Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Sikap posesif Rara


__ADS_3

Saat Ray mendekat, Vera tenang kembali. Melihat wajah tenang Vera, Ray menatapnya lekat membuat bibirnya melengkung.


"Berbeda sekali dengan kamu yang dulu," gumam Ray


Ray menggeleng, "Ihh ada apa denganku, kenapa aku malah memikirkannya,"


Ray kembali ke sofa dimana dia meletakkan berkas yang tadi dibacanya.


Fokusnya kini kembali ke berkas, baru dapat satu halaman ponselnya kini berbunyi


~***Halo Ray~ Edward


~Ada apa, buruan kembali aku mau pulang~ Ray


~Kamu disitu saja Ray, Renata tiba-tiba tidak enak badan~ Edward


~Kamu jangan mengada-ngada Ray, masak iya aku nungguin istri kamu~ Ray


~Please Ray~ Edward***


Tut Tut Tut


panggilan berakhir


"aarrrgggg brengsek Edward, dia enak-enakkan di rumah sedangkan aku nungguin istri mudanya di sini," gerutu Ray lalu melempar ponselnya di sofa.


Kini Ray sudah tidak fokus mempelajari berkas yang dibawanya, dia sungguh kesal dengan Edward.


"Bodoh amat dengan Edward, lebih baik aku pulang dan menyuruh suster untuk menunggui Vera." Ray mengambil berkas dan ponselnya lalu keluar.


Baru beberapa langkah Ray kembali lagi,


"Arrrgggg aku bingung sendiri, awas kamu Edward," umpat Ray merutuki temannya.


Ray melempar berkasnya di sofa, lalu dia juga menendang sofa sehingga suara gaduhnya membangunkan Vera.


Netra Vera memutar, kepalanya sedikit pusing.


Vera sangat kaget karena melihat Ray ada di ruangannya.


"Ray," panggil Vera sambil memegangi kepalanya yang pusing


"Iya," sahut Ray


"Kamu kok disini?" tanya Vera


"Ini semua kelakuan suami kamu, dia pulang sedangkan aku disuruh disini menunggui kamu," jawab Ray dengan duduk di sisi Vera


"Kalau kamu mau pulang, pulang saja, aku bisa jaga diri kok," ucap Vera


Ray menggeleng, dia tidak tega kalau harus meninggalkan Vera sendirian.


"Mana mungkin aku tega meninggalkanmu Vera, sudahlah jangan memikirkan aku, lebih baik kamu istirahat saja," sahut Ray.


Pengaruh obat yang dokter berikan cukup membuat Vera tidak merasakan pusing yang dideritanya. Vera yang merasa masih mengantuk memejamkan matanya kembali, baru sebentar saja nafas Vera sudah teratur yang menandakan dia sudah terlelap.


Begitu pula dengan Ray yang merebahkan dirinya di sofa dengan tangan kiri yang dia letakkan di keningnya.


Netra Ray memutar menyusuri langit-langit ruang Vera dirawat, pikirannya entah kemana, sesekali dia menatap Vera yang memejamkan matanya dengan selang infus yang menggantung.

__ADS_1


"Wanita yang dulu membuatku jijik sekarang malah membuatku sedikit memikirkannya," gumam Ray


"Tidak tidak, dia istri temanku." Ray menggelengkan kepalanya


Pikiran Ray sibuk sendiri karena sudah lelah dia pun terlelap.


"Bangun woey." Edward membangunkan Ray yang tidur nyenyak sekali di sofa


"Brengsek," umpat Ray


Kata pertama yang keluar saat dia bangun, Ray langsung saja menjatuhkan tinju di bahu Edward. Bogeman canda yang membuat Edward dan Vera terkekeh.


Vera yang sudah bangun ikut tertawa melihat kekesalan Ray.


"Ya sudah aku pulang dulu, pasti mamaku mencari," kata Ray dengan memunguti Berkas dan ponselnya


Semua yang di situ tertawa mendengar kata-kata Ray,


"Dasar anak mama," ejek Edward


"Hey, Edward jangan memunculkan emosiku," sahut Ray kesal


"Dasar keluarga somplak," imbuh Ray dengan tertawa


"Kamu yang somplak," sahut Edward tak terima.


Ray pun pamit lalu keluar, Vera yang melihatnya ikut tertawa sungguh menghibur sekali.


