
"Sayang, aku ini kerja Lo bukan untuk menggoda bule-bule," hibur Leo
"Kan bisa saja mas kamu diajak ke Kuta atau Nusa dua atau yang lain dan ada Bule trus kamu goda gitu," ucap Rara yang membuat Leo gemas dengan sang istri.
Sebenarnya Leo tau kalau Rara nggak ingin ditinggal untuk itu dia mencari alasan supaya Leo tidak berangkat atau mengajaknya.
"Bagaimana bisa aku menggoda yang lain jika ada bidadari di sisiku," sahut Leo
"Bujuk," timpal Rara
(bohong)
Leo terkekeh sambil memeluk istrinya dari belakang, dia menciumi leher belakang Rara sehingga membuat Rara kegelian.
"Kamu mau minta lagi?" tanya Leo dengan lidahnya yang terus bermain di leher Rara
"Iya mas, ahh." Rara mendesah karena Leo mengecup dan menghisap leher Rara sehingga meninggalkan jejak merah.
Mereka bergelut lagi, dan tiga puluh menit kemudian mereka sudah rapi kembali.
Meski berat namun Rara tetap membiarkan Leo pergi ke Bali.
"Apa kamu nggak ingat perjuanganku untuk dapatin kamu, mana mungkin hanya melihat wanita cantik aku akan tergoda. Cintaku tu telah habis sayang nggak tersisa untuk wanita lain karena telah aku habiskan cintaku hanya untukmu," ucap Leo dengan memeluk istrinya
Rara menyesal sempat menuduh Leo akan menggoda Bule-bule di Bali. Apa semua orang hamil seperti ini, tak rela jika ditinggal suaminya? entahlah
Setiap orang punya ceritanya masing-masing termasuk Leo dan Rara.
Rara tidak ikut mengantar Leo ke Bandara karena Leo pergi bersama Bayu.
"Hati-hati di rumah ya sayang," pesan Leo lalu mengecup kening istrinya
"Iya mas, nanti kalau udah sampai jangan lupa ngabarin aku ya," sahut Rara
"Ok sayang," timpal Leo
Mama dan Ray juga ikut mengantar Leo di teras, Leo juga berpesan nitip Rara selama dia di Bali.
Mama yang merasa tidak enak badan masuk dalam terlebih dahulu karena beliau hendak istirahat.
Saat hendak masuk kedalam rumah entah mengapa Rara memegangi perutnya dengan menahan sakit. Ray yang melihatnya pun ikut cemas,
"Kamu kenapa Ra?" tanya Ray
"Bayinya menendang sangat kuat kak," jawab Rara
"Anak dalam kandungan mu itu benar-benar luar biasa, semoga kelak dia akan menjadi anak yang liar biasa pula." Ray pun terkekeh
"Amin," sahut Rara
Rara yang bosan di kamar memutuskan untuk pergi ke kafenya, saat hendak berangkat Ray yang berada di ruang tengah bertanya
"Ra, mau kemana?" tanya Ray
"Mau ke cafe kak," jawab Rara
"Aku boleh ikut?" tanya Ray lagi
"Boleh," sahut Rara
__ADS_1
Mereka berdua pun pergi ke cafe bersama, setibanya di sana, Ray sangat terkesima dengan eksterior dan interior cafe Rara.
Kesan Elegannya sangat dapat, sebab itu cafe Rara semakin banyak pengunjung.
Ray ikut masuk ke dalam ruangan Rara,
"Kak Ray mau makan apa?" tanya Rara
"Terserah kamu saja Ra," jawab Ray dengan tersenyum.
Ray kini berkutat dengan pekerjaannya, dia menggunakan smartphone nya untuk memantau pekerjaan yang ditinggalkannya.
Tak selang berapa lama, Rara kembali dengan pelayan yang membawakan makanan Ray.
"Letakkan sana." Rara menunjuk meja
Pelayan pun menaruh makanan di tempat yang ditunjuk Rara.
"Kak Ray silahkan," kata Rara
Netra Ray menoleh ke arah Rara, dan berucap
"Makasih Ra, nanti aku cicipi," sahut Ray lalu kembali ke smartphone nya.
Rara juga berkutat dengan komputernya untuk mengecek laporan yang menumpuk di email-nya.
