Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Hipertensi


__ADS_3

Edward keluar dari kamar Vera, dia kembali dengan perasaan yang berkecamuk.


Edward mengambil ponselnya ternyata banyak sekali panggilan dari Vera, matanya membaca satu persatu pesan yang Vera kirimkan tadi.


"Astagfirullah pantas dia sangat marah, maafkan aku Vera," gumam Edward


Renata yang melihat Ilham pun bertanya


"Bagaimana mas?" tanya Renata


"Vera masih marah, kita kasih ruang dia dulu supaya tenang setelah itu baru kita bicara padanya," jawab Edward


"Mas aku takut kalau dia pergi," kata Renata dengan cemas


"Jangan berfikiran negatif, dia nggak akan pergi dari sini," sahut Edward meyakinkan istrinya meskipun dia sendiri tidak yakin.


Vera masih menangis di kamarnya, "Hancur dan sakit hatiku tapi tak bisa aku menyalahkan kalian, inilah jalan kalian dan inilah nasib hidupku yang tak aku suka," gumamnya dalam tangis


Vera yang tidak bisa tidur duduk di balkon dalam kamarnya, dia memandangi langit yang cerah tanpa mendung. apalagi malam itu adalah malam purnama sehingga bulan terlihat penuh.


Dia tersenyum, "Ya Rabb apa salah jika hamba berharap pada Edward yang statusnya juga suami hamba, sedikit keinginan untuk dicintai sebelum hamba pergi dari hidup mereka, jika benar salah luruskan lah dan buang jauh-jauh rasa ini," gumam Vera dalam tangis


Semilir angin malam membawa Vera larut dalam lamunannya, hingga suara perutnya membuyarkan semua lamunannya .


"Kamu lapar ya nak, maafkan mama tadi belum memberi kamu makan," gumam Vera sambil mengelus perutnya yang sudah mulai membuncit.


Vera melangkahkan kaki ke dapur, dia membuka kulkas dan mengambil banyak makanan karena dia sangat lapar.


Saat asik makan tiba-tiba Edward datang dan mengagetkan Vera.


"Kamu lapar?" tanya Edward


"Nggak," jawab Vera singkat


"Kamu marah?" tanya Edward lagi


Vera melemparkan tatapan mautnya pada Edward seraya berkata


"Nggak,"


"Yakin?" tanya Edward meyakinkan


Vera menggelengkan kepalanya,


"Up to you lah mas," sahut Vera kesal lalu dia segera menghabiskan makanannya dan beranjak ke kamarnya


"Kamu mau kemana?" tanyanya lagi


"Tidur," jawab Vera singkat


"Aku ingin bicara Vera," kata Edward


Vera menatap Edward yang masih menyandarkan dirinya di dinding.


"Aku rasa nggak ada yang perlu dibicarakan mas, aku mohon padamu bersikaplah seperti kita tidak saling mengenal, aku takut jika perasaanku padamu semakin besar dan aku sulit untuk mengendalikannya," sahut Vera


"Maafkan aku Vera,"


"Tak perlu kata maaf mas, aku sudah rela sekarang aku juga bisa apa, selain menerimanya," kata Vera dengan tersenyum lalu dia kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Kenapa jadi begini, inilah yang aku takutkan Renata, aku akan menyakitinya dan juga menyakitimu," gumam Edward


Lalu dia juga kembali ke kamarnya dan tidur di samping Renata yang sudah terlelap terlebih dahulu.


Keesokan harinya saat bangun tidur kepala Vera sangat pusing, rasa pusingnya tidak seperti biasanya.


Pagi ini Renata mengantar susu untuk Vera, saat mendekat dia melihat Vera sangat pucat tentu hal ini membuat Renata cemas


"Kamu kenapa Vera?" tanya Renata


"Aku sangat pusing sekali," jawab Vera


Vera sangat kesakitan sehingga Renata sangat cemas pada Vera.


Dengan langkah sedikit berlari Renata memanggil Edward


"Mas tolong bawa Vera ke rumah sakit mas," kata Renata yang membuat Edward cemas dan langsung berlari ke kamar Vera.


