
Sebulan sudah berlalu, Ilham masih saja terjebak dalam masalahnya sehingga Leo benar-benar tidak dapat memberikan toleransi lagi.
"Kamu tau alasan saya memanggilmu?" tanya Leo
"Tahu pak, maaf pak kalau kinerja saya buruk belakangan ini," jawab Ilham dengan menunduk
Leo pun menggebrak meja, "Sudah tau kenapa tidak berbenah," kata Leo dengan marah
"Maaf pak," sahut Ilham
"Aku tidak butuh maaf mu, mulai detik ini kamu bukan karyawan saya, maaf Ilham saya memecat mu," ucap Leo tanpa menatap Ilham yang duduk di seberangnya
Ilham pun kaget dengan keputusan Leo, tapi dia juga tidak bisa apa-apa lagi. Dirinya kini benar-benar hancur, kehilangan kedua istrinya dan kini kehilangan pekerjaannya.
Dengan langkah gontai Ilham keluar ruangan Leo, dia membereskan barang-barangnya setelah itu pergi dari perusahaan yang enam tahun menjadi tempatnya mencari rejeki.
Kali ini Ilham pulang ke rumah orang tuanya, mama nya bertanya kenapa dia sudah pulang.
"Aku dipecat ma," jawab Ilham
"Kenapa Ilham?" tanya mama lagi
"Karena kinerja Ilham yang semakin buruk ma," jawab Ilham
Mama mengelus dadanya, anaknya kini kehilangan semua yang dibangunnya, mulai dari istri dan kini pekerjaannya.
"Semoga kamu bisa lebih bijak Ilham dalam mengatasi masalah kamu sampai kapan kamu akan begini terus, hidup harus maju. Jadikan kesalahanmu sebuah pelajaran supaya kedepannya kamu nggak mengulangi lagi kesalahan yang sama. ingat-ingat jangan menyakiti wanita yang telah berjuang bersama mu, karma itu berlaku." Mama pun menasehati Ilham
Ilham merenungi kata-kata mamanya, lalu dia pamit ke kamar untuk istirahat.
Sedangkan Vera, terus saja menangis dan berdoa supaya dia bisa keluar dari tempat terkutuk yang mengekangnya. Dia bernazar pada sang penciptanya kalau dia akan menjadi wanita yang lebih baik lagi jika dia bisa keluar dari tempat ini.
Kelihatannya Tuhan masih berbelas kasihan dengan Vera, malam ini ada seorang pengusaha kelas kakap yang datang ke tempatnya bekerja, dia nampak sedih. Vera yang melihat lelaki tersebut mendekat lalu duduk di sampingnya
"Aku perhatikan Anda nampak bermuram durja, Anda ada masalah tuan?" tanya Vera dengan sopan tak lupa senyum manisnya
"Iya" jawab lelaki tersebut dengan menatap Vera
Lelaki itupun bercerita masalahnya pada Vera, dia sangat sedih dengan permintaan istrinya.
"Apa kamu bisa menolongku?" tanya Lelaki tersebut
"Kamu kan tau aku seorang wanita malam bagaimana aku bisa menolong mu lagipula jika aku menolong mu sekalipun istrimu belum tentu menerimaku" kata Vera
"Apa kamu bisa keluar dari tempat ini?" tanya lelaki tersebut
"Bisa namun harus ada yang menebus diriku," jawab Vera
__ADS_1
pucuk dicinta ulam pun tiba, lelaki tersebut mau mengeluarkan Vera dari tempat terkutuk tersebut asal Vera mau membantunya.
Mereka akhirnya membuat keputusan, dengan harga yang lumayan fantastis dia mengeluarkan Vera dari tempat itu.
Sepenjang perjalanan Vera tak henti-hentinya menangis, dia sangat bahagia dan bersyukur karena bisa keluar dari tempat terkutuk tersebut.
"Kamu kenapa menangis?" tanya lelaki tersebut
"Aku bahagia mas, aku sangat bahagia karena bisa keluar dari tempat terkutuk itu," jawab Vera
"Oh ya perkenalkan namaku Edward," kata lelaki tersebut
"Aku Vera," sahut Vera
Edward memberikan tumpangan tempat tinggal pada Vera, dia juga membelikan pakaian yang layak untuk Vera.
"Mas aku boleh meminta tiga barang padamu?" tanya Vera
"Apa itu?" tanya Edward
"Baju muslim, jilbab dan juga mukenah," jawab Vera
Tentu dengan senang hati Edward mengabulkan permintaan Vera.
