
"Besok kamu mau nggak makan malam di luar," kata Edward
Netra Vera membulat, dia sangat bahagia Edward mengajaknya makan di luar.
"Besok jam empat tunggu aku di restoran xxx, dan sekarang kita makan ya," bujuk Edward
Vera mengangguk lalu turun ke bawah untuk makan bersama Edward.
Renata menatap dari atas, meskipun sakit namun dia tersenyum
"Hanya kamu mas yang bisa membujuk Vera," batin Renata lalu dia kembali ke kamarnya.
Keesokannya Vera sibuk dengan baju yang akan dia kenakan untuk makan bersama Edward.
"Apa aku beli saja ya," gumam Vera karena tidak menemukan pakaian yang cocok
Vera melihat jam dan ternyata sudah jam tiga sore
"Astagfirullah," gumamnya lalu segera ke kamar mandi
Karena tidak sempat beli baju Vera memakai baju apa adanya. Dia menggunakan penutup kepalanya dan sedikit berias. Vera nampak anggun Dengan balutan dress panjang dan hijab yang senada.
"Lumayan cantik, setidaknya nggak malu-malu in mas Edward," gumam Vera
Vera melangkahkan kaki keluar kamarnya saat di depan kamar Renata untuk berpamitan tiba-tiba Vera mengurungkannya dia berfikir dua kali untuk pamitan, bukannya nggak mau tapi dia nggak ingin Renata sakit hati.
"Nggak usah saja daripada Renata sakit hati," gumam Vera
Vera melangkahkan kaki menuruni tangga dan keluar menunggu taxi online yang sudah dia pesan.
Sesaat setelah dia restoran xxx Vera menunggu Edward. Dia mengirimkan pesan pada Edward
~Aku sudah sampai mas~
Edward tidak menjawab pesan Vera, para pelayan datang mendekat memberikan menu makanan namun Vera menolaknya dengan alasan menunggu seseorang.
Tiga puluh menit menunggu, Edward masih belum datang, karena haus Vera memesan minuman.
Vera melihat jam tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 16.40,
"Mas Edward mana ya, kok belum datang," gumam Vera
Kini genap satu jam Vera menunggu, dia sudah mulai bosan apalagi perutnya yang sudah membuncit membuat punggungnya sakit.
~Mas kamu dimana?~
Lagi-lagi Edward tidak membalas, Vera ingin sekali pulang namun dia mengurungkannya takut kalau Edward datang telat dan mencarinya.
Hingga magrib Edward belum datang, padahal perut Vera sudah terasa sakit. Vera mengambil ponselnya, dia menghubungi Edward berkali-kali namun tidak ada jawaban.
~Mas aku mulai lapar, kalau kamu nggak bisa datang aku pulang ya~
__ADS_1
Hal yang sama terjadi, Edward tidak membalas pesannya. Mata Vera berkaca, bagaimana bisa Edward tidak membalas pesan atau mengangkat Panggilannya.
Pikiran Vera berkelana kemana-mana takut kalau terjadi apa-apa pada Edward.
Waktu Isya pun datang namun Edward masih belum datang,
"Kesabaran ku sudah habis," batin Vera
Namun hatinya masih berharap Edward datang meskipun telat.
"Mohon maaf mba, restoran akan tutup." Pegawai di sana memberi tahu.
"Udah mau tutup ya mba?" tanya Vera
Pelayan tersebut mengangguk sambil tersenyum. Vera beranjak dari tempat duduknya lalu keluar dnegan langkah gontai
Sampai restoran tutup Edward tidak datang, air mata Vera leleh, dia pun mengirim pesan pada Edward lagi
~Terima kasih udah ngeprank aku dan selamat kamu berhasil~
Pesan sindiran untuk Edward, namun pesan tersebut tinggal pesan yang tidak dibalas, jangankan dibalas di baca aja nggak.
Air mata Vera terus mengalir,
"Sudahlah Vera jangan berharap pada Edward, perhatiannya padamu hanya kamuflase nggak benar-benar tulus," Vera bermonolog dengan dirinya sendiri menghibur dirinya supaya tidak sedih.
