
Mata Ray membulat, dia sungguh tidak menyangka kalau Vera adalah istri dari sahabatnya sendiri.
"Astagfirullah Edward, maafkan aku jika aku menghina istrimu," kata Ray menyesal
"Tidak apa-apa Ray, image buruk memang melekat pada diri Vera dan sekarang dia jauh lebih baik. Namun Tuhan lah yang lebih tau hati seseorang," sahut Edward
Pikiran Ray sungguh kemana-mana, hatinya membenarkan kata-kata Edward. Memang hanya Tuhan yang tahu hati seseorang, kita sebagai mahkluk nya tidak boleh mengjudge sesama mahkluk karena belum tentu kita lebih baik darinya.
Vera yang merasa sakit hati hanya sanggup menangis, sampai supir taxi online iba mendengar tangisan Vera
"Sampean gak Popo kan mbak?" tanya nya dengan pelan
(kamu nggak papa kan mbak?)
"Gak Popo mas," jawab Vera
(Nggak papa mas,)
"O yowes nek ngono mba,"
(o ya sudah mba)
Karena bingung mau kemana akhirnya Vera memutuskan untuk pulang, Setelah sampai di rumah Vera langsung masuk kamarnya dan meringkukkan diri di tempat tidur.
"Kenapa kalian menghina aku, aku hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi," gumam Vera dalam tangis
Vera terus saja menangis hingga dia tertidur, Renata yang belum tau kepulangan Vera pun mencoba mengecek kamarnya namun terkunci dari dalam.
bibirnya kini melengkung hal yang dia takutkan tidak terjadi, Vera kembali dan mungkin kini sedang istirahat.
"Sykurlah dia tidak pergi, maafkan aku Vera," gumam Renata lalu pergi dari depan pintu kamar Vera.
Jam makan siang pun datang, Renata mencoba mengetuk pintu kamar Vera namun tidak ada sahutan dari dalam, berkali-kali Renata mengetuk namun lagi-lagi tidak ada sahutan.
"Vera kamu jangan membuat aku cemas," kata Renata dengan keras
Tak lama kemudian pintu terbuka, nampak Vera sedang memakai mukenah dengan mata yang sembab.
"Maaf aku sedang beribadah," kata Vera dengan menunduk karena dia tidak ingin Renata tau kalau dia sedang menangis
"Kamu menangis?" tanya Renata
Vera mengangguk, "Aku hanya menyesali perbuatan ku di masa lalu untuk itu aku memohon ampunan pada Tuhanku," jawab Vera
"O ya sudah Vera, setelah selesai beribadah keluar dan makan siang ya," pesan Renata
__ADS_1
Vera hanya mengangguk, Renata pun pergi begitu pula dengan Vera yang kembali ke sajadah yang masih tergelar di lantai kamarnya.
Vera yang masih malas makan duduk di balkon kamarnya sambil menikmati view jejeran rumah mewah di kompleks rumah Edward.
"Aku jadi teringat mas Ilham," gumam Vera
Air matanya lagi-lagi meleleh mengingatkan kelakuannya pada Ilham.
Vera termenung dengan pikiran yang kalut kemana-mana, hingga tak sadar matahari sudah condong ke barat.
Edward yang tidak ada pekerjaan di kantor sengaja pulang cepat, dia sedikit menghawatirkan keadaan Vera.
"Sayang," panggilnya saat membuka pintu kamar
Renata yang sedang mandi tidak menyahut panggilan Edward. Mendengar gemercik air di dalam kamar mandi muncul niatan untuk menyusul istrinya yang sedang mandi. Kebutuhan sekali Renata tidak mengunci pintunya.
Edward memeluk Renata dari belakang, Renata sedikit kaget karena tiba-tiba Edward datang dan memeluknya.
"Kamu tu mas, ngagetin saja," kata Renata
Edward tak menjawab perkataan Renata langsung saja dia mencium bibir istrinya tersebut. Edward menggendong Renata ala bridal style tanpa melepas pautannya. Dengan pelan dia meletakkan Renata dalam bathub yang belum berisi air.
