Aku Bukan Wanita Lemah

Aku Bukan Wanita Lemah
Masak bersama


__ADS_3

Halo kak, gimana kabarnya semua. Semoga sehat ya.


Dah akhir bulan nih, nanti malam jam 12 aku umumkan pemenangnya ya kak,


Give away nya pulsa ya kak, aku ambil 5 teratas yang dukung aku paling banyak mulai dari vote, aktif komen, hadiah dan like


Pemenang pertama pulsa 50.000


Pemenang kedua pulsa 25.000


Pemenang ketiga pulsa 10.000


Pemenang ke empat dan ke lima pulsa 5 ribuan ya


nanti kalau novelnya sudah tamat, give away nya lebih banyak lagi ya kak.


Biar lebih gampang sharing nya ikuti akun aku nanti aku folback.


Terima kasih kak😘😘😘😘


************


Seusai melakukan kewajibannya sebagai seorang muslimah Vera keluar kamar, dia melihat Edward duduk di meja makan sambil minum.


"Mas," panggil Vera


Vera menarik kursi dan duduk di seberang Edward yang asik minum


"Seharusnya kamu menolaknya, maaf semalam hal itu di luar kesadaran ku," kata Edward tanpa menatap Vera


Gigi Vera menggigit bibir bawahnya, dia merasa sakit akan kata-kata Edward namun dia masih bisa tersenyum,


"Maaf mas, aku tak kuasa menolak keinginanmu karena tenaga mu jauh lebih kuat dari tenaga yang aku miliki," kata Vera


"Iya, semoga benih itu akan segera menjadi anak," sahut Edward.


"Amin," timpal Vera


Puas minum Edward pamit untuk kembali ke kamarnya sedangkan Vera menangis sendiri di ruang makan.


Renata yang baru keluar kamar menghampiri Vera,


"Vera, kamu sudah bangun?" tanya Renata lalu menarik kursi dan duduk di samping Vera


Vera segera menghapus air matanya dan menjawab pertanyaan Renata


"Iya Ren aku juga baru saja bangun,"


"Hey kamu kenapa? kenapa menangis?" tanya Renata dengan raut wajah yang khawatir

__ADS_1


"Tidak apa-apa, aku hanya kelilipan saja." jawab Vera beralasan


Renata tidak percaya begitu saja, lalu dia menarik tubuh Vera supaya menghadapnya.


"Apa mas Edward menyakitimu?" tanya Renata dengan menatap mata Vera


Vera hanya menggelengkan kepala,


"Mas Edward sangat baik padaku, mana mungkin dia menyakiti aku Renata," jawab Vera


"Syukurlah," sahut Renata


Kini mereka berdua berduet di dapur dan mengusir art yang sudah siap untuk memasak.


Vera dan Renata rencananya akan masak Kare ayam,


"Ceritakan padaku tentang dirimu Vera, sebulan kamu di sini namun aku masih belum tau apa-apa tentang kamu," kata Renata memulai obrolan


"Dari kecil aku tidak pernah tau orang tuaku, aku di buang saat aku bayi. Setelah besar aku kerja di salah satu perusahaan besar lalu menikah dengan managernya. Karena kesalahanku aku diceraikan dan diusir hingga akhirnya aku bertemu mas Edward dia telah menyelamatkan aku," ungkap Vera dengan mata berkaca


Mengingat kehidupan masa lalunya membuat Vera menitikkan air mata, dia sungguh menyesal andaikan waktu bisa diputar kembali dia tentu tidak akan merusak rumah tangga Ilham dengan Rara.


"Sudah, maafkan aku jika malah membuatmu sedih. Sekarang aku adalah saudaramu, meskipun nanti kamu dan mas Edward berpisah namun aku tetap saudaramu," kata Renata dengan memeluk Vera


"Makasih ya Renata," sahut Vera


Kini mereka fokus memasak kembali, dalam sekejap kare ayam dan teman-temannya sudah tersaji di meja.


