Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Pergi


__ADS_3

"Tapi apa dok?" tanya Renata dengan netra menatap dokter


"Tekanan darahnya tinggi sekali sehingga kami tim dokter tidak berani ambil keputusan, kami tidak bisa melakukan operasi sesar, kalau melahirkan secara normal keadaan pasien yang sangat lemah kami takut jika kedua-duanya tidak tertolong," dokter menjelaskan.


"Bagaimana bisa seorang dokter tidak bisa mengambil keputusan untuk pasiennya," nada bicara Renata mulai meninggi.


Edward memeluk istrinya dan mengelus punggungnya supaya merasa tenang.


"Please dok, lakukan yang terbaik untuk mereka," ucap Edward dengan mata yang basah.


Renata terus menangis dalam pelukan suaminya, dia tidak bisa membayangkan jika akan kehilangan anak yang dikandung Vera maupun Vera. Tujuh bulan menanti kelahiran sang buat namun malah seperti ini


"Bagaimana ini mas?" tanya Renata dengan isakan yang mulai mengiringi


"Kita serahkan saja pada yang di atas sayang, rencana Allah jauh lebih indah. Kita manusia hanya bisa pasrah," Edward mengelus rambut Renata.


"Ya Allah selamatkan lah mereka," doa Renata


"Mereka akan baik-baik saja Renata," sahut Edward yakin


Renata masuk dalam ruang ICU dimana Vera masih merintih kesakitan. Dia menggenggam tangan tangan Vera dan memberinya kekuatan


"Vera Vera kamu harus kuat, lihatlah kita sebentar lagi akan memiliki anak," kata Renata menyemangati Vera


Vera hanya mengangguk dan tersenyum


Dokter pun mendekat,


"Satu-satunya cara kita harus memilih satu diantara mereka, ibu atau anaknya," kata dokter


Vera dan Edward bagai disambar petir begitu pula dengan Vera. Dia pun pasrah jika nantinya mereka akan memilih anak dalam kandungannya.


Lagi-lagi air mata Renata leleh melihat Vera, begitu pula dengan Edward.


"Kita harus bagaimana mas," kata Renata dengan terisak


"Cepat nyonya mana yang harus kami selamatkan," tanya dokter


Dengan menghela nafas, Renata berucap


"Selamatkan ibunya dok,"


Vera yang mendengarnya kaget, dia tidak menyangka kalau Renata lebih memilih menyelamatkannya dari pada anak yang sangat dia inginkan.


"Aku tak menyangka Renata, kamu memang wanita yang berhati seperti malaikat," gumam Vera


Ilham yang baru datang menunggu di luar,


Kini mereka bertiga menunggu di luar ruang operasi, selama satu jam mereka menunggu dan betapa kagetnya Renata suster keluar dari ruang operasi membawa keluar bayi mungil.


"Anak kita selamat mas" kata Renata berbinar

__ADS_1


Renata dan Edward mendekat


"Maaf Bu, kami harus segera menghangatkan bayinya," kata suster dan berlalu dengan membawa pergi bayi mungil tersebut


"Mas apa keduanya selamat?" tanya Renata dengan wajah berbinar


"Kelihatannya seperti itu sayang," jawab Edward


Setelah semuanya selesai Dokter pun keluar


"Bagaimana dengan ibunya dok," tanya Edward dengan cemas


"Mohon maaf, kami hanya bisa menyelamatkan bayinya. Ibunya tidak bisa kami selamatkan," jawab dokter dengan raut wajah yang sedikit ditekuk


Renata, Ilham maupun Edward kaget, terlebih Renata, dia sangat kehilangan Vera


"Bukankah saya meminta anda menyelamatkan ibunya kenapa anda bertindak sendiri. Sekarang kembalikan nyawa saudara saya," kata Renata dengan diiringi Isak tangis


"Mohon maaf Bu," sahut dokter


Flashback


Setalah Edward dan Renata keluar ruang ICU, Vera menarik tangan sang dokter


"Dok, tolong selamatkan anak saya," kata Vera dengan lirih


"Tapi nyonya," sahut Dokter


Dokter nampak berfikir sejenak, dia sungguh bingung menyelamatkan ibu atau anaknya.


