Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Ijinkan aku menemanimu


__ADS_3

Salah satu pengunjung rumah sakit yang merasa iri dengan Leo dan Rara pun sedikit berteriak


"Woy eling Iki rumah sakit bukan tempat gawe mengumbar keromantisan, bikin orang iri saja," umpatnya. Tentu Leo dan Rara seketika melepas pelukan mereka lalu tertawa


(Woy ingat ini rumah sakit bukan tempat untuk mengumbar keromantisan, bikin orang iri saja)


"Ngapunten mas terbawa arus," sahut Leo


(Maaf mas terbawa arus)


"Jangan di ulangi," omel orang tersebut


"Ok," sahut Leo


Leo yang melihat Rara baik-baik saja pun bertanya siapa yang sakit


"Siapa yang sakit sayang? kenapa kamu disini?" tanya Leo penasaran


"Ayah mas," jawab Rara


"Innalilahi, kok kamu nggak ngabarin aku sih sayang," kata Leo


"Kan kita lagi marahan mas," kata Rara dengan terkekeh


"Meskipun begitu tetap ngabarin," sahut Leo


"Aku nggak mau ngerepotin kamu mas," ungkap Rara


"Tapi kalau gini kan aku nggak enak sayang, masa kamu ke Sidoarjo sendirian kemarin, ayah dan ibu pasti mengira aku nggak sayang mereka karena ayah sakit kok nggak datang jenguk," ungkap Leo


Rara tersenyum, "Jangan khawatir mas, aku beralasan kalau kamu ke luar kota," timpal Rara


"Syukurlah kamu memang the best sayang." Leo pun mencubit hidung Rara sehingga membuat Rara memajukan bibirnya.


"Iiihhh gemesnya," gumam Leo


"Nggak boleh berciuman di tempat umum," sahut Rara sambil menutup bibirnya


"Iya-iya sayang," timpal Leo


Leo dan Rara keluar rumah sakit untuk membeli makanan dan minuman. Tak lupa mereka juga membeli untuk ayah dan ibu juga.


Tiga puluh menit kemudian Leo dan Rara telah kembali dan masuk dalam kamar ayah


"Leo," panggil ibu saat Leo masuk kamar ayah


"Iya Bu." Leo tersenyum lalu menyalami ibu dan ayah mertuanya.


"Maaf ibu, ayah Leo baru datang," kata Leo dengan menyesal


"Nggak papa nak kan memang kamu sibuk kerja, ibu dan ayah yang minta maaf karena merepotkan, apalagi ini Rara memindahkan ayah ke ruang VVIP." Ibu merasa tidak enak pada Leo


Leo mendekati ibu mertuanya seraya berucap


"Ibu kenapa bilang begitu, justru Leo akan marah jika Rara membiarkan ayah di rawat di kelas biasa. Ibu dan ayah juga orang tua Leo, sudah kewajiban Leo memberikan fasilitas terbaik untuk ibu dan ayah," jelas Leo dengan menatap ibu mertuanya

__ADS_1


Ibu yang terharu pun memeluk Leo


"Lihatlah Yah, kita memiliki menantu yang terbaik sedunia," kata Ibu


"Iya bu, anak kita kali ini tidak salah cari suami," sahut ayah


"Ibu dan ayah jangan terlalu memuji, sudah kewajiban kita sebagai anak memberikan perawatan terbaik untuk orang tuanya," sahut Leo sambil melerai pelukan ibunya


Rara terharu melihat Leo, dia sungguh bersyukur memiliki dan dimiliki Leo. Selain sayang padanya Leo juga sayang kedua orang tuanya.


"Terima kasih mas," batin Rara dengan menatap Leo


*********


Arini setuju menikah dengan Ilham, tanggal pernikahan pun sudah di tentukan oleh kedua belah pihak.


Baik Arini dan Ilham meminta supaya pernikahan mereka dipercepat.


"Kamu mikir apa mas?" tanya Arini yang duduk di samping Ilham


"Nggak kok Arini, aku mikir hari pernikahan kita," jawab Ilham berbohong


Arini tersenyum seraya berkata "Aku lebih senang jika kamu terbuka sama aku mas, jadi kita bisa saling share apapun masalah kita,"


"Aku tahu kamu masih mikirin Rara mantan istri kamu yang sudah bahagia dengan suaminya," imbuh Arini


Ilham menatap Arini dengan wajah menunduk, dia sangat malu pada Arini yang seolah tau apa yang ada dalam pikirannya


"Mas Ilham, kita sepakat untuk menikah. Aku nggak mau kamu menyimpan masalahmu sendiri." Arini menangkupkan tangannya ke wajah Ilham.


