
"Kamu juga gila," sahut Vera
Ray mencengkeram pipi Vera, matanya mengisyaratkan betapa marahnya dia
"Kelihatannya mulutmu harus saku sobek," kata Ray
Vera berusaha menyingkirkan tangan Ray dari wajahnya namun cengkraman Ray sangat kuat.
Ray melepas tangannya setelah pintu lift terbuka, Ilham yang mendengar kabar kalau lift ada gangguan menunggu Vera di depan pintu lift dan saat pintu lift terbuka dia harus melihat Vera dengan Ray.
Ilham terpaku melihat istrinya dan kakak bos nya tersebut. Melihat Ilham didepan pintu Vera bergegas beranjak lalu mengajak Ilham pergi karena dia tidak ingin Ray bercerita tentang kelakuan mereka kemarin malam.
"Apa yang kamu lakukan pada istriku?" tanya Ilham dengan nada agak tinggi
Ray pun tertawa mendengar pertanyaan Ilham
"Wanita itu ternyata selain murahan dia juga seorang penghianat," jawab Ray
Mendengat kalimat ambigu dari Ray membuat Ilham melontarkan pertanyaan
"Apa maksud kamu?" tanya Ilham
"Tanyakan saja apa yang dilakukan wanita itu padaku," jawab Ray santai
Karena tidak ingin berlama-lama debat yang nggak bermutu Ray menghampiri Ilham dan juga Vera
"Seandainya aku jadi dirimu, aku akan segera membuang wanita ini karena dia tidak pantas untuk dijadikan istri, dia lebih pantas dipajang di etalase tempat hiburan malam," kata Ray lalu menepuk bahu Ilham dan berlalu
Mendengar ucapan Ray tentu membuat Ilham bingung, kini bola matanya memutar ke arah Vera, dia ingin penjelasan dari istrinya.
"Bisa kamu jelaskan Vera?" tanya Ilham
"Aku tadi bertemu dengannya di lift mas, karena ketakutan aku berteriak dia malah memarahiku lalu mendorongku hingga aku terjatuh, karena ulahnya tentu aku menjadi marah," jawab Vera dengan berbohong.
Ilham sedikit ragu pada Vera, dia ingin bertanya lebih lanjut tapi karena harus segera rapat dia menyuruh Vera pulang namun sebelumnya dia mengambil berkas yang dibawa Vera terlebih dahulu.
Dengan langkah cepat Vera segera pulang karena dia tidak ingin bertemu dengan Ray.
"Untung mas Ilham percaya coba kalau nggak bisa gawat," batin Vera
Di ruangan Leo, Ray menggebrak meja dia sangat kesal karena telah dipermainkan oleh Vera,
__ADS_1
"Menyesal aku telah tidur dengannya, sudah nggak ORI, nggak gigit, istri orang pula parahnya suaminya bawahan Leo," gumam Ray
Bayu masuk ke dalam ruangan Ray dan meminta Ray untuk menghadiri rapat.
Di ruang rapat dia bertemu kembali dengan Ilham, nampak Ilham kesal sekali pada Ray karena telah mengganggu Vera.
Setelah meeting selesai Ilham menghampiri Ray yang sedang membereskan dokumen-dokumen.
"Pak saya tau bapak adalah kakak dari pak Leo tapi tolong jangan mengganggu istri bawahan di kantor ini," kata Ilham yang membuat Ray menghentikan aktivitasnya dan melirik Ilham
"Aku mengganggu istrimu?" tanya Ray
Ilham pun mengangguk.
Sedangkan Ray tertawa lepas
Ini adalah aib tapi akan aku ceritakan supaya kamu tidak menganggap ku sebagai pengganggu.
