10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Jeff Vs Elang


__ADS_3


Mika masih belum sadar dan di sana Elang menyewa seorang perawat khusus untuk menjaga Mika. Elang harus kembali ke Bandung untuk menyelesaikan cuti kuliahnya dan mengambil beberapa barang penting.


Sedari tadi Mona bertanya di mana keadaan Mika tapi Elang bersikeras tidak mau menjawab. Lebih membuat emosi lagi karena Jeffrico baru pulang siang ini setelah kemarin meninggalkan Mika.


"Di mana Mika?" Tanya Jeff yang memang sudsb mencari ke rumah sakit namun mereka bilang kalau Mika sudah dipindahkan oleh Elang.


"Urus aja urusan lo sendiri, gak perlu lo cari Mika. Dia aman sama gue! Berhenti bersikap seolah lo suaminya, padahal dalam pembuktiannya omong kosong! Nol besar!" Elang membalas tatapan tajam dari Jeff, sumpah demi apapun kalau dia selalu menahan amarahnya kemarin, sekarang tidak lagi. Persetan kalau Jeff akan menghabisinya detik ini juga.


"Dia istri saya, Elang! Beri tahu sebelum saya bertindak kasar pada adik saya sendiri!" Tegas Jeff yang rahangnya mulai mengeras akibat emosi, tangannya juga mulai mengepal melihat tindakan kurang ajar adiknya.


Elang tersenyum remeh, tanpa rasa takut dia malah menghampiri Jeffrico. "Mau apa? Mau pukul? Silahkan, gue menerima dengan lapang dada. Gue lebih terima lo pukulin, kalau lo gak malu itu pun. Berterima kasih harusnya karena gue yang menyelamatkan istri dan anak lo!"


"Elang! Apa yang kamu lakukan, Nak?!" Teriak Mona yang sudah panik karena kedua anaknya ini sekarang sama-sama emosi.


Tanpa berpikir panjang Jeff langsung memukuli Elang, dia buta kalau Elang adiknya, tapi menurut Jeff ini semua di luar batas dan Elang harus mengetahui batasannya. "DI MANA MIKA?!"


"JEFF, JANGAN EMOSI!" Teriak Mona.


Sementara Elang tidak menjawab, dia malah tersenyum sinis tanpa berniat membalas, membiarkan sang kakak dulu puas dengan apa yang dia lakukan setelah itu tunggu saja. Menikmati kemarahan Jeff seperti ini sebuah kesenangan. Seseorang yang tidak peduli pada apapun kini bertingkah seolah kehilangan.


"Lebih baik gue mati di tangan lo sendiri daripada gue kasih tau di mana Mika berada! Karena gue udah berjanji kalau gak akan biarin dia kembali ke ke lo!" Ucap Elang.


Jeff kembali memukuli Elang. "Beritahu saya, kamu bukan siapa-siapa Mika dan saya lebih berhak atas dia!"


Sungguh? Jeff bicara itu di hadapan Elang? Berhak katanya, sebuah lelucon! Kepalang Emosi kini Elang membalas pukulan dari Jeff. Dan Selena yang baru datang ke sana menjadi histeris berusaha melerai kakaknya. Namun dia malah terpental karena dorongan dari Elang yang kini mengukung Jeff di bawah dan memukulinya tanpa ampun.


"BICARA SOAL BERHAK? LO GAK ADA HAK! TINGKAH LO ITU MELEBIHI SUAMI DI ATAS KERTAS YANG GAK ADA TANGGUNG JAWABNYA SAMA SEKALI, GAK PUNYA HATI!"

__ADS_1


"Lo kemarin tinggalin dia sendiri dalam keadaan kritis dan sekarang masih bilang berhak?! Gak berguna lo jadi suami!" Lanjut Elang.


"Kamu yang lebih tidak berhak, Elang!" Jeff bangkit lalu meninju pipi Elang yang ada di hadapannya.


"Emang gak berhak, tapi lebih peduli!"


Elang bangkit dan berdiri dengan gagah di hadapan sang Kakak. "Gue mencintai Mika sejak awal, perasaan kami sama. Tapi selama ini gue mengalah karena Selena! Gue mengalah karena lo ingin! Tapi gue salah membiarkan dia menikah dengan pecundang kaya lo! Sekarang, gue gak akan mundur. Gue akan jadi orang pertama yang melindungi Mika dari bajingan kaya lo!"


Elang mendorong tubuh Jeff kasar, setelah itu dia membawa kopernya dan segera pergi ke stasiun. Jeff terdiam mendengar perkataan Elang, jadi selama ini Elang mencintai Mika?


Mona stress rasanya, Selena mencoba menenangkan Ibunya dan menenangkan dirinya sendiri. Fakta ini terlalu mengejutkan untuknya. Jadi selama ini dia egois sekali karena mengorbankan perasaan kakaknya sendiri.


