
Tessa memandang Mika yang masih terdiam, dia paham sih apa-apa yang menjadi kegalauan Mika saat ini. Caca sibuk kuliah jadi dia meminta maaf karena tidak bisa menemui Mika.
"Kalau gue jadi lo, gak akan lagi deh gue baik-baikin si bebek. Kurang ajar namanya. Kaya gak berusaha hargain effort lo, liat kan tangan lo yang jadi sasarannya karena kena pecahan gelas."
"Gue masih berusaha, Sa kalau soal Selena. Gue cape sebenernya berantem soal hal-hal kaya gini. Gue maunya hidup tenang aja udah. Nyatanya jadi orang kaya aja tetep tuh gue gak bisa jauh dari rasa sedih."
"Kenapa sih lo betah banget sama dia kalau lo ngerasa gak diperhatiin? Ngerasa diacuhin? Yang mau sama lo banyak, Mika! Abang gue juga mau sama lo sebenernya," ucap Tessa kesal.
"Kalau gue bisa milih jodoh juga gue maunya gitu, Sa. Udah takdir gue kali. Gue sebenernya bosen berantem soal ini sama Jeff, rasanya gak ada jalan keluar. Padahal menurut gue bisa mudah kalau emang dia ada effort buat gue, tapi nyatanya engga. Gue cuma sepersekian persen aja dalam hidupnya."
"Ya hal kecil aja deh, masa iya sampe lo aja gak berani chat dia karena aturan gak boleh chat sebelum dia yang ngehubungin. Hubungan lo udah salah, Mika. Udah gak bener sejak awal."
"Ya gimana, gue pernah nyoba juga gak dibales."
"Terus kenapa lo gak minta cerai?" Tanya Tessa semakin kesal.
"Lagi ngandung kaya gini yang gue pikirin anak gue, Sa. Gimana kalau dia gak punya orang tua yang utuh? Gue juga udah cinta sama Jeff. Sialnya gue emang kebawa perasaan," keluh Mika.
Tessa menghela napasnya, dia belum merasakan menjadi seorang Ibu, dia paham sih yang Mika hadapi tidak mudah. Menjadi seorang Ibu di usia muda dan memiliki suami yang tidak perhatian seperti Jeff. Pasti sangat berat, seharusnya bahkan Mika bisa bebas pergi kemana pun sesuai dengan remaja seusianya.
"Tapi kalau lo udah gak kuat berhenti ya? Lo punya limit, kalau udah gak bisa jangan ditahan. Lo punya gue, punya Caca. Lo gak akan sendirian, Mik. Percuma lo tinggal di sini tapi lo ngerasa terbebani banyak hal."
Mika tersenyum lalu memeluk Tessa. Sejujurnya dia butuh menangis seperti ini setelah hampir satu Minggu ini ditinggalkan oleh Jeff, belum lagi masalahnya dengan Selena. Itu sangat berat sekali.
Ada beberapa hal dan beberapa kali Mika ngidam tapi tidak bisa terlaksana. Seperti mengerti, kenapa bayinya selalu ingin meminta hal yang ingin dilakukan oleh tangan Jeff sendiri? Mika juga tidak mengerti. Jadi dia memang selalu berusaha menahannya sendiri.
.
.
.
__ADS_1
Setelah Tessa pulang, Mika mengambil dompetnya di atas. Tessa memang datang pagi karena ada kelas jam 10. Jadi pulang dari mansion Dirgantara, Tessa langsung pergi ke kampus. Hari ini entah kenapa rasanya dia ingin makan kupat tahu khas Padalarang. Itu memang makanan kesukaan Mika, tapi kali ini memang dia benar-benar ingin memakannya.
Dia sudah bilang pada Jeff sih, tapi tidak ada balasan. Yasudah biar dia beli sendiri saja karena dia ingin makan langsung di sana. Kemampuan diri untuk membawa mobil juga tidak payah. Jadi dia pergunakan aja mobil yang memang berjejer di bagasi itu untuk dia pakai.
Namun saat dia keluar dari pintu, dia bertemu Elang. "Mau kemana, Mik?"
"Emmm ituuu, apasihh .... "
"Apa? Kenapa? Mau ke dokter?" Tanya Elang lagi.
"Engga aku mau cari kupat tahu padalarang, kayanya aku pingin banget makan itu," ucap Mika.
"Kamu ngidam? Yaudah ayok aku anterin," ajak Elang.
"Eh gak usah, Kak. Kakak emang gak ada kelas lagi ata nongkrong? Gapapa aku bisa sendiri," tolak Mika tak enak.
"Gapapa, gak ada acara juga karena emang cuma 1 kelas. Gapapa kali, ini kan kemauan keponakan pertama juga. Jadi gak salah kalau Omnya yang turutin selama papanya gak ada," kata Elang santai.
"Gak ngerepotin?" Tanya Mika ragu.
Mika akhirnya ikut saja. Bukan tidak mendengarkan Jeff juga untuk menjauhi Elang tapi ya tidak ada salahnya juga, kan? Lagi pula yang bisa diandalkan juga Elang. Jeff mana mau sepertinya Mika pintai seperti ini.