Edward mendekat ke bed Vera lalu dia bertanya


"Bagaimana Vera, apa sudah enakan?" tanya Edward


"Mulai sekarang jangan pernah stres lagi, kalau kamu butuh apa-apa bilang Renata atau aku." Edward memarahi Vera


Vera hanya mengangguk lalu tersenyum.


Ray yang baru datang langsung ikut bergabung di ruang makan.


"Kamu baru pulang nak?" tanya mama


"Iya ma," jawab Ray


Ray menarik kursi lalu mengambil makanan,


"Kak Ray menginap dimana?" tanya Leo


"Rumah sakit," jawab Ray


"Tunggu! jangan bilang kalau kak Ray disuruh Edward nungguin Vera di rumah sakit," terka Leo


Ray hanya mengangguk tanpa menatap adiknya, mama menjadi kepo dengan apa yang dikatakan Leo


"Vera itu siapa?" tanya mama


"Gebetan kak Ray ma," jawab Leo asal


Mama menyuruh Ray untuk segara melamar Vera, karena mama tidak mau Ray pilih-pilih wanita yang akhirnya dapat bongkeng.


"Cepat lamar Ray, daripada kamu jadi perjaka tua, kok kalah sama Leo, dia saja sudah mau punya anak," kata mama

__ADS_1


"Vera sudah punya suami ma," sahut Leo


Mama menggeleng " nggak adik nggak kakak sama saja, pecinta istri orang," timpal Mama


"Istri orang lebih menggoda ma," ucap Lep


"Duh ya Gusti ampuni anak-anak hamba ini,"


Leo dan Ray hanya terkekeh, mereka selalu saja membuat mama geleng-geleng kepala dengan kelakuan mereka .


Seusai sarapannya habis Ray segera masuk ke karena dia ingin segera mandi dan meninjau lokasi.


"Sayang, kamu nggak ikut aku ke kantor?" tanya Leo


"Nggak mas, aku di rumah saja," jawan Rara


Leo mencium punggung tangan mamanya, tak lupa dia mengecup kening mamanya.


"Leo berangkat dulu ya ma," pamit Leo


"Hati-hati ya Le," pesan mama


"Ok ma," sahut Leo


Rara mengantar Leo ke depan, tak lupa dia mencium punggung tangan dan mengecup pipi Leo.


"Hati-hati ya mas," kata Rara


"Iya sayang, nanti kalau bosan di rumah nyusul ya," pesan Leo


Tak lupa Leo berpamitan pada baby nya yang masih dalam perut.


Setelah itu dia masuk mobil dan berangkat.


Merasa bosan dengan aktivitasnya yang hanya berbaring Rara berniat untuk menyusul Leo sekalian Rara ingin makan yang seger-seger.


Saat memasuki kantor Leo, banyak mata yang menatapnya, beberapa orang yang berpapasan dengan Rara menganggukkan diri sebagai bentuk tanda hormat pada Rara.


Saat membuat pintu ruangan Leo, nampak Leo bersama Angel sahabat sekaligus klien Leo.


Rara berjalan masuk ke dalam dan langsung saja duduk di pangkuan Leo.


"Sayang kapan datangnya, kok aku nggak tau," kata Leo ketar ketir takut Rara salah paham.


"Baru kok mas," jawab Rara


Netra Rara menatap Angel, "Dulu aku merelakan suamiku untuk wanita lain namun kali ini sebelum suamiku tergoda aku akan menjaganya, bila perlu mengawasinya 24 jam," batin Rara posesif.


"Kamu pasti sudah tau kan Angel?" tanya Leo


"Tau, dia yang memutuskan sepihak kerja sama kalian kan? lalu kenapa dia kesini lagi," jawab Rara


Leo merasa tidak enak pada Angel, sebenarnya tujuan Angel mampir ke perusahaan Leo untuk menyambung kembali kerjasama yang telah putus.


"Sebenarnya saya kemari untuk menyambung kerja sama yang telah terputus," Angel mencoba menjelaskan


"Seperti benang layangan putus saja bisa disambung," sahut Rara


Angel hanya tersenyum mendengar kata-kata Rara.

__ADS_1


Leo merasa tidak enak pada Angel, tapi dia juga senang dengan sikap Rara yang posesif.


__ADS_2