Jeff mengepalkan tangannya kuat, dia langsung pergi ke atas untuk mencari keberadaan Mika dengan bantuan orang-orang kepercayaannya. Bagaimana pun caranya dia harus bertemu dengan Mika. Mika istrinya dan tidak ada seorang pun yang bisa membatasi mereka termasuk Elang adiknya sekali pun. Jeff akan pastikan itu.


.


.


.


"Apa informasi yang kamu dapatkan?"


"Belum ada, Pak. Rumah sakit bersikeras menolak memberitahukan kepindahan Nona Mika, Tuan Elang mengganti kartu sim dan juga ponselnya, dan lagi belum ada transaksi mana pun dari kartu yang ada berikan pada Tuan Elang."


"Sial! Apa kamu dibayar hanya untuk ini?! Bagaimana bisa posisi mereka tidak terlacak oleh kalian?!" Jeff membantingkan berkas yang ada di hadapannya.


Gerda yang sudah biasa menerima kemarahan Jeffrico hanya pasrah, tapi sepertinya Elang memang sudah merencanakan ini dengan matang, benar-benar sulit ditembus dan benar-benar rapi untuk ukuran remaja seperti Elang. Tapi tidak salah juga, Elang memiliki kekuasaan juga meski tidak sebesar kekuasaan Jeff.


"Saya tidak mau tau, keberadaan Mika harus sudah terlacak besok sore. Saya beri waktu sampai besok sore kalau tidak kalian akan menerima kemarahan saya lebih dari ini! Keluar!"

__ADS_1


"Baik, Pak akan saya usahakan. Kalau begitu saya permisi," pamit Gerda dan langsung keluar dari sarang macan itu, bisa-bisa dia habis di tangan Jeff kalau berlama-lama di sana dan dia masih sayang dengan nyawanya sendiri.


"KALAU KAMU PERGI AKU AKAN BENAR-BENAR PERGI DARI KAMU! AKU BENCI KAMU!"


Jeff menyenderkan punggung di kursi kebesarannya. Sekilas perkataan Mika menggema di kepalanya, apa Mika akan benar-benar pergi darinya? Matanya terpejam, keringat dingin mulai bercucuran dari sana, tepat bayangan 11 tahun lalu memutar di kepala Jeff.


— Flashback On —


"Jeffrico, sampai kapan kamu aka menjadi berandalan seperti ini?!" Bentak Agra sang Ayah.


"Tong jadilah dewasa, Jeff! Kamu penerus Papa! Kamu anak paling besar dan Papa hanya bisa mengandalkan kamu saat ini!"


Jeff mengepalkan tangannya, dia sudah benar-benar muak dengan kukungan hidup ayahnya. Dia ingin bebas menikmati masa remajanya seperti teman-temannya.


"Saya gak suka diatur, saya lelah hidup dengan semua ini." Jeff mengeluarkan dompet dan juga kunci mobilnya. Dia benar-benar sudah muak dengan semua ini, dia tidak peduli akan kehilangan semua, yang pasti dia sekarang hanya ingin bebas.


"Saya keluar dari rumah dan Papa tidak berhak lagi atas saya! Saya tidak suka perusahaan, saya tidak suka belajar, saya tidak suka berkas-berkas memusingkan itu!" Jeff dengan tegas mengatakannya, membuat Agra naik pitam apalagi saat Jeff sudah melangkahkan kakinya untuk keluar dari mansion.


"KALAU KAMU TIDAK KEMBALI APAPA AKAN BENAR-BENAR PERGI DARI DUNIA INI JEFF! DAN KAMU AKAN MENYESAL!"


Jeff teriam, dia tidak mempedulikan semua ancaman yang sering dia dengar. Dia sudah benar-benar bulat untuk pergi dari mansion ini.


"AKHHH." Agra meringis kesakitan, membuat Mona langsung menghampiri suami, begitu juga dengan kedua adiknya. Serangan jantung membuat Agra terbaring lemah dan langsung dilarikan ke rumah sakit.


Penyakit jatung koroner berhasil membuat Agra pergi meninggalkan dunia. Jeff yang mematung di hadapan jenazah ayahnya masih belum kembali dari alam bawah sadarnya.


Dia ingin menangis, dia ingin berteriak, dia ingin kembali memutar waktu agar kejadian ini tidak terjadi. Kalimat terakhir dari sang ayah nyata adanya. Jeff benar-benar menyesal.


— Flashback Off —

__ADS_1


Jeff membuka matanya, dengan segera dia mengambil obat di dalam laci lalu meminumnya beberapa tablet. Serangan panik itu datang lagi, membuat ketakutan dan trauma masa lalu Jeff kembali menghampiri.


Tubuhnya dingin sedingin es, napasnya sesak dan jantungnya berdebar kencang. "Arrgghhtt, Mikk jangan tinggalin aku."


__ADS_2