Elang sudah hapal tempat yang Mika tuju. Karena ya bagaimana pun dia juga pernah stalker Mika sewaktu masih sekolah. Saat sampai di sana mereka berdua langsung duduk dan memesan 2 porsi berserta es teh manis.
Mika tida lupa memberitahu Jeff kalau dia pergi bersama Elang, ya bagaimana pun Mika harus mengabari Jeff meskipun Jeff acuh begitu. Setidaknya dia menjalankan kewajibannya sebagai istri dengan baik.
Pesanan datang, Mika yang senang langsung saja memakan makanan kesukaannya itu. Membuat Elang terkekeh, entah lapar, doyan atau memang Mika sangat ingin. Tapi Elang senang saja melihatnya. Dia juga jadi berselera makan.
"Ini makanan kesukaan aku tau, Kak," ucap Mika.
"Iyakah? Sama," ucap Elang berpura-pura tidak tahu dan memakan makanan miliknya.
"Heem, biasanya aku pulang sekolah suka kesini. Kakak gak biasa makan di pinggir jalan kaya gini ya? Atau kakak biasanya pesen online, maaf ya aku malah ajak Kakak makan di pinggir jalan kaya gini," kata Mika meyesal.
__ADS_1
"Engga kok, Mik. Udah biasa juga kaya gini, lagian kan sama-sama enak. Bosen juga makanan cafe gitu-gitu aja. Lebih enak ini." Elang terkekeh.
"Mas Jeff kalau diajak kesini mau gak ya?" Tanya Mika yang tiba-tiba saja galau sendiri.
"Mau, pasti mau. Apalagi buat anaknya, udah makan lagi nanti keburu gak enak," ucap Elang menenangkan Mika.
Mika tersenyum lalu memakan lagi makanannya. Bahkan Mika sampai nambah, sekarang dia berbadan dua dan pasti napsu makannya juga bertambah. Ya wajar saja, bahkan Mika bersyukur. Malahan katanya ada loh Ibu hamil yang tidak bisa makan sama sekali.
Setelah selesai mereka pun langsung kembali ke mansion, tidak ada percakapan diantara Mika dan Elang. Tapi sebenarnya mereka sama-sama berkutat pada pikiran masing-masing. Elang ingin bertanya soal pernikahan Mika dan Mika yang ingin menceritakan keluh kesahnya soal Jeff.
"Makasih ya, Kak. Udah menuhin ngidam aku yang aneh kaya gini," ucap Mika.
"Iya sama-sama. Lain kali minta tolong aja gapapa, daripada nahan, kan?"
Mika menunduk sembari memainkan jari-jarinya. "Kalau aku gak kuat sama Mas Jeff aku boleh pergi aja, kan?"
Elang reflek mengehentikan mobilnya dan melirik ke arah Mika. "Loh kenapa?"
"I don't know. Aku ngerasa cuma pajangan aja di rumah. Aku gak maksud ngadu atau gimana, kalian juga tau sendiri. Cuma aku lagi ngerasa kaya gitu aja."
"Menurut Kak Elang, aku masih terlalu kekanak-kanakan ya buat hadapin Mas Jeff? Iya aku kadang emang suka meledak-ledak kalau marah, tapi aku tetep berusaha buat ngerti. Cuma yaudah kayanya aku aja yang belum dewasa."
"Ada masalah sama Kak Jeff?" Tanya Elang lagi.
"Gak ada, cuma emang gak suka aja kaya gak bebas..Buat sekedar ngehubungin aja gak bisa. Aku kaya kucing yang ada di toko emas tau, Kak. Padahal sekedar nanya udah makan atau belum aja itu berhaga buat aku. Atau aku aja kali ya yang emang butuh validasi?" jawab Mika sambil terkekeh.
"Menurut aku, pisah juga bukan cara yang baik buat keluar dari masalah ini. Anak kalian gimana?"
"Ya walaupun aku nanya kaya tadi sebenernya aku juga gak bener-bener bisa lakuin sih, Kak. Karena mikirin anak aku, aku cuma kepikiran aja," jelas Mika.
"Mas Jeff terlalu abu-abu di aku. Aku bahkan gak tau apa yang ada di pikirannya dia, perasaannya dia dan apa yang mau dia ungkapkan juga aku gak tau. Aku gak memiliki jawaban dari pertanyaan aku sendiri. Kaya beneran menikah sama orang asing."
"Kenapa gak Kakak aja yang menikah sama aku?" Mika melirik ke arah Elang yang terkejut dengan pernyataan Mika.
__ADS_1
"Bercanda, ya kadang aku mikir kaya gitu. Tapi yaudah semua keadaan gak bisa dipaksa termasuk apa yang udah ditakdirkan untuk aku."
Elang juga bingung sebenarnya, bahkan dia sebagai adiknya saja tidak benar-benar mengerti apa yang seorang Jeffrico pikirkan. Jeff terlalu menutup akses untuk siapapun mengetahui isi hatinya.