
"Kita tinggal dulu mas, kasian Ilham jika kita langsung pulang." Renata memberi ide
"Baiklah tapi tak lebih dari tiga puluh menit," sahut Edward.
Pak penghulu diajak rembukan di dalam oleh mama dan papa Ilham terkait biaya yang tetap harus dibayarkan.
Ibu dan Ayah Arini juga ikut ke dalam sedangkan semua tamu sudah pada pulang.
Ilham duduk sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
"Aku ikhlas sekarang Arini, akan ku jalani hidupku tanpa kamu sekarang. Aku hanya bisa janjikan yang indah namun Pras lah yang datang membawa segalanya, sebesar apapun cinta yang aku punya kamu akan tetap memilih dia," Ilham bermonolog dengan dirinya sendiri menggambarkan betapa sakit dan kecewanya dia sekarang.
Tiba-tiba suara Pras menyahut
"Siapa bilang dia memilih aku, cinta dan sayangnya hanya untukmu Ilham. Aku telah salah membawanya lari,"
Ilham berdiri melihat Pras dan Arini yang berada di hadapannya.
"Maafkan aku mas," ucap Arini lalu memeluk Ilham
Ilham masih terpaku, dia tidak menerima atau menolak pelukan Arini.
Pikirannya kini bertambah kalut, bagaimana tidak nasib seolah mempermainkan dirinya.
Orang tua Ilham dan orang tua Arini keluar, ada sedikit kelegaan di wajah orang tua Ilham maupun Arini.
Karena tidak mendapat respon dari Ilham, Arini menatap Ilham
"Maafkan aku mas, kita masih bisa menikah kan?" tanya Arini
Ilham bingung, lalu dia menggandeng tangan Arini mendekat ke arah Pras yang bergabung dengan Edward dan lainnya.
"Pras, aku ingin memastikan semua sekarang. Arini apakah kamu mencintai Pras?" tanya Ilham
Arini menggeleng "Aku mencintaimu mas," jawab Arini
"Kamu yakin?" tanya Ilham penuh penekanan
"Pilihlah diantara kami mana menurutmu yang terbaik, aku pernah dilukai dan melukai. Keduanya sama-sama menyiksa oleh sebab itu sebelum kita menikah pikirkanlah terlebih dahulu mana yang terbaik untukmu, aku atau Pras." Ilham memberikan kesempatan pada Arini untuk memilih
Arini menghela nafas
"Aku memilihmu mas," sahut Arini
Flashback
"Berhenti mas! berhenti!" teriak Arini
"Kalau aku tidak mau," sahut Pras
"Aku akan nekat, lebih baik aku mati daripada harus menikah denganmu ," ucap Arini yang membuat Pras menepikan mobilnya
Arini menangis dengan terisak, dia memohon pada Pras supaya mengantarnya ke acara pernikahannya .
"Mas Pras, aku mohon padamu, kisah kita telah telah usai. Cintaku padamu sudah tidak ada lagi. Mengertilah," kata Arini
__ADS_1
Pandangan Pras jauh ke depan dia sungguh sakit akan kata-kata Arini.
"Kalaupun kita menikah dengan cara yang seperti ini, aku pastikan selamanya kamu hanya pemilik ragaku bukan hatiku," imbuh Arini
Pras masih terdiam, dia kini sungguh bingung harus bagaimana.
"Tapi aku sangat mencintaimu Arini," sahut Pras
"Ini bukan cinta mas, namun obsesi. Cinta itu nggak begini, jika kamu benar-benar mencintaiku kamu pasti akan merelakan aku bahagia mesti tidak bersamamu, sama seperti saat orang tua kamu memintaku untuk mengakhiri hubungan kita karena aku nggak mau kalau kamu dicap anak durhaka jadi aku mengalah mas," jelas Arini
"Lihatlah dirimu, kamu kaya, kamu hebat, kamu tampan pasti banyak yang akan mengantri untuk menjadi pasangan kamu," imbuh Arini
Pikiran Pras sungguh kemana-mana
Lalu dia melajukan mobilnya lagi, Pras hanya terdiam sedangkan Arini pasrah jika pernikahannya gagal dengan Ilham
Yang ada kini dia menyesali perbuatannya kenapa tadi pagi menemui Pras dengan sembunyi-sembunyi.
