Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Kerelaan Ilham


__ADS_3

Rara dan Ilham saling pandang, mata Ilham menunjukkan kesedihan namun dia masih bisa tersenyum.


Leo yang tau kalau Ilham dan Rara saling pandang pun mengeratkan rangkulannya pada Rara yang mengisyaratkan pada Ilham kalau Rara adalah miliknya.


"Mari masuk." Ibu berdiri untuk menyuruh mama, papa serta Ilham masuk.


Nampak Ilham yang canggung, keluarga yang selama ini menjadi keluarganya kini menjadi orang lain.


"Ilham kok berdiri saja, sini masuk," suruh mamanya


Ilham masuk melewati Rara dan Leo, nampak ketiga orang ini kalut dalam pikirannya masing-masing.


Mereka semua mengobrol nampak Ilham yang hanya terdiam, sesekali dia melirik Rara yang sedari tadi dirangkul oleh Leo.


Karena bingung mau ngapain Ilham memutuskan untuk pergi ke teras dengan alasan hendak merokok


Dengan membungkukkan badan Ilham melewati banyak orang.


Di teras Ilham menyulut rokoknya, pikirannya kemana-mana bahkan bayang-bayang masa lalunya kini merasuk dalam pikiran Ilham.


Tangan Ilham bergetar, matanya berkaca pikirannya sungguh tidak karu-karuan.


"Ra, maafkan aku Ra," gumamnya


Leo yang melihat Ilham sendirian di depan pun menyusul,


"Bagaimana kabar kamu Ilham," tanya Leo lalu duduk di samping Ilham


Mendengar suara Leo, Ilham pun menoleh lalu tersenyum meskipun senyumannya sedikit di paksakan.


"Baik pak," jawab Ilham lalu menyesap rokoknya


"Kamu kerja dimana sekarang?" tanya Leo lagi


Ilham pun tertawa, dia merasa kalau Leo pasti menertawakannya karena dia sekarang seorang pengangguran.


"Saya menganggur," jawab Ilham lagi


Leo dan Ilham sama-sama terdiam, Leo bingung harus bertanya apa sedangkan Ilham juga demikian.


"Selamat ya atas kehamilan istri bapak," ucap Ilham memecah keheningan di antara mereka.


"Terima kasih Ilham, lalu bagaimana dengan kamu? aku sudah menemukan pengganti Vera?" tanya Leo yang membuat Ilham menatapnya lekat


"Belum," jawabnya singkat


"Semoga kamu dapat menemukan yang terbaik Ilham," doa Leo untuk Ilham


"Terima kasih pak Leo," sahut Ilham


Rara yang lama ditinggal Leo mengobrol dengan Ilham pun menyusul,


"Asik ya ngobrol sendiri di sini," celoteh Rara yang membuat Ilham dan Leo menoleh kearahnya


"Asik sayang, sini ikut gabung," pinta Leo dengan menepuk kursi di sampingnya

__ADS_1


Rara menurut dengan kata- kata Leo lalu dia duduk di samping Leo.


Saat asik mengobrol tiba-tiba ponsel Ilham berdering, nampak nama Arini memanggil di layar ponselnya.


"Maaf saya tinggal menerima panggilan dulu," pamit Ilham


"Iya Monggo," sahut Leo dan Rara


Rara dan Leo ntah merebutkan apa, sehingga nampak tangan mereka saling memegang bahkan Leo tak segan-segan mengecup kening Rara.


Dari tempat dia berdiri Ilham melihat pemandangan indah di depannya, hatinya bagai tertusuk sembilu. Seketika matanya basah dan pikirannya kembali ke masa lalu dimana dia dan Rara masih bersama.


Di sambungan teleponnya Arini terus memanggil Ilham karena Ilham dia tak menjawab kata-katanya.


Dan sambungan telepon berakhir


Merasa kalau Arini mematikan panggilannya Ilham berinisiatif memanggilnya balik namun tidak diangkat.


Arrrgggg


Ilham mengusap rambutnya dengan kasar,


Karena tidak ingin melihat keromantisan Rara dengan Leo, Ilham memutuskan untuk pulang.


