
Mika dan teman-temannya turun ke bawah, rencananya mereka akan main UNO sambil makan seblak. Memang hal sederhana sih yang sering mereka lakukan, tapi yang terpenting mereka sama-sama senang.
Saat mereka akan duduk di meja makan tiba-tiba Selena dan kedua temannya datang. Mereka semua saling bertatapan, tentu saja dengan wajah songong masing-masing.
"Ngapain lo bawa temen-temen miskin lo ke sini? Lo kira ini rumah nenek moyang lo?!" Kesal Selena.
"Siapa yang lo katain miskin hah? Bokap gue walaupun gak se-kaya kakak lo dia pengusaha ya!" Kesal Caca yang kini emosinya tersulut.
"Eh biasa aja dong, ini rumahnya Selena. Suka-suka dia lah. Kalian kan cuma numpang!" Balas Brigitta.
Mika menahan Tessa saat dia akan maju menghadapi ketiganya. Menghadapi Selena tidak akan ada habisnya. Yang ada mereka malah tidak jadi bersenang-senang. Jadi Mika yang paham harus menyetop ini semua sebelum ada banyak kekacauan di sini.
"Gue udah izin sama kakak lo kok, jadi lo gak bisa ngatur seenaknya. Kecuali kalau Jeffrico gak izinin baru lo marah," balas Mika santai.
"Kurang ajar ya lo! Oke kalau gitu, tapi tempat ini mau gue pake. So ... Get out!" Ucapnya datar.
Mika sih santai saja menanggapi, rumah ini juga luas dan bukan satu-satunya tempat yang bisa gunakan. Mika ada ide, dia kini meninggalkan Selena bersama kedua temannya dan mengajak Tessa juga Caca ke taman belakang.
Di sini udaranya sejuk, ada meja kecil juga untuk mereka pakai bermain. Apalagi terdengar suara riak air dari kolam buatan di sana. Lebih seru dibandingkan di dalam, anggap saja piknik. "Ya udah kita di sini aja. Taro dulu Tas kalian. Mau ikut masak seblak atau di sini aja?" Tanya Mika.
"Ikutlah," sambut keduanya, menurutnya semua pekerjaan terasa lebih ringan dan akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama-sama.
Mika tersenyum dan kembali ke dalam, Selena dan yang lainnya melihat itu semua berlagak sok tidak peduli. Lihat saja, akan Selena buktikan kalau pertemanannya itu jauh lebih solid daripada mereka.
Mika paham dari lirikan Selena, tapi dia tidak begitu juga kok. Dia tidak pernah mau membuktikan apa-apa pada Selena, hanya saja mungkin Selena memandangnya seperti menantang Selena. Itu yang memang selalu Selena lihat dari seorang Mika.
__ADS_1
Selena mulai mengeluarkan barang-barang yang dia belikan untuk kedua temannya. Dari mulai baju, tas, make up branded, pokoknya ada beberapa. Banyak sekali pujian yang mereka lontarkan pada Selena membuat gadis itu melambung tinggi. Sudah Selena bilang, kalau dia lebih segalanya daripada Mika dan sekarang dia membuktikannya di depan mereka.
"Eh makasih loh, lo itu emang paling the best sih, kita seneng punya temen kaya lo," puji Meta.
"Bener, gue suka banget apalagi ini mahal banget, ahh makasih, Sel!" Timpal Brigitta.
"Iya santai, apa sih yang engga buat kalian," ucap Selena yang sengaja mengeraskan suaranya agar terdengar sampai ke dapur.
Namun, alih-alih peduli. Mika, Tessa dan Caca malah sibuk bekerja sama untuk membuat makanan. Menurut mereka tidak penting juga. Mereka bukan penganut shopping, semua uang mereka dipakai untuk jajan, jajan dan jajan. Urusan gaya itu bukan diukur dari harga outfit, tapi dari sikap. Itu sih yang mereka pikirkan.
Selena melirik ke arah dapur, melihat ketiganya yang tertawa lepas. Berbeda sekali dengannya yang kini fokus pada ponsel masing-masing. Kenapa dia merasa mereka sedang pamer kebersamaan, Selena tidak suka.
