
Rara menyetir mobilnya dengan tidak fokus, pikirannya terus ke Leo. Tak terasa bulir-bulir air matanya terus saja jatuh tanpa berhenti.
"Maafkan aku mas," gumamnya
Setelah sampai di cafenya Rara masuk dengan langkah yang lemas tak bergairah, saat di ruangannya Rara langsung saja membuang tubuhnya di sofa
Dia mengecek ponselnya namun masih tidak ada balasan dari Leo.
Rara yang bosan keluar ruangannya lalu menuju dapur, dia bertanya pada pegawainya
"Barang apa saja yang habis biar aku yang belanja," pinta Rara
Pegawai mereka saling pandang
"Nggak usah Bu, nanti kami saja yang belanja lagipula ibu kan hamil jadi harus banyak-banyak Istirahat." Para pegawai memberi saran
Rara tersenyum "Nggak papa kok, aku bosan di dalam nggak ngapa-ngapain sekalian aku mau belanja juga," sahut Rara
Para pegawai Rara memberi catatan daftar belanjaan yang hanya dibeli di supermarket untuk yang beli di pasar tradisional mereka akan berbelanja sendiri.
Lama tidak berbelanja Rara menjadi lapar mata, dia membeli buah, sayur, dan lain-lain hingga satu troli besar full dengan belanjaannya.
Rara mendorong troli dan memasukkan belanjaannya ke dalam mobil.
"Kelihatannya lain kali kalau mau belanja aku nggak pake mobil ini," gumam Rara lalu memutar dan masuk dalam mobil
Tak butuh waktu lama mobil sudah terparkir rapi di parkiran cafenya.
Rara memanggil pegawainya untuk mengambil belanjaan cafe dan juga belanjaannya.
"Aku tadi beli buah tolong kupas kan buat aku ya," suruh Rara lalu dia masuk kembali dalam ruangannya.
Leo yang telat bangun tidak sempat mengecek ponselnya, dia langsung mandi dan pergi ke cabang perusahaannya bahkan dia juga lupa tidak membawa ponselnya lagi.
Rara sungguh gusar, hati dan pikirannya sungguh kacau bahkan air matanya terus saja keluar tanpa komando sang pemiliknya.
"Kamu benar-benar marah ya mas," gumam Rara
Rara termenung di taman kecil samping cafenya, tiba-tiba mendung gelap datang, bahkan diiringi angin kencang.
"Lebih baik aku pulang sebelum hujan lebat pikirnya, namun sebelum dia sampai rumah, hujan telah turun.
Hujan turun dengan lebat dengan diikuti angin, saat melakukan mobilnya tiba-tiba seperti ada yang Rara tabrak,
"Apa ya itu tadi?" gumam Rara
Rara mengecek keluar tanpa peduli guyuran hujan yang mengenai tubuhnya.
Betapa kagetnya dia ternyata ada seekor kucing yang dia tabrak
"Astagfirullah, maafkan aku," gumam Rara lalu mengambil jaketnya untuk membungkus mayat kucing tersebut.
Setelah selesai menyingkirkan mayat kucing Rara kembali melajukan mobilnya.
Di rumah, mama dan Ray nampak khawatir karena hujan turun sangat lebat.
"Ray coba hubungi adikmu, apa dia baik-baik saja," suruh mama
Ray berkali-kali menghubungi Rara namun tak ada jawaban.
"Nggak diangkat ma," kata Ray
__ADS_1
Dengan baju yang basah semua Rara masuk dengan melipat tangannya.
Bibirnya sudah membiru terguyur hujan ditambah AC mobilnya.
"Kak Ray, mama," panggilnya dengan lirih
Ray dan mama langsung menoleh betapa kagetnya dia melihat Rara basah kuyup dengan kedinginan.
"Rara kamu kok basah kuyup gini? memangnya kamu dari mana?" tanya mama cemas
"Rara habis nabrak kucing ma," kata Rara dengan bibir bergetar karena kedinginan
Karena tidak kuat menahan dingin Rara pamit ke kamarnya,
"Ma apa dia baik-baik saja," tanya Ray memastikan
"Kelihatannya nggak Ray, nanti coba kita cek," jawab Mama
Rara mengguyur tubuhnya dengan air hangat kemudian seusai mandi dia memakai baju tebal dan masuk dalam selimut tebalnya.