Arini menangis dengan isakan
"Diam lah Arini apa kamu nggak capek menangis dari tadi," kata Pras
Arini terus saja menangis hingga satu jam kemudian tangisnya terhenti karena Pras menghentikan mobilnya di depan sebuah masjid
Pras turun dan memutar membukakan pintu untuk Arini.
Pras menggandeng Arini
"Mas" panggilnya
Kini baik Pras dan Arini berdiri di depan Ilham yang bergumam sambil menyandarkan kepalanya di dinding.
Back
"Maafkan aku Ilham karena mencuri pengantin kamu," kata Pras
"Inginnya aku menghajar mu namun aku merasa sungkan dengan pak Edward.
Mereka semua tertawa mendengar kata-kata Ilham
Pras pun memeluk Ilham dan berbisik
"Aku titip Arini tapi jika kamu menyakitinya dan menyia nyiakannya seperti kamu menyakiti istri pertamamu maka aku akan membawa Arini pergi dan tak akan mengembalikannya padamu, ingat itu Ilham,"
"Pengalaman adalah guru terbaik Pras, kejadian masa lalu nggak akan pernah aku ulangi, aku sudah kehilangan dan tak ingin kehilangan lagi," sahut Ilham
"Baguslah kalau begitu," timpal Pras lalu melepas pelukannya.
Orang tua Ilham dan Arini memanggil Ilham dan Arini.
"Mereka ini jadi menikah apa nggak sih, malah mengobrol di sana" kata Mama Ilham
Semua masuk masjid, dan acara Ijab-Qabul pun dimulai
"Sudah siap?" tanya pak penghulu
__ADS_1
"Siap pak," jawab Ilham
Ijab-Qabul berlangsung dengan lancar, Ilham juga lancar mengucap Qabulnya
"Sah" kata penghulu
Beberapa saksi yang terdiri dari Edward, Ray, Leo, Pras dan juga Renata berteriak sah
Edward memeluk adiknya dan mengelus dada Pras.
"Aku salut padamu Pras, tak ku sangka adik yang sangat menyebalkan hari ini dewasa sekali," kata Edward
"Iya lah kak," sahut Pras
Mereka semua tersenyum,
"Akhirnya menikah juga dia," kata Ray
"Iya kak Ray, pertanyaannya sekarang kapan kak Ray menikah, Ilham saja menikah tiga kali, Edward menikah dua kali, tinggal kamu dan Pras yang belum menikah terlebih dirimu yang sudah tua," ledek Leo sambil terkekeh
"Brengsek kamu Leo, lihatlah sebentar lagi aku akan membawakan kakak ipar untukmu," kata Ray kesal
"Ditunggu berita baiknya kak, jangan lama-lama ya keburu Leora dan Liora besar." Leo terus saja meledek kakaknya hingga Ray kesal sekali dengan Leo.
Seusai sah Ilham dan Arini ikut bergabung dengan Ray dan kawan-kawan.
Renata memberikan kadonya pada Arini dan juga Ilham
"Ini kado buta kalian semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah ya," doa tulus Renata
"Selamat ya Ilham dan Arini," kata Edward
"Untuk kalian berdua, kadonya nanti kami transfer kirim saja nomor rekening dan tulis berapa nominal yang kalian inginkan," ucap Ray
"Pak Ray baik sekali, benar ni berapa pun nominalnya akan dikirim," sahut Ilham
"Tentu," timpal Ray
"Lumayan sayang kita bisa melunasi cicilan rumah," cicit Leo dengan tertawa
Ray melemparkan tatapan tajamnya pada Ilham
"Lihatlah Edward, asisten mu ngelunjak sekali." Ray kesal dengan Ilham
"Tapi nggak papa kalau sertifikat rumahnya buat diriku," imbuh Ray dengan tertawa
Mereka semua tertawa bersama, hingga menarik perhatian mama dan papa Ilham
"Eh nak Leo," sapa mama
"Iya Tante" sahut Leo
"Kenalin ma, ini atasan Ilham pak Edward dan ini istrinya sedangkan ini pak Ray Kakak dari pak Leo dan ini Pras adik dari Pak Edward," kata Ilham
Mama dan Papa menyalami tamu Ilham , mereka juga berterima kasih pada mereka karena masih menunggu di sini.
__ADS_1