
Entah kenapa Leo merasa sakit dengan permintaan Rara namun dia juga akan menuruti kemauan istrinya daripada istrinya marah.
Mobil Leo sudah memasuki halaman, setelah memarkirkan mobilnya dia keluar namun kali ini tanpa membukakan pintu untuk Rara, dia juga berjalan duluan tanpa menunggu istrinya.
"Mas Leo, kok aku ditinggal sih," gerutu Rara dengan langkah cepat menyusul suaminya
Leo berhenti dan membalikkan badannya,
"Ayo," katanya tanpa mengulurkan tangan.
Melihat Rara menaikki tangga sendiri ada perasaan bersalah, jiwa khawatir Leo meronta dia ingin sekali menggendong istrinya tersebut namun dia nggak ingin Rara marah atau merasa stres karena ulahnya.
Rara yang melihat sikap Leo yang tiba-tiba dingin pun menjadi gusar, dia ingin diperhatikan seperti tadi. Maksudnya melakukan yang sewajarnya bukan terus dingin seperti ini.
Dalam kamar Leo melepas pakaiannya lalu tidur terlebih dahulu. Rara yang merasa nggak di perhatikan menjadi menangis
Leo yang awalnya ingin tidur harus bangun karena mendengar tangisan dari Rara
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leo
"Kamu yang kenapa mas, nyuekin aku," jawab Rara
Leo mengusap rambutnya dengan kasar, dia sungguh bingung harus berbuat seperti apa, diperhatikan salah nggak diperhatikan juga salah.
Dengan menghela nafas dia turun dari tempat tidurnya lalu mendekat ke arah dimana Rara berada.
Leo pun memeluk istri yang mulai terisak.
"Maaf sayang, bukannya kamu sendiri yang minta aku harus bersikap sewajarnya," kata Leo dengan mengecup kening Rara
"Iya tapi bukan gini juga mas," sahut Rara
"Trus gimana?" tanya Leo balik
"Ya gitu pokoknya," jawab Rara yang semakin mengeraskan tangisannya
"Astagfirullah sayang, kok semakin keras kalau mama dengar aku pasti dimarahin, kamu nggak kasian ma aku yang sudah besar masih saja dimarahin mamanya," bujuk Leo
Mendengar kata-kata Leo membuat Rara berhenti menangis dia mendongakkan kepala menatap Leo.
Leo pun tersenyum karena istrinya berhenti menangis,
"Nah gitu dong kan cantik kalau nggak nangis," puji Leo sambil menghapus sisa-sisa air mata di wajah Rara
"Memang kalau menangis aku jelek mas?" tanya Rara
"Jelek super, jadi jangan sekali-kali nangis," jawab Leo
"Ih nyebelin," sahut Rara
Leo yang melihat bibir manyun Rara langsung saja menyambarnya, mereka kini saling menyesap dan ******* hingga menimbulkan bunyi decakan yang keras.
__ADS_1
"Aku menginginkannya sayang," bisik Leo dengan nafas yang sedikit menggebu
"Ayok mas, tapi pelan Yo,ojok banter-banter," kata Rara
(Ayo mas, tapi pelan ya jangan keras-keras)
"Siap sayang, mainnya pelan pol," timpal Leo
Leo membuka penutup tubuh Rara, lalu dia menggendong lalu membaringkan Rara di tempat tidur, melihat tubuh polos istrinya benda Leo seketika bereaksi berdiri tegak seperti tugu Monas
Tak sabar ingin mengunjungi hutan belantara Rara, Leo langsung masuk saja tanpa pemanasan terlebih dahulu
"Basah banget sayang," bisik Leo
"Iya mas, udah langsung masuk saja," pinta Rara dengan menarik rambut Leo
Aaahhhh mas Leo
Rara mengerang penuh nikmat ketika benda keras Leo memasuki hutannya.
Sambil memajumundurkan pinggangnya Leo bermain di dada Rara, lidah dan giginya lihai memainkan dua benda kenyal Rara sehingga membuat Rara semakin melayang.
Karena gesekan dari Leo membuat Rara mencapai puncaknya, tubuhnya sedikit melengkung dan menegang sedangkan tangannya menarik rambut Leo.
"Aaahhhhh mas aku sampai...." desah Rara
Leo tersenyum melihat Rara mencapai pelepasannya lalu kini gilirannya, tak selang lama tubuh Leo menegang, Rara merasakan cairan hangat tumpah di pangkal pahanya.