Hingga makan malam tiba Rara masih saja belum keluar kamar sehingga mama dan Ray khawatir
Mama menyuruh Ray untuk mengecek kondisi Rara
Berkali-kali mengetuk pintu tapi tidak dibukakan pemiliknya sehingga Ray mencoba membuka pintu kamar Rara dan ternyata tidak dikunci
Saat masuk netra Ray melihat Rara memejamkan mata, Ray mencoba mendekat untuk mengecek
Terdengar Rara mengigau
"Mas Leo maafkan aku mas,"
Ray mengerutkan alisnya, dan mengecek dahi Rara dan benar saja Rara suhu Rara sangat tinggi.
Ray mengambil wash lap lalu mengompres Rara dengan air hangat.
Karena Ray tidak kunjung kembali, mama memutuskan untuk menyusul
"Apa yang kamu lakukan Ray? kenapa tidak kembali?" tanya mama saat masuk kamar Rara
"Huss, dia demam tinggi ma," kata Leo menyilangkan telunjuk di bibirnya
"Kasian Rara, sakit saat suaminya tidak ada di rumah," sahut mama
"Kamu makan dulu, biar mama yang jagain Rara," kata mama
Lagi-lagi Rara mengigau, dia terus memanggil manggil Leo,
"Kasian sekali." Mama iba dengan Rara
Seusai makan Ray kembali lagi ke kamar Rara, dia membangunkan Rara untuk meminum obat.
"Jika tidak turun kita ke rumah sakit," kata Ray
Rara mengangguk dan kembali tidur lagi.
Leo yang sudah menyelesaikan pekerjaannya kembali ke kamar hotel, dia mengecek ponselnya dan membaca pesan dari Rara.
Bibirnya melengkung, "Maaf kamu diterima sayang," gumamnya
Karena sudah sangat rindu pada Istrinya, Leo tidak mau menunggu besok lagi untuk kembali ke Surabaya, malam ini juga dia ingin pulang.
__ADS_1
Leo dan Bayu mendapat penerbangan terakhir jam sembilan dan mendarat di Juanda pukul setengah sepuluh lebih sepuluh menit.
Kira-kira kurang lebih jam sepuluh dia sampai di rumahnya.
Leo sengaja tidak membalas pesan Rara karena dia ingin mengasih surprise pada Rara
Betapa kagetnya Leo saat masuk dalam kamarnya Ray duduk di sisi Rara.
"Kak Ray ngapain disini?" tanya Leo dengan tangan yang sudah mengepal
Ray mengkode Leo untuk tidak berbicara dengan menyilangkan telunjuknya di bibir
"Dia baru saja tidur, dari tadi demam tinggi kalau tidak juga turun mending bawa ke rumah sakit" kata Ray lalu keluar kamar Leo dan Rara
Leo menatap lekat istrinya yang berbaring dengan kain basah menempel di dahinya.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leo
"Mas Leo maafkan aku," sahut Rara dengan mata terpejam.
"Maafkan aku juga sayang," ucap Leo lalu memeluk tubuh istrinya sehingga mengganggu tidur istirahat sang istri.
Mata Rara terbuka, dia sangat senang telah melihat Leo
"Mas maafkan aku mas," ucap Rara dengan lirih
"Iya sayang, sahut Leo semakin mengeratkan pelukannya pada Rara
Mereka berdua pun saling memeluk.
********
Berbeda dengan Rara, Vera yang merasa sakit hati akan kata-kata Edward mengurung dirinya di kamar sehingga Renata maupun Edward sangat khawatir.
"Coba deh mas kamu bujuk Rara supaya mau makan, soalnya entah kenapa dari kemarin dia mengurung diri, makan juga hanya sedikit." Renata mengadu pada Edward
"Coba aku ke kamarnya," sahut Edward
Edward pun melangkahkan kaki ke kamar Vera
tok tok tok
Edward mengetuk pintu
Dengan malas Vera membukakan pintu.
"Eh mas Edward," kata Vera
"Aku masuk ya," sahut Edward
Edward masuk dan duduk di sofa begitu pula dengan Vera yang mengekor di belakang.
"Kamu kenapa?" tanya Edward
"Nggak kenapa-kenapa mas," Jawab Vera
"Kamu mau nemenin aku makan?" tanya Edward berbohong
"Mas Edward belum makan? kalau sakit gimana?" Vera sangat mencemaskan suaminya
Edward tersenyum
__ADS_1
"Kamu sangat menghawatirkan aku tapi mengapa tidak menghawatirkan anak kita?" tanya Edward balik
Vera melayang dengan kata-kata Edward