
Malam ini Mika tidur bersama kedua orang tuanya. Posisinya dia di tepi kasur sembari memeluk Widia ibunya. Widia rindu sekali kebersamaan mereka seperti ini, karena mereka sering melakukannya dulu.
"Kenapa kamu memilih menikah muda, Sayang?" Tanya Widia pada putrinya.
Mika berpikir, terlalu panjang soalnya kalau diceritakan. "Aku bayar hutang sama Mass Jeff."
"Hutang? Apa Mama dan Papa sempat meninggalkan hutang selama kami pergi atau bagaimana, Sayang?" Tanya Firman. Ya karena seingatnya perusahaannya memang maju pada saat itu.
"Aku yang berhutang sama dia waktu kecil."
Mika menceritakan tentang perjanjian konyol semasa kecilnya, dia sampai tertawa geli kalau mengingat awal pertemuannya dengan Jeff. Jeff yang pada saat itu masih sedingin es dan sulit dia jangkau.
Widia dan Firman tersenyum mendengarkan cerita panjang dari putrinya, memang Mika selalu menceritakan apa-apa saja yang dia lalui di setiap harinya, jadi mereka tidak heran kalau Mika menceritakan banyak hal sekarang. Karena memang dia seperti itu, tidak bisa diam terlalu lama.
"Tuhan itu punya banyak cara untuk menyatukan seseorang, mungkin memang sudah di setting sedemikian rupa kalau kamu dan Jeff berjodoh dengan cara itu."
Mika mengangguk, memang benar sih. Walaupun waktu itu dia menolak habis-habisan karena tidak mau menikah dengan om-om. Walaupun juga di awal pernikahan dia sangat merutuki pernikahan ini karena Jeff yang secuek itu. "Tapi aku pernah nyesel nikah sama dia."
"Kenapa?" Tanya Widia.
"Karena dulu Mass Jeff itu orangnya cuek, pernah ngelakuin kesalahan besar juga yang gak bisa aku maafin, Ma."
"Jeff sudah bicara dengan kami, Sayang. Awalnya juga papa marah, tapi melihat kamu baik-baik saja sekarang papa merasa bahagia karena Jeff merubah sikapnya."
"Mass Jeff cerita, Pa?"
__ADS_1
Mereka tersenyum ke arah Mika. Saat kepulangan mereka beberapa hari lalu, Jeff membawa mereka ke sebuah apartemen, di sana mereka bicara banyak hal. Jeff juga menceritakan soal kesalahannya dan meminta maaf secara langsung kepada orang tua Mika karena pernah menyakiti anaknya.
Firman sempat marah, karena bagaimana pun mana ada seorang ayah yang mau melihat putrinya terlukan. Tapi Jeff setelahnya berjanji pada Firman kalau akan selalu menjaga putrinya dengan baik, karena sekarang Jeff sangat mencintai Mika.
"Emang manusia aneh," guman Mika.
"Gitu-gitu suami kamu heh!" Peringat Widia.
"Iya, Mas cuma emang mas Jeff aneh. Dulu kayanya Mika gak kepikiran buat nikah karena banyaknya yang harus dipikirin. Terus tiba-tiba nikah sama om-om cuek, sekarang malah kayanya dia bucin banget."
"Bucin itu apa?" Tanya Firman.
"Itu loh, Pa. Budak cinta, jadi kaya keliatan cinta mati. Posesif juga. Apalagi semenjak Regan lahir kayanya Mas Jeff makin hangat."
"Itu artinya dia sudah menyadari kesalahannya dan bertanggung jawab. Jadi sekarang kita fokus kedepan, fokus dengan kebahagiaan hari ini dan buang masa lalu yang gak perlu kita ingat."
.
.
.
Di satu sisi Mika bahagia dan tengah menikmati moment bersama kedua orang tuanya, tapi di satu sisi Jeff lah di sini yang menjadi korbannya. Banyak tingkah sekali Regan malam ini.
