
"Mas Ilham kamu sekarang kerja bersama suami Vera?" tanya Rara
"Jadi pak Edward suami Vera?" tanya Ilham balik
Vera semakin menunduk, sebenarnya dia malu dengan statusnya yang menjadi istri kedua dari Edward, lebih tepatnya istri kedua yang di nomor duakan tidak seperti dia dulu kedua tapi di nomor satukan.
"Kalian sudah saling mengenal?" tanya Edward bingung.
"Kami semua sudah saling kenal Edward, kan Ilham dulu bekerja di kantor Leo jadi terkadang kami bertemu," jawab Ray
"Dunia memang tak selebar daun kelor ya," sahut Edward dengan tersenyum
"Betul mas sehingga dimana pun kita berada bayang masa lalu seakan tak ingin berpisah selalu saja menghantui seperti hantu," sahut Vera dengan nanar
"Dalam sekali kata-katamu Vera," timpal Ray
Vera, Rara dan Ilham tersenyum kecut, karena apa yang dikatakan Ray benar adanya.
"Yang sip ya kamu Edward, memiliki dua istri dan bisa membuat mereka akur, bagi ilmunya dong," goda Ray yang membuat Edward dan Renata tersedak
Edward mengambil minum, begitu pula dengan Renata.
"Kuncinya ya adil," sahut Edward asal
Mendengar kata adil membuat Vera sedikit terusik pasalnya tidak ada keadilan sama sekali untuk dirinya apalagi akan dibuang saat sudah melahirkan nanti.
Netra Vera menatap Rara, mungkin seperti ini yang Rara rasakan dulu bahkan mungkin jauh lebih menyakitkan.
Rara juga merasa terusik dengan kata adil, itulah kata yang selalu Ilham ucapkan dulu yang tidak pernah dia tepati.
Vera, Rara dan Ilham saling menatap dengan pikiran kalut kemana-mana, masa lalu mereka seolah dikuliti disini
Ray yang seolah tau apa yang dipikirkan tiga manusia ini berceloteh
"Pikiran kalian pasti sedang bernostalgia sekarang,"
Seketika enam netra menatap tajam dirinya,
"Kayake aku salah ngomong," ucap Ray sambil terkekeh.
Vera yang tidak tahan pun mengundurkan dirinya
"Mohon maaf saya permisi dulu," kata Vera dengan raut wajah yang tidak karu-karuan
"Mau kemana Vera, makan kita belum selesai," cegah Renata
"Kalian lanjut saja, aku merasa tidak enak badan," kata Vera berbohong
Edward yang tidak tega melihat Vera pulang sendiri menyuruh Ilham untuk mengantarnya pulang.
"Ilham kejar dia dan antar pulang," suruh Edward
Ilham pun melaksanakan perintah Edward ,dengan langkah cepat dia menyusul Vera yang lebih dulu keluar resto.
"Vera," panggil Ilham
__ADS_1
Vera menghentikan langkahnya dan menoleh,
"Ada apa?" tanya Vera sambil menghapus air matanya
"Aku antar pulang," jawab Ilham
Vera menunggu Ilham yang mengambil mobilnya di parkiran.
Dalam mobil Vera hanya terdiam, dia berkali-kali menghapus air matanya yang terus mengalir
"Kamu kenapa menangis?" tanya Ilham
"Nggak papa mas," jawab Vera
"Tau kalau kamu istri kedua pak Edward jujur aku kecewa Vera, kenapa kamu nggak mencari laki-laki yang belum beristri sebagai mangsa kamu," kata Ilham
Kata-kata Ilham sungguh bagai sembilu yang mencabik hati Vera,
Mendengar kata Ilham, Vera hanya tersenyum kecut sambil berkata "Semua ada alasannya mas,"
"Alasan apa? kamu memang sengaja mencari laki-laki yang beruang kan? supaya bisa memenuhi ***** dunia mu itu, seperti kamu tidur dengan Ray dulu!" nada Ilham sedikit tinggi
Lagi-lagi Vera tersenyum kecut, sakit hatinya dituduh seperti itu
"Dulu aku memang bejad, namun kali ini aku tidak seperti yang kamu tuduhkan mas, semua aku lakukan untuk membalas Budi pak Edward, asal kamu tau mungkin setelah aku melahirkan anak yang dalam kandunganku ini, aku akan dibuang oleh mereka." Jelas Vera
Ilham terkejut mendengar penuturan Vera, dia sungguh tak menyangka Edward dan Renata tega berbuat seperti itu.
