10 Tahun Lagi Kita Menikah!

10 Tahun Lagi Kita Menikah!
Pertemuan Jeff Dengan Elang


__ADS_3


Elang menatap tajam ke arah pria yang ditemuinya hari ini. Setelah membuat Mika menangis kemarin, pria ini nampaknya masih belum menyerah untuk membawa Mika kembali pulang ke rumah.


Elang menghela napas. "Tujuan lo datang ke sini apa sebenernya?"


"Jemput Mika, apalagi?" Tanya Jeff berbalik.


Elang lagi-lagi menghela napas, bukan itu maksud Elang. Tapi memang sepertinya jika bicara dengan Kakaknya itu harus secara terperinci. "Maksudnya lo mau bawa dia pulang sebagai istri atau sebagai istri di atas kertas?"


"Saya gak pernah anggap Mika seperti itu, Elang." Tegas Jeff, tidak tau lagi bagaimana cara menjelaskannya pada Elang. Seburuk itukah Jeff di mata Elang? Tapi kalau ditanyakan sudah pasti jawabannya iya!


"Tapi sikap lo itu berbanding terbalik sama apa yang lo ucapin. Lo boleh bilang kalau gue gak sopan dengan bicara kaya gini sama lo, tapi sebagai cowok, sebagai lelaki dewasa lo gak mencerminkan itu sama sekali. Lo itu egois!" Balas Elang tak kalah tegas.


"Saya tau kemarin saya salah, tapi sekarang saya akan berusaha memperbaiki itu semua kalau Mika memberikan kesempatan untuk menjelaskan," jawan Jeff. Entah siapa yang Kakak di sini, tapi rasa-rasanya Jeff merasa diinterogasi oleh adiknya sendiri.


"Memperbaiki dengan cara apa? Memberikan semua yang dia mau tanpa mau meluangkan waktu kerja lo yang menggunung itu?" Elang tersenyum sinis.


"Kamu tidak tahu alasan di balik itu semua-"


"Paranoid Disorder, benar?"


Jeff terkejut sebenarnya, tapi dia memang pandai menyembunyikan perasaannya hingga seperti sekarang pun dia tetap terlihat tenang. Elang memang mengetahui semua hal yang terjadi di rumah, kalau Jeff pintar menyembunyikan ya Elang pintar dalam membaca situasi.


"Itu bukan suatu alasan buat lo menghukum semua orang-orang di sekitar lo. Mama, gue, Selena dan sekarang Mika? Andai aja dia mencintai gue kaya dulu, udah pasti gue rebut dia dari lo."

__ADS_1


"Lo udah dewasa, lo gak perlu pandangan dan omongan dari gue saat ini. Lo kalau udah dewasa ya bertindak sebagai orang dewasa juga. Lo bukan seorang CEO yang harus mempertahankan perusahaan di posisi yang stabil, tapi lo seorang anak, seorang kakak, seorang suami dan sekarang lo akan menjadi seorang ayah!"


"Lo gak mendapatkan perhatian dari papa, lo selalu dipaksa dan ditekan dari papa, lo selalu diabaikan dan diacuhkan sama papa dan hasilnya kaya gini. Lo mau menerapkan itu ke anak lo di masa depan dam menghasilkan Jeffrico yang lainnya? Come on, Jeffrico. Gue adek lo ini gak mau lo terjebak di situasi yang terus lo sesali."


Jeff masih tetap diam mencerna perkataan Elang. Semua yang Elang katakan memang benar. Dia sudah benar jika mengatakan Jeff terkurung dalam dunia gelap yang dia ciptakan sendiri. Dia terlalu egois menjadi pria yang tidak bertanggung jawab dengan membiarkan Mika berjuang sendirian selama ini.


"Gue kasih lo satu kesempatan buat bicara sama Mika baik-baik besok. Tapi kalau niat lo dan kelakuan lo gak berubah jangan pernah datang ke sana lagi karena udah pasti gue akan jad garda terdepan sebagai Kakaknya Mika!".


Elang berdiri dan meninggalkan Jeff yang mematung di tempatnya. Sementara Jeff sibuk dengan pikirannya yang sudah berantakan. Dia juga meninggalkan pekerjaannya, tapi bukan itu yang dia resahkan sekarang.


.


.


.


Ini cukup menghibur sih, mereka bermain UNO sambil menceritakan pengalaman mereka di kampus. Ya meskipun Mika tidak kuliah tapi dia bisa memahami dan ikut senang jika mereka menjalankan kuliah dengan baik. Mika bukan orang yang mudah iri, dia justru malah termotivasi, siapa tau nanti dia juga akan bisa kuliah, setelah itu menata kehidupannya kembali dan menjalani kehidupan bersama anaknya.


