Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Permintaan maaf Ray


__ADS_3

Suasana hening terjadi di meja makan, baik Vera, Renata dan Edward saling diam hanya suara dentingan garpu dan sendok yang terdengar.


Hal ini berlangsung sampai makanan dari ketiga orang ini habis.


"Sayang habis ini aku mau keluar karena ada hal yang ingin aku bahas dengan Ray," kata Edward membuka obrolan


"Kalau cuman bahas bisnis, kenapa kamu nggak nyuruh Ray kesini saja mas, lagian aku juga lama nggak ketemu Ray semenjak dia melebarkan sayap di Jakarta," sahut Renata


Mendengar nama Ray membuat wajah Vera menjadi mendung, kata-kata Ray terngiang kembali di pikiran Vera.


"Baiklah coba aku hubungi dia, kalau dia mau kesini ya aku nggak keluar," timpal Edward


Setelah makan Vera pamit untuk ke kamarnya,


"Aku pamit dulu ya," pamit Vera


"Kok buru-buru sih Vera, sini ngobrol-ngobrol ma kita dulu," pinta Renata


"Pengennya gitu, tapi perut aku sudah nggak kuat lama-lama duduk," kata Vera


Renata dan Edward mengijinkan Vera untuk kembali ke kamarnya,


"Mas aku kasian sama Vera, tiap malam pasti perutnya sakit. Apalagi dia nggak ada yang nemenin," kata Renata yang membuat Edward mengalihkan pandangannya dari layar ponsel ke wajah istrinya.


"Iya sih sayang, tapi bagaimana lagi. Masa aku harus nemenin dia tidur," sahut Edward


"Coba deh mas tiap malam gitu kamu cek, ajak ngobrol dedek bayi nya supaya kenal suara papanya, itu kan nanti jadi anak kita mas. Aku nggak mau dia tumbuh kembangnya tidak sempurna," Renata memberi ide


Meskipun sakit namun bagaimana lagi, Renata cukup tau tentang kehamilan karena sebelumnya dulu dia pernah hamil, bahkan tiga kali mengalami keguguran hingga rahimnya rusak dan harus diangkat.


Untuk itu dia dapat merasakan ibu hamil itu bagaimana susahnya.


Edward mendapat pesan dari Ray kalau dia setuju untuk datang ke rumah Edward.


Renata kembali ke kamarnya begitu pula dengan Edward namun sebelumnya dia menyempatkan diri datang ke kamar Vera untuk melihatnya.


Edward yang melihat Vera tidur dengan meringkuk berinisiatif membetulkan posisi tidurnya.


Tangannya tergerak untuk mengelus perut Vera yang masih rata lalu dia mendekatkan mulutnya dan berkata


"Halo mahkluk kecil yang ada di dalam, gimana kabarnya. Maaf ya kalau papa jarang menengok kamu tiap malam,"


Karena obrolan Edward dengan bayinya, tidur Vera pun terganggu, dia tak sengaja menjatuhkan tangannya di kepala Edward yang berada di perutnya.


Tanpa sadar Vera mengusap rambut Edward dan mengelusnya, sehingga membuat Edward menatap Vera begitu pula dengan Vera yang mulai membuka matanya


Kini netra Edward dan netra Vera saling bertemu, Vera pun tersenyum lalu beranjak bangun


"Maaf mas," kata Vera tak enak dengan Edward

__ADS_1


"Aku yang seharusnya minta maaf karena telah mengganggu tidurmu," sahut Edward


"Aku hanya ingin mengobrol dengan bayi kita eh maksudku dengan bayi yang ada di perutmu," imbuh Edward


Mendengar Edward mengatakan bayi kita membuat Vera merasa senang setidaknya dia di anggap ibu dari anak yang di kandungnya meskipun nanti dia harus merelakan anaknya.


"Iya mas nggak papa," kata Vera


Edward pun menyuruh Vera untuk istirahat lagi sedangkan dia harus menunggu Ray.


Setelah kepergian Edward Vera tidak bisa tidur lagi, dia senyum-senyum sendiri. Namun ketika dia ingat kalau harus berakhir setelah anak yang dikandungnya lahir raut wajah Vera menjadi sedih.


