Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Harus operasi


__ADS_3

Rara sungguh tak memberikan ruang untuk Angel, dia selalu mengawasi Leo dua puluh empat jam sehingga Angel tidak datang lagi ke kantor Leo, jika ada perlu dengan Leo dia mengirim utusannya saja.


"Puas aku membuat Angel menyerah," gumam Rara


Meskipun hanya mengobrol biasa namun cinta bisa tumbuh, apalagi Angel ada rasa dengan Leo.


Waktu semakin berlalu, kini usia kandungan Rara semakin membesar begitu pula dengan Vera yang hanya selisih dua bulan dengan Vera


Semenjak Vera diketahui punya hipertensi Edward maupun Renata sangat perhatian pada Vera sehingga Vera tidak bisa menahan hasrat cintanya pada Edward.


Hingga suatu ketika, Vera yang mengantarkan jus untuk Renata harus mendengar obrolan Renata dan Edward.


"Usia kandungan Vera sudah masuk tujuh bulan, kurang dua bulan lagi dia melahirkan," kata Renata membuka obrolan dengan Edward


"Iya sayang, memangnya kenapa?" tanya Edward


"Kamu akan segera menalak Vera kan mas?" tanya Renata cemas


"Iya, aku takut kalau dia masih bersama anaknya dia akan sulit lepas, begitu pula dengan bayinya" jawab Edward


Vera yang tidak sengaja mendengar kata-kata Edward merasa sangat sakit hati sekali, dia bahkan tega tidak membiarkan dirinya bersama anaknya.


Seketika minuman yang tadinya untuk Renata terjatuh dari tangannya, Vera dan Edward menoleh dia melihat Vera yang berdiri di ambang pintu.


Dengan segera Renata dan Edward menghampiri Vera, mata Vera sudah berkaca bahkan air matanya terus saja menetes.


"Maaf Renata tadinya aku ingin membuatkan jus buatmu, karena aku melihat kamu seharian bersih-bersih kamar untuk si bayi kita," kata Vera sambil mengusap air matanya yang terus meleleh


Renata tampak iba pada Vera, begitu pula Edward.


Setelah membersihkan pecahan gelasnya Vera berlari ke kamarnya.


"Aku akan pergi, aku tidak mau menyerahkan anak ini pada kalian," gumam Vera yang didengar Renata dan Edward.


Renata mendekat ke arah Vera dia memohon pada Vera untuk tidak berubah pikiran


"Aku mohon Vera, berikan anak itu padaku." Renata memohon pada Vera.


"Kalian berdua sungguh kejam terhadapku terlebih dirimu mas," kata Vera


Renata dan Edward hanya diam, mereka tidak menyahut kata-kata Vera.


"Bagaimana bisa kalian langsung menyingkirkan aku setelah aku melahirkan, setidaknya berilah aku waktu untuk bersama dengan anakku," imbuh Vera dengan air mata yang terus mengalir


"Mengertilah Vera, kami tidak ingin baik kamu atau bayi itu saling ketergantungan dan akan tersiksa jika kalian berpisah nanti." Renata mencoba merayu Vera


"Tidak aku tidak mau," sahut Vera


Plak

__ADS_1


Renata menampar Vera,


"Tidak sadarkah dirimu Vera, siapa yang membawamu keluar dari lembah kemaksiatan, siapa yang membawa kemari, memberimu tempat berteduh, kami memperlakukanmu dengan baik meskipun aku terluka namun aku tetap tersenyum melihat mas Edward perhatian padamu, apa masih kurang semua itu hah!" seru Renata


Vera tersenyum ketir, tubuhnya mundur hingga terbentur dinding


"Kamu mengingatkan aku akan tempatku dulu yang seorang wanita malam Renata, lalu sebutan untukmu apa? seorang wanita yang tega memisahkan anak dan ibunya tanpa memberi kesempatan padaku untuk menghabiskan waktu bersama dengan buah hatiku," sahut Vera yang membuat Renata terbungkam


"Dulu aku pernah kehilangan anakku Renata, aku juga ingin bersama dengan anakku ini meski sebentar," imbuh Vera dengan lirih


Renata semakin terisak, dia sadar jika dirinya sangat kejam pada Vera.


Edward yang bingung dengan kedua istrinya yang sama-sama terisak,


Dengan langkah pelan Renata mendekati Vera yang juga terisak.