"Dengerin aku, aku mengerti perjalan hidupmu mas, meskipun berat namun kamu jangan merasa sendiri sekarang, kamu telah berjuang menaklukan rasa sesal yang terus menggerogoti hatimu jadi ijinkan aku menemanimu membasuh lelah mu," ungkap Arini.


Mata Ilham berkaca, dia tidak percaya Arini tulus kepadanya. Mendengar kata-kata Arini membuat Ilham sedikit terbuka


"Bantu aku melupakannya Arini," timpal Ilham


"Siap mas brow, aku akan menemanimu sampai kamu benar-benar melupakannya hingga kamu bahagia karena memiliki aku," sahut Arini


"Terima kasih Arini," ucap Ilham


Netra Arini dan Ilham saling bertemu hingga jarak mereka semakin dekat lalu mereka saling tertawa


"Mau apa? belum boleh ya mas," goda Arini


"Iya-iya Arini," sahut Ilham


Mama dan papa Ilham yang melihatnya pun bahagia.


"Semoga dia bisa melupakan Rara ya pa," kata mama


"Iya ma," sahut papa


Keesokannya Ilham mengajak Arini ke rumahnya yang ada di Surabaya,


"Wah, rumah kamu mewah ya mas," puji Arini saat turun dari mobil

__ADS_1


"Rumah ini perjuanganku dengan Rara, Rin," sahut Ilham


"Pantes mas, kamu nyesel banget la Rara menemani kamu hingga seperti ini," timpal Arini


"Iya dan aku dengan kejam menyakitinya." Ilham pun nampak mendung


Arini yang tau kalau Ilham mendung mencoba mencairkan suasana


"Kita masuk mas, masa iya aku berdiri di sini saja," kata Arini


Ilham pun terkekeh lalu dia membuka pintu


"Rumahnya kotor ya mas, berapa tahun nggak di tempati ini," kata Arini sambil mengecek debu yang menempel di benda-benda yang ada di dalam rumah


"Sepuluh tahun," ucap Ilham asal sambil tertawa


Karena tidak bisa melihat yang kotor-kotor Arini pun meminta Ilham mengambilkan alat bersih-bersih dan mulai membersihkan rumah Ilham.


Ilham yang tidak tega pun berinisiatif membantu Arini, "Kita kerjakan bersama ya," ucap Ilham dengan tersenyum


"Ok mas," sahut Arini


Selama dua jam mereka membersihkan rumah dari debu maupun kotoran.


Dan akhirnya selesai juga.


"Huh, akhirnya selesai juga," kata Arini lalu menjatuhkan dirinya di sofa


"Iya, capek banget," sahut Ilham


Arini dan Ilham mengumpulkan energi dulu sehingga membuat suasana hening hingga pertanyaan Arini mengurai keheningan di antara mereka


"Mas rumah ini mempunyai empat kamar ya," tanya Arini


"Iya kenapa Arini?" tanya Ilham balik


"Mas boleh nggak setelah kita menikah kita menempati kamar yang dulu kamu tempati bersama Rara," jawab Arini


"Kenapa nggak milih kamar lain?" tanya Ilham penasaran


"Biar kenangan Rara melekat pada diriku sehingga dengan mudah kamu melupakannya," jawab Arini


Ilham nampak berfikir sehingga membuat Arini sedikit menyesal meminta untuk menempati kamarnya dengan Rara dulu.


Ilham tersenyum dan mengangguk "Boleh,"


Arini sangat senang karena Ilham mengijinkannya yang berarti dia kini benar-benar ingin melupakan Rara.


"Terima kasih mas," ucap Arini dengan memeluk Ilham


Ilham pun memeluk balik Arini


"Terima kasih ya, kamu telah hadir dalam hidupku dan ingin membantu aku keluar dari bayang-bayang masa lalu aku," bisik Ilham


Arini mengangguk

__ADS_1


__ADS_2