"Hamba pasrah," gumamnya


Ray yang baru datang langsung diajak Edward ke ruang kerjanya , Renata ikut bergabung dengan Edward dan Ray.


"Halo Ray," sapa Renata sambil menaruh nampan yang berisikan minuman dan juka camilan


"Halo Renata," balas Ray


"Makin cakep saja," puji Renata


"Eis jangan marah Edward dia sendiri yang memujiku," goda Ray


Mereka bertiga pun tertawa, Vera yang keluar untuk mengambil minum pun mendengar tawa mereka.


"Bahagianya jadi kalian," gumam Vera


Sehabis minum Vera tidak langsung masuk kamarnya, dia duduk di taman dengan menatap langit. Dia menatap bintang yang paling terang diantara lainnya.


"Ya Allah, aku sangat merindukan orang tuaku yang aku sendiri tidak tau siapa mereka," gumam Vera dengan bulir-bulir air mata yang sudah membasahi pipinya.


Vera asik dengan kesendiriannya, hingga tak terasa sudah lebih dari satu jam dia duduk di taman.


Karena udara semakin dingin Vera memutuskan untuk kembali lagi ke kamar.


Saat hendak masuk dalam rumah terlihat Ray hendak keluar hingga tak sengaja mereka bertemu


"Halo Vera," sapa Ray


"Halo Ray" sapa Vera


Saat hendak melangkahkan kakinya Ray memanggil Vera


"Vera,"


Vera membalikkan badannya lalu menatap Ray


"Iya, ada apa?" tanya Vera

__ADS_1


"Bisa kita bicara?" tanya Ray balik


Vera mengangguk lalu Ray mengajaknya untuk ke taman sebentar


"Aku mau minta maaf sama kamu atas kata-kataku tadi, maafkan aku," kata Ray


Vera tersenyum sambil menatap sekilas Ray yang berada di sampingnya


"Tidak apa-apa kok Ray, seandainya aku berada di posisimu pasti aku melakukan hal yang sama," sahut Vera


"Ya sudah aku kembali masuk dulu, nggak enak kalau dilihat mas Edward." imbuh Vera lalu dia melangkahkan kaki menjauh dari Ray


Ray menatap punggung Vera yang menghilang dia balik pintu


"OMG dia sudah berubah, tatapannya kini berbeda sekali dengan saat itu," gumam Ray


Edward pun menyusul karena Ray tak kunjung kembali hingga tak sengaja dia berpapasan dengan Vera.


"Kamu belum tidur?" tanya Edward


"Maaf mas belum, tadi aku haus dan kebetulan sekali melihat arah luar kok ingin tiba-tiba ingin ke taman.," jawab Vera


"Ya sudah tidurlah," suruh Edward


Saat hendak turun, Ray sudah kembali ke atas,


"Baru saja ingin menyusul, kamu lama sekali," kata Edward


"Aku lupa menaruhnya jadi mencari ke jok belakang," sahut Ray dengan berbohong.


Meraka berdua pun kembali ke ruang kerja untuk membahas kelanjutan bisnis mereka.


"Bagaimana jika kita juga bekerja sama dengan Leo." Ray mencoba memberi ide


"Keliatannya bagus, sudah lama aku ingin bekerja sama dengan adikmu itu," sahut Edward


"Bagaimana bila besok saat jam istirahat kamu kekantor nya," saran Ray


"Ide bagus, namun kamu juga ada di sana kan?" tanya Edward


"Iya," sahut Ray


Kini mereka berdua sibuk dengan berkas yang ada di tangan mereka masing-masing.


Vera yang tidak bisa tidur hanya membolak balikkan tubuhnya, dia sedikit gusar.


"Tumben Ray meminta maaf padaku, seorang Ray meminta maaf pada seorang Vera?" guman nya


bermonolog dengan dirinya sendiri.

__ADS_1


Selepas kepulangan Ray, Edward melihat Vera namun dia mendapati Vera masih terjaga saat hendak masuk Renata memanggil


"Mas,"


__ADS_2