Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Kesal dengan Vera


__ADS_3

Setelah kematian anaknya Vera bukannya sadar dia malah semakin menjadi. Kerjaannya di rumah hanya bermalas-malasan sehingga membuat Ilham stres. Karena tidak ada lagi yang membersihkan rumah dan menyiapkan makanan, Ilham rencananya akan mencari art.


"Vera semakin kesini kelakuan kamu semakin menjadi, kalau kamu begini terus mau dibawa kemana rumah tangga kita?" tanya Ilham dengan raut wajah yang lelah sepulang kerja


"Bodoh, aku bukan pembantu kamu ya mas yang harus mengerjakan ini dan itu," jawab Vera


"Tapi ini semua tugas kamu Vera, seorang suami kerja sedangkan istri mengurus rumah, siapa yang menganggap kamu sebagai pembantu," sahut Ilham


"Kamu bisa mengambil pembantu mas," timpal Vera


"Baiklah, tapi mobil aku jual untuk membayar hutangku di kantor," kata Ilham lalu dia pergi masuk ke kamar untuk membersihkan diri


Ilham sungguh kesal sekali dengan Vera, sulit sekali diatur dan dia bersikap seenaknya sendiri.


"kalau begini terus mau dibawa kemana rumah tanggaku," gumam Ilham


Tiba-tiba Ilham rindu pada orang tuanya, semenjak kejadian itu orang tua Ilham yang kecewa dengan Ilham tidak mau menginjakkan kaki mereka di rumah Ilham.


Tanpa pamit pada Vera, Ilham keluar. Dia berniat untuk pergi mengunjungi orang tuanya.


Satu setengah jam perjalanan akhirnya dia sampai di rumah orang tuanya.


"Assalamualaikum ma, pa," salam Ilham sambil mengetuk pintu


"Waalaikum salam," terdengar teriakan dari dalam.


Mama Ilham membuka pintu rumahnya, dia sangat kaget ternyata Ilham yang datang.


Mama mempersilahkan Ilham masuk lalu kedalam memanggil papa.


Setelah papa dan mamanya datang Ilham memeluk mama dan papanya dan meminta maaf atas kesalahannya.


"Mama dan papa benar, Rara adalah yang terbaik namun dengan kejam Ilham menyakitinya, Ilham telah membuang berlian demi sebuah batu kali ma, pa," kata Ilham


Mama Ilham mengelus punggung Ilham seraya berkata


"Sudahlah Ilham, semua sudah terjadi. Rara juga sudah menemukan kebahagiaannya, yang penting sekarang kamu mau berubah jangan sampai kamu mengulanginya lagi untuk kedua kalinya," sahut mama


"Iya ma," timpal IlhamĀ 


Mama dan papa Ilham belum tau kalau cucu mereka meninggal pasalnya Ilham tidak memberitahu mereka.


"Bagaimana kabar Vera dan bayi dalam kandungannya?" tanya papa


Ilham terdiam mendengar pertanyaan papa wajahnya seketika berubah.


Mama dan papanya yang melihat Ilham saling pandang sambil mengangkat bahu mereka.


"Bayi Ilham meninggal ma, pa," jawab Ilham

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi rojiun, kenapa Ilham?" tanya mama kaget begitu pula dengan Papa


"Berat badan bayi Ilham kecil sekali pa dan dia tidak mampu bertahan." Ilham menjawab sambil menundukkan kepalanya


"Lalu bagaimana dengan ibunya?" tanya papa


"Alhamdulillah selamat pa," jawab Ilham


Mama dan papa lega karena tidak terjadi apa-apa dengan Vera.


"Ini teguran buat kalian, demi ingin mendapatkan anak kamu menzalimi Rara. Batinnya kamu siksa tanpa belas kasihan," kata mama


"Bahkan dengan tega kamu membawa Vera tinggal satu atap dengan Rara dan lebih parahnya lagi kamu selalu tidur bersama Vera, mama yang tidak merasakannya saja bisa merasakan sakitnya apalagi Rara," imbuh mama dengan mata yang basah


Ilham hanya menunduk, memang setelah Rara pergi dia sangat menyesal, hatinya begitu sesak mengingat Rara, apalagi mengingat ketika dia menyiksa Rara lahir dan batin rasanya Ilham ingin bersimpuh di hadapan Rara dan memohon ampunan padanya.