"Kamu apa-apaan sih mas, kenapa makannya nggak nunggu kami," gerutu Renata


"Keburu lapar sayang, dari semalam aku nggak makan," sahut Edward


"Kok bisa nggak makan?" tanya Renata dengan menatap suaminya


"Malas saja," Jawab Edward


Karena tidak ingin pembahasan mereka melebar Edward segera menghabiskan sarapannya dan berangkat ke kantor.


Melihat Renata dan Edward saling mencintai membuat Vera iri dan bersedih, seandainya dulu dia nggak serakah dan gila pria kaya tentu pasti tiap pagi dia merasakan apa yang Renata rasakan.


*******


Seperti biasa Leo mendapatkan morning Sicknessnya, Rara dengan telaten memijat tengkuk Leo, tak lupa dia mengoles minyak kayu putih supaya mual nya hilang.


"Bagaimana mas?" tanya Rara


"Pusing sayang," jawab Leo dengan lirih karena tubuhnya sangat lemah


Melihat kondisi tubuh suaminya yang lemah untuk hari ini dia melarang Leo untuk bekerja.

__ADS_1


"Hari ini nggak usah ke kantor, biar pekerjaan kamu di handle mas Bayu," saran Rara


"Iya sayang," sahut Leo menurut


Pagi ini Leo sangat menurut pada Rara, tidak seperti biasanya yang pasti berdebat dulu.


Rara menyiapkan makanan untuk Leo dan juga dirinya, karena kondisi tubuh Leo yang lemah membuat Leo tidak bisa turun ke bawah.


"Makan di kamar Ra?" tanya mama


"Iya ma, tubuh mas Leo sangat lemah sekali," jawab Rara


"Dia muntah lagi?" tanya mama


Rara hanya mengangguk, dia sebenarnya tidak enak sama mama karena seharusnya yang muntah itu dirinya bukan Leo


"Apa selama sembilan bulan mas Leo seperti ini ma?" tanya Rara


"Nggak Ra, biasanya setelah trimester pertama akan hilang kok," jawab Mama


Kalau kalian periksa lagi coba minta obat anti mual soalnya kalau Leo mual terus kasian juga, kan dia harus bekerja," ucap mama


"Iya ma," jawab Rara singkat lalu dia pun pamit ke kamar


Setelah di kamarnya Rara meletakkan makanan di atas nakas dan membangunkan Leo yang merem kembali.


"Mas makan dulu yuk," kata Rara sambil membangunkan suaminya


"Iya sayang," jawab Leo lalu bangun dengan dibantu Rara


Rara mengambil makanannya dan menyuapi Leo dengan telaten.


"Jika tiap makan selalu disuapin kamu gini aku rela kok jika sakit terus," goda Leo yang membuat Rara meletakkan sendok lalu menatapnya


"Mas jangan bilang gitu, kata adalah doa. Aku nggak mau kamu sakit mas seandainya bisa biar ku gantikan morning Sickness nya," kata Rara


"Kalau cuma hanya ingin aku suapin kenapa harus nunggu sakit, saat mas Leo sehat aku mau kok nyuapin mas Leo," imbuh Rara


"Maaf sayang, aku hanya bercanda. Bener ya walaupun sehat selalu suapin akunya," sahut Leo


Rara tersenyum dengan mengangguk, dia sangat suka kalau Leo manja padanya.


Di letakkan nya piring yang dia bawa lalu Rara memeluk Leo


"Apapun yang kamu mau aku akan melakukannya mas karena aku sangat mencintai kamu," kata Rara dengan lirih.


"Aku juga sayang, semoga cinta kita lekang oleh waktu dan nggak habis dimakan usia. Asal kamu tau sayang, aku selalu bermimpi tentang indah hari tua bersama mu dengan anak-anak kita ,bayangin kalau rambut kita memutih dengan gigi yang udah nggak genap lagi" kata Leo dengan mengecup kening istrinya


Mendengar kata-kata romantis dari Leo membuat Rara menitikkan air mata seraya berkata

__ADS_1


"Terima kasih mas Leo sayang, aku janji akan selalu di sampingmu hingga maut memisahkan kita,"


Rara dan Leo semakin mengeratkan pelukan mereka masing-masing, baik Leo maupun Rara mereka sangat bahagia karena bisa saling memiliki.


__ADS_2