Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Di balik perhatian Edward


__ADS_3

"Apa," teriak Ray dengan kaget


"Ayolah kak, tolong adikmu ini. Bukankah kamu bilang kalau kamu sayang sama adikmu ini," rayu Leo memohon pada Ray sang kakak supaya mau membantunya memasak


Ray menatap adiknya yang menunjukan wajah melasnya. Ingin sekali dia menjitak adiknya yang super menjengkelkan ini.


"Memangnya istrimu mau makan apa?" tanya Ray


"Makan sambel dan lalapan kak," jawab Leo


"Ya sudah ayo, tapi kalau nggak enak larang dia untuk komplain," pinta Ray


Kini mereka sudah berkutat di dapur, para art mereka pun kaget kenapa tuan muda yang cakep-cakep ini mengeluarkan isi dalam lemari pendingin.


"Tuan, kalau ingin makan sesuatu biar kami yang masak," kata salah satu art


"Nggak bik, ini tugas penting dari nyonya muda dan harus kami sendiri yang melakukannya," sahut Leo dengan tangan dan mata yang fokus dengan bahan-bahan di depannya.


Karena tidak ingin mengganggu, para art pun pergi.


Rara yang berada di kamar pun penasaran dan ingin melihat suaminya memasak


Saat dia di dapur, tak menyangka ternyata Ray juga ikut memasak


"Wah kak Ray mau bantu juga," kata Rara yang membuat netra Leo dan Ray menuju arahnya


"Demi keponakanku," sahut Ray asal


"Memang harus gitu kak Ray, sayang ma keponakan" timpal Rara


Leo dan Ray melihat tutorial di Yutub cara membuat sambel dan juga cara memasak ayam dan ikan.


Saat menggoreng ikan, suara teriakan dari keduanya sungguh membuat Rara tertawa bahkan para art yang mendengarnya pun ikut tertawa.


"Harga diriku benar-benar hilang gara-gara kamu Le," gerutu Ray


"Udahlah kak, ini juga demi keponakan kak Ray," bujuk Leo


Auw auw auw


" Tanganku Le," teriak Ray


"Ini juga kena tanganku kak," sahut Leo


Rara yang melihat kedua kakak beradik saling mengeluh karena kecipratan minyak pun ke kamar untuk mengambil sesuatu.


"Ini pakai supaya kalian tidak kecipratan minyak," kata Rara sambil menyodorkan jaket dan juga sarung tangan pada suami dan kakak iparnya.


"Benar tangan aman tapi wajah ni juga kena," sahut Ray


Rara membenarkan kata-kata Ray "Bentar,"


Rara kembali dengan membawa sesuatu,


"Ini pakai," titah Rara


Leo dan Ray saling pandang, "Ku akui istrimu memang jenius," kata Ray


"Hooh kak, saking jeniusnya sampe ingin rasanya aku menjewer telinganya," sahut Leo

__ADS_1


"Udah pake aja daripada mengeluh kecipratan minyak melulu," timpal Rara


Mau nggak mau Leo dan Ray memakai helm yang dibawakan Rara.


"Sumpah tau gini, aku nggak pulang kemarin," gerutu Ray


"Maaf kak Ray," kata Leo


Lama memasak akhirnya misi mereka selesai juga, nampak dapur yang seperti kapal pecah. Tumpahan serta cipratan minyak dimana-mana, wadah kotor dan sendok menumpuk serta bumbu-bumbu yang tergeletak tidak pada tempatnya dan juga sampah.


Mama yang baru keluar dari kamarnya pun kaget melihat kondisi dapurnya yang sudah seperti kapal pecah.


"Ada apa ini?" tanya mama


Leo dan Ray hanya terkekeh, "Itu ulah kami ma," jawab Leo


"Lalu kalian mau kemana kok pakai jaket dan bawa helm segala?" tanya mama


"Habis masak ma," jawab Ray


Mama hanya menggeleng-geleng kan kepala, kelakuan mereka seperti anak kecil saja.


"Maaf ma, Rara yang meminta mas Leo dan mas Ray untuk memasak," ungkap Rara


"Pasti ngidam lagi ya?" tanya mama


Rara hanya mengangguk


"Ya sudah suruh art kita membersihkan kekacauan yang kalian ciptakan," ucap Mama


Merasa pusing dengan anak-anaknya mama masuk kamar kembali.


