Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Dibawa pulang


__ADS_3

Rara dan Leo bersiap untuk kembali ke Surabaya, Rara sengaja tidak mengaktifkan ponselnya.


Dia sungguh sakit hati dengan Ilham, sikap Ilham malam itu sungguh di luar batas.


"Apa yang membuatmu ingin bekerja Ra?" tanya Leo masih penasaran.


"Ingin saja pak, daripada di rumah tidak ngapa-ngapain kan mending kerja dapat uang" jawab Rara dengan tersenyum.


"Kalau adapun loker di perusahaan kamu tidak boleh bekerja di sana pasalnya Ilham sudah bekerja di sana, aturan perusahaan tidak mengijinkan pasutri kerja di tempat yang sama." Leo mencoba menjelaskan.


"Iya pak, aku paham kok kan siapa tau aja pak Leo punya loker di tempat lain" sahut Rara dengan tersenyum.


Tiga jam perjalanan akhirnya mereka sampai juga di Surabaya. Leo mengantar Rara sampai depan rumah.


"Terima kasih pak, atas tumpangannya." kata Rara dengan tersenyum


"Sama-sama Ra" sahut Leo.


Dengan langkah berat Rara masuk ke dalam rumah. Tak ada tanda-tanda kehidupan itu tandanya memang Ilham nggak pulang.


"Tega mas, kamu tega banget sama aku" gumam Rara dengan terisak.


Air mata pun lolos tanpa aba-aba dari pemiliknya, hati yang sakit membuat perintah pada Mata untuk meloloskan air matanya.


"Fine, kamu yang memulai mas jadi jangan salahkan aku sekarang" gumam Rara dengan mengusap air mata yang membasahi pipinya


Rara melangkahkan kaki menuju kamar tidur, sebelum tidur dia membersihkan diri dulu setelah itu menyibukkan diri dengan skincare miliknya


Kini saatnya bagi Rara menuju tempat terempuk untuk merebahkan diri dan menikmati malam malamnya.


"Mimpi indah Ra" Rara bermonolog dengan dirinya sendiri


Mata serta pikiran yang lelah membuat dirinya mempercepat proses lelap sehingga baru sebentar saja dia sudah masuk alam mimpi.


Pagi sudah datang menyapa dengan sinarnya, sinar matahari yang masuk lewat celah-celah jendela membuat Rara terbangun.


"Aku kesiangan" gumamnya lalu cepat-cepat menuju kamar mandi.


Saat hendak turun kakinya tersandung selimut hingga Rara tersungkur


"Aaaahh selimut brengsek kenapa sih harus menjegal ku," dia pun merutuki selimut yang tidak salah apa-apa.


Tentu benda mati tersebut hanya diam mendapat omelan dari pemiliknya.


Setelah siap Rara keluar kamar dan berkutat di dapur.


Dia pun memutar lagu kesukaannya, dia bernyanyi dengan sedikit keras, melupakan semua sakit hatinya.


Saat asik mencuci sayur, sebuah tangan menyusup di perutnya tentu hal ini mengagetkan Rara.

__ADS_1


Rara pun membalikan badannya, ternyata Ilham yang baru datang.


"Ra, maafkan aku" lirihnya dengan menatap Rara.


"Kamu minta maaf untuk apa?" tanya Rara yang seolah-oalah tidak terjadi apa-apa.


"Kamu nggak marah Ra?" tanya Ilham balik


"Nggak, toh lama-lama hatiku akan kebal akan vaksin sakit yang kamu torehkan mas" jawab Rara lalu kembali ke aktivitasnya.


Ilham hanya terdiam melihat sikap Rara, namun dia juga tidak bisa berbuat apa-apa, saat bersama Vera dia seakan melupakan Rara.


Setelah masakannya matang, Rara menyajikannya di meja makan. Ilham pun sarapan setelah itu dia berangkat ke kantor.


Air mata Rara lolos kembali, dirinya sungguh sakit atas perlakuan Ilham.


"Kenapa kamu selalu menyakiti aku mas, dimana hatimu?" gumam Rara dengan terisak.


*******


Saat di kantor Ilham dikejutkan dengan kedatangan Vera, dengan raut wajah yang panik Ilham menarik Vera.


"Kamu kok ada disini Vera?" tanya Ilham


"Aku kesini dengan managerku mas, nanti balik ke Malang kamu yang antar ya?" jawab serta pinta Vera.


