
Siapa yang tahu nasib seseorang, seperti nasib Leo dan Rara, Ilham dan Arini serta Renata dan Edward.
Meski hidup mereka penuh dengan air mata namun kini mereka telah bahagia dengan pasangan serta buah hati mereka masing-masing.
"Akhirnya kita menikah juga ya mas, tadi aku sempat pasrah jika takdirku akhirnya dengan mas Pras," kata Arini
"Aku juga sayang, saat para tamu pulang dan dirimu masih belum datang. Pikiranku sudah kemana-mana, aku kira kamu pergi bersama Pras," sahut Ilham
Ilham dan Arini saling berpelukan,
"Jadi sudah siap dengan malam pertama kita?" tanya Ilham
Arini mengangguk, "Tapi pelan-pelan ya," pinta Arini
"Tentu sayang," sahut Ilham
Ilham menyambar bibir Arini, tangannya berkelana kemana-mana yang membuat Arini dipenuhi kenikmatan yang memunculkan hasratnya.
Tangan Ilham melucuti baju atas Arini, hingga mata Ilham membulat melihat dua benda kenyal Arini yang ranum, tidak besar dan juga tidak kecil. Terasa sangat kencang sekali sangat terlihat benda ini tidak pernah di jamah sebelumnya.
Ilham memainkan lidahnya di sana, menikmati pucuk benda kenyal Arini,
"Aaahhhhh mas Ilham, nikmat sekali mas" Arini mengerang penuh nikmat atas pergerakan lidah Ilham yang menari menyusuri dua benda kenyal Arini.
Puas di situ kini Ilham bermain di leher Arini sesekali menyesap sehingga meninggalkan jejak merah di sana.
Kini tangan Ilham masuk menyusup ke dalam celana, terlihat sangat basah.
"Basah sekali sayang," kata Ilham yang membuat Arini malu
Ilham kini membuka semua penutup bajunya, nampak benda yang menegang dengan sempurna di bawah. Arini yang melihatnya langsung menutup matanya. Dia sangat malu melihat benda Ilham yang berdiri tegak bak tugu Monas
Kini giliran Ilham membuka celana Arini. Matanya membulat melihat bagian bawah Arini dan sekitarnya. Ilham mengelus paha mulus Arini yang membuat Arini mende**sah penuh kenikmatan.
"Siap sayang?" tanya Ilham
Arini mengangguk, Ilham mendekatkan barangnya di area sensitif Arini
"Sedikit sakit, tahan ya ," pesan Ilham
Barang Ilham berusaha keras menerobos pertahanan Arini yang masih kokoh.
"Sakit mas" lirih Arini dengan menahan sakit
"Bentar sayang, pertahanan kamu kokoh sekali sehingga sulit masuk," sahut Ilham
Ilham berusaha lebih keras dan akhirnya gol.... Benda tumpul Ilham masuk sempurna dalam pangkal paha Arini.
Arrrggggh
Teriak Arini merasa kesakitan namun nikmat, untuk menetralisir rasa sakit Arini, Ilham menyambar bibir Arini.
Dengan pelan Ilham memaju mundurkan pinggulnya baru sebentar saja Ilham sudah sampai pada pelepasannya begitu pula dengan Arini yang menegang yang menandakan dia juga sampai juga.
Ilham mencabut bendanya nampak darah menempel di bendanya dan juga sprei.
Ilham tersenyum lalu mengecup kening Arini
__ADS_1
"Terima kasih sudah menjaganya untukku sayang," kata Ilham
"Iya mas, aku juga senang akhirnya mahkota yang aku jaga diambil suami yang benar-benar aku cintai," sahut Arini
Mereka berdua pun mengobrol banyak, Lalu Ilham dan Arini mengulang olahraga panas mereka.
Di sisi lain,
Edward dan Renata sudah berkumpul dengan Vera kecil, sepulang dari acara pernikahan Ilham Edward dan Renata mengambil bayi mungil mereka.
Renata sangat senang sehingga dia selalu menggendong Vera kecil.
"Mas aku sangat bahagia akhirnya kita memiliki anak," kata Renata yang terus menggendong Vera kecil
"Iya tapi jangan buat aku cemburu dengan Vera kecil ini, dia mendapatkan cinta kasihmu yang besar dan mengabaikan aku," ucap Edward yang membuat Renata tersenyum.
Renata meletakkan Vera kecil di tempat tidurnya lalu dia mengalungkan tangannya di leher Edward
"Jadi aku harus bagaimana sekarang? menggendong kamu juga mas?" tanya Renata
"Boleh jika kamu kuat menggendong aku," jawab Edward sambil terkekeh
Renata menyambar bibir suaminya, tanpa ragu Edward menggendong Renata membawanya ke kamar.