Taxi yang dia naikki kini berhenti di depan rumah Edward, dengan langkah gontai dan air mata yang terus mengalir, Vera masuk dan betapa kagetnya dia pemandangan pertama yang dia lihat yaitu Edward dan Renata bercanda gurau di ruang tamu.
"Nggak kamu yang memulai," sahut Edward
Vera mematung di ambang pintu dengan air mata yang leleh
"Astagfirullah aku menunggu orang yang asik bersama istrinya," batin Vera
Netra Renata tak sengaja melihat Vera mematung di ambang pintu.
"Eh Vera, kamu darimana?" tanya Renata lalu membenahi baju yang sedikit berantakan.
Vera tidak menjawab pertanyaan Renata, bibirnya kaku tak sanggup berkata-kata.
"Kamu kenapa menangis? apa ada yang menyakitimu?' tanya Edward
"Kamu," jawab Vera singkat
Edward sungguh tidak mengerti akan jawaban Vera yang menurutnya adalah ambigu.
"Aku?" tanya Edward
"Iya, kamu kemarin janji apa sama aku," jawab Vera
Netra Edward membulat dia benar-benar lupa, "Aku lupa Vera,"
__ADS_1
Vera tidak menanggapi permintaan maaf Edward, hatinya sungguh sakit akan perlakuannya. Vera merasa kalau dia hanya mempermainkannya.
Vera melangkahkan kakinya dengan langkah cepat menuju kamarnya.
Dia menurunkan koper bajunya dan Ingin pergi dari rumah Edward.
Renata dan Edward menyusul Vera, mereka berdua sangat cemas sekali.
"Kamu mau kemana Vera?" tanya Renata mendekati Vera yang sibuk memasukkan baju-bajunya ke dalam koper
"Aku ingin pergi Renata, maafkan aku. Aku sungguh tidak sanggup hidup diantara kalian, kamu tau tadi aku menunggunya mulai dari jam empat sampai jam sembilan. Dia sendiri yang mengajakku untuk makan di luar tapi dia melupakannya atau pura-pura lupa" jelas Vera
"Maafkan aku Vera, aku benar-benar lupa," ucap Edward menyesal
"Maafkan aku mas dan Renata aku harus pergi," kata Vera
Renata berlutut di depan Vera memohon padanya jangan pergi.
"Apa yang kamu lakukan Renata?" tanya Edward
"Memohon pada Vera mas, supaya dia tidak pergi," jawab Renata
Vera yang melihat Renata berlutut, ikut duduk di lantai.
"Kamu sempurna Vera, suatu saat jika kamu menikah lagi kamu masih bisa punya anak sedangkan aku wanita yang tidak sempurna, tidak akan pernah bisa mempunyai anak lagi," kata Renata dengan air mata yang berlinang.
Vera hanya terdiam, dia sungguh bingung harus berbuat apa namun perlakuan Edward benar-benar menyakitinya.
"Vera aku minta maaf karana telah melupakan janjiku, aku minta maaf," kata Edward dengan menyesal
"Baiklah, sekarang kalian keluar," pinta Vera
Vera menyuruh Renata dan Edward keluar, dia benar-benar bingung harus bagaimana.
Edward merayu Renata untuk ke kembali kamarnya.
"Aku akan bicara, padanya sayang," kata Edward mencoba merayu Renata
"Iya mas, semoga dia menuruti kata-katamu," sahut Renata.
Edward ke kamar Vera untuk bicara padanya, dia melihat Vera menangis sambil terisak yang terdengar sangat memilukan.
Dengan langkah pelan Edward menghampiri Vera, "Maafkan aku Vera," kata Edward
"Nggak ada yang perlu dimaafkan mas, aku yang salah karena terlalu berharap padamu," ungkap Vera
"Seharusnya aku bisa menempatkan diriku, kamu siapa dan aku siapa," imbuh Vera
Edward terdiam dengan menatap Vera.
"Maafkan aku Vera," ucap Edward
__ADS_1
"Ya sudah, sekarang kembalilah di kamarmu, aku mau tidur," Vera mengusir Edward.