10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Kutub Utara Meleleh


__ADS_3


Harus Mika akui, kalau di Jakarta ini memang sangat nyaman. Hidup bertiga sebagai keluarga kecil membuatnya merasa berada di zona nyaman. Ya meskipun terkadang Jeff itu sangat menyebalkan sekali menurut Mika.


Semalam saja mereka bertengkar kecil karena Jeff mengepel kamar mereka menggunakan tissue basah. Bayangkan, tissue basah sampai beberapa pack habis karena dipakai untuk mengepel lantai, boros sekali CEO besar ini.


Mika sampai uring-uringan dan kesal sekali melihatnya, kalau begitu caranya lebih baik dia yang mengerjakan. Tapi Jeff bilang kalau dia harus banyak beristirahat dan tidak apa-apa juga kalau tissue-nya habis, toh Jeff bisa membelikannya lagi. Lagi pula tissue basah sudah ada antiseptiknya, jadi aman untuk Regan dan terhindar dari zat-zat berbahaya.


Memang sih untuk ukuran Jeffrico ini apa sih yang tidak bisa dia belikan untuk Mika, apalagi hanya tissue basah. Satu truk pun bisa dia belikan sekarang juga kalau Mika mau. Jadi Mika hanya mengusap dada saja lah. Kaget dia, tidak bisa dipungkiri bertransformasi dari Mika yang harus hidup dengan banyak perjuangan dan sekarang tinggal bersama Jeffrico yang bisa beli segalanya itu cukup mengejutkan untuk seorang Mika. Belum lagi Jeff setiap harinya membelikan banyak baju untuk Regan, padahal usianya masih sangat kecil.


Pagi ini dengan berbagai pertimbangan, mereka sudah siap berkemas untuk pulang ke Bandung. Mereka menggunakan pesawat agar cepat sampai, karena kasihan juga kalau Regan harus berlama-lama di jalanan Ibu kota yang panas dan macet.


Mika terkekeh sembari memainkan pipi Regan yang sekarang menempel di bahu papanya. Regan menatap ke arah Ibunya sesekali bayi kecil itu tersenyum seolah diajak bermain oleh Mika. Manis sekali melihat Regan tersenyum, berbeda sekali dengan papanya yang irit senyum.


"Mass Regan kayanya seneng banget naik pesawat, nanti kalau udah besar mau aku suruh jadi pilot," ucap Mika random.


"Suka pesawat bukan berarti dia berpikir akan menjadi pilot," jawab Jeff seraya menciumi putranya dengan sayang.


"Ihh ya kali kan dia dalam hatinya bilang, ahh nanti aku mau jadi pilot biar bisa bawa mamanya terbang ke luar angkasa," imbuhnya.


"Itu bukan pilot, tapi astronot." Jeff terkekeh, benar-benar random sekali Mika. Kalau begini bagaimana Jeff tidak bertambah awet muda? Bahkan sepertinya bukan Mika yang mengikutinya menjadi dewasa, tapi Jeff lah yang mengikuti jejak Mika untuk selalu muda.


Mika tertawa, melihat Jeff terkekeh seperti itu. Apa dia harus terlihat konyol terus ya di hadapan suaminya agar dia mau banyak berekspresi? Kan gemas sendiri Mika melihatnya, apalagi saat Jeff tertawa Regan juga seolah ikut tertawa. Mirip sekali mereka.

__ADS_1


Regan juga anteng sekali kalau digendongan Jeff, sudah terbayang jelas kalau nantinya mereka berdua akan kompak menjadi ayah dan anak. Apalagi terkadang Regan sudah mengerti, saat sedang asik bersama papanya lalu Mika menggendongnya, dia akan menangis Seperti sekarang ini, Regan maunya bersama papanya saja. Padahal Mika yang mengandung, Mika yang melahirkan, tapi setelah lahir malah mirip papanya, lebih dekat dengan Jeff pula. Memang begini kali ya nasib seorang Ibu?


30 Menit berlalu, akhirnya mereka sampai di Bandara. Gerda sudah stand by di sana untuk menjemput boss dan istrinya. Alangkah berbinarnya mata Gerda saat melihat bayi yang ada di gendongan Jeff, mereka mirip sekali dan yaa lucu saja. Seseorang yang tadinya tidak ingin berkomitmen sekarang menjadi seorang ayah dan suami siaga.


"Selamat datang kembali, Nona muda," sambut Gerda.


Mika tersenyum, Gerda memang tidak pernah berubah. Selalu ramah padanya. "Makasih Pak Ger."


