
Jeff harus melakukan perjalanan dinas, tapi pada akhirnya Jeff membawa beberapa tenaga medis ke rumahnya untuk memantau Mika. Mika masih saja ngotot untuk lahiran di rumah, tapi Jeff tetap jaga-jaga, jadi kalau ada tenaga medis di rumah semisal terjadi sesuatu dengan Mika mereka bisa bawa Mika langsung ke rumah sakit.
Dia sendiri sebenarnya agak berat meninggalkan Mika karena bagaimanapun ya seharusnya Mika didampingi oleh seorang suami, tapi karena sekarang Jeff sedang menangani project yang sudah sejak tiga bulan lalu dia tangani, tidak bisa dia tinggalkan begitu saja, Jeff sudah memiliki segalanya, tapi dia tetap harus profesional dalam pekerjaannya.
Mika merasakan sakit di perut bagian bawahnya, dia memutuskan untuk tidak mengatakan apa pun pada Jeff karena memang dia tidak mau membebani Jeff dan malah membuat pekerjaan Jeff berantakan.
"Kira-kira sempat gak nunggu aku pulang?" Tanya Jeff, karena ya sebagai seorang ayah tentu dia mau ada di sana saat anaknya dilahirkan, Jeff tentu mau bertanggung jawab atas banyak hal di dalam kehidupan anaknya.
"Sempat Mas," jawab Mika masih berusaha tenang, sebisa mungkin dia menahan suaranya agar tidak kedengaran kesakitan.
"Sayang ... "
"Hmm?"
"Maafin aku ya," ucap Jeff, tentu rasa bersalah saat dirinya harus meninggalkan Mika itu ada, apalagi dia berada di Kalimantan, berbeda pulau dengan Mika.
Mika terkekeh. "Apa sih, kamu kira aku anak kecil? Aku gak apa-apa Mas, lagian udah biasa juga, si adek dalam perut juga pasti ngerti," jelas Mika, karena itulah kehidupan, tidak semua harus berjalan sesuai dengan keinginan dan rencana, hanya karena Jeff tidak berada di sisinya bukan berarti Jeff tidak bertanggung jawab, hanya saja memang mungkin mereka sedang harus mengalah dengan keadaan sekarang ini.
"Tapi..."
"Gak apa-apa, aku baik-baik aja, anak-anak juga baik-baik aja. Semuanya aman, kamu fokua aja sama kerjaan kamu, di sini aku sama anak-anak tunggu kamu pulang," jelas Mika.
Jeff membasahi bibirnya yang kering. "Oke." Perasaannya sedikit tenang mendengar semua yang Mika katakan.
"Tenang aja, kamu harus selesaikan semua pekerjaan kamu karena aku di sini nunggu kamu."
"Oke, secepatnya aku pulang!"
.
__ADS_1
.
.
Dan ya sebenarnya Mika sedang berbohong kalau dia baik-baik saja untuk menenangkan Jeff karena sekarang dia sedang berjuang untuk melahirkan anak kedua mereka. Mika sedang berjuang diantara hidup dan matinya, mengejan dan terus menarik dan membuang napas.
Bahkan saat dirinya berbicara dengan Jeff via telepon sebelumnya sudah memasuki pembukaan tiga, sekarang Mika benar-benar mewujudkan keinginannya melahirkan di rumah.
Beruntungnya Mika semua jalan kelahiran dalam kehamilannya berjalan dengan baik, tidak ada kendala yang mengharuskannya ke rumah sakit. Bidan dan perawat yang memang sebelumnya sudah ada di rumah mereka membantu Mika untuk melahirkan anaknya.
Ada juga Mona dan Widia yang membisikkan banyak kata-kata positif, menemani Mika dalam perjuangannya, bukan menggantikan Jeff, tugasnya adalah menenangkan perasaan Mika.
Selena juga datang setelah Mona meneleponnya, karena meski merasa bahwa dia bisa tanpa Jeff, Mika tetap membutuhkan seseorang untuk menjadi temannya, Selena menunggu di luar karena memang baiknya proses ini hanya dilakukan oleh beberapa orang saja di dalam ruangan
.
Sampai akhirnya setelah satu jam berjuang suara bayi menggema ke seluruh penjuru ruangan, Selena langsung masuk ke dalam ruangan untuk memeluk Mika, lagi-lagi dia dibuat terharu dengan perjuangan Mika.