"Cepat dok keadaanya semakin lemah," kata Suster mengingatkan


Vera segera dibawa ke ruang operasi dan operasi pun dilakukan,


Setelah mengambil bayi dari perut Vera, dokter melihatkan bayi mungilnya pada Vera.


"Bayi anda cantik sekali," ucap dokter dengan tersenyum


Vera tersenyum seraya berucap "Alhamdulillah dok,"


Setelah mengucap hamdalah Vera menghembuskan nafas terakhirnya.


Seolah tau kalau ditinggal ibunya bayi Vera menangis dengan keras meskipun kondisinya juga lemah mengingat dia lahir prematur.


"Innalilahi," ucap dokter dengan netra yang terus memandangi Vera


"Lihatlah dok, dia meninggal dengan tersenyum dan sangat tenang," kata dokter yang lain


"Subhanallah dia meninggal dengan husnul khotimah," timpal dokter satunya


Dokter segera menyuruh suster untuk menghangatkan bayi cantik Vera.

__ADS_1


Setalah membersihkan alat-alat dokter pun keluar.


Back


"Tapi ibu Vera sendiri yang menginginkan supaya bayinya yang diselamatkan karena menurutnya bayi ini yang kalian nantikan," jelas dokter


Renata langsung masuk ke dalam, terlihat tubuh kaku Vera berbaring dengan tenang dan bibir yang melengkung.


"Terima kasih Vera, maafkan aku," kata Renata sambil memeluk tubuh kaku Vera


"Kamu adalah saudara terbaik yang pernah aku miliki, meski sangat singkat namun aku sangat bahagia bisa menjadi saudaramu," imbuh Renata


Ilham yang melihat Vera pun ikut menimpali


"Tuhan lebih sayang dirimu Vera, sehingga mengambil mu dengan cara yang baik. Meninggal dengan memperjuangkan anak adalah mati syahid dan surga telah menantimu,"


Dengan sedih Edward ikut mendekat seraya berkata


"Aku mencintaimu Vera, maafkan aku yang tidak mengabulkan keinginan terakhirmu." Edward pun mengecup kening Vera.


Kecupan pertama dan terakhir dari Edward untuk Vera.


"Selamat jalan Vera," imbuh Edward


Renata terus saja menangis, dia sungguh menyesal karena telah menyakiti Vera sebelum dia kembali pada sang pencipta.


Ilham memberanikan diri mendekat,


"Meski singkat kita sempat memiliki buah hati walaupun berakhir dengan tidak baik namun ada momen-momen dimana aku bahagia bersamamu Vera, terima kasih," ucap Ilham yang membuat Edward terkejut namun dia belum ingin mempertanyakannya pada Ilham saat ini karena mengurusi jenazah Vera jauh lebih penting


Edward meminta Ilham untuk mengurusi jenazah Vera, rencananya besok pagi baru akan dikebumikan.


"Sudah sayang jangan terus menangisi Vera, dia di di alamnya sudah bahagia bahkan mungkin saat ini dia sedang tersenyum bersama orang-orang Sholeh Sholeha lainnya," hibur Edward


Edward dan Renata pulang ke rumah terlebih dahulu yang diikuti rombongan Vera.


Jenazah Vera di letakkan di ruang tengah, Renata menemani jenazah Vera dengan tak henti-hentinya menangis


"Vera, kami disini akan selalu mengingatmu, doakan kamu di setiap malam kami, semoga tenang kamu di sana. Aku akan menjaga anak kita kamu akan tetap ibunya sedangkan aku ibu asuhnya." Renata bermonolog dengan jenazah Vera


Ray yang besok akan kembali ke Jakarta pun hendak menyerahkan berkas ke rumah Edward namun betapa kagetnya dia saat masuk rumah melihat Vera yang sudah terbujur kaku,"


"Apa yang terjadi Renata, Edward, Ilham?" tanya Ray dengan perasaan yang entah kenapa


"Vera meninggal Ray," jawab Edward


"Innalilahi," sahut Ray dengan mata yang berkaca


Ray mendekatkan dirinya pada Vera,


"Semoga tenang di sisinya Vera, aku akan selalu mendoakan kamu di setiap malam ku,"

__ADS_1


Ray tidak menyangka Vera akan berpulang secepat ini padahal kemarin baru saja dia bertemu dengan Vera.


__ADS_2