Vera sangat bersyukur dipertemukan dengan Edward
*********
Rara dengan cemas menunggu tanda merah di sebuah alat warna putih. Dia sangat berharap sekali tanda itu akan memunculkan warna merahnya lagi.
Aaarrgggg
"Kenapa negatif lagi?" keluh Rara dengan membuang testpack yang dibawanya
Rara menangis, dia takut kalau dia tidak bisa mengandung. Dia takut kalau Leo meninggalkannya atau menikah lagi seperti yang dulu Ilham lakukan
Leo yang mendengar tangisan Rara jadi terbangun, dia menghampiri Rara yang terisak di sofa.
"Kamu kenapa sayang?" tanya Leo dengan raut wajah yang khawatir
Rara menunjuk testpack yang dibuangnya.
"Negatif lagi," terka Leo
Rara mengangguk, dia sangat frustasi dengan hasil dari tes yang dilakukannya
"Sudahlah sayang, jangan memikirkan hal itu terus kita kan menikah baru dua bulan mungkin belum terjadi pembuahan yang menghasilkan anak," hibur Leo dengan mengelus rambut Rara
__ADS_1
"Aku takut mas kalau kamu akan meninggalkan aku," kata Rara
" Nggak sayang, nggak akan mungkin aku meninggalkanmu, kamu kan tau betapa cinta aku padamu," sahut Leo
"Dulu mas Ilham juga gitu," timpal Rara
"Aku nggak suka ya kamu membanding-bandingkan aku dengan Ilham, aku Leo bukan Ilham," kata Leo lalu pergi menuju kamar mandi
Rara menjadi bingung, dia sungguh tak bermaksud membuat Leo marah. Setelah mandi Leo mengganti pakaiannya, dia yang masih kesal dengan Rara langsung saja pergi ke kantor tanpa pamit dan kecupan
Mendengar suara mobil keluar rumah, Rara mencoba mengejar. Dia yang menyiapkan bekal untuk Leo harus kecewa karena suaminya telah berangkat terlebih dahulu
"Ya mas Leo udah berangkat, kamu pasti marah ya mas ma aku," gumam Rara
Rara segera bergegas ke ke kafenya, dia juga membawakan bekal sarapan dan makan siang untuk Leo
Rara mengendarai mobilnya sendiri yaitu mobil Lamborgini huracan Evo mahar dari Leo.
Setelah sampai di kantor dia langsung ke ruangan suaminya namun Leo belum datang. Di sisi lain Leo yang menyesal kalau berangkat tidak pamit akhirnya memutar mobilnya dan pergi ke cafe Rara dia menunggu Rara di ruangannya.
Leo dan Rara sama-sama menunggu di tempat yang berbeda, karena tak kunjung datang akhirnya Leo dan Rara pun pergi dari tempat mereka saling menunggu.
Rara meletakkan makanan di meja Leo lalu keluar untuk pergi ke cafenya
"Dimana sih mas Leo, kok belum sampai?" gumam Rara
Di mobilnya Leo juga kesal, " Kamu kok lama sih sayang, apa kamu nggak ke cafe?" gumam Leo
Mereka berpapasan di jalan namun nggak saling tau.
Setelah di kantor, Leo langsung masuk ruangannya saat dia masuk ada dua kotak makanan yang di atasnya ada sebuah memo kecil yang bertuliskan maaf dan sebuah emoticon menyesal.
Leo tersenyum, "pasti kamu menunggu aku ya, aku juga menunggumu untuk meminta maaf," gumam Leo
Rara sampai di cafenya dengan langkah malas dia masuk dalam ruangannya, dia tas mejanya dia melihat memo kecil Leo yang bertuliskan maaf dan sebuah emot menyesal.
Seketika bibir Rara merekah, "pasti kamu menunggu aku ya mas, aku juga menunggumu untuk meminta maaf," gumam Rara
Leo dan Rara sama-sama tersenyum lalu mereka sama-sama menelpon satu sama lain karena telpon yang bertabrakan akhirnya panggilan mereka sama-sama sibuk.
berulang kali meraka menelpon namun terus saja bertabrakan sehingga kesal menyelimuti hati mereka masing-masing
"Pagi-pagi panggilan lain call siapa sih," gerutu Rara
Sama halnya dengan Leo kesal karena Rara selalu dalam panggilan lain pun menggerutu
"Pagi-pagi sudah dalam panggilan lain call siapa sih,"
__ADS_1