"Kita main di sini ya sayang," kata Edward lalu mengisi air bathub hingga penuh.
Suara erangan saling bersautan menjadikan suasana kamar mandi menjadi panas.
Air menjadi tenang kembali setelah olahraga air mereka selesai.
"Bagaimana kabar Vera hari ini?" tanya Edward sambil mengusap rambutnya dengan handuk
"Ada yang aneh dengannya mas, tadi pagi aku berbicara dengannya, aku melarangnya untuk baper terhadap sikapmu lalu dia pergi keluar dan saat aku menyuruhnya untuk makan mata Vera terlihat sembab," jelas Renata
"Dia pasti merasa sakit hati," gumam Edward dengan lirih namun bisa didengar oleh Renata
"Apa aku keterlaluan ya mas," kata Renata dengan menyesal karena dia mengira kalau Vera seperti itu karena dirinya
"Bukan sayang, tadi aku ngopi bersama dengan Ray sekalian membicarakan masalah bisnis dan nampak Vera duduk dipojokan ternyata Ray mengenalnya," jelas Edward
"Banyak ya yang mengenal Vera," sindir Renata
Edward nampak gugup karena dia mengira Renata belum tau kalau Vera adalah mantan wanita malam
"Iya sayang, mungkin dulu Vera adalah orang penting jadinya banyak yang mengenalnya." Edward pun berbohong
Karena tidak ingin terjadi apa-apa dengan Vera Edward pun menjenguk Vera di kamarnya
__ADS_1
Lama Edward mengetuk pintu, baru dibukakan oleh Vera
"Mas Edward sudah pulang?" tanya Vera saat pintu dibuka
"Iya, boleh saya masuk? karena ada yang ingin saya bicarakan denganmu," pinta Edward
Vera membuka lebar pintu kamarnya dan membiarkan suaminya masuk
Edward dan Vera duduk di sofa
"Maaf atas sikap temanku Vera," kata Edward memulai obrolan
"Ray maksud kamu?" tanya Vera
Edward mengangguk dan menatap Vera,
"Dia tidak salah mas, karena memang apa yang dia katakan itu benar adanya. Aku memang brengsek," kata Vera dengan nanar
"Namun aku tidak berkamuflase dengan hijab ku, aku hanya ingin menjadi manusia yang lebih baik lagi," imbuh Vera dengan air mata yang jatuh
Edward yang melihatnya menjadi iba, dengan tangannya dia mengusap air mata Vera.
"Sudah Vera jangan menangis, biarkan Ray berkata seperti itu," hibur Edward
Tangis Vera semakin pecah mengingat nasib dirinya,
"Aku dari dulu hanya menjadi seorang benalu dalam rumah tangga orang, itulah sebabnya Tuhan membenciku," kata Vera sambil terisak
Edward yang tidak tega pun membawa Vera pelukannya,
"Tuhan tidak pernah membenci umatnya, apalagi umat yang sudah bertaubat," ucap Edward
Dalam pelukan Edward tangis Vera semakin pecah, dia merasa nyaman dalam pelukan Edward. Di depan pintu kamar Vera nampak Renata yang mematung air matanya pun meleleh saat melihat suami yang dia sayangi memeluk wanita lain namun dia berusaha untuk tersenyum dan berjalan kembali ke kamarnya.
"Ya Tuhan semoga ujian ini segera berakhir, meskipun dia juga istri mas Edward namun aku tidak sanggup jika berbagi suami," kata Renata dengan menghapus air matanya
Setalah Vera tenang, Edward mengajak Vera untuk makan namun sebelumnya dia memanggil Renata di kamar.
"Sayang ayo kita makan, aku sudah lapar ni," ajak Edward
"Ayo, aku juga lapar. Ajak Vera sekalian mas," sahut Renata
"Dia sudah turun dulu sayang," timpal Edward
Renata dan Edward turun ke bawah dan Vera sudah menunggu di meja makan.
__ADS_1