"Lo tau, Mik? Kemarin kak Edgar nanyain lo," ucap Caca.


Mika tertegun sih, ya memang walaupun putus sebelumnya mereka masih intens komunikasi, tapi karena ponsel Mika diganti jadilah dia lost contact dengan Edgar. "Oh iya gue belum sempet hubungin dia."


"Lo sama Kak Edgar masih deket, Mik?" Tanya Selena.


"Ya temen biasa aja sih, Sel. Mantan kan buka berarti harus musuhan," jawab Mika sambil terkekeh dan mengusap perutnya.

__ADS_1


"Ekhm, lo masih suka sama Kak Edgar, kan?" Tebak Tessa.


"Hah A-apaan sih, engga. Orang gue cuma nanya doang," jawab Selena dengan pipi yang tersipu. Sejujurnya Selena memang sangat menyukai Edgar, bahkan pada saat hari kelulusan pun dia masih mengagumi Edgar yang menghampiri Mika. Dia iri waktu itu karena Mika bisa tetap bersama Edgar meskipun mereka telah berpisah. Memang kekanak-kanakam sekali kalau dipikir.


Mika terkekeh melihat tingkah Selena yang nampak malu-malu. Dia tau sih kalau Selena dulu sangat menyukai Edgar. Tapi pada waktu itu juga Mika mencintai pria itu, jadi tidak ada kata mundur dari seorang Mika.


"Gapapa kali, Sel. Lagian kalau lo masih suka sama Kak Edgar gue bisa bantu kok. Dia juga masih jomblo, gak ada salahnya sama lo," ucap Mika.


"Tapi gue udah gak perawan," ucap Selena insecure.


"Itu bukan tolak ukur, Sel. Kalau lo mau menjadi yang lebih baik lagi, semua orang bakalan nerima masa lalu lo dengan baik juga. Selagi lo memperbaiki diri dan gak mengulangi kesalahan lama lo, gue rasa aman buat lo memulai sesuatu yang baru untuk lelaki lain," kata Tessa menyemangati.


Selena tersenyum, jadi begini ya rasanya memiliki teman? Sepanjang hidupnya dia baru merasakannya sekarang. Kemarin-kemarin dia tidak pernah menemukan pertemanan yang seperti ini. Semua orang selalu mendekatinya karena kekayaan dan memanfaatkan saja. Selena jadi merasa senang memiliki Mika, Tessa dan Caca dalam hidupnya sekarang.


Di sisi lain, Jeff memasuki apartemennya. Dia memang sengaja membeli apartemen di Jakarta hanya untuk membujuk Mika pulang. Dia juga sudah mempercayakan pekerjaannya pada Gerda asisten pribadinya. Kali ini dia benar-benar sendirian menghadapi masalahnya.


Untuk beberapa saat Jeff duduk di tepi ranjang sembari mengurut dahinya yang terasa pusing. Baru kali ini ada seorang wanita yang berhasil membuatnya kelimpungan setiap hari.


Kalau Selena mengatakan Jeff hampir gila, itu benar adanya. Jeff sering mengurung diri di ruang kerjanya, bahkan bisa seharian tidak pergi bekerja karena terus berusaha mencari keberadaan Mika. Iya Jeff sampai se frustrasi itu memang karena Mika benar-benar tidak bisa dilacak. Elang memang begitu pintar, setiap kali Jeff berusaha membuntutinya pasti dia kehilangan jejak.


Sekarang dia sudah ada di sini, dia memang dia saat diceramahi oleh adiknya sendiri tapi bukan berarti tidak mendengarkan. Semuanya dicerna kok oleh Jeff hanya dia terlalu naif. Tapi Elang benar, dia sudah dewasa. Dia sudah memiliki banyak tanggung jawab dan semuanya harus dipertanggung jawabkan.


"Maafin aku, Mik. Tapi aku janji mulai saat ini akan memperjuangkan kamu untuk kembali ke dalam hidup aku dan membuat kami bahagia." Jeff membaringkan tubuhnya di kasur. Kali ini dia benar-benar bertekad dan kalau dia sudah bertekad pasti akan dia lakukan dengan sebaik mungkin, semoga saja Mika bisa luluh dan kembali padanya.


Jeff menghela napas panjang, jujur saja tubuhnya lelah. Tenyata kekuatan pikiran itu jauh lebih membuat energinya terkuras habis. Sampai-sampai dia ketiduran tanpa sempat membersihkan diri.

__ADS_1


Hai-hai sebelum lanjut aku mau tanya, kalian Tim Mika sama Jeff atau Tim Mika sama Elang? Hayoloh! See u in the next chapter~


__ADS_2