Satu persatu Rara membukanya, netra nya terus mempelajari satu-satu laporan yang dikirim anak buahnya.
"Pendapatan cafe ini terus bertambah, Alhamdulillah," gumam Rara
Rara sangat bersyukur untuk itu dia ingin membaginya dengan orang-orang yang membutuhkan itung-itung bayar zakat maal.
Ray masih sibuk dengan dengan smartphone nya, hingga satu jam ke depan dia baru saja meletakkan smartphone nya.
Bola mata Ray dan hidungnya menuju makanan yang tersaji di meja, seketika mulut Ray memproduksi Saliva dalam jumlah banyak.
"Wah enak sekali, Ra aku makan ya." Dengan lahap Ray melahap makanan yang ada di meja.
Dalam sekejam makanan dalam meja ludes semua
"Kenyang nya," ucap Ray
Rara yang melihat Ray pun tersenyum, "Kamu masih sama ya kak Ray seperti saat kita pertama kali bertemu." Rara membuka obrolan
"Maksudnya Ra," tanya Ra
"Tetap kocak kak Ray," jawab Rara dengan tersenyum
Ray ikut tersenyum
"Dulu aku mencari keberadaan mu Ra, aku berharap bertemu dengan kamu lagi. Memang aku bertemu denganmu lagi namun sebagai calon istri adikku," ungkap Ray
Rara tidak menyangka kalau Ray mencarinya,
"Bearti kita tidak jodoh, tidak seperti ucapan mu saat itu," sahut Rara
"Iya, namun aku bersyukur dengan kamu menjadi istri adikku setidaknya aku bisa melihatmu kembali," timpal Ray
Ray dan Rara asik mengobrol hingga Rara lupa dengan ponselnya.
__ADS_1
Leo berkali-kali menghubungi namun tidak dijawab.
"Kamu kemana sih sayang." Leo mengirim pesan pada Rara
"Kak Ray bisakah kak Ray mengantarku makan, aku ingin sekali makan yang seger-seger," pinta Rara
"Kamu mau makan apa?" tanya Ray
"Es oyen kak, sama mie ayam Jakarta," jawab Rara
Kini mobil Ray pun membelah jalanan kota yang sangat padat di tambah suhu ekstrem dari kota Surabaya membuat Rara sedikit kepanasan meskipun AC mobil sudah menyala.
"Astagfirullah Kak Ray." Rara menepuk keningnya
Mendengar kata- kata Rara membuat Ray mengerem mendadak
"Ada apa Ra?" tanya Ray cemas
"Aku lupa tidak mengecek ponselku pasti mas Leo menghubungi aku," jawab Rara
"Ya nanti di cek lah Ra," sahut Ray lalu dia pun melajukan mobilnya kembali
"Tertinggal di cafe kak," timpal Rara
"Hubungin pakai ponselku ta?" tanya Ray
"Nggak usah kak, nanti saja," jawab Rara
Setelah menemukan tempat yang cocok dan nyaman mereka turun, Ray yang sudah kenyang hanya menemani Rara.
Kebetulan sekali ada Vera dan juga Renata yang sedang makan di situ.
"Vera," panggil Rara
"Rara," sahut Vera
Vera dan Renata mendekati Rara dan Ray,
"Ray?" panggil Renata
"Nggak ngasih kabar ternyata punya istri hamil," imbuh Renata
"Dia istri Leo," ucap Ray
"Oalah kiraen istri kamu Ray," sahut Renata
Renata dan Vera ikut bergabung hingga datanglah Ilham dan juga Edward.
Mata Ilham membulat karena melihat dua mantan istrinya dan juga Ray, rivalnya dulu.
"Halo," sapa Edward
Rara kaget pasalnya melihat Ilham yang datang dengan suami Vera.
Edward menarik kursi dan mendekati Renata, sebuah kecupan mendarat dengan sempurna di kening Renata, Rara semakin bingung begitu pula dengan Ilham.
"Kalian pasti bingung ya," sahut Edward
Kedua orang di depannya hanya mengangguk dan menunggu, menunggu penjelasan Edward namun Edward tidak menjelaskan apa-apa.
__ADS_1
"Sungguh aku bingung sekali," gumam Rara
Edward hanya tersenyum, lalu merela makan bersama.