Setelah itu tanpa berlama-lama, mereka pun masuk ke mobil untuk melanjutkan perjalanan pulang. Di perjalanan seperti ini ternyata bukan hanya Regan yang mengantuk, tapi Mika juga. Akhirnya dia menyenderkan kepalanya di lengan Jeff.


Jeff tersenyum, perlahan dia membawa Mika dalam dekapannya dan bersandar di dada. Sesekali Jeff menatap ke arah Regan, lalu kembali menatap Mika. "Terima kasih, Ger. Berkat kamu saya bisa mendapatkan mereka kembali."


Gerda mengangguk dan menunjukkan senyum bahagianya. "Sama-sama, Pak. Saya senang anda sudah mempunyai sikap untuk mempertahankan apa yang memang seharusnya anda pertahankan."


Kehadiran Regan nampaknya menjadi pemersatu semua orang, selain hubungan Mika dan Jeff. Regan juga menyatukan keluarga Dirgantara. Sejak mereka masuk ke alam mansion, semua orang sudah menyambut mereka dengan hangat. Terlebih Regan yang kini sudah beralih tangan kepada Selena dan Elang. Mereka nampak seperti dua bocah kecil yang mendapatkan mainan baru.


Regan juga nampak senang sepertinya bermain dengan Om dan Tantenya. Mona mengusap punggung menantunya dengan lembut dan menatap ke arah Mika. "Terima kasih ya, Sayang kamu sudah melahirkan cucu Mama dan membawa kebahagiaan di keluarga ini,. terima kasih karena mau kembali bersama Jeff."


Mika menggangguk dan perlahan tersenyum. Karena sejatinya, hidup itu adalah memaafkan semua yang terjadi, mengikhlaskan, dan kembali melanjutkan hidup. Semua orang memiliki kesalahan, tapi semua orang berhak mendapatkan kesempatan ketika memang mereka ingin berubah. Itulah yang dia lakukan pada Jeff. Meskipun mungkin Jeff masih berusaha, tapi tidak apa-apa, Mika juga akan membantu kesembuhan Jeff terlepas dari trauma masa lalunya.


"Regan mirip Kak Jeff banget, bucin kamu, Kak!" Ledek Selena pada kakaknya.


"Kalau tidak mirip kakak, aneh rasanya, Sel," jawab Jeff logis.

__ADS_1


"Bagusan mirip Mika, pasti Regan tambah ganteng," timpal Elang.


"Baik, nanti akan kami pikirkan untuk program anak kedua," jawab Jeff santai.


Mika melirik ke arah Jeff yang berada tepat di sampingnya. tangan ajaib ini memang sudah gatal ingin memukul Jeff sejak tadi malam tapi tidak terealisasikan. "Ngaco! Kamu aja yang lahiran!"


"Saya cuma bisa buatnya, kalau melahirkan itu tugas kamu," balas Jeff tak mau kalah.


Mika membulatkan matanya, bisa-bisanya loh Jeff bicara seperti itu di hadapan orang tua dan adik-adiknya, Mika kan jadi malu. Memang manusia paling menyebalkan Jeff ini..Dia kalau diam menyebalkan memang, tapi kalau banyak bicara ternyata lebih menyebalkan.


"Tolong dong ini masih ada yang di bawah umur," peringat Elang.


Mereka semua terkekeh, begitu juga dengan Jeff. Semuanya terheran-heran sih, karena ya Jeff biasanya tidak se friendly ini kalau sedang kumpul keluarga. Tapi baguslah, memang dalam diri seseorang harus ada perubahan, tidak ada kata terlambat kan untuk itu? Perubahan sekecil apapun itu adalah kebaikan.


"Mik, kayanya kamu harus kabur lagi sama aku," ucap Elang seraya mencium pipi Regan yang ada di gendongannya.


"Kenapa emang, Kak?" Tanya Mika.


"Karena depresi suami kulkasmu meleleh. Padahal tinggal di kutub Utara."


"Hahahahahhahaha! Bener!" Timpal Selena.


Jeff menatap tajam ke arah Elang, tentu dia tidak akan membiarkan itu terjadi. Tapi benar sih yang Elang katakan. Mika tidak ada itu rasanya ketar-ketir, banyak ketakutan dalam diri Jeff yang membuatnya banyak belajar. Pokoknya Jeff tidak ingin kehilangan Mika lagi. Sampai-sampai sekarang dia memeluk Mika dengan erat, seolah tidak akan membiarkan Mika pergi kemana-mana.

__ADS_1


__ADS_2