"Aku akui kemarin aku telah tidur dengan istrimu namun semua itu juga karena istrimu yang menggodaku," kata Ray yang membuat Ilham mundur selangkah namun dia tidak langsung percaya begitu saja
"Kamu pasti bohong, nggak mungkin Vera tega mengkhianati aku," sahut Ilham
"Untuk apa aku berbohong, kalau masalah di lift aku memang mendorongnya karena dia telah berani mencium ku, kamu bisa lihat luka di bibirku ini." Ray pun memperlihatkan luka akibat gigitan Vera tadi pada Ilham
Ilham masih berdiri terpaku mendengar kata-kata Ray namun dia belum percaya seratus persen. Ilham tergerak melihat CCTV di lift tadi meskipun agak gelap namun terlihat kalau Vera yang mencium Ray.
Ilham sangat shock akan kelakuan rendah Vera,
"wanita macam apa yang telah ku nikahi," batin Ilham
Lagi-lagi penyesalan datang menggerogoti Ilham,
"Rara maafkan aku," gumamnya
Hati Ilham benar-benar kalut. Marah benci sesal kecewa menjadi satu menggerogoti jiwanya yang rapuh semenjak ditinggal Rara.
Namun sesal tinggal lah sesal, seberapa dalam penyesalan yang datang nggak akan mungkin mengembalikan apa yang telah hilang.
Ilham kini kembali ke ruangannya, dia mencoba kembali untuk memfokuskan pikirannya pada pekerjaan oleh karena itu dia mengabaikan sementara kekalutan hatinya.
Jam pulang sudah datang, Ilham dengan segera membereskan meja kerjanya setelah itu dia pulang ke rumahnya.
__ADS_1
Dada Ilham bergemuruh menyimpan amarah yang sedari tadi ditahannya.
Ilham membuka pintu dengan keras sehingga Bunyinya terdengar oleh Vera.
"Kamu tu kenapa sih mas, marah-marah nggak jelas," omel Vera dengan langkah kaki mendekati Ilham yang duduk di sofa
"Marah-marah nggak jelas?" seru Ilham
Vera yang melihat amarah Ilham menjadi takut. Benar saja Ilham langsung menampar Vera
Plak
"Dasar wanita murahan, sebagai seorang istri kamu seharusnya menjaga kehormatan kamu untuk suami bukannya malah merayu laki-laki lain?" teriak Ilham yang membuat Vera kaget
"Aku menyesal Vera telah menikahi mu dulu sehingga akhirnya aku berpisah dengan istri yang amat sangat aku cintai," imbuh Ilham
Tangis Vera semakin pecah, dia duduk di samping Ilham dan memohon ampun atas perbuatannya
"Maafkan aku mas, aku khilaf," ucap Vera
"Maafkan aku Vera, aku nggak bisa memaafkan dirimu. Aku rasa hubungan kita sampai di sini saja. Carilah lelaki yang menurutmu bisa memuaskan nafsu birahimu dan yang bisa memberimu segalanya," sahut Ilham
"Nggak mas, aku maunya kamu." Vera mulai merayu Ilham
"Kalau kamu mau dengan aku, kamu pasti bersikap seperti seorang istri pada umumnya namun yang kamu lakukan ini di luar batas bahkan akal ku pun tidak bisa terima dengan apa yang telah kamu lakukan," kata Ilham
"Mas jangan bicara seperti itu mas, kita bisa mulai dari awal," bujuk Vera
"Maaf Vera aku nggak bisa, memang benar apa-apa yang diawali dari sebuah kesalahan dan sebuah kebohongan akhirnya pun nggak akan baik. Kita sekarang bisa saling introspeksi diri dan saling belajar." Ilham beranjak dari tempat duduknya.
Baru beberapa langkah Ilham membalikan badannya dan berkata
"Mulai hari ini, detik ini kamu bukan istriku lagi. aku menalak kamu," imbuh Ilham yang membuat Vera histeris
"Jangan lakukan itu mas, aku ingin bersamamu," bujuk Vera dengan bersimpuh di kaki Ilham
Ilham melepas tangan Vera
"Untuk apa kamu sesali dan tangisi bukankah bahagia kamu sendiri yang menodai," kata Ilham lalu dia pergi ke kamarnya.
Vera menangis sejadi-jadinya,
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu Ray, kamu telah menghancurkan hidupku," teriak Vera
Art yang melihat Vera menangis di lantai merasa iba, namun dia tidak berani mendekat.