
Hari-hari berlalu, kondisi Vera sudah stabil untuk itu Ilham sudah bisa meninggalkannya dan datang ke kantor.
Saat Ilham ke kantor dokter datang ke ruangan Vera dan memberitahukan kalau anak mereka tidak dapat tertolong.
Vera sungguh syok, tangisnya pecah kini.
"Tidak mungkin, anak saya tidak mungkin meninggal. Dokter pasti berbohong," teriak Vera dengan air mata yang semakin mengucur deras
"Maafkan kami nyonya namun kami sudah berusaha semaksimal mungkin untuk menstabilkan bayi anda namun kelihatannya Tuhan berkehendak lain," jelas Dokter dengan raut wajah yang sedih
Mendengar kata-kata dokter Vera semakin histeris, karena melihat Vera yang seperti itu, dokter mengkode susternya untuk menyuntikan obat penenang pada Vera
Setelah Vera tak sadarkan diri, dokter dan para suster keluar ruangan Vera.
Di kantornya Ilham sangat gelisah, dia mendapat firasat yang tidak enak.
Lalu dikeluarkannya ponsel dari dalam tasnya. Dia menghubungi istrinya. Vera yang tak sadarkan diri tentu tidak mengangkatnya namun Ilham terus saja menghubunginya hingga akhirnya dia menyerah dan menghubungi pihak rumah sakit.
Pihak dari rumah sakit mengabari Ilham kalau Vera dalam keadaan tidak sadarkan diri karena syok. Pihak rumah sakit juga mengabari Ilham kalau anaknya tidak dapat diselamatkan.
Ilham ikut syok juga, dengan segera dia pergi ke rumah sakit dan meninggalkan pekerjaannya yang masih belum selesai.
Saat di koridor Ilham berpapasan dengan Bayu
"Anda mau kemana pak?" tanya Bayu penasaran karena Ilham nampak sedang tidak baik-baik saja
"Maaf pak Bayu, saya harus pergi sekarang juga karena anak saya meninggal," katanya lalu berlari menuju pintu keluar
"Innalilahi," ucap Bayu, setelah itu dia menuju ruangan Leo.
"Ini pak berkas-berkasnya. Untuk laporan keuangan kelihatannya belum dikerjakan oleh pak Ilham karena saat ini beliau pergi ke rumah sakit karena anaknya meninggal." Bayu bercerita pada Leo
Mendengar cerita Bayu, Leo jadi kaget. Dia turut berduka cita atas meninggalnya anak Ilham. Namun dia tidak akan memberitahu Rara karena pasti Rara akan mengajaknya takziyah. Dia takut kalau Vera dan Ilham menyakitinya lagi.
"Kalau begitu transfer uang ke rekening Ilham Bay, berikan uang sama seperti gajinya biar bisa mereka gunakan untuk biaya penguburan anaknya," suruh Leo
Lagi-lagi Bayu kaget, pasalnya gaji Ilham lumayan banyak. Biasanya jika ada keluarga karyawan yang meninggal uang bantuan dari perusahaan sewajarnya saja tidak seperti yang diberikan pada Ilham.
Namun Bayu tidak mau protes, pasti Leo punya alasan tersendiri.
Tak selang berapa lama, Ilham sudah sampai di rumah sakit. Dia segera keruangan dimana Vera di rawat namun Vera masih tak sadarkan diri.
__ADS_1
"Sayang," panggilnya dengan menciumi tangan Vera
Karena pergerakan Ilham, Vera jadi terbangun. Melihat Ilham di sisinya tangis Vera pecah, " anak kita meninggal mas, kenapa dia tega meninggalkan kita yang belum sempat menggendongnya?" kata Vera dengan terisak.
Ilham memeluk Vera, dia mencoba menenangkan istrinya yang histeris.
"Sudahlah, ini sudah takdir dari yang kuasa. Mungkin anak kita lebih bahagia bersanding dengan sang pencipta daripada bersanding dengan kita," kata Ilham menenangkan Vera
" Ini semua gara-gara kamu mas, seandainya kamu nggak mikirin si Rara pasti ini semua nggak pernah terjadi," sahut Vera
"Kamu masih saja menyalahkan orang lain, tidakkah kamu sadar kalau semua ini juga kelalaian kamu. Kamu sangat malas, dan kamu juga egois Vera. Kamu hanya memikirkan dirimu sendiri tanpa memikirkan bayi yang ada dalam perut kamu," timpal Ilham kesal
Bukannya sadar Vera malah semakin menjadi.
