
Saat Leo membuka pintu kamar dia melihat Rara meringkuk di tempat tidur sambil terisak.
Dengan rasa bersalah dia mendekat lalu duduk di tepi ranjang sisi Rara. Tangannya membelai rambut hitam Rara, seperti anak kecil Rara mengeraskan tangisannya.
"Kok semakin keras sih sayang?" tanya Leo
"Biar kamu dengar," jawab Rara
"Besok lagi nangisnya di silent ya," kata Leo
Rara yang kesal pun membalikkan badannya, ingin sekali dia memukul Leo, istri menangis bukannya di hibur atau apa malah digoda.
"Maaf ya sayang," kata Leo dengan menatap istrinya
"nggak, aku nggak papa mas kalau kamu marah ma aku tapi yang membuat aku nggak terima tu kamu mengadukan aku pada mama. Aku kan malu mas, dikiranya aku ini istri pemarah, istri yang keras kepala, istri yang nggak nurut dan lain-lain," jelas Rara
"Janji gak gitu lagi," sahut Leo
"Ya udah bentar," ucap Rara lalu dia mengambil ponselnya
Leo pun bingung untuk apa Rara mengambil ponselnya.
"Sekarang mas Leo janji ma aku kalau nggak akan mengulangi kesalahan mas Leo lagi," suruh Rara sambil bersiap untuk merekam Leo
Leo terbelangak tak percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Rara,
"Apa-apaan sih sayang, untuk apa direkam?" tanya Leo heran dengan istrinya tersebut
"Buat barang bukti mas, siapa tau mas Leo ingkar janji," jawab Rara
Lagi-lagi Leo dibuat frustasi dengan kelakuan Rara yang semakin kesini semakin menjengkelkan.
Dengan mengikuti kata-kata Rara, Leo mengucap ikrar nya yang berisikan
"Saya Leo pihak kesatu tidak akan mengulangi kesalahan saya yang membuat pihak kedua yang tak lain istri saya menangis. Jika saya mengingkari janji saya pihak kedua boleh marah sepuasnya bahkan berhak mencabut jatah tidur dalam kurun waktu yang ditentukan," ucap Leo
Dia sungguh geleng-geleng kepala bingung dengan sikap Rara, entah anak seperti apa yang ada di dalam kandungan Rara.
Setalah mengucap ikrar nya Leo memeluk istrinya dan berkata
"Jadi ikut?" tanya Leo
"Boleh?" tanya Rara dengan ekspresi senang
"Boleh sayang, tapi bawa bantal dan guling ya supaya kamu bisa istirahat di kantor," jawab Leo
"Siap mas," sahut Rara dengan wajah yang sangat bahagia.
Melihat Rara bahagia, Leo pun tersenyum
__ADS_1
"Ternyata bahagia versi kamu tu simpel banget ya sayang, tidak seperti wanita lainnya," batin Leo lalu mengecup kening istrinya.
Leo membawa bantal dan guling sehingga tidak bisa menggendong Rara
"Hati-hati sayang, pegangan." Kata Leo
"Iya-iya mas, serahkan pada ahlinya," sahut Rara
"Ahlinya apa, tadi saja mau jatuh untung ada aku," timpal Leo
Rara terkekeh mendengar kata-kata Leo
"Maklum mas, ada kesalahan teknis," kekeh Rara
Mama yang melihat Leo membawa bantal dan guling pun bertanya,
"Untuk apa bantal dan guling Le? mau kamu lelang?" tanya mama
"Mama mama, siapa juga yang mau beli g
bantal dan guling Leo. Ini untuk Rara supaya bisa istirahat di kantor sambil nungguin Leo kerja," jawab Leo
"OOO gitu, ya sudah hati-hati ya." kata Mama dengan tersenyum sambil geleng-geleng kepala
Mama menatap punggung anak dan menantunya tersebut, tingkah mereka ada-ada saja.
Kali ini Leo meminta bantuan sopir untuk membawa mereka ke kantor setelah di kantor Leo juga meminta bantuan sopirnya untuk membawakan bantal serta guling ke dalam ruangannya.
