
Pras melengkungkan bibirnya saat membaca sebuah berkas.
"Dunia ini sempit sekali," gumam Pras saat tau kalau Ilham adalah asisten dari Edward yang tak lain adalah kakaknya.
Dengan segera Pras menyambar kunci mobilnya, dia hendak ke kantor kakaknya untuk bertemu dengan Ilham.
Saat turun dari mobilnya dia tersenyum
"Lama aku tidak datang ke kantor kak Edward," batin Pras sambil melepas kacamata hitamnya.
Dengan langkah panjang, Pras masuk ke dalam.
Dia ke resepsionis bertanya Edward ada di kantor atau tidak.
"Pak Edward ada di ruangannya pak" kata Suster
Pras melangkahkan kaki menuju ruangan Edward, dalam ruangan Edward ada Ilham juga yang sedang mempelajari berkas yang di berikan Edward.
"Selamat siang pak Edward," sapa Pras saat masuk dalam ruangan Edward
Netra Edward menatap Pras dengan lekat yang mengisyaratkan keheranan akan kedatangan Pras yang tak lain adalah adiknya sendiri.
"Tumben kamu kesini, ada apa?" tanya Edward
Mata Ilham menatap Pras dengan lekat pula, memorinya langsung mengenali wajah yang kini ada di hadapannya.
"Kamu ini masih saja garang, aku ini adikmu apa tidak boleh seorang adik mengunjungi kakaknya ," jawab Pras beralasan.
"Aku sangat tau karaktermu Pras, kamu tidak akan menemui aku kalau kamu tidak butuh sesuatu," ungkap Edward
Pras hanya tertawa karena kakaknya hafal sekali dengan karakternya.
Pras yang berdiri langsung saja duduk di samping Ilham, matanya sedikit melirik Ilham
"Jadi ini calon suami Arini, dilihat dari manapun tetap ganteng aku. Apa Arini tidak salah pilih," Pras bermonolog dengan dirinya sendiri.
Begitu pula dengan Ilham, dia menatap Pras dengan tatapan yang tidak biasa, "ternyata mantan Arini adalah adik dari pak Edward," batin Ilham dengan pandangan yang tidak lepas dari Pras
Edward yang melihat kedua orang di depannya saling diam pun merasa heran.
"Dilihat dari tatapan kalian berdua sangat terlihat kalau kalian saling benci," ucap Edward
Ilham dan Pras menatap Edward barengan seraya berkata
"Tidak,"
"Wao seperti paduan suara," sahut Ilham
Edward yang tiba-tiba dapat panggilan dari dokter harus pergi ke rumah sakit,
"Ilham saya mau ke rumah sakit sekarang, tolong selesaikan secepatnya karena nanti sore kita harus mengirim proposal tersebut ke perusahaan xxx," kata Edward
"Kamu ikut apa tidak Pras?" tanya Edward
"Tidak kak, aku di sini saja karena aku juga ada janji dengan klien," jawab Pras menolak ajakan Edward
__ADS_1
"Baiklah, Ilham aku nitip adikku jika dia macam-macam usir saja," kata Edward dengan terkekeh lalu keluar.
Ilham yang masih sibuk dengan pekerjaannya tidak begitu menggubris Pras.
Dia memfokuskan netra nya ke layar pipih berbentuk persegi di depannya, hingga kata-kata Pras mengganggu kefokusannya.
"Apa kamu adalah calon suami Arini?" tanya Pras
Seketika Ilham menoleh dan tersenyum
"Apakah kamu mantan Arini?" Ilham melempar balik pertanyaan Pras
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Pras
"Aku pernah melihatmu bersama Arini," jawab Ilham
Pras tersenyum
"Kami memang selalu bersama bahkan tadi pagi aku juga mengantarnya berangkat bekerja mungkin nanti sore aku juga akan menjemputnya." Pras memanas manasi Ilham.
