Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Akan lebih baik jika menjadi teman


__ADS_3

"Apa kamu masih memiliki hubungan dengannya?" tanya Ilham


"Nggak mas, kami tadi hanya bertemu dan mengobrol saja," jawab Arini dengan ketakutan.


"Jangan bohong Arini, katakanlah sejujurnya sebelum kita menikah, aku tidak apa-apa jika kamu berubah pikiran Arini, kamu tentu ingin yang terbaik pula untuk hidupmu dan kulihat Pras sangat sempurna dibanding diriku," ungkap Ilham


"Jangan seperti itu mas, ku mohon. Aku sayangnya sama kamu bukan sama Pras." timpal Arini


Kini Arini dan Ilham kalut dengan pikirannya masing-masing. Ilham pasrah jika nanti Arini berubah pikiran dan meninggalkannya.


Mungkin ini balasan untuknya di masa lalu yang menyakiti Rara.


Mobil Ilham sudah sampai di rumah Arini,


"Kamu nggak masuk mas?" tanya Arini


"Nggak, aku langsung saja karena masih ada pekerjaan," jawab Ilham


Arini menghela nafas, "Mas kita akan menikah tapi kenapa hubungan kita malah seperti ini, aku tidak tau kenapa tiba-tiba kamu berubah begini tapi yang jelas kamulah orang yang aku cintai, tapi kalau kamu ragu ya terserah kamu mas, aku pasrah," jelas Arini lalu keluar.


Ilham melajukan mobilnya kembali, pikirannya benar-benar kalut. Penghianatan Vera kembali merasuk dalam dirinya, ketakutan akan dikhianati untuk kedua kalinya membuat Ilham dalam keraguan


Arrrggggh


"Kenapa jadi seperti ini hidupku, ya Tuhan ampunilah hamba mu ini," gumam Ilham


Ilham melajukan mobilnya tak tentu arah, hingga Edward menghubunginya


Edward meminta Ilham untuk datang ke rumah sakit.


Di rumah sakit, Edward dan Renata berbicara serius dengan tim dokter yang menangani bayi mereka.


"Selamat pak, bayi anda mengalami kenaikan BB, kondisinya juga semakin membaik," kata dokter


Renata langsung sujud syukur, dia sangat bersyukur sekali karena anak Vera keadaannya semakin membaik


"Alhamdulillah mas, anak kita selamat," kata Renata lalu bangun dari sujud nya.


"Iya sayang, Alhamdulillah akhirnya pengorbanan Vera tidak sia-sia," sahut Edward


"Vera anak kita selamat Vera," ucap Renata dengan bahagia


Air mata bahagia menitik, kini dia menjadi seorang ibu.

__ADS_1


"Sayang bagaimana kalau kita namai anak kita dengan nama Vera, supaya kita akan selalu ingat akan pengorbanan Vera " Edward memberi ide


"Iya mas aku setuju," timpal Renata


Mereka berdua melihat buah hati mereka dari luar, nampak bayinya kini sudah mulai bergerak-gerak meski ada beberapa alat yang menempel di tubuh bayi mungil tersebut.


"Cepat besar ya sayang supaya mama bisa menggendong kamu," kata Renata


"Papa akan selalu mencintai dan menyayangimu Vera, karena selama hidup mama kamu papa belum pernah mencintainya bahkan papa tidak mengabulkan permintaan terakhirnya," batin Edward dengan mata yang basah.


Lagi-lagi memory saat Vera memintanya untuk mengatakan kata cinta datang kembali, seandainya waktu bisa di ulang, tentu Edward akan mengatakannya bahkan kalau Vera meminta berkali-kali Edward mengatakan kata cinta dia pasti akan memenuhinya namun penyesalan hanyalah penyesalan, sesuatu yang telah terjadi tak akan kembali.


Edward dan Renata memutuskan untuk pulang, saat di loby dia bertemu dengan Ilham.


"Maaf Ilham, anak kami baik-baik saja jadi kami mau pulang sekarang.


Ilham melemas, Surabaya-Sidoarjo-Surabaya. Ilham merasa dirinya seperti bus yang beroperasi antar kota antar provinsi.


"Brengsek, brengsek, brengsek. Kalian semua kenapa mempermainkan aku? nasib bawahan apa memang seperti ini," batin Ilham dengan kesal


Ingin sekali Ilham menjerit sekeras-kerasnya menumpahkan kekesalan dan gundah gulana hatinya.