"Kita olahraga dulu ya," ucap Edward
Renata mengangguk dengan tersenyum
"Yes," ucap Edward kegirangan.
Saat hendak menyerang, Renata keluar kamar. Dia meminta art untuk menjaga Vera sebentar. Lalu dia kembali ke kamar dan melanjutkan yang sempat tertunda.
*****
Dengan telaten Rara mengurusi kedua bayinya yang sedang menangis.
"Sayangnya papa, kenapa menangis?" tanya Leo pada Leora
Rara tersenyum bahagia melihat Leo yang ikut mengurusi kedua bayinya. Tiap malam Leo juga membantu Rara untuk membuatkan susu formula jika Asi tidak mencukupi.
"Kalau kamu capek, tidurlah dulu mas. Biar aku yang menidurkan mereka," ucap Rara
Leo memeluk Rara dari belakang,
"Mana mungkin aku tega membiarkan istriku yang cantik ini mengurusi dua angel ku sendirian," ucap Leo
Rara meletakkan Liora di tempat tidurnya, lalu membalikkan badannya
"Aku bahagia mas, kamu suami idaman banget, terima kasih ya mas," sahut Rara sambil memeluk Leo
"Iya sayang." Leo semakin mengeratkan pelukannya pada Rara.
Rara semakin menenggelamkan wajahnya di dada Leo menghirup aroma tubuh Leo yang sudah menjadi candu.
Keesokan harinya seperti biasa, Leo berangkat ke kantor, Rara dan kedua bayinya mengantar Leo ke depan.
"Hati-hati ya papa, semangat cari uangnya buta kita," ucap Rara
__ADS_1
Rara mencium punggung tangan Leo dan Leo mengecup kening Rara tak lupa Leo mengecup kedua bayi mereka.
"Nanti kalo kerepotan minta bantuan mama atau art," pesan Leo lalu dia masuk ke dalam mobil.
Rara melambaikan tangannya pada Leo hingga mobil Leo hilang di balik pagar
Ray juga bersiap hendak berangkat, tak lupa dia berpamitan dengan kedua baby twins
"Halo Leora dan Liora," sapa Ray sambil mengusap pipi kedua bayi mungil ini
"Kapan ni kak Ray menyusul?" tanya Rara
Ray melemparkan tatapannya pada Rara, lalu tersenyum
"Aku pengen secepatnya namun jodohku ntah dimana," jawab Ray
"Sabar kak Ray bila sudah waktunya pasti bertemu, aku selalu mendukungmu," ucap Rara
Ray tersenyum
"Ya sudah Ra, aku berangkat dulu ya," pamit Ray lalu masuk mobilnya.
Setelah kepergian kakak beradik Ray dan Leo
Rara menidurkan Leora dan Liora ke kamarnya.
Karena semalam kurang tidur akhirnya Rara ikut tidur bersama kedua buah hatinya.
"Mama ikut tidur ya," ucap Rara lalu merebahkan dirinya di sofa.
********
Karena ada urusan dengan Leo, Ray melajukan mobilnya ke kantor Leo.
Ray satu lift dengan Angel yang juga ada urusan dengan Leo.
Netra Angel terus saja menatap Ray begitu pula dengan Ray
"Kelihatannya kamu tertarik denganku, aku perhatikan dari tadi kamu terus saja menatapku," kata Ray yang mendapat senyuman dari Angel.
"Maaf pak, wajah anda seperti tidak asing," sahut Angel
"Apa mungkin wajahku banyak dijual di pasar-pasar tradisional ya," timpal Ray dengan terkekeh.
Angel dan Ray berjalan bersama menuju ruangan Leo.
********
Makasih ya kak, yang udah ngikutin cerita Aku bukan wanita lemah hingga episode ini.
Untuk cerita Edward Renata dan Ilham Arini sampai disini ya.
Berikutnya Kita ke cerita Leo, Rara dan Ray sebelum Tamat sedikit cerita untuk Pras.
Jangan lupa hadiah, vote, like, koment
Daripada poin menumpuk tak dipakai kan lebih abik disumbangkan ke aku, begitu pula vote daripada hilang mending buruan di kasihkan aku, tak lupa koment dan like nya ya.
__ADS_1
Untuk komentar yang nggak aku balas mohon maaf, karena terkadang tidak ada pemberitahuan jadi aku nggak tau, namun selalu aku baca.
Jujur aku terhibur sekali bahkan tawa sendiri membaca komen-komen kakak-kakak semua terima kasih,😘😘😘