Mika mendengar penjelasan Jeff. Kalau saja dia bilang sejak awal mungkin Mika bisa memahami, tapi sudah terlanjur banyak luka yang Jeff berikan pada Mika, tidak mudah untuk Mika memaafkan Jeff.
"Mikaa ... "
"Mas aku ngerti apa yang kamu rasain, tapi emang mudah bagi aku maafin kamu gitu aja? Gak, Mas. Kamu gak tau seberapa seringnya aku nangis cuma karena kamu, kamu gak tau segimana sakitnya aku kalau apa-apa tapi kamu gak pernah ada, kamu gak tau segimana hancurnya aku waktu kamu tinggalin aku 3 bulan lalu, kamu gak tau!"
Jeff memeluk Mika, memang sedikit kesusahan karena perutnya yang semakin besar. Tapi Jeff tetap memeluknya. Membiarkan Mika yang kini menangis seraya meluapkan emosinya. Dia juga membiarkan Mika memukuli dadanya, dia tau kalau Mika sangat emosi sekarang, jadi apapun yang Mika lakukan akan dia terima. Tapi tidak dengan kehilangan Mika.
Beberapa menit Mika meluapkan emosinya, kini dia sudah jauh lebih tenang dan masih di dalam pelukan Jeff. Meskipun dia mencoba melepaskannya tapi Jeff tidak mengizinkannya dan tetao memeluk Mika seperti ini.
"Sudah lega?" Tanya Jeff seraya menghapus air mata Mika dengan Ibu jarinya. Sementara Mika tidak menjawab, dia benar-benar sudah lelah karena banyak bicara sampai suaranya habis.
"Aku tau kamu butuh waktu untuk mencerna ini semua, aku tidak akan memaksakan apapun sama kamu. Aku sudah menjelaskan dan kalau kemarin kamu yang berjuang dalam hubungan kita, biarkan kali ini aku yang melakukannya." Perlahan Jeff menangkup pipi Mika, setelah itu mencium keningnya lama.
Dengan napas yang masih tersenggal-senggal, Mika hanya menikmati suasana ini. Setelah itu Jeff tersenyum ke arahnya. "Jangan lupa jaga kesehatan dan minum susu. Aku masih akan tetap di sini sampai kamu bisa memaafkan aku, Mika."
__ADS_1
Setelah mengucapkan itu Jeff mengusap puncak kepala Mika, sepertinya memang dia tidak boleh memaksakan kehendak. Jadi dia memutuskan pulang ke apartemennya dan mencoba membujuk Mika kembali di lain hari.