Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Ini semua gara-gara kamu mas


__ADS_3

"Suka ngga suka, rela nggak rela, ikhlas nggak ikhlas kamu harus merelakan dan mengikhlaskannya, cinta sejati itu adalah melihat orang yang kita cintai bahagia meski tak bersama kita," sahut Ilham


"Dalam sekali Ilham," timpal Pras


"Aku pernah terluka dan melukai Pras, seandainya hatiku bisa dikeluarkan pasti banyak jahitannya, haha" ucap Ilham sambil tertawa


Mereka berdua akhirnya tertawa, Edward yang sudah siap pun keluar, betapa kagetnya dia melihat Ilham dan Pras tertawa bersama


Di atas kepala Edward muncul berbagai tanda tanya


"Kemarin saling membogem sekarang sudah akur dan tertawa bersama," batin Edward


"Tapi di tinggal mati belum pernah ngalamin," imbuh Ilham yang membuat Edward tersindir


Mereka tertawa lagi, sehingga membuat kesal Edward


Ilham tidak bermaksud menyindir Edward karena dia sendiri tidak tau kalau Edward berdiri di belakang dirinya dan Pras.


"Jangan menyindirku Ilham," sahut Edward dari belakang


Ilham dan Pras menoleh


"Maaf pak Edward saya tidak bermaksud menyindir pak Edward, saya dan Pras saling cerita saja," bela Ilham


"Ya sudah ayo berangkat," pinta Edward


"Kamu nggak ke kantor Pras?" tanya Edward dengan menghentikan langkahnya


"Kayaknya nggak mas, aku sakit soalnya," jawab Pras


Edward mengerutkan alisnya, dilihat dari fisiknya dia baik-baik saja


"Memangnya sakit apa?" tanya Edward


"Sakit hati kak, sudah stadium akhir," jawab Pras dengan terkekeh


"Alhamdulillah bearti segera mati," sahut Edward lalu masuk mobil


Mendengar kata-kata Edward Pras sangat kesal, dia pun merutuki kakaknya


"Dasar kakak durhaka bisa-bisanya mendoakan adiknya cepat mati, awas kau kak,"


Pras masuk kedalam, lalu dia kembali ke kamarnya untuk bersiap pergi dari rumah Edward.


"Kamu nggak sarapan Pras?" tanya Renata saat Pras hendak pergi


"Nggak kakak ipar, aku terburu-buru soalnya," alasan Pras.


*******


Di sisi lain, usia kandungan Rara lebih dari sembilan bulan namun dia masih belum merasakan tanda-tanda akan melahirkan.


"Kok aneh ya, kenapa aku belum ada tanda-tanda melahirkan, padahal seharusnya sudah waktunya melahirkan bahkan lebih," gumam Rara


Dengan kandungan yang semakin membesar sudah membuat Rara sulit untuk berjalan.


Dia pun menghubungi Leo supaya nanti jam makan siang dia pulang dan mengantarnya ke rumah sakit.


Rara berjalan ke luar kamar tapi baru saja berjalan dia merasakan kontraksi, Rara berpegangan pada dinding menahan sakit perutnya.


Tiba-tiba Rara ingin buang air kecil sehingga dia masuk lagi ke kamar untuk ke buang air.

__ADS_1


Saat di kamar mandi keluar lendir bercampur darah.


Rara yang tidak paham hal ini segera menghubungi Leo namun tidak di angkat oleh Leo.


Saat lendir keluar Rara sudah tidak merasakan sakit lagi,


Dia keluar untuk mencari mama mertuanya.


"Mama kemana ya kok nggak ada," gumam Rara


Setelah mengalami kontraksi tadi, Rara nggak merasakan sakit lagi, namun dia tetap cemas karena tidak tau menahu soal lahiran.


Rara duduk di sofa sambil membaca info seputar melahirkan,


"Oo jadi aku tadi mengalami pembukaan pertama, dan untuk ke pembukaan kedua butuh waktu yang cukup lama," gumam Rara lalu melanjutkan membacanya.


Asik membaca Leo telpon


"Ada apa sayang," Leo


"Aku tadi kontraksi mas," Rara


"Lalu gimana?" Leo


"Udah nggak papa kok mas, pembukaan pertama," Rara


Rara mengobrol sambil menjelaskan ilmu baru yang di dapatnya dari Internet.