"Maaf mengganggu, saya pamit dulu ya Pak Leo dan Rara," pamit Ilham


"Kok buru-buru sih Ilham," sahut Leo


"Ada urusan mendadak pak," alasan Ilham


"Ini mas." Rara memberikan kotak makanan yang tadi dia ambil dan menyodorkannya pada Ilham


"Seharuse kasihkan mama saja Ra," kata Ilham


"Nanti mama dapat bagian sendiri mas" timpal Rara


Ilham pun menerima kotak makanan yang Rara berikan, dia terus menatap Rara dengan tersenyum seraya berkata


"Selamat ya Ra, atas kehamilan kamu. Semoga kamu berbahagia selalu," doa tulus Ilham untuk Rara


"Terima kasih, mas Ilham. Semoga kamu juga berbahagia dan semoga segera menemukan jodoh," timpal Rara


"Amin, makasih ya Ra," sahut Ilham


Melihat Ilham dan Rara mengobrol membuat Leo sedikit cemburu, dia pun mendekat lalu merangkul perut istrinya


"Terima kasih ya Ilham atas doanya," kata Leo dengan tersenyum


Ilham pun pamit pulang dulu, sepanjang perjalanannya pulang Ilham nampak sedih dan kesal, dia hanya bisa menyesali perbuatannya


yang tersisa di hati dan pikirannya adalah andaikan andaikan andaikan yang semua itu tentu tak akan kembali.


Mama dan papa Ilham juga pamit pulang, mereka takut terjadi apa-apa dengan Ilham.


Setelah mama dan papa sampai di rumahnya nampak Ilham duduk termenung di teras, saking asiknya dengan lamunannya dia sampai tidak menyahut panggilan dari ibu.

__ADS_1


"Lebih baik kita segera menikahkan Arini dengan Ilham, supaya bayang-bayang Rara segera hilang. Mama takut pa kalau begini terus Ilham bisa gila," ujar mama


Papa mengangguk dan setuju kalau Ilham segera menikah dengan Arin


"Besok mari kita kesana ma, untuk membahas hari pernikahan mereka tapi Arini apa mau menikah dengan Ilham," kata Papa ragu


"Setuju pa, biar mama yang atur," timpal Mama penuh keyakinan.


Mama dan papa masuk ke dalam karena tidak ingin mengganggu Ilham dan lamunannya.


Selepas mama dan papanya masuk, Ilham berdiri dengan menghela nafas dia bergumam


"Selamat tinggal Ra, selamat tinggal masa lalu, terima kasih atas pelajaran yang telah diberikan, selamat datang masa depan,"


Lalu Ilham masuk ke dalam rumah, saat hendak masuk ke kamarnya mama dan papanya memanggil


"Ilham, bisa kita bicara sebentar nak?" tanya papa


"Bisa ma, pa," jawab Ilham


Mama dan papa mengutarakan keinginan mereka untuk segera menikahkan dirinya dengan Arini.


Pucuk dicinta ulam pun tiba, Ilham juga sangat setuju dengan rencana mamanya. Mungkin dengan menikah dengan Arini dia bisa melupakan Rara dan kehidupannya akan kembali seperti dulu lagi.


"Ilham setuju ma, besok kita bisa bicara dengan keluarga Arini karena Ilham tidak mau menunda niat baik ini," kata Ilham dengan tersenyum.


"Alhamdulillah Ilham, akhirnya kamu merelakan Rara juga, semoga ini awal yang baik untukmu nak. Semoga kamu bahagia seperti Rara," sahut mama


"Amin," timpal Ilham


********


Malam semakin larut, Leo dan Rara masuk ke kamar mereka untuk istirahat.


"Kelihatannya Ilham masih belum bisa move on dari kamu ya sayang," kata Leo membuka obrolan


"Masa sih," sahut Rara pura-pura nggak tau


"Iya sayang, apa kamu nggak lihat tatapannya padamu, membuat aku cemburu saja," gerutu Leo


"Cie cie cemburu," goda Rara sambil terkekeh


"Dasar suami cemburu malah di cie cie, mau mu tu apa?" kata Leo sambil menggelitik leher Rara


Rara menggeliat kegelian,


"Ampun mas," pinta Rara


"Baiklah tapi ada syaratnya," kata Leo


"Apa?" tanya Rara


"Jatahku malam ini harus cair," jawab Leo sambil terkekeh


"Siap mas bro," ucap Rara

__ADS_1


Terjadilah hal-hal yang sangat-sangat diinginkan, baik Leo dan Rara menikmati pergulatan mereka namun kali ini mereka harus menggunakan mode pesawat karena kamar Rara tidak kedap suara.


__ADS_2