
Leo dan Rara sangat bahagia atas kelahiran baby twins mereka, begitu pula dengan Edward dan juga Renata. Anak Vera semakin membaik dan besok sudah di perbolehkan pulang.
"Selamat pak Edward, bayi anda sudah bisa di bawa pulang besok," kata dokter
Edward sangat bahagia karena anaknya sudah diperbolehkan pulang.
"Terima kasih dokter," ucap Edward
Renata dan Edward pergi ke ruang dimana anaknya dirawat.
"Halo sayangnya papa, sekarang adik bayi besok sudah boleh pulang, dah nggak sendirian lagi kalau malam," kata Edward
Dokter melepas semua alat yang masih menempel di tubuh bayinya.
"Boleh saya menggendongnya?" tanya Renata
"Silahkan Bu," jawab Dokter lalu mengambil bayinya dan menyerahkan pada Renata
Nampak mata Renata basah,
"Aku menjadi ibu mas sekarang," kata Renata dengan menangis.
"Iya sayang," sahut Edward
"Vera, mama bahagia memilikimu di dunia ini." Renata terus saja menciumi bayi mungilnya.
Edward ikut merasakan betapa bahagianya Renata, air matanya ikut menetes.
"Terima kasih Vera, kamu memberikan kami seorang anak yang cantik, selamanya kamu akan tetap menjadi ibunya," batin Edward sambil menatap Vera kecil
Vera kecil menangis, seolah tau kalau dia digendong mamanya. Tangisnya pecah setelah dia diletakkan lagi di tempatnya
Renata yang tidak tega menggendongnya kembali,
"Apa boleh kami bawa pulang sekarang ,kelihatannya si baby tidak mau pisah dengan kami," kata Renata
"Kami harus melakukan pemerikasaan lagi nyonya sebelum dibawa pulang besok" jelas dokter
Renata meletakkan kembali Vera kecil di tempatnya dan berucap
"Besok ya Vera, mama janji besok pagi sekali mama akan kesini dan membawa kamu pulang," ucap Renata pada Vera kecil
Edward mengajak pulang Renata, karena ia harus menyiapkan kamar Vera
"Biar Vera tidur di tempat tidur ibunya mas," kata Renata
"Kenapa seperti itu sayang," sahut Edward
"Biarlah mas, biar Vera kecil merasakan ibunya," timpal Renata
"Baiklah sayang, aku ngikut saja," ujar Edward lalu memfokuskan pandangannya ke depan.
Saat fokus dengan tatapannya Renata bertanya sehingga fokusnya harus terpecah lagi
__ADS_1
"Bukankah besok adalah pernikahan Ilham mas, aku belum membeli kado untuk Ilham," ucap Renata
Edward hampir lupa untung Renata mengingatkannya,
"Astagfirullah sayang, aku lupa," sahut Edward
"Bagaimana kalau kita membelikan mereka perhiasan satu set dan juga sebuah baju kurang bahan mas, biar dipakai pengantin wanitanya saat malam pertama mereka," ide Renata
Tanpa berfikir panjang, Edward langsung mengangguk yang artinya dia setuju.
Mobil Edward berbelok arah untuk membeli perhiasan dan baju untuk Ilham.
Setelah mendapatkan barang yang dicari mereka pulang.
Setibanya di rumah, Edward melihat Pras duduk di terasnya dengan wajah yang ditekuk.
"Kamu kenapa Pras?" tanya Edward
"Besok Arini menikah dengan Ilham kak," jawab Pras
"Lalu?" tanya Edward lagi
"Lalu aku sakit hatilah kak, masih saja bertanya," jawab Pras dengan ketus
Edward terkekeh melihat adiknya yang patah hati.
"Katanya cinta itu harus diperjuangkan," ucap Edward asal lalu dia masuk rumah menyusul Renata
"Kamu benar kak, cinta harus diperjuangkan, sebelum janur melengkung Arini masih bebas," gumam Pras lalu masuk ke dalam.