Rara menarik kursi, dan langsung melahap makanan di meja.


"Gimana sayang?" tanya Leo


"Lumayan," jawab Rara


Leo yang penasaran mencicipi masakannya dan betapa kagetnya dia kalau sambalnya sangat asin sekali.


"Asin sekali ini," kata Leo


Rara yang asik makan tidak menggubris kata-kata Leo,


Ray yang sudah nggak betah pamit ke kamar untuk mandi lagi karena saat memasak Ray berkeringat ekstrem apalagi dia memakai jaket.


Sedangkan Leo dengan setia menunggui Rara makan.


*******


Pagi ini Edward membawa susu ke kamar Vera, dengan tersenyum dia membangunkan Vera yang masih tidur.


"Hey ibu hamil, bangunlah." Edward menggoyang bahu Vera yang masih setia dengan bantalnya


Karena pergerakan dari Edward, Vera terbangun dari tidurnya. Betapa kagetnya dia karena Edward yang membangunkannya.


"Seharusnya sehabis subuh kamu bangun bukannya tidur lagi," omel Edward


"Iya maaf mas, tadi pusing sekali," sahut Vera lalu duduk sambil bersandar kepala ranjang.

__ADS_1


Edward menyodorkan susu yang dibawanya, bola netra Vera memutar melihat sikap Edward padanya.


tangan Vera mengambil susu yang Edward sodorkan.


Dengan segera Vera menghabiskan susu satu gelas tanpa sisa.


"Anak pintar," kata Edward dengan tersenyum sambil mengacak-acak rambut Vera


"Jadi jelek kan mas," gerutu Vera sambil membenahi rambutnya


"Ya sudah, aku keluar dulu. Kamu mau sarapan sekarang apa nanti?" tanya Edward


"Nanti saja mas," jawab Vera dengan tersenyum


Edward mengambil gelas kosong dari nakas dan membawanya keluar.


Di dapur Renata sudah menanti suaminya untuk bertanya bagaimana keadaan Vera.


"Tu kan mas, kalau ayahnya yang ngantar susunya, dedek bayinya pasti seneng buktinya langsung hanis," kata Renata dengan mengambil gelas kotor dari tangan Edward


"Tapi aku takut kalau Vera menganggap lain perhatianku padanya sayang," sahut Edward


"Nggak kok mas, tenang saja," timpal Renata


"Apa kamu belum bisa menjaminnya sayang?" tanya Edward yang membuat Renata ragu


"Yakin sajalah mas, kuncinya itu di kamu bukan Vera," jawab Renata dengan nanar.


Sebenarnya hatinya juga takut kalau Vera memiliki perasaan pada Edward suaminya namun dengan segera Renata menepisnya.


"Haduh pikiran apa ini," kata Renata sambil menggelengkan kepala


Vera yang mendapatkan perhatian dari Edward merasa senang, dengan mengelus perutnya Vera berucap "Akhirnya papa memperhatikan kita ya sayang."


Karena sudah merasa lapar Vera keluar kamar dan mengambil sarapan.


Rumah nampak sepi baik Renata dan para art tidak kelihatan.


"Kamu mencari siapa?" tanya Edward yang mengagetkan Vera


"Eh mas Edward," ucap Vera dengan mengelus dadanya


"Kaget ya," timpal Edward


"Iya mas, oh ya Renata dan para art mana? rumah kok sepi sekali," tanya Vera


Edward menarik kursi dan duduk bersama dengan Vera di meja makan.


"Mereka ke super market, membantu Renata belanja," jawab Edward


"OOO pantes sepi," sahut Vera


"Kalau kamu ingin makan apa to apa bilang ya Vera, biasanya ibu hamil kan ingin makan ini dan itu," kata Edward


"Iya mas, sebenarnya ingin makan mangga muda campur garam," sahut Vera


Edward tersenyum "Kenapa nggak bilang, tau gitu aku ambilkan di halaman belakang," timpal Edward


"Nanti aku ambil sendiri mas." Tolak Vera karena tidak ingin merepotkan Edward

__ADS_1


"Ya sudah lanjut makannya, aku ke ruang kerja dulu," kata Edward berlalu dengan membawa minuman di tangannya


__ADS_2