
Benar saja, hari ini mereka semua pulang. Kini hanya tersisa keluarga kecil mereka saja, Mika, Jeff dan juga si kecil Regan. Mika masih harus banyak beristirahat, sehingga Jeff harus mengambil beberapa peranan penting karena ternyata asisten rumah tangga mereka pun meminta berhenti secara bersamaan saat yang lainnya pulang. Entah karena kebetulan atau bagaimana ya terpaksa mereka harus tinggal bertiga saja.
Setelah membantu Mika menyusui anaknya, kini Jeff membawakan makanan yang sudah dia delivery ke kamar. Mika yang nampak anteng memandangi putranya, kini malah beralih menatap papanya Regan. Jeff tersenyum lalu duduk di tepi kasur seraya menyendokkan makanan dan menyuapkannya pada Mika. "Kamu belum makan."
"Aku bisa sendiri." Mika mencoba mengambil alih piring dan sendok yang ada di tangan Jeff. Namun Jeff tetap kekeh ingin menyuapi Mika, karena malas berdebat akhirnya Mika menurut saja, dia sudah tau kalau Jeff akan tukuh pada pendiriannya meskipun dia sudah melarang.
Tidak banyak pembicaraan memang, mereka fokus pada pekerjaan masing-masing. Mika sebenarnya bukan tidak senang diperlakukan seperti ini oleh Jeff, tapi sejujurnya dia juga masih beradaptasi dengan semuanya. Dengan semua perubahan sikap Jeff, hanya satu yang tidak berubah, wajah datarnya.
"Kalau aku memilih berhenti, kamu mau gimana?" Tanya Mika tiba-tiba.
"Aku akan tetap mempertahankan kamu dan Regan," jawab Jeff seraya memberikan segelas air pada Mika karena dia sudah menyelesaikan makannya.
"Kenapa?" Tanya Mika sembari menatap Jeff dengan lamat.
"Karena kamu istriku dan Regan anakku. Aku tidak bisa meninggalkan tanggung jawabku atas kalian."
"Hanya karena tanggung jawab? Aku gak akan larang kamu ketemu Regan, kamu juga bisa memberi apapun kebutuhan dia tanpa harus sama-sama dengan aku. Kalau kamu hanya ingin bertanggung jawab ya oke, aku kasih kesempatan kamu untuk melakukan hal itu sama Regan. Tapi gak dengan aku, karena aku bisa bertanggung jawab untuk diri aku sendiri."
__ADS_1
"Kalian bagian dari hidupku, Mik. Mungkin untuk sekarang aku tidak akan berjanji banyak hal, yang aku bisa katakan hanya itu, tapi biarkan aku untuk mempertahankan kamu dan Regan. Aku mau hadir di setiap pertumbuhan Regan, aku mau selalu ada di saat kamu butuh seseorang," ucap Jeff. Terdengar lembut, namun suaranya berat dan dalam. Membuat Mika sedikit merinding mendengarnya.
"Kalau kamu belum bisa memaafkan aku, itu hak kamu. Karena aku sadar, apa yang aku torehkan ke kamu itu bukan perkara kecil. Kamu masih boleh marah, masih boleh benci aku, masih boleh mengabaikan aku sesuai mau kamu, tapi aku akan bertahan, Mik."
Mika menghela napasnya, pembicaraan seperti ini memang penting untuk apa yang akan dia putuskan, Meskipun jawaban yang dia dengar selalu sama, kalau Jeff ingin mempertahankannya Jadi ya sudah, dia biarkan dulu. Tapi untuk memutuskan, dia masih ragu, yang tadinya keputusan itu sudah bulat kini malah kembali menjadi sebuah bimbang.
Lagi, saat dia menatap Regan ada perasaan di mana hati kecilnya mengatakan kalau dia tidak boleh egois. Dia pernah tau kalau anak yang tumbuh tanpa peran ayahnya akan lebih emosional, perasaannya akan tidak bisa dia kendalikan. Mika tidak mau Regan tumbuh seperti itu. Sebenarnya dia benci pada dirinya yang seperti ini, sulit untuk menerima apa-apa yang pernah membuat hatinya terluka.
.
.
.
"Kenapa? Ada yang tidak kamu pahami?" Tanya Jeff sembari duduk di sofa sebelah Mika.