Ilham menatap sekilas mantan istrinya nampak kesedihan di wajah Vera, matanya juga memancarkan kejujuran tanpa rekayasa
"Maafkan aku Vera," kata Ilham menyesal
"Aku yang harus memohon ampunan mu mas, karena telah menyakiti kamu," imbuh Vera
"Aku memaafkan mu Vera, mudah-mudahan dengan saling memaafkan begini hidup kita akan menjadi berkah dan indah kedepannya" timpal Ilham
Vera tersenyum lalu melemparkan tatapannya ke depan begitu pula dengan Ilham.
Vera lega sekarang karena ilham telah memaafkannya, beban hidupnya seolah berkurang.
Hening
Hingga suara Ilham membuat Vera meninggalkan lamunannya
"Aku akan menikah Vera," kata Ilham
"Wah, Alhamdulillah ya mas, semoga kamu bahagia mas," doa Vera tulus untuk Ilham
Ilham tersenyum mendengar doa Vera.
******
Rara dan Ray sudah kembali ke cafe, Rara bergegas ke ruangannya untuk mengambil ponsel yang tertinggal.
Terlihat banyak panggilan Video tak terjawab dan juga beberapa pesan.
__ADS_1
Rara mencoba menghubungi Leo lagi namun tidak diangkat. Rara juga mengirimkan pesan pada Leo
Rara menjadi gusar karena tidak ada balasan dari Leo
"Mungkin mas Leo sibuk" batin Rara mencoba menghibur dirinya sendiri
Ray yang ada urusan pun harus keluar
"Ra, aku ada urusan sebentar. Kamu mau disini atau pulang?" tanya Ray
"Aku disini saja dulu mas," jawab Rara
"Ya sudah nanti aku jemput," sahut Ray.
Waktu terus berlalu hingga sore tiba namun Leo tak kunjung membalas pesan maupun Video call Rara
"Mas kamu di mana sih mas," gumam Rara mulai khawatir
Leo meninggalkan ponselnya di kamar hotel karena sedikit kesal dengan Rara. Karena urusannya banyak hingga tengah malam Leo baru kembali ke kamar hotelnya
Terlihat Rara mulai marah dengan Leo, Rara juga mengirimkan pesan yang memicu pertengkaran.
Leo yang sudah capek mendapat pesan yang tidak mengenakkan dari Rara langsung memicu emosinya
Dia mengirimkan pesan pada Rara
"Kamu wanita paling egois, hanya ingin menang sendiri tanpa memikirkan perasaan pasanganmu,"
Sebuah pesan yang mampu menusuk hati.
Pagi hari saat Rara baru bangun, dia langsung menyambar ponselnya, tak ada panggilan namun hanya satu pesan yang cukup membuat hari Rara bercampur-campur rasanya.
Air matanya meleleh, dia pun menghubungi Leo berkali-kali namun tidak diangkat.
"Mengapa jadi begini?" gumam Rara
Dia sungguh menyesal,
Karena panggilan yang tidak kunjung dijawab Rara mengirim pesan singkat untuk Leo
"Aku memang pasangan yang egois dan ingin menang sendiri, maafkan aku jika sikapku yang seperti itu menyakitimu mas.
Please forgive me,"
Rara bangun dari tempatnya lalu berjalan ke kamar mandi, rencananya dia akan ke cafenya untuk menyibukkan diri supaya tidak kepikiran Leo terus.
Setelah siap dengan outfit nya Rara keluar kamar.
Di meja makan sudah ada Ray dan mama yang sudah menunggu Rara untuk sarapan
"Bumil cantik ayo sarapan dulu," ajak Ray
"Rara sarapan di cafe saja kak Ray, pagi ini mau ngasih briefing para pegawai," kata Rara berbohong
Rara mencium punggung tangan mama mertuanya dan juga kakak iparnya.
__ADS_1
"Apa perlu aku antar?" tanya Ray menawarkan diri
"Nggak usah kak Ray" jawab Rara menolak