Karena sudah tau jawabannya, Rara mengurungkan niatnya untuk ke dokter,


Kini Rara berjalan ke kamar bayinya kelak, nampak barang-barang bayinya, warna kamar masih polos masih belum di wallpaper karena dia masih belum tau kelamin bayinya.


Puas melihat kamar anaknya Rara kembali ke kamar, lalu istirahat.


Sore hari datang begitu cepat, Leo yang menyelesaikan pekerjaannya segara pulang karena khawatir dengan kondisi istrinya.


Ceklek


Leo membuka pintu kamarnya.


Saat pintu dibuka, Leo melihat Rara tidur miring ke kanan.


"Sayang," panggil Leo menghampiri Rara


"Mas Leo," sahut Rara


"Apa nggak sebaiknya kita ke rumah sakit sayang, aku takut terjadi apa-apa dengan anak kita," timpal Leo


"Besok saja ya mas, tadi aku sempat baca biasnya proses ke pembukaan ke dua lumayan jauh," ucap Rara mencoba menghibur Leo


"Baiklah kalau begitu sayang," kata Leo dengan mengecup Rara sekilas


Sehabis makan malam, Rara langsung masuk ke kamar sedangkan Leo dan Ray mengobrol di luar.


"Bagaimana kak proyek kita?" tanya Leo


"Bagus Le, berjalan lancar," jawab Ray


"Kakak lama nggak ke Jakarta," tanya Leo lagi


"Sekalian menyelesaikan yang di sini dulu, di Jakarta sudah ada yang handle lagipula aku masih bisa memantaunya dari sini," jawab Ray

__ADS_1


Leo dan Ray menikmati indahnya malam di taman di temani secangkir kopi dan juga rokok, inilah kenikmatan tiada tara bagi lelaki.


Mereka asik mengobrol hingga pukul sebelas malam.


Rara harus terbangun karena perutnya sakit lagi, dengan memegangi perutnya yang sakit Rara turun mencari Leo.


"Mas," panggilnya dengan lirih karena dia menahan sakit


Karena tak kuat menahan sakitnya Rara, terduduk di lantai sambil berteriak. Leo yang duduk di taman tentu tidak mendengat teriakan Rara.


Art yang tidak sengaja ingin ke dapur mendengar teriakan Rara.


Aauuuwwww


pekiknya kesakitan


"Sakit," rintihnya


Art yang tau kalau Rara kesakitan segara berteriak minta tolong karena teriakan yang keras, Leo pun mendengarnya


"Ada apa kak Ray," tanya Leo lalu dia berlari masuk


"Sayang," panggil Leo lalu mendekat


"Sakit mas," rintihnya


Dengan diantar Ray, Leo membawa Rara ke rumah sakit.


Leo segera memanggil suster untuk membantunya membawa Rara.


Rara langsung dilarikan ke ruang UGD,


"Siapkan kamar bersalin, kelihatannya ibu ini akan segera melahirkan," perintah dokter


Dokter bertanya pada Rara, melahirkan dengan atau tanpa suami, dan Rara ingin ditemani suaminya.


Dokter memanggil Leo, di dalam Leo terus saja mengelus punggung Rara, hingga satu jam Leo tidak boleh melepaskan tangannya dari punggung Rara.


Suster mengecek pembukaan namun masih belum lengkap buka sepuluh


Karena tidak kuat, Rara terus mengejan hingga dokter memarahinya


"Tahan Bu Rara, jangan mengejan dulu kasihan bayinya jika anda mengejan, kepalanya akan panjang seperi buah pepaya." Sang dokter melarang Rara


Kini tiba saatnya Rara melahirkan, Leo nampak gugup sebenarnya dia sendiri takut.


Dokter menyuruh Rara untuk mengejan,


"Semangat sayang, aku disini," kata Leo mencoba memberi dukungan istrinya


"Apanya yang semangat ini semua karena kamu mas, coba kalau kamu tidak menggagahi ku pasti aku nggak kesakitan seperti ini," kata Rara mulai ngelantur karena kesakitan


"Maaf sayang, tapi kamu juga menikmati kan?" sahut Leo


"Enak kok," timpal Rara


Dokter dan beberapa suster ikut tertawa mendengar ocehan Rara dan Leo.


Oh ya kak, untuk usia kandungan Rara, Udah aku ralat ya, dulu aku tulis kalau usia kandungan Vera 6 Minggu, jadi aku ralat 8 Minggu yang berarti Rara hamil usia 4 bulan Vera dua bulan.


makasih kak dan mohon maaf,😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2