10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Menjelang Persalinan


__ADS_3


"Kalau aku memilih buat berhenti, apa aku egois?" Tanya Mika pada Elang yang kini berada di sampingnya.


Atas apa yang terjadi selama pernikahan, atas apa saja luka yang pernah di dapatkan, meskipun Jeff sudah mengutarakan apa-apa saja alasannya, Mika belum bisa memaafkan semuanya. Luka-luka itu masih terasa jelas di hatinya, semuanya itu masih membekas dalam ingatannya.


"Atas semua rasa sakit kamu, apa yang udah kamu alami, menurut aku kamu gak egois. Tapi ... " Elang menjeda ucapannya dan membuat Mika menatap ke arah Elang dengan serius.


"Tapi ada baiknya semua dipikirkan ulang, Mik. Karena di sini bukan soal kamu sama Jeff, tapi soal anak kalian. Kalau Jeff gak ada usaha apapun kamu boleh berhenti, tapi selagi kamu bisa kasih dia kesempatan untuk menjadi seseorang yang lebih baik kenapa engga?"


Mika terkekeh, dia menghela napasnya berkali-kali sembari memainkan kuku jarinya. "Ternyata aku cuma manusia, Kak. Susah banget buat merelakan apa-apa aja yang udah terjadi di masa lalu."


"Gak ada yang meminta kamu melupakan, Mik. Pada dasarnya memori seseorang itu tajam. Orang gak akan bisa mudah lupa apalagi penyaring ingatan sedikit macet kalau dipinta melupakan hal-hal yang menyakitkan."


"Tapi, gak ada salahnya mencoba memberi kesempatan? Kamu juga boleh menguji seberapa serius Jeff kalau kamu mau."


"Aku gak bisa ngebiarin diri aku jatuh ke hubungan lama yang emag toxic, Kak. Untuk keluar dari sana aja aku butuh keberanian, setelah aku keluar apa iya aku harus masuk lagi ke sana?"


"Tergantung cara pandang kamu gimana, tapi yang aku liat walaupun Jeff gak ada akhlak begitu, kalau dia serius melakukannya, pasti akan dia lakukan. Semuanya kembali ke kamu." Elang tersenyum lalu mengusap puncak kepala Mika.


Kalau dibilang rela juga tidak sebenarnya, Elang tahu betul bagaimana Jeffrico kemarin-kemarin, tapi akan jauh lebih baik jika Mika mempertahankan hubungannya dengan Jeff, karena mau bagaimana pun, mau sejauh apapun, akan selalu ada anak yang akan menjadi pengikat kedua orang tuanya.


Mungkin dalam mengambil keputusan memang tidak ada yang mudah, jadi lebih baik Elang menepi sebentar dan membiarkan Mika menimbang-nimbang apa yang akan menjadi keputusannya. Satu yang dia tahu adalah, ini memang tidak akan mudah. Jika Jeff tidak sabar keputusannya sudah pasti berujung dengan perpisahan.


Mika menghela napasnya sembari mengusap perutnya dengan lembut. Dia berharap, apapun yang nanti dia putuskan adalah langkah terbaik yang dia ambil. Dia hanya menyerahkannya pada waktu, karena waktu yang akan membuat Mika pulih dari apa-apa saja yang dia rasakan selama ini.

__ADS_1


.


.


.


Pukul 10 malam, Mika mengalami kontraksi. Untung saja Selena dan yang lainnya belum pulang ke Bandung. Sehingga Elang tidak terlalu kelimpungan saat Mika di bawa ke rumah sakit. Baru kali ini, mereka menangani orang yang akan melahirkan. Padahal dokter memperkirakan kalau anak Mika akan lahir Minggu depan.


Mika masih diperiksa oleh dokter, sementara itu Elang sibuk menghubungi Ibu dan Kakaknya agar segera menyusul ke rumah sakit. Meskipun Elang sudah bersiap jika harus menemani Mika melahirkan rasanya jika Jeff sudah mengakui keberadaan sang anak, lebih baik dia serahkan kepada yang lebih berhak.


Dokter mengatakan kalau pembukaan sudah di mulai, kalau cepat bayinya akan lahir mungkin nanti pagi. Tak lama setelah Elang menghubunginya, Jeff datang dengan napas yang tersenggal-senggal. Bagaimana tidak? Dari kamar, lalu ke bassement dia berlari, setelah sampai di rumah sakit pun dia berlari ke lantai dua menggunakan tangga karena lift yang lama terbuka.


"Mika di mana?" Tanya Jeff.


"Di dalam sama temen-temennya, masuk kalau lo mau tebus kesalahan sama Mika," titah Elang dengan wajah datarnya.