Tapi Selena tidak menyerah, dia mencoba kembali menarik perhatian teman-temannya dengan membicarakan fashion atau liburan ke luar negeri dan dari situ Mika sadar. Kalau Selena berada di dalam toxic relationship dengan orang-orang di sekitarnya. Sebenarnya Mika juga tidak akan keberatan kalau Selena bermain dengan mereka, tapi ya Selena terlalu tinggi harga dirinya.
"Eh ini kurang apa?" Tanya Mika sambil menyendokkan masakannya dan memberikan pada Caca. Kalau soal rasa tentu Caca jagonya.
Hari ini Mona tidak bekerja sampai malam, dia akhir-akhir ini cukup stress dengan pekerjaan. Jadilah dia pulang, Mona tidak seperti Jeff, kalau dia lelah ya beristirahat seperti ini.
Namun saat memasuki rumah dia melihat kesenjangan antara kubu Mika dan juga Selena. Iya, bisa Mona rasakan kalau mereka berdua memang sangat berbeda. Dan Mona lebih bisa merasakan ketulusan dari kubu Mika.
Selena dan teman-temannya malah asik dengan dunia masing-masing meskipun dalam meja yang sama. Sementara Mika malah asik bercanda ria di dapur. Mona tau apa yang dirasakan Selena, tapi dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Selena sendiri yang memilih kehidupannya.
"Ehh lagi ngapain ini kalian?" Tanya Mona menghampiri mereka.
Brigitta dan Meta tersenyum lalu balas menyapa sebentar. Sementara Mika dan yang lainnya langsung bersalaman dengan Mona sebagai tanda tatakrama.
"Lagi masak seblak, buat nemenin main UNO. Mama mau?" Tanya Mika.
__ADS_1
"Nanti deh mama nyusul ya, Mama mau ganti baju dulu. Kebetulan mama juga stress mau makan yang pedes-pedes," ucap Mona sembari terkekeh.
"Wah kebetulan, Tante. Nanti kita buatin yang pedes mantap, kalau urusan rasa Caca jagonya," ucap Tessa membanggakan Caca.
"Apasih alay!"
Selena tak suka melihat ibunya dekat dengan mereka, Mona dan yang lainnya juga mendengar tapi berusaha biasa saja menghadapi Selena. Mika bersama yang lainnya memilih untuk melanjutkan masak dan membiarkan Mona bicara dengan Selena.
"Kalian gabung gih sama Mika, biar rame juga kumpulnya kalau sama-sama," ucap Mona.
"Oh engga, Tan. Kita gak biasa ke dapur, bener kan, Sel?" Tanya Brigitta.
"Bener, lagian apaan coba kaya gitu. Mending kita ke kamar aja," ajak Selena yang kini meninggalkan Mona mematung di tempatnya.
Mika yang melihat itu sedikit kasihan sih pada Ibu mertuanya. Dia pasti cemas memikirkan anaknya, tapi Selena memang tidak bisa diajak bicara. Dia juga tidak bisa turun tangan kalau seperti ini. Sudah dipastikan kalau dia yang terkena semprot duluan.
Setelah kepergian Mona ke kamarnya Mika melanjutkan membuat es kopi untuk pelengkap. Tidak lupa juga dengan kentang goreng dan juga makanan ringan lainnya. Jangan tanya mereka akan menghabiskannya atau tidak, sudah pasti habis.
"Kasian Selena kalau dipikir, dia punya temen cuma karena dimanfaatin aja," ucap Tessa pelan agar tidak terdengar oleh siapapun kecuali mereka.
"Ya gimana lagi, gue juga mikir ke sana. Tadinya mau gue ajak gabung buat main bareng, tapi kalian tau sendiri responnya. Jadi ya udah aja. Gue juga gak mau bujuk-bujuk. Nanti juga dia lama-lama sadar."
"Wih beda ya yang udah jadi kakak ipar, ada aura perhatian nih sama si bebek rupanya," goda Caca.
"Bukan gitu, Ca. Ya gimana pun dia adeknya suami gue. Ya walaupun gue sama Selena sama-sama keras setidaknya gue udah mencoba buat ga emosi berlebihan."
Tessa dan Caca memeluk Mika. Inilah Mika, dia memang orangnya tidak pendendam. Mereka juga mendukung apa yang Mika katakan. Mika selalu bilang kalau mereka tidak boleh lemah, tapi bukan berarti mereka harus jadi pendendam dan merasa paling hebat. Itulah kenapa mereka memiliki friendship seperti ini. Karena saling memberikan hal positif.
__ADS_1