Sudah mengompol dan lupa tidak memakai popok, setelah memakai popok Regan pup, dan setelah itu sekarang Regan rewel. Jeff menghela napasnya beberapa kali, mencoba menggendong sang anak dan berjalan kesana kemari untuk menenangkannya.
"Kenapa anak papa tiba-tiba rewel?" Tanya Jeff sembari menatap Regan yang kini menatapnya dengan wajah sendu dan bibirnya yang maju-maju.
__ADS_1
Regan kembali menangis karena seolah papanya sedang memarahinya, membuat Jeff harus sabar-sabar menghadapi bayi kecil ini. Ya Tuhan ada-ada saja memang, sudah tidur tanpa istri, sekarang dia harus mengurus Regan sendirian. Tapi kalau menolak keinginan Mika juga tidak tega.
"Regan anak papa, jangan menangis. Mau papa belikan apa? Ferrari, mobil sport, motor sport, atau pesiar? Atau kita beli pesawat yang kita tumpangi waktu itu, Regan mau?"
Regan malas semakin menangis mendengar perkataan papanya, mungkin yang dia inginkan sederhana, tapi sang papa sudah menawarinya banyak hal yang belum dia mengerti.
"Regan mau apa? Mau mama? Atau cari mama baru aja kita ya?" Tanya Jeff lagi. Dia tidak pantan menyerah agar membuat anaknya bisa berhenti menangis.
Regan malah terdiam seolah memahami, membuat Jeff menepuk keningnya. "Kalau Mama baru jangan, Sayang. Mama bisa marah ke papa, yang lain aja. Nanti kita sama-sama tidak dapat jatah, kamu mau, Sayang? Mau apa kamu jagoan? Yang bisa papa turuti saja ya ... "
Melihat Regan yang menangis lagi Jeff pasrah, dia membaringkan dirinya di kasur dan mendudukkan Regan di atasnya. "Yasudah, penawaran terakhir dari papa. Mau Vespa? Vespa paling bagus dan mahal untuk anak papa."
Regan tertawa melihat ekspresi papanya yang seperti itu. Membuat Jeff tersenyum karena anaknya diam. Fix anaknya ingin dibelikan Vespa. "Baik, nanti papa belikan Vespa, tapi sekarang tidur oke?"
Setelah Regan bisa diam, dia kembali mencoba untuk memberi Regan susu dan ternyata kali ini mau. Bersyukur sekali karena Regan mau meminum susunya, karena setelah ini dia juga bisa istirahat.
Namun sayang, sepertinya dia tidak akan bisa tidur tenang malam ini. Karena bukannya tertidur Regan malah kembali ceria dan mengajak Jeff bermain. Jeff lagi-lagi menghela napasnya, kenapa anaknya ini menjadi penguji imannya malam ini?
Ternyata sesulit ini kalau tidak ada Mika di sampingnya. Dia membayangkan kalau kemarin jadi menduda bagaimana dia menghadapi Regan ya? Untung saja itu tidak terjadi. Untung saja Mika kembali bersamanya. Ahh mimpi buruk kalau Mika benar-benar pergi.
Akhirnya dengan terpaksa Jeff bermain dengan Regan, berlarian ke sana kesini juga agar membuat anaknya tertawa, memang apa yang tidak dia lakukan sih untuk menyenangkan putranya? Meskipun sepertinya Regan tertular ibunya yang selalu ingin mengerjai Jeff.
Kembali kepada Mika, setelah orang tuanya tertidur, Mika malah senyum-senyum. Pasti di atas Regan dan Papanya senang, lalu mereka tidur bersama dan menjadi kompak saat tidak ada dirinya. Karena kan memang Regan dekat sekali dengan papanya.
Akhirnya dia bisa tidur tenang malam ini, setelah membayangkan apa-apa saja yang menjadi kegiatan Regan dan Jeff, Mika tertidur pulas sembari memeluk kedua orang tuanya, meninggalkan Jeff yang sampai saat ini masih kebingungan untuk menidurkan putranya.
Kontras sekali perbandingan malam ini antara Mika dan juga Jeff yang tengah kacau karena frustrasi.
__ADS_1