"Perempuan, tapi kelihatan kaya
Regan pas baru lahir, kenapa sih mirip sama Kak Jeff semua. Bucin banget ini mah kakak gue," celetuk Selena, yang artinya untuk anak kedua ini juga lagi-lagi mirip Jeff. Mika hanya terkekeh, apa pun itu, kalau soal anak Mika hanya akan menerima semuanya dengan baik, dengan segenap hati dan perasaannya.
.
.
.
Karena memang jaraknya cukup jauh, jadi kembali Mika belajar untuk menyusui anaknya yang kedua kali ini. Dia kembali belajar banyak hal untuk bisa memberikan yang terbaik pada anak keduanya. Masih belum kepikiran soal nama juga, dia dan Jeff juga masih belum memikirkan soal apa pun.
"Lo udah anak kedua, gue masih gini-gini aja," kata Selena, dia kesal, tapi juga ikut senang dengan apa yang Mika dapatkan dalam hidupnya.
__ADS_1
Selena sendiri memutuskan untuk fokus pada karir dan kehidupan yang dia jalani, bukan pada cinta atau hubungan dengan lawan jenis lainnya, karena menurutnya agak ribet jadi sekarang santai dulu. Pasalnya Edgar masih belum mau menikah juga dan mereka sibuk satu sama lain.
Jadi Selena fokus pada karir, fokus mencintai diri sendiri, cinta yang berkualitas akan datang pada dirinya seiring value dalam dirinya semakin tinggi. Mika hanya terkekeh.
"Sabar, Edgar pasti lagi mikir gimana caranya buat sama-sama, dia hanya sibuk aja," balas Mika.
Selena hanya berdecak, dia sudah tidak lagi memikirkan Edgar, untuk apa juga memikirkan seseorang yang tidak pernah memikirkannya? Ini adalah hidup dan Selena harus peduli dengan dirinya sendiri.
"Udah nggak ngarepin dia lagi!"
"Masa?" Tanya Mika. Selena hanya menghela napasnya, ya sudah kalau tidak percaya, dia juga tidak bertanggung jawab untuk menjelaskan apa pun, ini adalah hidup Selena jadi ya biarkan saja Selena sendiri yang memikirkan semuanya untuk dirinya sendiri.
"Sini gue mau gendong!" Selena langsung mengambil alih bayi yang ada di dalam pangkuan Mika, karena kebetulan baru saja selesai dengan urusannya menyusu.
Mika membiarkan Selena menggendong anaknya, Selena adalah seseorang yang selalu ada, di kelahiran pertamanya, kemudian di kelahiran yang ini juga Selena masih selalu ada jadi Mika tidak masalah anaknya bersama Selena, Regan dekat dengan Selena malah membuat Mika bangga.
"Akhirnya sepatu yang gue beli waktu itu punya pemiliknya," ujar Selena, karena anak Mika yang kali ini perempuan, Selena jadi teringat kalau dia pernah membeli sepatu bayi.
"Emang masih ada?" Tanya Mika.
Selena menganggukkan kepalanya, tentu saja dia menyimpannya, kalau tidak untuk anak Mika ya mungkin untuk anaknya sendiri nantinya.
"Lo sendiri tau gue, gue adalah tipe yang selalu menyimpan semua yang menurut gue berharga."
"Tapi, 'kan, pas beli nggak tau kalau gue bakal lahirin anak perempuan." ujar Mika heran.
"Tapi, akhirnya punya, 'kan? Waktu menjawab semuanya. Akhirnya sepatu itu menemukan pemiliknya walau mungkin butuh waktu," jelas Selena, walaupun Mika tahu kalau pada kalimatnya tersebut Selena sebenarnya tidak sedang berbicara soal sepatu.
Mika mengangguk-anggukkan kepalanya, iya semuanya pasti akan bertemu pemiliknya, semuanya pasti akan bertemu entah sekarang atau nanti.
"Jalani aja kehidupan ini, kalau jodoh ya ketemu, kalau nggak jodoh paling lihat dia bahagia sama orang lain." Mika ingin tertawa sebenarnya, tapi sebisa mungkin dia berusaha untuk menahan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Ya, semoga waktu mempertemukan lo sama satu jiwa paling baik di semesta ini, karena gue juga nggak mau lihat lo patah hati lagi.