Edward mendekat ke tempat dimana Vera tidur,


"Kamu kenapa?" tanya Edward


"Pusing," jawab Vera


Tanpa aba-aba Edward menggendong Vera dan segera membawanya ke rumah sakit.


Renata hanya menatap suaminya menggendong Vera. Kebetulan Ilham baru datang dan Edward memintanya untuk mengantar ke rumah sakit.


"Astaga Renata masih di dalam, tunggu bentar Ilham," kata Edward lalu turun


Dia kembali ke dalam lalu memanggil Renata,


Renata mengekori Edward, dan mereka semua pergi ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Edward menggendong tubuh lemah Vera ke ruang IGD


"Biar kami periksa dulu pak," kata Dokter lalu memeriksa Vera.


Setelah selesai Renata langsung bertanya


"Bagaimana dok keadaan saudara saya dok," tanya Renata


"Tekanan darahnya tinggi sekali, jika dibiarkan terus bisa-bisa saudara anda mengalami keguguran," kata Dokter


Renata dan Edward sangat takut jika Vera mengalami keguguran,


"Jangan biarkan saudara anda stres berat itu memicu tingginya tekanan darah," imbuh dokter.


Untuk memantau keadaan Vera, dokter menyarankan untuk dilakukan rawat inap.


"Lakukan yang terbaik dok," kata Edward


********


Waktu menunjukkan pukul tiga sore namun Leo sudah memberesi mejanya dan bersiap pulang.


Di jalan Leo mampir sebentar ke toko bunga untuk membelikan bunga sang istri.


"Kalung hati dah bunga mawar merah, Rara pasti suka" gumam Leo

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Leo sudah sampai di rumahnya, dia langsung ke kamar untuk mencari Rara.


"Sayang," panggil Leo


"Iya mas," sahut Rara yang berada di balkon kamarnya.


Leo mendekat dengan satu tangan di belakang,


"Kok tumben sudah pulang mas," tanya Rara mencium tangan suaminya.


"Iya karena dari tadi pagi aku sakit," jawab Leo yang membuat kaget Rara


"Sakit apa mas?" tanya Rara dengan cemas


"Sakit Malarindu dan hiperkangen," jawab Leo sambil terkekeh


"Onok-onok ae seneng temen gawe uwong cemas" sahut Rara


(ada-ada saja suka sekali buat orang cemas)


Leo hanya terkekeh, dia menyodorkan Bungan dan sebuah kotak warna merah, netra Rara berbinar melihat dua benda merah di depannya.


"Kamu kok so sweet banget sih mas," kata Rara sambil tersenyum


"Ya iya dong, suami siapa," sahut Leo dengan bangga


Rara menerima bunga mawar merah dari Leo, dia menciumi bunga tersebut.


"Wanginya," kata Rara


Seusai menikmati bunga mawar nya , kini Rara membuka kotak merah yang di dalamnya adalah sebuah kalung dengan berlian berbentuk kati.


"Bagus sekali mas," kata Rara dengan senang


"Untuk yang terkasih harus bagus," sahut Leo


Leo pun memakaikan kalung tersebut di leher mulus Rara,


"I love you forever and ever sayang," kata Leo lalu memeluk istrinya


"I love you too mas Leo," sahut Rara


Meraka berdua saling berpelukan, cinta Leo sungguh besar untuk Rara begitu pula sebaliknya.


Seusai berpelukan Leo menggendong Rara ala bridal dan membawanya di kasur.


"Mau ngapain mas?" tanya Rara


"Minta upah lah, memangnya apa lagi," jawab Leo sambil terkekeh


"Jadi gak ikhlas ni ngasih kalungnya," kekeh Rara


"Ikhlas dong sayang, tapi yang bawah lagi butuh sarangnya," sahut Leo


"Sungguh kamu mesum sekali mas," ucap Rara


"Mesum dengan istri sediri hukumnya wajib, daripada mesum dengan istri orang," timpal Leo


"Kamu mesum ma istri orang, langsung tinggal tanpa ampun," sahut Rara

__ADS_1


Leo hanya terkekeh mana mungkin dia berbuat mesum dengan istri orang sedangkan istrinya di rumah lebih dari segala-gala nya.


__ADS_2