"Terserahlah apa katamu mas," sahut Vera
Ilham sungguh kesal dengan Vera, kenapa Vera tidak sadar juga.
Saat mengurus administrasi di rumah sakit, Ilham heran pasalnya saldo dalam ATM nya bertambah.
"Siapa ya, yang mengirimkan uang padaku?" batinnya
Setelah proses administrasi selesai Ilham membawa jenazah anaknya pulang. Vera menggendong anaknya yang sudah tidak bernyawa tersebut.
Mobil Ilham sudah memasuki halaman rumahnya, setelah itu Ilham menghubungi RT dan ustad setempat untuk membantunya mengurus jenazah anaknya.
Proses penguburan berjalan kira-kira tiga jam, dan semua berjalan lancar.
Matahari semakin condong ke Barat, Leo melajukan mobilnya ke cafe Rara. Di sana nampak Rara mengobrol dengan seorang pria.
Leo langsung saja turun dari mobil dan menghampiri Rara.
"Maaf ada urusan apa anda dengan istri saya?" tanya Leo dengan kesal
"Maaf pak Leo saya adalah suruhan dari desainer yang bapak tugaskan untuk menangani baju pernikahan pak Leo.," jawab lelaki tersebut
Mendengar jawaban dari pria tersebut membuat Leo malu lalu dia bergabung dengan Rara dan juga lelaki tersebut namun karena ada urusan pria tersebut pamit.
"Yah aku duduk dia pergi, apa sih maunya," gerutu Leo
"Ya karena urusannya udah selesai mas," sahut Rara lalu berjalan menuju ruangannya dan meninggalkan Leo
__ADS_1
Sontak Leo lalu beranjak dari tempat duduknya dan mengejar Rara
"Kamu kok ikut-ikutan dia ninggal aku," kata Leo kesal
Rara menoleh ke belakang dan menjulurkan lidahnya, Leo yang melihatnya menjadi gemas
"Awas ya setelah ketangkap," katanya lalu dia melangkahkan kakinya dengan cepat
Baru saja hendak menggapai gagang pintu, Leo sudah menangkap Rara. Dia menggandeng tangan Rara lalu masuk kedalam. Saat berada di dalam ruangan Leo memeluk Rara dengan erat.
"Aku kangen sayang," bisik nya
"Aku nggak," goda Rara
Leo sungguh kesal bisa-bisanya Rara nggak kangen padanya.
"Nggak boleh, kamu pokoknya harus selalu kangen padaku," sahutnya dengan terkekeh
"Ihhh maksa, orang nggak kangen kok disuruh kangen," goda Rara lagi yang membuat Leo semakin kesal
Tanpa aba-aba Leo menyambar bibir Rara, dia ******* habis bibir Rara. Lidah Leo mengeksplor rongga mulut Rara tanpa ada yang terlewat.
Akibat ulahnya Rara menjadi berhasrat, tangan Leo bahkan bergerilya kemana-mana. alunan suara merdu keluar dari bibir Rara.
Bibir Leo melukis senja di leher Rara dengan warna merah. Tangan Rara juga tergerak melepas kancing jas Leo
"Kamu mau apa sayang," tanya Leo
"Melepas jas mu mas," jawab Rara
Terlihat kalau dia sangat berhasrat.
"Kita belum menikah sayang," bisik Leo
Rara yang sadar pun bangun, lalu dia merapikan pakaiannya dengan Bibir yang maju ke depan
"Mangknya kamu jangan mancing-mancing mas, kalau kita khilaf dan gak bisa nahan bagaimana?" ucap Rara
"Ya bonus sayang," sahut Leo dengan terkekeh
"Maaassss Leoooo," teriaknya dan tanpa aba-aba Leo memeluknya
__ADS_1
"Pokoknya tahan dulu ya sayang, sampai tiga Minggu lagi." Kata Leo yang semakin erat memeluk Rara