Ilham pun terpancing dengan kata-kata Pras,
"Pak Pras yang terhormat Arini adalah calon istri saya jadi saya mohon jangan mengganggunya karena kami akan segera menikah, anda hanyalah masa lalu Arini," kata Ilham memperingatkan Pras
Mendengar peringatan Ilham Pras tertawa dengan keras
"Hey kami masih bersama, lagipula janur kuning belum melengkung jadi sah-sah saja jika aku jalan dengan Arini, lagipula Arini sangat bahagia jalan sama aku." Pras mempermainkan emosi Ilham dengan bualannya
"Apa tidak ada wanita lain sehingga anda menganggu calon istri saya," nada bicara Ilham semakin tinggi
Tangan Ilham sudah mengepal, rahangnya juga mengeras. Kata-kata Pras sungguh memancing emosinya.
"Sekali lagi saya peringatkan, jauhi Arini!" seru Ilham
"Aku pikir-pikir dulu karena sebenarnya kami berdua masih saling mencintai," ujar Pram dengan tertawa
Buggghh
Sebuah bogeman mendarat sempurna di pipi Pras, Karena tidak terima Pras membalas Ilham hingga meraka saling membalas satu sama lain.
Edward yang kembali lagi harus melihat pemandangan indah di depannya
"Prasetya, Ilham apa-apaan kalian!" teriak Edward saat membuka pintu ruangannya
Edward dan Pras pun menghentikan perkelahian mereka
"Kenapa kalian berkelahi?" tanya Edwar dengan nada tinggi
"Dia yang mulai kak," jawan Pras
"Dia yang mulai pak Edward," sahut Edward
"Memangnya apa yang memicu kalian untuk bertengkar?" tanya Edward
"Arini," jawab mereka berdua bersamaan
__ADS_1
Edward mengerutkan alisnya dan bertanya lagi
"Arini siapa? tanya Edward dengan kesal
"Kekasihku, calon istri saya," sahut Pras dan Ilham barengan.
Edward memijat pelipisnya, dia sungguh pusing bagaimana tidak adik dan asistennya berkelahi merebutkan seorang wanita.
"Apapun masalah kalian itu bukan urusanku, untuk itu mohon kalian selesaikan dengan dewasa dan bijak dan satu lagi jangan berkelahi di ruangan ku," gerutu Edward kesal
"Jadi boleh kami lanjutkan perkelahian kami di parkiran?" tanya Pras
Edward menatap kesal adiknya, ingin rasanya dia menjitak kepala adiknya dengan keras, bisa-bisanya dia ingin melanjutkan perkelahiannya.
"Pergilah Pras, kembalilah ke kantormu jangan mengacau di kantorku," usir Edward
"Ok ok aku akan pergi, namun lihatlah Ilham urusan kita belum selesai," kata Pras lalu keluar ruangan
Saat di ambang pintu Pras berbalik
"Kak Edward mama papa hendak mengunjungi anakmu, jadi siapkan kak Renata," kata Pras lalu keluar.
Mendengar kata-kata Pras, Edward nampak gusar,
"Ilham cuci dan obati lukamu, setelah itu selesaikan pekerjaanmu aku keluar dulu," perintah Edward lalu dia keluar ruangannya.
Ilham ke toilet untuk membersihkan wajah dan mengobati lukanya.
"Brengsek kamu Pras, tak akan ku biarkan Arini dekat-dekat denganmu," gerutu Ilham
Seusai mengobati lukanya Ilham fokus ke pekerjaannya kembali.
Tiga jam sudah berlalu dengan cepat dia menyelesaikan pekerjaannya, karena sudah tidak ada yang dikerjakan Ilham menghubungi Edward ijin untuk pulang cepat.
Ilham melajukan mobilnya ke tempat kerja Arini, dia ingin menjemput Arini. .
Saat tiba di tempat kerja Arini, dia melihat Arini mengobrol dengan Pras di depan tempat kerjanya.
Di dalam mobil tangan Ilham sudah mengepal rahangnya sudah mengeras.
Ilham keluar dari mobil lalu memanggil Arini
"Arini" teriak Ilham dengan sangat marah
Dengan segera Ilham menarik tangan Arini,
"Jangan dekati calon istriku!" seru Ilham
"Hey brow, jangan kasar dengan wanita," kata Pras
"Ini urusanku bukan urusanmu," sahut Ilham
Karena muak dengan Pras Ilham menarik Arini lalu membawanya masuk dalam mobil.
Pras yang melihat Ilham marah pun menyunggingkan senyuman.
__ADS_1