
Leo dan Rara hanya makan di restoran yang ada di hotel, mereka masih malas untuk keluar hotel karena kelelahan.
"Setelah makan malam kita ke kamar lagi ya sayang," kata Leo dengan tersenyum
"Main lagi mas?" tanya Rara
"Ya iyalah sayang, kini nikmati bulan madu kita," sahut Leo dengan terkekeh
"Kamu nggak capek mas?" tanya Rara
"Kenapa? kamu capek ya sayang katanya mau melayani suami mu ini 24 jam nonstop, baru satu jam kok sudah lemas gitu," jawab Leo
Rara merespon kata-kata Leo dengan mencubit hidung Leo yang mancung.
"Aku bahagia mas, memiliki suami seperti kamu karena telah memberi nafkah batin yang luar biasa pada istrinya, tidak membiarkan istrinya kekurangan nafkah batin sedikitpun," kata Rara dengan tertawa
Leo ikut tertawa, dia sangat gemas dengan istrinya tersebut. Leo juga mengacak-acak rambut Rara sehingga pemilik rambutnya menjadi marah.
"Jelek mas," gerutu Rara
"Tetap cantik kok, dalam kondisi apapun istriku tetap selalu cantik," sahut Leo.
Mereka melanjutkan makan malam mereka lagi, Leo dan Rara nampak bahagia. Karena anggur di gelasnya habis Leo meminta lagi dengan memanggil pelayan dengan lambaian tangannya.
"ober, ik wil nog wat wijn" kata Leo
(pelayan, aku mau anggur lagi)
"Ja meneer" sahut pelayan tersebut
(baik tuan)
Pelayan masuk ke dalam untuk mengambilkan Leo anggur.
Tak selang beberapa lama dia kembali dengan sebotol anggur untuk Leo
"Met dank" kata Leo saat pelayan tersebut menyodorkan botol anggur pada Leo
(terima kasih)
"geen dank" sahut pelayan tersebut dengan membungkuk lalu pergi
(sama-sama)
Rara tersenyum sambil menatap Leo. Dia sangat kagum pada suaminya karena bisa berbahasa Belanda dengan fasih.
"Ada apa sayang?"
"Aku salut padamu mas tak ku sangka ternyata suamiku bisa bahasa Belanda," jawab Rara dengan pandangan masih ke wajah Leo
__ADS_1
"Wajar sayang, kan suamimu ini adalah seorang pebisnis jadi harus menguasai beberapa bahasa," sahut Leo
"Selain salut aku juga sedih mas," timpal Rara dengan raut wajah yang berubah
Melihat istrinya dengan raut wajah yang berubah membuat Leo panik,
"Kenapa sayang? ada masalah jika aku menguasai beberapa bahasa?" tanya Leo
"Nggak sih mas cuma aku sedih saja jika aku bertengkar denganmu pasti kamu akan mengolok olok aku menggunakan bahasa yang tidak aku mengerti," jawab Rara
Seketika Leo tertawa terbahak-bahak bagaimana bisa Rara memiliki pemikiran konyol seperti itu
"Trus?" tanya Leo lagi sambil menahan tawa
"Ya aku nggak bisa balas lah kan aku nggak ngerti," jawab Rara
"Kamu tu lucu sekali sih sayang, ya udah janji kalau berantem nggak akan menggunakan bahasa asing," sahut Leo
Rara tertawa begitu pula dengan Leo
Setelah makanan mereka habis, mereka kembali ke kamar hotel. Rara dan Leo merencanakan objek wisata mana yang akan mereka kunjungi besok.
"Besok kita ke Dam Square ya sayang," kata Leo
"Wisata apa mas itu?" tanya Rara
"alun-alun sayang," jawab Leo
"Ada kok sayang tapi besok jadwal kita ke alun-laun dulu ya, kita cari yang terdekat dahulu baru nanti kita pergi ke luar kota sekalian pindah hotel," timpal Leo
Rara mengangguk yang tandanya dia setuju dengan ide Leo.