"Iya ma, kini Ilham hidup bersama dengan penyesalan Ilham yang begitu dalam, bahkan Tuhan pun seolah benci dengan Ilham." Ucap Ilham


"Tuhan tidak pernah membenci hambanya, Tuhan hanya ingin hambanya sadar dan menyesali perbuatannya serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi," sahut papa


Ilham mengangguk, karena dia sudah lapar dia pun meminta makan pada mamanya.


"Mama masak apa?" tanya Ilham


"Kamu belum makan?" tanya mama balik


Setelah siap mama memanggil Ilham, terjadilah obrolan antara mama dan Ilham


"Apa Vera tidak masak sehingga kamu belum makan?" tanya mama


Ilham hanya menggeleng, lagi-lagi mama menghela nafas


"Yang sabar ya Ilham, inilah keputusan yang kamu ambil sendiri," kata mama lalu meninggalkan Ilham yang sedang makan di ruang makan.


Setelah makan, Ilham ijin pada orang tuanya untuk menginap karena dia malas untuk pulang.


"Lalu bagaimana dengan Vera Ilham?" tanya mama


"Biarin ma, sekali-kali Ilham harus keras padanya, selama ini Ilham terlalu memanjakannya dan selalu menuruti keinginannya ma," jawab Ilham


"Ya sudah, kamu yang lebih tau daripada mama. Mama hanya bisa berdoa untuk kebahagiaan kalian," sahut mama sambil menepuk bahu Ilham


Disisi lain Vera sangat kesal karena Ilham meninggalkannya sendiri di rumah.


"Kemana sih mas Ilham, sudah jam segini belum pulang," gerutu Vera


Vera berkali-kali menelpon Ilham namun ponsel Ilham berada di luar jangkauan.


Karena lelah menunggu, Vera berusaha memejamkan matanya dan akhirnya dia bisa terlelap.

__ADS_1


Berbeda dengan Rara dan Leo, mereka berdua sibuk mempersiapkan pernikahan mereka yang tinggal menghitung hari.


Hingga tengah malam mereka berdua masih berdiskusi.


Dan kini Leo bertanya tentang bulan madu pada Rara


"Sayang setelah menikah kita bulan madu kemana?" tanya Leo


"Halah mas, bulan madu di rumah saja udah cukup, lagipula rasanya juga sama," jawab Rara


"Beda dong, aku sama Ilham tentu berbeda," sahut Leo tak terima


Bukan begitu mas maksud aku, kita bulan madu di mana saja tetap sama kan intinya kita gituan juga," timpal Rara


"Suasananya berbeda sayang, lagipula aku ingin fokus dengan malam-malam kita," kekeh Leo


Rara hanya menggelengkan kepala,


"Ya ya," kata Rara pasrah


"Kamu setuju nggak kalau kita bulan madu ke Eropa nanti kita bisa keliling," kata Leo


"Ok mas Leo sayang, aku nurut saja asal bersama mu," timpal Rara


Rara tersenyum lalu dia beranjak memberesi kertas-kertas yang berserakan di meja.


Saat asik beberes Leo bertanya


"Kamu kuat berapa ronde sayang?" tanya Leo


Rara yang kaget melebarkan matanya, tak menyangka Leo bertanya hal itu.


"Sangat kuat mas, paling kamu yang keok melawan aku," jawab Rara asal


"Benarkah?" tanya Leo tak percaya


"Ya kita lihat nanti saja lah mas, kamu atau aku yang keok, secara kamu kan belum berpengalaman," jawab Rara sambil terkekeh


"Jangan menghina ya, walaupun belum berpengalaman tapi aku nggak kalah dengan mereka yang sudah berpengalaman," sahut Leo tak terima


"Kita lihat saja nanti ya," ujar Rara lalu menuju tempat tidur karena dia sangat lelah


"Lo kok mapan, ngobrolnya belum selesai Lo sayang." Leo protes lalu menyusul


Leo merebahkan dirinya di samping Rara dan terus bicara sehingga Rara yang kesal menutup mulut Leo dengan tangannya dan berkata


"Hus, dah malam saatnya tidur."


Rara akhirnya memejamkan meninggalkan Leo yang masih terjaga.

__ADS_1


__ADS_2