Dengan langkah lemah, Ilham keluar dari rumah sakit, dia memutuskan untuk pulang dan Istirahat.


Edward dan Renata yang sudah sampai di rumahnya kaget karena ada Pras duduk di teras rumahnya.


"Mungkin kangen dengan kamu mas," sahut Renata


Setelah turun dari mobil Edward dan Renata menghampiri Pras.


"Tumben kamu kesini Pras," tanya Edward


"Aku menginap di sini kak, pusing aku sama mama dan papa kerjaannya ngomel melulu, panas ni kuping," jawab Pras


"Kamu dari kecil memang nakal dan susah diatur jadi mama dan papa marah," sahut Edward


Edward dan Renata mengajak Pras untuk masuk dan menyuruhnya untuk istirahat.


Edward dan Renata menuju kamarnya,


"Eh mas wajah Pras tu kenapa kok lebam begitu ya," tanya Renata


"Habis berantem dengan Ilham di kantor tadi," jawab Edward

__ADS_1


Renata sempat kaget bagaimana bisa Ilham dan Pras berantem.


"Mereka rebutan wanita," sahut Edward seolah tau apa yang dipikirkan istrinya.


"Astagfirullah ada-ada saja," timpal Renata lalu dia merebahkan diri di tempat tidur begitu pula dengan Edward.


Keesokan harinya, pagi sekali Ilham sudah datang menjemput Edward sehingga tidak sengaja dia bertemu dengan Pras yang asik duduk di teras.


"Hai my rival, pagi sekali kamu datang," ucap Pras yang membuat Ilham kesal


"Pagi juga adik bos," sahut Ilham


Pras tertawa mendengar sahutan dari Ilham


"Ku suka caramu memanggilku tuan asisten," timpal Pras


Ilham menghela nafas lalu duduk di samping Pras,


"Sebenarnya untuk apa kita musuhan, toh kita juga nggak saling kenal," kata Ilham


Pras menatapnya sekilas


"Daripada kita bermusuhan lebih baik kita berteman, masalah Arini kita juga nggak bisa memaksanya siapa yang akan dipilih Arini. Karena kembali lagi cinta itu nggak bisa dipaksa," imbuh Ilham


Pras terdiam, sebenarnya dialah yang memaksakan kehendaknya pada Arini.


"Kamu benar Ilham, tapi cinta harus diperjuangkan," timpal Pras


"Kalau sama-sama mencintai bisa diperjuangkan tapi kalau salah satu tidak mencintai itu bukan perjuangan tapi pemaksaan," ucap Ilham yang membuat Pras sedikit tersentak


Pras terdiam hingga kata-kata Ilham membuyarkan kediamannya


"Cinta itu tak harus memiliki Pras, jika Arini memilihmu aku sudah siap dan pasrah akan nasibku daripada aku memaksanya untuk bersamaku dan yang akhirnya bisa saja dia nanti pergi meninggalkanku atau menghianati ku mending sebelum menikah aku merelakannya," jelas Ilham


Kata-kata Ilham ini entah untuk Ilham sendiri atau untuk dirinya yang jelas dia tersindir akan kata-kata Ilham.


"Aku sangat mencintai Arini, namun karena keegoisan orang tuaku kami akhirnya berpisah, hingga sekarang aku masih mengharapkannya." Pras mencurahkan isi hatinya pada Ilham


"Sebenarnya aku sendiri masih ragu dengan Arini saat kalian berpelukan di depan Mini market malam itu, untuk itu sebelum kami menikah aku akan benar-benar memastikannya karena aku nggak mau lagi gagal dalam membina rumah tangga." gantian Ilham yang mencurahkan hatinya.


Kini mereka kalut dalam pikiran masing-masing, Pras kini terbuka sedikit hatinya.


"Sebenarnya itu adalah pelukan perpisahan kami namun aku mengingkarinya. Aku tetap saja mengganggunya yang mengatas namakan teman," kata Pras

__ADS_1


Arrgggggg


"Kenapa cinta itu membuat orang menderita, aku mencintainya Ilham, aku tak ikhlas jika dia menikah dengan orang lain," sahut Pras.


__ADS_2