Setelah jam kantor selesai Ilham membawa Vera untuk pulang ke rumahnya.


"Ra" panggilnya


"Iya" sahut Rara


"Ada tamu Ra, ayok temuin" ajak Ilham dengan tersenyum.


Rara yang penasaran pun ikut menemui tamu yang di maksud Ilham, dia pun kaget ada wanita cantik yang duduk di ruang tamunya.


"Ini siapa mas?" tanya Rara


"Dia Vera Ra, saudara kamu" jawab Ilham


Duaarrrrr


Kilatan petir seakan menyambar tubuh Rara, dengan mata yang berkaca-kaca Rara menatap Vera dan Ilham bergantian.


Dengan tersenyum ketir Rara berucap


"Oh, jadi ini mas surga yang kamu hadiahkan padaku, jadi ini madu yang hendak kamu minum kan padaku." katanya sangat lirih


Rara mundur selangkah, tubuhnya bergetar air mata yang coba dia tahan pun akhirnya menerobos pertahanan matanya, walaupun berkali-kali dia mencoba menghapusnya namun tetap saja keluar.

__ADS_1


Melihatnya seperti itu membuat Vera iba, dia pun mendekati Rara lalu memeluknya.


"Terima kasih telah mau menerima aku menjadi madu mu" katanya lirih


Rara pun melepas pelukan Vera


"Bagus, demi untuk menghidupkan kisah cintamu kamu membakar kisah cintaku" lirih Rara.


"Kita bisa sama-sama membuat kisah cinta kita yang baru Ra" sahutnya.


Rara pun tertawa mendengar perkataannya lalu menimpali


" Apa??? kisah cinta kita yang baru? bersamamu? bukan kita lebih tepatnya kalian berdua, aku hanya objek yang bisa kalian sakiti disini!" seru Rara


Ilham pun memeluk Rara namun Rara mencoba untuk melepas pelukannya.


"Sudahlah mas, lebih baik kamu talak aku biar kita bisa menulis kisah cinta kita masing-masing, kamu juga akan bahagia dengan Vera tanpa ada aku di dalamnya" kata Rara dengan terisak.


"Mana mungkin aku menalak mu Ra sedangkan kamu sangat tahu kalau aku aku begitu mencintaimu" ujar Ilham dengan sendu.


Rara pun tertawa mendengar perkataan Ilham


"Apa? katakan sekali lagi mas, kamu mencintaiku? nggak salah dengar kan aku? kalau kamu mencintaiku kamu nggak akan memasukan wanita ini dalam bahtera rumah tangga kita mas, kamu pasti akan setia kepadaku" timpal Rara dengan menatap Ilham tajam.


"Rara cobalah mengerti!" seru Ilham.


"Kamu mas yang cobalah mengerti!!" bentak Rara


Karena tak ingin semakin memanas Vera pun menengahi


"Aku tau Ra dan paham posisi kamu, namun semua sudah terjadi. Aku dan mas Ilham saling mencintai dan kami sudah menikah, mau nggak mau suka nggak suka kamu harus bisa menerimanya. Aku bisa menerimamu dan aku harap kamu juga bisa menerimaku." kata Vera


"Mudahnya kamu berucap seperti itu Vera, kamu sungguh munafik sekali, sok bijak namun hatimu seperti iblis." ucap Rara lantang.


Plak


Sebuah tamparan mendarat sempurna di pipi Rara


"Cukup Ra, kamu memang keterlaluan." bentak Ilham


"Bagus mas, hanya demi dia kamu menampar aku!!" seru Rara lalu pergi ke kamar.


Rara menumpahkan semua sakit hatinya dengan menangis, hingga akhirnya dia pun tertidur.


Ilham membawa Vera kembali ke Malang, karena besok pagi dia harus bekerja begitu pula dengan Ilham.


Semenjak kejadian malam itu hubungannya dengan Ilham semakin renggang. Ilham lebih sering menghabiskan waktunya dengan Vera, dia jarang sekali pulang dan membiarkan Rara sendirian tiap malam.


Waktu berjalan dengan cepat tak terasa dua bulan sudah berlalu, selama dua bulan juga Rara tidak pernah mendapat sentuhan dari Ilham jangankan sentuhan sebuah kecupan pun hampir tidak pernah.

__ADS_1


__ADS_2