*********
Mama Ilham sedih dengan keadaan Ilham yang semakin hari semakin tak menentu, dia hanya rebahan di tempat tidur sambil melihat foto-foto Rara.
"Pa, bagaimana kalau Ilham kita jodohkan saja," kata mama
"Ide bagus tu ma, siapa tau dengan memiliki pasangan yang baru Ilham bisa melupakan Rara," sahut papa.
Mama dan papa hendak menjodohkan Ilham dengan anak temannya berharap Ilham bisa melupakan Rara.
Pagi ini juga mama pergi ke rumah temannya untuk mengutarakan niat baik mereka.
Di sana niat baik mereka pun disambut dengan baik oleh temannya.
"Kamu cantik sekali nak, siapa namamu?" tanya mama Ilham
"Arini Tante, masa Tante lupa dengan Arini," jawab Wanita anggun dan cantik di depannya.
"Astaga, ternyata kamu teman Ilham dulu yang sering datang ke rumah ya," sahut mama
Arini hanya tersenyum lalu mengangguk,
Arini adalah anak terakhir dari teman mama dan papa Ilham, dulu Arini dan Ilham adalah teman baik namun semenjak Ilham kuliah dan menikah dengan Rara mereka nggak pernah ketemu.
__ADS_1
"Coba nanti Arini datang ke rumah ya tante, sebenarnya Arini juga merindukan mas Ilham," kata Arini dengan tersenyum.
Mama dan papa menjadi lega, mereka berharap Ilham dan Arini berjodoh sehingga bayang-bayang Rara hilang dari pikiran Ilham.
Sore hari pun tiba, terdengar suara bel dipencet. Mama segera berlari untuk membukakan pintu.
"Eh Arini, masuk nduk." mama mempersilahkan Arini masuk
"Iya Tante terima kasih," sahut Arini dengan tersenyum
Arini masuk ke dalam dan duduk, matanya berkelana menyusuri setiap bagian ruang tamu. Nampak banyak yang berubah tidak seperti saat dia masih sering main di rumah Ilham.
"Mas Ilham mana Tante?" tanya Arini
"Ada di kamarnya, coba kamu langsung kesana. Masih ingatkan letak kamar Ilham?" kata Mama dengan mempersilahkan masuk ke dalam.
"Permisi ya Tante," sahut Arini lalu berjalan menuju kamar Ilham.
Arini mengetuk pintu beberapa kali namun Ilham tidak membukakan pintu. Saat sudah menyerah dan hendak membalikan badannya tiba-tiba pintu terbuka
Ceklek
"Arini," panggil Ilham dengan kaget
Melihat Arini teman lamanya, Ilham sangat senang dan langsung saja memeluk Arini.
"Mas mas sudah, nggak enak dilihat Tante," ucap Arini mencoba melepas pelukan Ilham
"Maaf-maaf Rin, aku saking senangnya bertemu kamu sehingga keblabasan," timpal Ilham dengan terkekeh.
"Ok maaf di terima," sahut Arini.
Ilham pun mengajak Arini masuk ke dalam kamarnya, mereka berdua bercerita banyak tentang segala hal. Mengobrol bersama dengan Arini membuat Ilham sedikit melupakan kesedihannya.
Mama yang melihat Ilham dan Arini dari luar kamar pun merasa bahagia, beliau berharap Ilham dan Arini berjodoh.
"Mama akan senang Ilham jika kamu berjodoh dengan Arini karena bibit, bebet dan bobotnya jelas sehingga bisa membimbing kamu dan membawamu ke sebuah keberkahan seperti Rara dulu.
Asik mengobrol membuat Ilham dan Arini melupakan sang waktu, tak terasa hari sudah mau gelap.
"Wah mas udah mau magrib ni, aku pamit dulu ya," ucap Rara saat melihat jam tangannya
"Iya Rin, makasih ya kamu sudah mau menemani aku ngobrol," sahut Arini bersiap untuk pulang.
"Gimana kalau besok kita nongkrong mas, kamu nggak bosan ta di rumah terus?" tanya Arini
"Gimana ya Rin," jawab Ragu Ilham
"Ya udah kalau nggak bisa," jawab Arini
"Bisa kok Rin," sahut Ilham
__ADS_1
Arini pun tersenyum, memang mama menceritakan keadaan Ilham pada Arini tanpa ada yang ditutup-tutupi itu semua membuat Arini iba dan berniat menolong Ilham