Renata dan Edward membersihkan diri bersama,
"Sayang aku menginginkannya," bisik Edward
"Sama mas, tapi kita melakukannya di tempat tidur saja lebih leluasa daripada di kamar mandi," sahut Renata
"Ok," timpal Edward
Setelah selesai mandi, Edward menggendong Renata yang masih basah karena belum memakai handuk.
Serangan senja pun Edward luncurkan pada Renata, dan Renata dengan senang hati menerima serangan dari Edward.
Hampir satu jam mereka bergulat tanpa lelah, hingga sampailah Edward pada pelepasannya. Kalau Renata jangan ditanya, dia sudah beberapa kali mendapat pelepasannya.
Seusai membersihkan diri untuk yang kedua kalinya, meraka masuk ke dalam kamar Vera untuk sedikit melakukan perombakan.
Renata memanggil beberapa art untuk merombak kamar Vera, dengan menambahkan beberapa barang.
Hampir dua jam para art melakukan tugas yang diberikan oleh Renata dan Edward.
"Aku sudah nggak sabar untuk membawa baby kecil kita pulang mas," kata Renata
"Aku juga sayang, besok setelah pernikahan Ilham kita ke rumah sakit dan membawa pulang Vera kecil," sahut Edward
__ADS_1
Tiba-tiba dari pintu terdengar suara mama dan papa Edward.
"Mana bayi kalian?" tanya mama
"Masih di Rumah sakit ma," jawan Edward
"Ini benar bayi kalian kan? awas jika kalian membohongi mama dan Papa," ancam Mama Edward
"Benar ma,kalau ragu kalian boleh melakukan tes DNA," sahut Edward kesal
Memang dari awal Edward dan Renata menyembunyikan kekurangan Renata yang tidak bisa punya anak, semenjak keguguran tiga tahun yang lalu, mama dan papa Edward mendesak Edward untuk segera memiliki anak, jika tidak meraka akan memisahkan dirinya dengan Edward. Sebab itulah Renata mendesak Edward untuk mencari wanita yang mau menolongnya dengan memberikan anak.
Ternyata mencari wanita yang mau dinikah secara siri, dan dicerai setelah melahirkan anak untuk Edward tidaklah mudah, mana ada yang mau berpisah dengan anaknya, hingga Edward bertemu dengan Vera dan mau membantunya.
"Besok kalau bayinya sudah di rumah Mama dan Papa akan datang kembali," kata mama Edward lalu mengajak suaminya untuk pulang.
Selepas kepergian mertuanya, Renata nampak sedih
Edward yang melihatnya mencoba menghibur Renata
"Sudah lah sayang, mereka memang seperti itu. Aku minta padamu jangan pernah diambil hati sikap dan perkataan mama dan papa." Edward memohon pada Renata
"Lalu bagaimana jika mereka tau kalau yang hamil bukan aku melainkan istri kedua kamu," ucap Renata yang membuat Edward nampak berfikir
"Kita pikir nanti sajalah sayang," hibur Edward dengan membawa Renata dalam pelukannya.
Tangis Renata pecah saat berada dalam pelukan suaminya. Ketakutan akan kehilangan Edward datang kembali.
"Aku janji meskipun orang tuaku menyuruhku untuk meninggalkan kamu, tak akan pernah aku lakukan Renata, aku lebih baik dicoret dari daftar ahli waris daripada kehilangan istri dan anakku," kata Edward yang membuat Renata tersenyum
"Aku percaya padamu mas," timpal Renata
Tiba-tiba acara melow dan pelukannya harus berhenti setelah terdengar suara dari perut Renata
Baik dirinya maupun Edward kaget lalu mereka tertawa
"Kamu lapar ya sayang?" tanya Edward
Karena malu Renata hanya mengangguk,
"Ayo kita makan, aku juga sudah lapar," ajak Edward.
Setibanya di ruang makan nampak Pras makan dengan lahap.
"Apa begitu kalau orang patah hati, makan seperti setan," sindir Edward
Pras pun melirik sekilas kedua kakaknya
"Memangnya kak Edward pernah melihat setan lagi makan?" tanya Pras yang sedikit membuat Edward kesal
"Pernah, ni di depanku," jawab Edward
"Brengsek kamu kak," umpat Pras
__ADS_1