Melihat Jeff datang, dengan inisiatif mereka semua keluar. Mereka paham, di saat-saat seperti ini Mika akan lebih membutuhkan afeksi suaminya, karena proses melahirkan itu tidak mudah.


Mika yang melihat Jeff langsung membuang mukanya, tidak ada waktu untuk marah atau mengajak pria itu berdebat, karena yang sekarang Mika rasakan adalah rasa sakit di sekujur tubuhnya.


Jeff mendekat ke arah Mika dan duduk di tepi ranjang untuk mengusapi punggung istrinya seperti apa yang di lakukan oleh Selena. Dia juga kemarin-kemarin sudah mencari tau apa-apa saja yang harus dipersiapkan seorang ayah saat anaknya akan dan sudah lahir. Tentu dia berkonsultasi dengan dokter kandungan, meskipun wajahnya hampir memerah karena itu adalah pertama kalinya dia mengikuti konsultasi. Benar-benar seniat itu memang Jeffrico untuk memperbaiki semuanya.


Mika menghela napasnya, tidak tau lagi harus bagaimana menyumpah serapahi suaminya sekarang. Yang kelas dia kesakitan, tapi harus tetap menjaga agar tidak mengejan, karena dokter bilang kalau sampai mengejan nanti akan terjadi pembengkakan di jalan rahim, sehingga akan sulit untuk sang anak keluar.


Sedari tadi Mika merenungkan Ibunya, apa proses menjadi Ibu sesakit ini ya? Mulas, mual, keram, sakit semuanya beradu menjadi satu. Apalagi saat melihat Jeffrico emosinya meningkat, keramnya juga jadi terasa lebih sering.

__ADS_1


"Kamu harus banyak jalan-jalan, biar pembukaannya cepet," peringat Jeffrico.


"Nyenyenye," balas Mika meledek.


"Jangan meledek suami, Mika. Nanti anaknya dominan mirip aku," ucap Jeff yang membuat Mika mengusap perutnya.


Dia berdoa kalau wajahnya saja tidak apa-apa mirip Jeff tapi jangan biarkan anaknya menjadi Jeffrico-Jeffrico yang lainnya. Dia mau anaknya tumbuh menjadi sosok yang hangat dan bisa menebarkan kebahagiaan kepada orang di sekitarnya.


"Wajahnya aja gapapa, sifatnya jangan!"


Jeff terkekeh dan mengangguk-nganggukkan kepalanya seraya mengecup kening Mika. Ada perasaan aneh sebenarnya, apalagi saat Jeff melakukan ini secara tiba-tiba. Memang Jeff pikir Mika sudah memaafkannya dan melupakan masalah mereka begitu saja?


Mika mencoba menjauhkan dirinya dari Jeffrico meskipun setengah meringis. "Kamu ngapain sih ke sini sebenarnya? Aku gak mau sama kamu!"


Jeffrico tetap teguh di sana tanpa beranjak sekali pun. "Kalau kamu masih marah gak apa-apa, tapi biarkan aku menjalani tanggung jawab aku sebagai suami dan ayah hari ini, setelahnya kamu mau marah atau maki-maki aku juga terserah."


Mika menahan napasnya, perasaannya campur aduk sekarang. Karena kesakitan dia meremas apapun yang bisa dia jangkau dan sekarang adalah tangan kekar Jeff yang menjadi incarannya. Tapi Jeff tidak marah, dia dengan sabar mengusap pelipis Mika dengan tissue karena berkeringat setiap merasakan kontraksi.


Mika menatap Jeff dengan sendu, di balik rasa sakitnya, Mika juga merasa sakit ketika harus melihat Jeff. Matanya sudah berkaca-kaca, apalagi saat pandangan mereka berdua bertemu. "Kenapa kamu selalu jadi orang yang gak bisa aku pahami sih, Mas? Sikap kamu yang kaya gini bikin aku bingung."


"Maaf ... "


Mungkin Mika bosan tapi hanya itu yang bisa Jeff katakan setiap Mika menjelaskan rasa sakit hatinya. Dia hanya bisa berusaha membuktikan sekarang kalau dia bisa bertanggung jawab, tapi sikapnya malah membuat Mika menangis.


"Aku benci kamu!"

__ADS_1


"Aku tau, benci aku sebanyak yang kamu mau, sepuas yang hati kamu ingin lakukan, tapi izinkan aku untuk menebus semuanya, Mik."


Setelah itu tidak ada percakapan lagi di antara mereka. Mika masih ingin mengumpat sebenarnya, tapi tak dipungkiri dia butuh Jeff saat ini. Jadi dia hanya mengikuti alur malam ini tanpa berkata apa-apa lagi.


__ADS_2