Mika yang nampak masih mempertahankan gengsinya sedikit ragu, tapi ya memang butuh karena dadanya terasa penuh. "Aku gak tau cara pake ini." Mika mengulurkan pumping yang ada di tangannya, membuat Jeff mengangguk-nganggukkan kepalanya dan melihat petunjuk pemakaiannya.
"Buka kancing baju kamu," ucap Jeff.
__ADS_1
Mika nampak kaget mendengar instruksi itu, iya dia tau kalau penggunaannya di situ, tapi apa dia harus membuka bajunya di hadapan Jeff? Biarpun pernah melakukannya, tapi tetap saja Mika malu kalau disuruh membuka bajunya seperti itu oleh Jeff.
Jeff yang melihat Mika nampak terkejut menghela napasnya, entah apa juga yang gadis itu pikirkan. Tentu dia menginstruksi seperti itu ya karena penggunaannya di bagian dada, kan? Dia malah kaget seperti dipintai jatah. Memang aneh Mika. "Maksudnya beberapa saja, penggunaanya kan di sana," ralat Jeff.
Mika yang mendengar itu pun menurut, ya tadi dia memang sedikit kaget saja. Tapi dia tidak bodoh kok kalau sampai pikirannya ke mana-mana. Setelah Mika membuka sedikit bajunya, Jeff membantu Mika melakukan pumping ASI pertamanya. Memang hal seperti ini masih tabu untuk gadis remaja seperti Mika, jadi Jeff memahaminya. Dia yang lebih dewasa tentu harus membuat Mika terbiasa dengan hal-hal seperti itu.
Sedikit canggung juga sih untuk Mika melakukan pumping di depan Jeff, iya Jeff pernah melihat semuanya, tapi kan sudah lama mereka tidak melakukannya. Apalagi Jeff menatapnya tanpa berpaling, sebenarnya bukan karena pikiran Jeff yang mesum tapi dia sedang merenung saat melihat ada air susu yang mengalir dari sana.
"Aneh, bisa ada ASI yang keluar dari sana, padahal saat aku yang memainkannya tidak ada apapun yang keluar dari sana," gumam Jeff.
Mika yang mendengar itu menoleh seraya membulatkan matanya. Bisa-bisanya loh Jeff melontarkan kalimat seperti itu di hadapan Mika. Ya aneh saja, memang Jeff sering begitu tapi kan kondisi mereka sedang marahan. "Porno!"
Jeff terkekeh, dia tidak sedang menggoda Mika sebenarnya. Hanya saja pikirannya ini mendadak random, ya dia tentunya masih ingat bentuknya dan bagaimana cara dia memainkannya, aneh saja tidak ada apa-apanya. Apa dia salah menggunakan teknik atau bagaimana sehingga dia kalah oleh alat dan juga Regan yang berhasil menyedot sesuatu dari sana. "Bercanda, Sayang."
Mika seketika menahan napasnya, kenapa sih Jeff harus memanggilnya Sayang. Kan kalau begini Mika jadi salah tingkah. "Bisa gak manggilnya biasa aja?"
Jeff yang menyadari arah percakapan Mika terkekeh, jadi dia salting nih karena Jeff memanggilnya Sayang? "Hm? Iya gimana, Sayang?"
"Masss!!!" Panggil Mika kesal.
__ADS_1
Jeff mendekat ke arah Mika lalu mengecup puncak kepalanya dengan lembut. Ternyata kehilangan Mika membuat dia banyak belajar. Belajar bagaimana memperlakukan seorang wanita, belajar bagaimana artinya seseorang dan dia sekarang tau, kalau apa yang sebenarnya Mika butuhkan adalah hal-hal sederhana seperti ini. Iya, memang jauh sekali dengan karakter Jeff yang sebenarnya, tapi untuk Mika, dia akan belajar lebih banyak lagi.
Mika sedikit tersenyum sih, tidak munafik kalau dia tidak senang. Bagaimana pun Mika memang masih mencintai Jeff, hanya saja dia sedang menikmati dibujuk seperti ini oleh Jeff. Dia sangat menikmati perlakuan Jeff yang seperti ini, entah karena dia masih ingin melihat keseriusan Jeff atau karena dia takut. Iya, dia takut jika memberi Jeff kesempatan, Jeff akan berubah ke mode awal. Mode di mana dia tidak peduli dan selalu mengabaikannya.