Setalah di ruangannya, Leo menata bantal dan guling supaya Rara istirahat dengan nyaman.
"Kamu istirahat ya sayang, aku kerja dulu," kata Leo
Tak lupa dia mengelus perut Rara yang masih datar
"Hallo baby twins papa, bagaimana di dalam sana? pasti gelap. Oh ya jangan rewel ya sayang papa kerja dulu," ucap Leo lalu mencium perut Rara tak lupa keningnya juga.
Rara sangat bahagia mempunyai suami seperti Leo, Rara sungguh mendapat paket lengkap.
*********
Selepas pulang kerja Edward merasa sangat pusing dengan permasalahannya.
Masalah di kantor maupun masalah di rumah.
Sebelum pulang dia mampir dulu di sebuah bar yang tak jauh dari kantornya. Edward menghabiskan waktu di sana sejenak sambil minum untuk melupakan masalahnya.
Edward sedikit mabuk karena minuman yang dikonsumsinya. Puas minum Edward berniat pulang namun betapa kagetnya dia kalau tiba-tiba hujan turun dengan deras.
Dengan sedikit sempoyongan Edward menuju mobilnya, meskipun dalam pengaruh minuman keras Edward masih bisa menyetir.
__ADS_1
Hujan semakin lama semakin deras, Edward yang sudah sampai di rumahnya harus berbasah-basah ria menuju rumah.
Ting Tong
Suara bel berdenting, Vera yang kebetulan berada di ruang tamu pun beranjak untuk membukakan pintu.
Betapa kagetnya dia melihat kondisi Edward yang sempoyongan dan juga basah.
"Mas, kamu Kon basah semua?" tanya Vera khawatir
"kehujanan," jawab Edward singkat
"Kamu mabuk mas?" tanya Vera lagi
"Iya, tapi aku masih sadar," jawab Edward
Vera membantu Edward masuk namun Edward meminta Vera untuk membawanya ke kamar lain karena dia tidak ingin Renata tau kalau dirinya mabuk.
"Bagaimana kalau kamar saya?" tanya Vera
"Terserah kamu saja Renata," jawab Edward
Kesadaran Edward sudah menurun bahkan kini Edward sudah berbicara asal.
"Aku kecewa padamu sayang, kamu telah memaksaku untuk menikah lagi, padahal kamu tau kalau aku sangat-sangat mencintaimu," kata Edward mencoba mengeluarkan unek-unek yang beberapa bulan di simpan rapat-rapat.
"Maafkan aku mas," sahut Vera
Tanpa aba-aba Edward membawa Vera ke tempat tidur, dia langsung mencium Vera namun Vera menggigit bibir Edward sehingga Edward melepas pautannya.
"Mas aku Vera bukan Renata," kata Vera sedikit menjauh
Edward sungguh sudah tidak sadar sehingga tidak bisa membedakan antara Vera dan Renata.
Akhirnya hal-hal yang tidak diinginkan oleh Vera maupun Edward pun terjadi.
Setelah puas Edward langsung tidur, Vera menutupi tubuh Edward dengan selimut.
Sedangkan Vera beranjak untuk membersihkan diri lalu tidur dengan posisi membelakangi Edward.
Air mata Vera lagi-lagi tumpah, dia merasa sama seperti saat dia berada di tempat hiburan.
Bahkan ini lebih menyakitkan, meskipun Edward bermain lembut tapi dia selalu menyebut nama Renata, saat dia mendapatkan pelepasannya lagi-lagi nama Renata keluar dari mulut Edward.
"Aku berusaha menjadi hamba yang baik tapi kenapa engkau masih tidak adil padaku," gumam Vera sambil mengusap air matanya
Lama setia dengan pikiran kalutnya, akhirnya Vera terlelap juga.
Tak terasa waktu terus berjalan hingga tak terasa sayup-sayup suara adzan terdengar oleh indra pendengaran Vera namun saat menoleh dia sudah tidak mendapati Edward di sampingnya.
__ADS_1
"Mas Edward kemana?" batin vera