"Maafkan aku Vera, pahamilah keadaanku," ucap Renata


"Baiklah Renata tapi biarkan mas Edward menjadi milikku dalam satu malam, setelah itu aku akan pergi dan merelakan anak ini," sahut Vera


Plak


Lagi-lagi Renata menampar Vera


"Sekali wanita malam sampai kapan pun wanita malam!" seru Renata


Vera hanya menangis, sakit hati dan pipi akibat omongan dan juga tamparan Renata


Tiba-tiba Vera memekik kesakitan sambil memegangi perutnya,


Aaauuuuwwww


Renata dan Edward pun cemas,


"Kamu kenapa Vera?" tanya Renata


"Perutku sakit sekali Renata," jawab Vera


"Mas jangan hanya diam, tolonglah Vera!" teriak Renata khawatir


Edward menggendong Vera, dia juga sangat cemas


"Sabar Vera," Edward mencoba menenangkan Vera


"Bolehkan aku minta sesuatu padamu mas," tanya Vera dalam gendongan Edward


"Apa?" tanya Edward penasaran


Belum sempat Vera menjawab pertanyaan Edward, Meraka sudah di depan dan bersiap masuk mobil, Edward yang menyetir sedangkan Vera dan Renata di belakang.

__ADS_1


"Renata maafkan aku," ucap Vera sambil memegangi perutnya yang sakit


"Sudahlah Vera, tidak ada yang salah mungkin jika aku dalam posisimu aku akan berbuat demikian." Renata mengusap kepala Vera yang berada di pangkuan Renata.


Edward melajukan mobilnya cukup kencang, dan hampir saja dia menabrak pengendara jalan lain.


"Sabarlah Vera, sebentar lagi kita akan sampai rumah sakit," kata Edward yang sesekali melihat ke belakang.


"Mas cepat lah sedikit mas, aku takut terjadi apa-apa dengan meraka berdua," pinta Renata


"Ini sudah cepat sayang," timpal Edward


"Hubungi Ilham sayang, karena kita membutuhkan tenaganya." Edward menyuruh Renata untuk menghubungi Ilham.


Ilham yang pulang ke Sidoarjo untuk menemui calon istrinya harus terganggu.


"Sial di luar jam kantor masih saja tenagaku dibutuhkan," gerutu Ilham


"Nggak boleh gitu mas, memang seperti itu tugas seorang asisten. Apalagi bos mas Ilham adalah bos besar," Arini menenangkan Ilham.


Arini sebenarnya juga kesal, setelah berhari-hari nggak ketemu dan ketemu baru setengah jam Ilham harus pergi lagi.


"Ya sudah sayang aku pergi dulu ya, nanti kita video call," kata Ilham lalu mengecup kening Arini.


Baru beberapa langkah Ilham kembali lagi, tanpa aba-aba dia menyambar bibir Arini, inilah pertama kalinya dia mencium calon istrinya. Arini yang belum siap hanya terpaku mendapat serangan Ilham.


Bibirnya tertutup rapat sehingga Ilham sedikit menggigit bibir bawahnya supaya Arini membukanya.


Arini nampak kaku sangat terlihat kalau dia tidak berpengalaman.


Setelah sama-sama kehabisan nafas mereka menyudahi pautan mereka.


"Apa ini ciuman pertamamu Arini?" tanya Ilham


Arini yang malu hanya menunduk, "Iya mas," jawabnya dengan lirih


Ilham tersenyum, lalu dia pun pamit.


Setalah sampai di rumah sakit Edward menggendong Vera, terlihat Vera lemah sekali.


"Suster mana ruang ICU?" tanya Edward dengan panik, cemas tak karu-karuan.


"Mas bisakah kamu bilang kalau kamu mencintaiku," kata Vera yang membuat Edward kaget


"Kamu jangan mikir yang macam-macam Vera, pikirkanlah keselamatanmu dan anak kita," sahut Edward kesel


Vera tersenyum "Aku tau kalau kamu tidak mencintaiku aku hanya minta kamu berpura-pura saja." kata Vera


Edward tidak menggubris perkataan Vera,

__ADS_1


Setelah diam ruang ICU, dokter memeriksanya


"Kita harus segera melakukan operasi sekarang atau kedua-duanya tidak terselamatkan tapi.............


__ADS_2