"Di sana ada istana Koninklijk sayang yang memiliki nilai sejarah karena sudah ada sejak abad 17," kata Leo
"Kamu tahu sekali sayang," kata Rara
"Tempat favorit ku sayang ketika aku berada di Belanda," sahut Leo
Karena sudah malam akhirnya mereka mengakhiri diskusi mereka. Rara juga pergi mengganti pakaiannya dengan baju kurang bahan supaya Leo senang. Benar saja Leo yang melihatnya langsung beraksi tak hanya matanya bagian bawahnya menegang seketika.
"Kelihatannya kamu menggodaku sayang," kata Leo
"Memang iya lagian goda suamiku sendiri ga salah kan?" sahut Rara dengan tangan yang meraba-raba dada Leo yang putih tanpa bulu
Nggak mau berbasa-basi Leo langsung menyambar bibir Rara. Lagi-lagi kegiatan panas mereka terulang ke sekian kali. Leo dan Rara sama-sama dimabuk asmara yang satu lama tidak dijamah yang satu pengalaman pertama jadi n*a*f*s*u birahi mereka lagi kenceng-kencengnya.
Di sisi lain Vera dibawa ke suatu tempat oleh Reza,
"Turunlah Vera kita sudah sampai," suruh Reza
__ADS_1
"Tapi aku takut mas," sahut Vera
"Katanya kamu setuju, kamu mau tempat tinggal dan uang apa nggak?" tanya Reza kesal
"Iya," jawab Vera singkat lalu dia pun turun.
Reza pun mengetuk pintu, mereka berada di sebuah rumah mewah namun tertutup.
Seorang wanita membukakan pintu,
"Halo mami," sapa Reza
"Halo Reza," balas wanita yang dipanggil mami oleh Reza
Wanita tersebut menyuruh Reza dan Vera masuk, mami menatap Vera dari atas kebawah lalu dia tersenyum.
"Dia butuh tempat tinggal dan uang, jadi aku mengajaknya kesini," kata Reza
"Bagus," sahut mami
Reza memperkenalkan mami pada Vera, begitu pula sebaliknya.
"Kamu yakin ingin berkerja di tempat ini?" tanya mami
"Iya mi," jawab Vera singkat
Mami langsung menyuruh Vera untuk bekerja Reza juga di suruh mami untuk mengantar Vera ke kamarnya.
"Ingat Vera kamu sudah masuk tidak akan bisa keluar," kata Reza yang mendapat anggukan dari Vera
"Apa yang harus aku lakukan mas?" tanya Vera
"Ganti baju mu dengan baju kerja di sini," jawab Reza
Namun sebelum mengganti bajunya Reza menutup pintu kamar Vera, dia pun memeluk Vera dari belakang,
"Maukah kamu melayaniku sebagai tanda terima kasih karena aku telah memberimu pekerjaan?" bisik Reza dengan tangan yang meraba-raba tubuh Vera
Vera mengerang penuh nikmat jadi Reza nggak usah lagi menunggu ijin dari Vera karena sudah di pastikan Vera menginginkannya.
Setelah menikmati tubuh Vera, Reza keluar karena dia harus pulang. Dia janji akan datang kesini lagi keesokan harinya.
Seusai membersihkan diri Vera membuka pintu lemari untuk mengganti pakaiannya sesuai instruksi dari Reza.
Betapa kagetnya dia kalau pakaian yang dimaksud Reza adalah pakaian yang kurang bahan, lebih tepatnya dia seperti tidak memakai pakaian, karena seluruh tubuhnya terlihat.
Vera akan bekerja di sebuah bar elite yang tersembunyi dan yang datang adalah orang-orang yang berduit jadi wanita di sini benar-benar harus melayani para tamu oleh sebab itu mereka memakai pakaian yang minim bahan bahkan ada juga yang tidak memakai pakaian karena memakai pakaian atau tidak itu sama saja di tempat ini.
Dengan gugup Vera masuk dalam bar rahasia tersebut, meskipun rahasia ternyata bar tersebut sangat besar sekali.
__ADS_1
Tempat ini sangat rusak, baik tamu maupun para wanita malamnya hampir tidak memakai pakaian.
Baru saja melewati pintu, Vera sudah di raba-raba oleh orang asing awalnya dia risih namun lama-lama dia terbiasa.